Ada Indonesia, Coy: Momen Overproud Netizen Indonesia

Ada Indonesia, Coy: Momen Overproud Netizen Indonesia

Baru-baru ini, media sosial Indonesia heboh karena The Last of Us. Sinetron yang diangkat dari game ini sukses bikin netizen Indonesia kelojotan kayak cacing kepanasan karena … apa lagi? Ada Indonesia, Coy! Bonus, ada penampilan Christine Hakim dan Yayu Unru.

Tren Ada Indonesia, coy! adalah wujud betapa overproud-nya netizen Indonesia. The Last of Us bukan yang pertama, sebelumnya banyak banget. Berikut 10 momen Ada Indonesia, Coy versi Jurno the Spot.

Money Heist

Sinetron paling ngetop pada 2022 ini adalah drama perampokan. Di season ketiga, ketika Profesor dan antek-anteknya menjarah Bank of Spain, beberapa kali unsur Indonesia ditampilkan lewat tokoh Denver.

Pertama, ada scene Denver ugal-ugalan naik becak bersama anak istrinya di Pulau Jawa. Kedua, “Kami menikah di Bali dengan ritual gajah,” kata Denver sambil cengengesan dan dilanjut dengan adegan reuni para perampok sambil menyantap nasi liwet. Ketiga, Stockholm, istri Denver melahirkan di rumah sakit di Sulawesi. Tulisan “perawat” dan “menyusui” menegaskan kalau itu memang rumah sakit di Indonesia.

Saya enggak tahu mesti sedih atau bangga, karena Denver bilang rumah sakit di Sulawesi mirip bengkel sepeda yang jorok–enggak bisa dibandingin sama rumah sakit di Eropa juga sih, kejauhan. Terakhir, nggak kalah menyedihkannya dari omongan Denver, ancaman Alicia kepada Raquel akan mengirim anak Raquel ke panti asuhan di Jakarta yang jorok dan sarang penyakit.

The Rise of Gru

Film kartun ini bikin bangga netizen Indonesia ketika beberapa patah kata bahasa Indonesia disebutkan. Misalnya, Minion bilang “terima kasih”, “paduka raja”, “kemari”, “cepatlah” sampai bahasa nonbaku “cus” juga ada. Gaul juga si Minion.

Kata Pierre Corfin, sang sutradara sekaligus produser Despicable Me, Banana Language atau Bahasa Minion diambil dari banyak bahasa di dunia, termasuk Indonesia. Corfin memang berdarah Indonesia. Ibunya adalah sastrawan NH Dini. Katanya, bahasa Indonesia adalah bahasa yang indah bagaikan alunan musik. Belum saja dia mendengar netizen kita misuh-misuh…

Sejak Despicable Me pertama, Minion sudah nyebut sepatah-dua patah kata Bahasa Indonesia. The Rise of Gru jauh lebih heboh karena Minion menyebut masakan Indonesia “nasi goreng kecap manis” dan “soto ayam” dengan gemashnyaaa (pengen cubit!). 


After The Dark
Selain Ada Indonesia, Coy, di sini juga ada Cinta Laura, Coy. Film dengan topik susah dimengerti alias filsafat ini bercerita tentang kelas untuk para calon filsuf, yaelah, kelas filsafat maksudnya, untuk memainkan game simulasi kiamat, di mana mereka harus ngumpet di dalam bunker kalau mau selamat. Tapi, dari dua puluh siswa cuma sepuluh yang bisa dapat slot.

Penentuan siapa yang selamat dan yang akan mati ini berlokasi di tempat Roro Jonggrang kena kutuk Bandung Bondowoso, yakni Candi Prambanan. Bunker yang jadi rebutan juga di Candi Prambanan. Pulau Belitung dan Gunung Bromo juga jadi tempat simulasi kiamat. Ada juga adegan Cinta Laura jatuh dari Monas. 

Beyond Skyline

“Film alien Beyond Skyline latar tempatnya di Indonesia bagus jg buat sekelas film luar,” sebut salah satu cuitan di Twitter. Film Lagi-lagi karya dari sistem kebut semalam milik Bandung Bondowoso jadi tempat syuting untuk film Hollywood yang ceritanya mirip cerita kiamat. Tapi kali ini, dunia akan kiamat karena invasi para alien. Dua aktor Indonesia, Iko Uwais dan Yayan Ruhian menjadi tokoh penting di film ini. Adegan Iko Uwais nyeker sambil tarung di sawah juga patut diapresiasi–udah kayak Wiro Sableng aja.

Tapi kayaknya enggak semua netizen bangga deh dengan film ini. Soalnya, meski film ini syuting di Indonesia, latar tempatnya diceritakan ada di Laos. “Beyond skyline directors really used Candi Prambanan and other places in Indonesia as a shooting place but fucking made the actors speak in Laotian language and call it Laos,” kata netizen di Twitter sambil marah-marah.

John Wick III
Yayan Ruhian lagi-lagi jadi petarung di film action Amerika. Kali ini bareng Cecep Arif Rahman. Yang bikin bangga netizen Indonesia, dialog berbahasa Indonesia juga dipakai walau cuma sebentar. Yayan dan Cecep meledek John Wick dalam Bahasa Indonesia. Di akhir pertarungan, komuk mereka berdua shock waktu John Wick berucap, “sampai jumpa”. Jadi, dia ngerti tuh dari tadi diledekkin?

The Tomorrow War
Bukan artis, bukan seniman, bukan pesilat yang muncul di film ini. Melainkan bekas presiden kita, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Walau cuma sedetik, netizen Indonesia gemparnya bukan main. SBY muncul sebagai salah satu pemimpin dunia yang ikut dalam kesepakatan untuk menjaga perdamaian dunia. 

Partai Demokrat pun bangga. Katanya, scene film ini jadi bukti pengakuan terhadap Indonesia dan SBY. Keren memang mantan presiden kita yang satu ini.

Anaconda: The Hunt for Blood Orchid
Enggak heran kalau Indonesia disebut rumah bagi sebagian besar flora dan fauna dunia. Sampai-sampai menarik perhatian dari sutradara Anaconda: The Hunt for Blood Orchid yang mengisahkan petualangan orang-orang ambisius berburu bunga yang bisa memperpanjang hidup manusia. Mereka mesti jauh-jauh jadi musafir sampai ke Kalimantan, karena bunganya cuma ada di Kalimantan. Sayangnya, enggak cuma bunga berharga yang ada di sana, ada juga seabrek-abrek Anaconda. Leboh sialnya lagi, mereka datang ke Kalimantan waktu Anaconda lagi musim kawin.

Fantastic Beast
Sebenernya unsur-unsur Indonesia di film ini enggak banyak, hanya satu kalimat mengatakan, “dahulu pernah terjebak di hutan Indonesia”, yang dimaksud terjebak di Indonesia adalah Nagini. Familiar kan dengan ularnya Voldemort? Mulai dari penggemar Harry Potter sampai yang bukan, dibuat berbangga ria karena pernyataan JK Rowling, penulis Harry Potter: tokoh Nagini dalam cerita yang dia buat terinspirasi dari mitologi dari suku Jawa, Betawi, dan Tiongkok. Bahkan, Acha Septriasa sempat masuk daftar calon pemeran Nagini.

Viralnya Nagini dari Indonesia juga memicu perang online antara warga Indonesia dengan India. Orang India merasa Nagini berasal dari India, karena ada satu serial televisi di India yang judulnya Naagin. 

Eat, Pray, Love
Kayaknya kita enggak bisa deh buat enggak overproud sama film satu ini. Seorang perempuan yang galau akhirnya memutuskan berkelana ke seluruh dunia mencari makna hidup. Salah satu lokasi paling bermakna baginya adalah Bali, karena dia menemukan cinta sejati di Bali. Cieee. Di film ini, enggak cuma background wisata alam Bali yang muncul, mulai dari tarian, makanan sampai upacara keagamaan di Bali juga ada. 

Saking intensnya kemunculan Indonesia di film ini, netizen Indonesia bilang sih ini salah satu paling top dari Ada Indonesia, Coy. Padahal banyak banget bule yang menganggap Bali dan Indonesia itu dua negara yang berbeda.

The Fall
Bali lagi, Bali lagi. Ya nggak heran juga sih, Bule mana yang nggak jatuh cinta dengan Bali? Tapi kayaknya film ini enggak se-viral film-film lainnya. Enggak banyak cuitan-cuitan overproud di Twitter soal film ini dan nggak seheboh Eat, Pray, Love. Kalau di Eat, Pray, Love dihadirkan bagaimana Bali ngasih ketenangan dan makna hidup buat si pemeran utama, di The Fall lebih menyorot Bali sebagai background, enggak lebih. Yang intens cuma beberapa scene tarian Kecak dan Candi Gunung Kawi. 

Sebenarnya, sepuluh Ada Indonesia, Coy tadi bukan apa-apa, karena masih banyak lagi film, game, anime dan berbagai produk luar negeri yang bawa-bawa Indonesia. Dan tentunya, diikuti sorakan bangga dari netizen Indonesia setiap ada momen-momen begitu. #Horeeee. 

Anda semua apa enggak heran, kenapa tiap kali Indonesia disenggol sedikit saja dalam produksi hiburan Hollywood, warga kita langsung berbangga diri dan seolah-olah ingin sejagat raya tahu bahwa Indonesia masuk ke peta dunia? Di The Last of Us, enggak usah netizen, admin Twitter Universitas Indonesia aja ikut-ikutan hepi.

Overproud Netizen Indonesia Soal Indonesian Reference

Tren Ada Indonesia, Coy sebenarnya wujud dari rasa bangga yang berlebih akan Indonesian Reference. Indonesian Reference sendiri adalah budaya pop culture yang mengacu pada budaya Indonesia sebagai bagian dari produknya.

Overproud ini enggak bisa lepas dari fakta bahwa negara kita adalah negara bekas jajahan negara Barat. Kolonialisme terjadi begitu lama, lebih dari tiga ratus tahun. Selama dijajah, negara kita dikotak-kotakan berdasarkan lapisan masyarakatnya. Orang-orang Eropa adalah kasta tertinggi, sedangkan pribumi adalah kasta terendah. Begitu pula dengan budaya-budaya kita yang enggak luput dikategorikan sebagai budaya kelas bawah.

Dari zaman dahulu pun, orang-orang pribumi berlomba-lomba untuk bisa menembus lapisan atas dan mendapatkan pengakuan dari lapisan kasta paling tinggi. Luka akibat diskriminasi itu yang membuat masyarakat Indonesia merasa lebih rendah sampai sekarang, terutama kalau dibandingkan dengan golongan kulit putih. Hal ini yang disebut sebagai Inferiority Complex.

Inferiority complex adalah kondisi yang entah disadari atau tidak, muncul karena perasaan rendah diri atau inferior, merasa dirinya serba tidak berkecukupan baik dari segi fisik maupun psikologis. Inferiority complex kerap muncul pada negara-negara korban kolonialisme, kondisi-kondisi diskriminatif yang terbentuk akan menyebabkan kelompok individu yang terdiskriminasi haus validasi dari kelompok yang lebih superior untuk memotivasi mereka.

Rasa inferior yang dialami netizen Indonesia itu bahkan tercermin dari sikap norak kita yang paling dasar, suka minta foto sama bule. Kalau sudah foto bareng, rasanya bangga. Salah satu motifnya untuk menaikkan gengsi di media sosial. Kasusnya mirip dengan betapa bangganya kita kalau ada Indonesia dibawa-bawa dalam produk Barat. Gengsinya jadi naik. Seolah-olah kita memang membutuhkan validasi dari kelompok yang dianggap lebih tinggi. Bedanya, kalau foto dengan bule adalah gengsi perorangan, Indonesian Reference menaikkan gengsi secara kolektif. Hal ini membuat kita merasa lebih diakui oleh negara Barat. 

Fenomena begini rasanya kayak buah simalakama, serbasalah. Di satu sisi, budaya kita yang jadi referensi global memang patut diapresiasi. Tapi di sisi lain, kondisi overproud kadang malah bikin kita kelihatan norak. Enggak jarang, antusiasme berlebihan kita terhadap validasi  bule itu malah membuat mereka memasukkan unsur Indonesia bukan lagi untuk apresiasi, tapi cuma cari untung. Karena mereka melihat betapa mudahnya orang Indonesia terlena.