Spill The Tech

Bionic Reading: Lebih dari Sekadar Metode Baca Cepat?

DISELEKSIA adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat. Tapi Diseleksia tidak mempengaruhi kecerdasan penderitanya.
TUNAAKSARA adalah kondisi di mana seseorang nggak bisa membaca dan menulis
Menurut Asosiasi Disleksia Indonesia, dari 50 juta anak sekolah di Indonesia, 5 juta di antaranya mengidap diseleksia. Sementara Badan Pusat Statistik mencatat pada tahun 2020, 2,9 juta orang Indonesia tunaaksara
Buat kalian yang kesulitan membaca, atau orang terdekat kalian memiliki diseleksia atau tunaaksara. Bionic Reading mungkin akan bisa membantu. Tonton sampai habis ya. Biar ilmunya ga setengah-setengah

Pepatah arab bilang, orang yang doyan baca dan berilmu tapi tak diamalkan bagaikan keledai yang memanggul tumpukan kitab. 
Tapi pepatah itu agak aneh soalnya keledai memang ga bisa baca aksara manusia. Jadi, wajar aja kalau dia cuma memanggul kitab. Bukan berarti keledai itu bodoh, kan? Siapa tau dia diem-diem profesor di dunia keledai?
Tapi kali ini kita nggak akan ngomongin keledai.
Kita akan ngomongin Renato Casutt, desainer tipografi asal Swiss, yang menggagas teknologi Bionic Reading
Dia kepikiran soal Bionic Reading ini dengan berangkat dari fakta bahwa, meski manusia satu-satunya makhluk yang bisa membaca, tapi nggak semua orang bisa mengalami kenikmatan membaca. Mereka yang mengidap diseleksia dan tunaaksara malah mungkin stres kalau membaca.
Bionic Reading belakangan lagi viral setelah seorang pengguna twitter bernama Juanbuis mencuitkan pengalamannya menggunakan teknologi tersebut. 
Dalam cuitannya, juanbuis mengunggah gambar perbedaan teks biasa dengan yang menggunakan bionic reading. 
Teks yang biasa seperti ini. Sementara yang menggunakan bionic reading seperti ini.
Bionic Reading dibuat oleh Renato Casutt. Ia adalah seorang desainer tipografi asal swiss yang sudah bepengalaman di bidangnya selama 25 tahun. 
Merujuk kepada situs resmi Bionic Reading, teknologi ini merevisi teks dengan menyorot bagian yang paling ringkas. Beberapa huruf yang disorot akan terlihat lebih tebal. 
Dengan bionic reading, mata dipandu untuk lebih fokus pada teks dan otak lebih mudah dan cepat mengingat kata-kata yang pernah dipelajari.  
Membaca memang bukan hanya kerja mata, tapi juga otak. Kecepatan manusia membaca dan memahami teks sangat tergantung pada kemampuan otak mengingat kata yang pernah dipelajari. 
Bagian otak yang memproses teks dan tanda-tanda lain adalah cortex. Ilmuwan menamainya sebagai sistem visual. Menurut Renato, Bionic Reading membantu memaksimalkan bagian ini. 
Atas fungsi ini juga Renato menamai teknologinya Bionic Reading. Kata bionic merujuk pada bio atau kehidupan dan teknologi. Pendeknya, bionic reading mengombinasikan kemampuan otang dengan teknologi membaca. 
Renato mengklaim, "Bionic Reading membuat manusia bisa membaca lebih cepat. Bisa membantu pula para penderita dyslexia membaca lebih baik. Bagi para akademisi, bionic reading juga bisa membantu membaca jadi lebih fokus."
Tentu kita masih perlu membuktikan klaim tersebut dengan mencoba langsung menggunakan bionic reading. 
Sebelum bionic reading, sebetulnya sudah ada teknik yang membantu manusia membaca dengan baik dan lebih cepat. Misalnya, teknik membaca cepat atau speed reading. 
Renato menyebut, bionic reading lebih praktis lantaran tak butuh metode untuk mempelajarinya. Cukup diaplikasikan saja pada perangkat dan teks secara otomatis akan direvisi ke dalam bentuk lain yang memudahkan seseorang membacanya. 
Saat ini, bionic reading tersedia dalam bentu aplikasi program antar muka (API) dan Software as a Service (SaaS) yang bisa digunakan siapapun secara terbuka. 
Dengan ketersediaan dalam dua bentuk tersebut, bionic reading tentu saja hanya bisa digunakan dalam perangkat digital. 
Masalahnya, bagaimana dengan orang-orang yang masih suka membaca teks secara fisik, seperti buku dan koran? 
Mungkinkah ada penemuan yang membantu para pembaca cetakan fisik? Sementara, masih banyak umat manusia yang kesulitan mengakses teknologi? Ataukah kita rela meninggalkan mereka dan menganggapnya sebagai residu peradaban? 
Silakan berikan masukan kalian di kolom komentar.