5 Cara Soeharto Menertibkan Lebaran

5 Cara Soeharto Menertibkan Lebaran

 

Menjelang lebaran, keribetan dialami hampir semua orang, termasuk pemerintah yang kelabakan untuk menjaga ketertiban umum. Beda era, beda pula kebijakannya.

 

Beberapa hari menjelang Sidang Isbat tahun ini, muncul polemik penggunaan lapangan terbuka di Pekalongan dan Sukabumi. Permintaan pengurus Muhammadiyah di dua kota tersebut, yang akan salat id lebih dulu, ditolak pemerintah daerahnya. Hal seperti ini tidak pernah terjadi di era Orde Baru. Mari kita toleh lagi, bagaimana Presiden Soeharto (Penak jamanku tho?) mengelola potensi keributan di hari Lebaran. 


 

  1. Mudik Lebaran

 

Mudik rasanya jadi hal paling wajib bagi para perantau. Sedih bukan main kalau tak bisa mudik. Fenomena mudik sendiri mulai gencar di era Soeharto, pada 1970-an, ketika pembangunan difokuskan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dll. Banyak orang akhirnya mencari peruntungan di kota metropolitan. Alhasil, tiap lebaran, mereka mesti balik kampung. 

 

Di awal Orde Baru, tepatnya pada 1968, Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) menyediakan kereta api luar biasa ekspres, jurusan Solo-Semarang-Jakarta dan sebaliknya. Dua kereta mewah milik PNKA ini diberi nama Sendja 1 dan Sendja 2. Mungkin kalau ada kereta ini di zaman sekarang, isinya akan dipenuhi oleh anak-anak Indie.

 

  1. Penentuan Tanggal Lebaran

 

Menurut penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Orde Baru dianggap lebih baik dalam penentuan awal puasa dan lebaran. Hal ini karena adanya keharusan dan kepatuhan terhadap kebijakan Soeharto, sehingga masyarakat tak bisa berdebat kapan awal puasa atau lebaran mau ditentukan. 

 

Sementara, setelah Orde Baru tumbang, penentuan awal puasa dan lebaran jadi lebih carut-marut karena banyak pihak yang lebih kritis dalam penentuannya. Sekarang rebutan tanggal lebaran lebih heboh daripada rebutan diskonan.

 

  1. Tradisi Sungkeman Soeharto dan Acara TV

 

Hiburan televisi saat lebaran paling digemari pada 1990-an mungkin adalah Warkop DKI. Film ini biasanya ditayangkan di stasiun TV Nasional. Selepas salat id dan acara sungkeman, biasanya keluarga besar akan berkumpul di rumah, menikmati opor ayam, sambil menonton film ini. 

 

Selain Dono, Kasino, Indro yang sering nongol saat lebaran, acara sungkeman keluarga Cendana juga sering ditampilkan di media massa. TVRI biasanya akan menampilkan momen sungkeman Bapak Pembangunan ini kepada ibunda dari Ibu Tien, Eyang Putri K. R. Ay. Siti Hatmanti Soemoharyomo. 

 

  1. Pesan Politik Soeharto di Momen Lebaran

 

Setelah naiknya Soeharto jadi orang nomor satu, pada 1968, selepas salat id ia berpidato. Idul Fitri pada tahun itu menjadi memorable karena pada 1969 Soeharto mulai melaksanakan Repelita (rencana Pembangunan Lima Tahun). 

 

Dalam pidatonya, Soeharto menekankan bahwa Repelita adalah usaha untuk memberantas kemiskinan dan kemelaratan. Usaha ini juga bagian dari kewajiban umat beragama. Sederhananya, masyarakat Indonesia yang beragama mesti mendukung Repelita karena itu adalah kewajiban masyarakat yang beragama. 

 

  1. Malam Gema Takbir

 

Pada malam lebaran, dari tahun ke tahun akan selalu diisi takbir. Di era Soeharto, biasanya TVRI akan menayangkan siaran langsung Gema Takbir atau takbiran bersama dari Masjid Istiqlal Jakarta. Setelah acara takbir, Soeharto akan berpidato. 

 

Pada 1997, Soeharto memimpin langsung Gema Takbir untuk pertama kalinya. Mengenakan koko putih, kopiah putih dan sarung, Soeharto menabuh beduk. Ini menjadi pengalaman pertama dan terakhir Soeharto sebelum akhirnya didepak oleh reformasi.

 

Pada akhirnya, setiap zaman memang punya tantangannya sendiri. Setiap pemerintahan selalu memikirkan cara untuk mendapatkan poin kekuasaan, apalagi di hari lebaran. 

 

Bagaimanapun kekuasaan bekerja, semoga tidak sampai mengganggu kenikmatan kita menyantap hidangan lebaran.