Ambil Semua Bhang Ambil Sekalian Panggung-panggungnya

AMBIL SEMUA BHANG AMBIL SEKALIAN PANGGUNG-PANGGUNGNYA

Kisah Penonton Resek yang Suka Caper Naik Panggung

 

Sepanjang perjalanan menuju Studio Palem, hati Jali senang bukan main. Pada Sabtu 28 Januari 2023, Jali sudah menyisihkan waktu dan uang saku…

 

[ilustrasi kocak tentang menabung]

 

…demi menyaksikan band-band favoritnya seperti The Jansen, Pulo, Dongker, Morgensoll with Denisa, Pelteras dan Tarrkam.

 

Mereka berbagi panggung dalam acara yang diinisiasi Sounds From the Corner.

 

Di masjid, kerongkongan muazin belum kering selepas mengumandangkan magrib. Tapi di Studio Palem Jali sedang khusyuk menyaksikan Pelteras.

 

Usai Pelteras, giliran Morgensoll bersiap unjuk gigi. Saat itu suasana masih kondusif.

 

Jali mulai kebingungan saat Dongker tampil. Ia melihat para penonton mulai naik ke atas panggung. Tak hanya Dongker, saat The Jansen tampil, hal tersebut berulang kembali. Ia merasa tak nyaman.

 

[LHO KOK LHO KOK???]

 

Jali: Gue sengaja datang ke konser ini karena band yang main keren-keren. Ditambah lagi, sebagai penonton setia YouTube Sounds From the Corner, makanya semangat banget nonton acara ini.

 

Tapi pas Dongker, kok gue merasa ada yang aneh, ya? Pertama-tama, vokalis & gitaris Dongker, Arno Zarror sambil bercanda mengeluh setlistnya hilang. Penonton terus teriak, “Balikin, balikin.”  Terus suasana makin diperparah karena penonton yang terus-terusan naik ke atas panggung. Mic-nya Arno diambil. Belum lagi, gitar dan soundnya Delphi sampai mati karena penonton yang berdesak-desakan dan naik ke atas panggung. Secara garis besar, penampilan Dongker jadi gak maksimal gara-gara itu.

 

Gue sebagai penonton sebenarnya sih enggak terlalu masalah deh penonton pada naik, mungkin emang gitu caranya mereka seneng-seneng. Walau saking ramainya penonton, kita jadi gak bisa ngeliat anak-anak bandnya. Tapi kalo udah ganggu kenyamanan yang lagi tampil dan bikin kualitas produksi jadi buruk, itu persoalan sih. Belum lagi, misal ada sound dan alat yang rusak, itu kan cuma jadi masalah buat banyak pihak di acara.

 

Sepulang dari konser, Jali membagikan kegelisahanya melalui utas di Twitter. Cuitan Jali dibagikan ulang dan menjadi ruang diskusi netizen.

 

Dalam konteks ini, saya bisa memaklumi kegelisahan yang Jali rasakan. Dengan mengeluarkan uang 175rb, wajar jika ia ingin menyaksikan band-band yang ia suka dengan kualitas sound yang enak–tanpa harus melihat puluhan orang jingkrak-jingkrak di atas panggung.

 

Namun di sisi lain, pada level tertentu, kita bisa maklum kalau beberapa orang suka naik panggung saat band favorit mereka main. Lagipula, siapa dapat menghentikan gairah dan semangat berekspresi orang-orang muda?

 

Tapi, kalau kehadiranmu ke atas panggung sudah menganggu kenyamanan penonton dan anggota-anggota bandnya, ya, tahu dirilah. Yang lain mengeluarkan uang bukan mau melihat kamu caper dan sok asik di atas panggung.

 

Mereka yang datang ke acara live, ya, mau nonton band.  Masa gara-gara kamu mau meluapkan kebahagiaan, si band-nya jadi gak bisa tampil maksimal gegara kabelnya terinjak atau monitor jadi kecabut.

 

Amit-amit kalau sampai sound system atau perkakas musik jadi rusak karena atau malah panggung ambruk karena banyaknya orang di atas panggung.

 

[CARI VIDEO DANGDUT PANGGUNG RUBUH DIBIKIN GIF PAS RUBUHNYA]

 

Kalau sudah seperti di atas, kamu sudah merepotkan banyak orang.

 

Sekali lagi, ini bukan reaksi kemarahan kok. Ini sekadar pengingat–mungkin juga untuk saya agar di masa depan tak berbuat seperti itu. Gimana Kak Editor? Pendapatku udah bijak belum?

 

Yha [editor].

 

Perlunya Konsensual

 

Dalam beberapa panggung, misalnya, beberapa band memang membiarkan penonton naik ke panggung. Saya melihat itu dengan senang dan turut merasakan bagaimana kebahagiaan menyelimuti penampil dan para penonton. Dengan begitu, sekat atau jarak antara penampil dengan penonton yang hadir seakan hilang dengan sendirinya.

 

Dalam suatu kesempatan, saya menyaksikan sendiri wajah personel The Jansen di Synchronize Fest 2022 kemarin yang menunjukkan wajah bahagia karena berbagi panggung dengan penonton di lagu terakhir. Semua wajah terlihat bahagia, kecuali pihak security yang mukanya masam. 

 

Tak cuma The Jansen, penonton The Panturas sesekali juga naik ke atas panggung. Berbeda dengan konser yang Jali datangi itu. Dalam video yang beredar di Twitter, personel Dongker terlihat tidak nyaman saat penonton mencoba merebut mikrofon.

 

Kalau memang gimmick penonton naik ke atas panggung diizinkan oleh personel bandnya, silakan saja. Tapi kalau personel band atau penonton di bawah terlihat tak nyaman, ya sadar diri dikitlah.

 

Rasa tidak nyaman personel band terhadap tingkah penonton yang dianggap menganggu, sebenarnya bukan hal yang baru.

 

Suatu waktu di tahun 2015, band indie rock asal Amrik, Joyce Manor memarahi penonton yang melakukan aksi stage diving saat bandnya telah menggelar konser di Houston. Ia memarahi penonton tersebut karena dianggap mengganggu kenyamanan penonton lain. Aksi memarahi penonton tersebut lantas menuai kritik dari publik. Tak lama berselang, vokalis mereka, Barry Johnson menuliskan pembelaan di laman Facebook miliknya.

 

Saya tidak bisa melihat orang lain terluka. Jadi, saya mengimbau penonton untuk tak bertindak menyakiti penonton lain. Kalau kamu tidak menyukai band kami, saya menghargainya. Kalau kamu tidak ingin menghadiri pertunjukan, kami menghormatinya. Jika kamu sudah membeli tiket pertunjukan dan menginginkan uangmu, kami akan mengembalikan uang kamu.

 

Saya tidak punya masalah dengan gaya hidup siapa pun. Saya minta maaf karena kehilangan kesabaran. Saya (di konser tersebut) melihat seseorang yang niat penuhnya adalah untuk menyakiti orang dan penuh amarah. Saya berharap bisa memainkan musik di lingkungan yang aman untuk semua orang mulai saat ini.

 

Selain Joyce Manor, musisi lain dari lintas genre juga melarang penontonya untuk stage diving seperti Blythe, Ian McKaye, Fugazi hingga At The Drive.

 

Tentu saja larangan tersebut juga menuai kritikan publik. Ya, lagi-lagi selalu dibenturkan dengan kebebasan berekspresi. Menjengkelkan memang ketika argumen ‘kebebasan berekspresi’ dipakai untuk pembenaran hal-hal yang melanggar hak orang lain. Band berhak buat melarang orang stage diving, karena mereka adalah performer yang bukan hanya bertanggung jawab terhadap performa mereka di panggung tetapi juga keselamatan penonton dan kru mereka.

 

Yang penting dalam kasus ini bukan soal perdebatan boleh atau tidak stage diving–atau larangan naik ke atas panggung. Toh, banyak juga konser yang di dalamnya penuh dengan stage diving atau moshing. Kita sebagai penonton seharusnya sadar diri dan mengemukakan pertanyaan: Kira-kira kalau saya begini, saya bakal ganggu yang lain enggak, ya?

 

Kamu mungkin mendambakan kebebasan. Tentu saja boleh. Tapi jika kebebasanmu sudah menganggu kebebasan orang lain, apa itu enggak egois namanya? Saya jadi teringat pernyataan seorang teman: jadi penonton juga harus punya “adab”.