Bemo Kupang

Bemo: Transportasi Umum Kasih Sayang Kota Kupang


Bemo di Terminal Kupang (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Rasa kasih sayang biasanya hadir pada sepasang kekasih yang harmonis. Namun di Kupang, Nusa Tenggara Timur, rasa kasih sayang juga dapat dihadirkan oleh penumpang transportasi umum, kernet, dan juga sopir. Tahun 2000-an awal di Kupang, masih sering ditemukan anak-anak ingusan berseragam putih merah hanya punya modal berupa kata terima kasih untuk membayar ke kernet atau biasa dibilang warga lokalnya, konjak, sebagai bentuk imbalan mereka untuk jasa tumpangan bemo. Konjak maupun sopir tidak ada yang membentak anak-anak itu, apalagi sampai membawa mereka kembali ke tempat keberangkatan.

Keunikan Bemo

Sistem transportasi darat Kota Kupang dilayani oleh minibus angkutan kota yang disebut warga setempat dengan bemo. Bemo di Kupang memang mirip seperti angkot di Pulau Jawa. Hanya saja di Kupang, bemo dibuat lebih menarik untuk dilihat dan juga dinaiki. Tampilan luarnya diberi banyak stiker-stiker. Di dalamnya, ada banyak printilan-printilan yang dipasang di berbagai sudut. Aroma di dalam bemo juga tidak bau. Penumpang juga masih bisa menghirup udara segar dari celah-celah jendela.

Fasilitas yang diberikan bemo sangat terjangkau bila dibandingkan dengan tarifnya. Tahun 2000-an awal sampai sekarang, tarif untuk jasa transportasi umum ini hanya mengalami sedikit perubahan. Awalnya Rp 1000 atau bisa juga dengan ucapan terima kasih, sampai sekarang tarifnya adalah Rp 5000. Bagi pelajar, upahnya lebih murah lagi yaitu Rp 4000.

Yang unik dari bemo adalah setiap bemo ada namanya. Nama ditulis di samping bodi bemo. Ada yang namanya Dwi Tunggal, Senator, Brendi, Extreme, Kangen, Sopan, dan masih banyak lagi.


Bemo Bernama Sopan (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Setiap trayek bemo di Kupang dibedakan dengan istilah lampu dan juga warna bemo. Terdapat lampu yang dipasang di atas bodi bemo. Ada beragam lampu bemo di Kupang, seperti lampu 1, 2, 3, 5, 6, 7, 10, 27. Di lampu, tertulis angka-angka yang menjelaskan trayek dari bemo tersebut. Seperti lampu dengan angka nomor 2 yang menjelaskan trayek dari bemo tersebut adalah kawasan Oepura, lalu berputar di persimpangan Oeba, dan juga melewati Terminal Kupang.

Ada juga bemo-bemo yang tidak memasang lampu bernomor untuk menjelaskan trayeknya, seperti bemo Tenau, Bakunase, dan Oesapa. Mereka ditandai lewat lampu dengan tulisan trayek di bodi mobil. Selain itu, ciri khas mereka adalah warnanya beragam, berbeda dengan bemo-bemo lampu lain yang memiliki warna seragam. Misalnya bemo-bemo lampu 3 yang seragam berwarna kuning, lalu bemo lampu 2 dengan seragam berwarna putih.


Bemo Lampu 3 Berwarna Kuning (Sumber: Dokumentasi Pribadi)


Healing dengan Bemo

Sekitar tahun 2000-an awal hingga 2012–2014, bemo masih menjadi transportasi umum pilihan pertama bagi warga Kupang. Bemo sangat dicintai. Bahkan ada yang healing hanya dengan naik bemo. Mereka bisa melepas penat dengan  naik bemo berjam-jam, mengelilingi daerah yang sama. Layaknya anak kecil naik odong-odong, tidak ada tempat tujuan, yang terpenting adalah kepuasan. Di bemo, penumpang dapat menikmati lagu-lagu trendy. Lagu-lagu pop, slow rock, house music akan populer di Kupang kalau lagu-lagu tersebut diputar berulang kali di bemo-bemo di segala penjuru kota.

Bemo yang full music, mayoritasnya punya penumpang dari kalangan pelajar SMA dan SMP.  Kawula muda ini menguasai sudut-sudut tempat duduk bemo. Kadang, ada yang sampai memendam rasa di dalam bemo. Ini sudah lazim dan akan menjadi gosip yang menarik di antara kaula muda.

Biasanya si cowok yang bergerak lebih dulu. Berlagak so cool, duduk di kursi depan dengan tangan yang digantung di jendela, pandangan tertuju pada spion untuk menargetkan pilihan dari berbagai gadis yang duduk di kursi belakang. Setelah mendapatkan target, si cowok semakin betah memakai bemo yang sama dalam berhari-hari agar intens bertemu dengan targetnya. Lalu akhirnya mereka mulai saling bertukar nomor hp, dan berujung jatuh hati di SMS gratis.

Tahun 2000-an awal, bemo benar-benar menjadi pokok penting dalam perkembangan belajar anak muda di Kupang. Beberapa anak sekolah akan tidak ke sekolah kalau tidak naik bemo. Kasus ini pernah saya alami bersama beberapa teman sejawat lainnya di sekitar daerah Tenau. Pada saat itu, bemo-bemo tujuan Tenau–Terminal Kupang tidak beroperasi karena sedang mengambil penumpang dari kapal yang baru saja berlabuh di Pelabuhan Tenau. Bemo akan mendapat keuntungan yang lebih besar karena penumpang dari kapal biasanya akan mencarter dengan bayaran yang lebih mahal. Akibatnya, anak-anak yang sekolahnya jauh dan orang tuanya tidak punya kendaraan pribadi memilih untuk bolos.

Penumpang yang Berkurang

Tahun 2023, minat warga Kupang memakai bemo kian menurun. Bemo sudah tergantikan oleh ojol yang lebih praktis dipakai di era modern ini. Nama-nama bemo seperti Brendi telah hilang di jalanan Kupang. Sering dijumpai bemo yang terus berjalan mengelilingi rutenya, tetapi hanya satu dua penumpang yang naik. Bahkan ada juga yang tidak ada penumpang sama sekali.


Bemo dengan Sedikit Penumpang (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Jumlah bemo di Kupang pun mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Dinas Perhubungan setempat, jumlah bemo di Kupang pada tahun 2017 adalah 366 unit. Jumlah ini mengalami penurunan di tahun 2022 yang hanya berjumlah 291 bemo.

Memang bemo saat ini masih beroperasi, tetapi tidak lagi seramai dulu. Para penumpang yang masih menggunakan bemo adalah orang-orang yang memiliki ekonomi menengah ke bawah. Hal ini disebabkan karena tarif bemo yang terbilang murah.

Saat ini bemo telah kalah saing dengan ojol. Walaupun tarif bemo murah, tetapi penumpang kebanyakannya lebih mementingkan cepatnya mereka sampai ke tempat tujuan. Sistem bemo yang masih menunggu penumpang, bahkan ada yang sampai menunggu kursi penumpang terisi penuh dulu baru berangkat, jelas akan menurunkan minat warga untuk memakai jasa transportasi umum ini.

Analisis yang dilakukan Dimas Zulmansyah tentang kinerja angkutan umum di Kota Kupang dalam hal ini bemo, terjadi komplain penumpang sebanyak 676 pada tahun 2019. Komplain terbagi menjadi 7 jenis, di mana salah satunya adalah waktu tunggu yang lama.

No.
Jenis Komplain
Persentase Komplain
1
Pelayanan Buruk
22%
2
Waktu Tunggu Lama
20%
3
Waktu Perjalanan Lama
19%
4
Kotor
15%
5
Supir Ugal-ugalan
12%
6
Sulit Didapat
9%
7
Mahal
3%


Total
100%

Sumber: Analisis Kinerja Angkutan Kota di Kota Kupang Dalam Kerangka Balanced Scorecard

Sebanyak 676 komplain tersebut didapat dari jumlah penumpang per tahun 2019 yaitu 26.270 penumpang. Persentase-nya hanya 2,57%. Komplain-komplain ini juga tidak mengarah ke perspektif buruk, tetapi bermaksud untuk memberi kritik dan saran agar pelayanan bemo bisa lebih baik.

Dulu, sepulang sekolah, anak-anak sekolah selalu berkumpul menunggu bemo yang datang untuk menjemput mereka. Sekarang, hal semacam itu sudah jarang ditemui. Mereka kebanyakannya lebih memilih memakai ojol atau juga dengan kendaraan pribadi. Anak-anak sekolah di Kupang saat ini tidak bisa merasakan bagaimana indahnya membuat kenangan dengan hanya naik bemo.

Pernah menjadi prioritas, tapi sekarang semakin dilupakan. Saya berharap bemo bisa terus beroperasi sepanjang Kota Kupang berdiri.


Identitas Penulis

Nama: Ajis Makruf
Akun Sosial Media (Instagram dan Twitter): ajismakrufx