Bercak Darah di Fast Fashion

Juni lalu, The New York Times menerbitkan laporan yang mengkritik Higg Index—sebuah indikator yang digunakan untuk menilai dampak lingkungan dari material fesyen yang digunakan oleh perusahaan pakaian, utamanya fast fashion. Indikator ini dianggap tidak valid karena meminimalisir dampak dari bahan ‘kulit vegan’ yang usut punya usut… terbuat dari minyak bumi. Dan ini hanya satu dari sekian banyak dosa Higg Index. 

 

Bagaimana bisa?

 

Tumpukan Masalah Fast Fashion

 

Sebelum membahas Higg-Index, kita perlu mengulas sejarah fast fashion itu sendiri. Mengingat istilah ‘fast fashion’ cukup kabur (banyak orang menyatakan fast fashion adalah pakaian murah), artikel ini menggunakan definisi Derek Guy, yaitu “pakaian murah, trendi, dan dibuat dengan cepat oleh perusahaan.” 

 

Sebelum ada sistem fast fashion, perusahaan pakaian akan mendesain koleksi pakaian mereka berbulan-bulan sebelum membuat sampel. Setelah selesai dibuat, sampel ini akan ditampilkan di pameran dagang industri di hadapan distributor alias pemilik toko-toko pakaian. Setelah pembeli memilih pakaian, perusahaan akan mengirimkan desain tersebut ke pabrik untuk diproduksi yang mana memakan waktu berbulan-bulan lagi. Total waktu produksi dari desain sampai sampai ke tangan konsumen akhir adalah 6 bulan-1 tahun lebih.

 

Jangka waktu produksi ini tentunya kurang efisien. Industri pun mencari cara untuk memperpendeknya dan lahirkan quick response manufacturing (QRM) di Amerika Serikat di tahun 1980-1990an. Waktu produksi bisa dipotong menjadi separuhnya. Tapi tentu saja waktu produksi ini kurang cepat–terlihat dari dekade selanjutnya H&M, Zara, dan Primark mengadopsi sistem ini dan mempercepat produksi menjadi 6 minggu saja. Mereka juga menekan harga produksi dengan memindahkan pabrik ke negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) yang kemudian dikenal sebagai praktik sweatshop

 

Sweatshop sendiri terkenal sebagai tempat kerja yang menyedihkan. Gajinya sedikit, keamanan kerjanya buruk, dan jam kerjanya panjang. Namun ketika diperkenalkan ke Asia dan Amerika Latin, sweatshop dianggap sebagai penolong para orang miskin. Meskipun kondisinya menyedihkan, sweatshop memberikan mereka lapangan pekerjaan dengan bayaran yang tak buruk. Laporan The New York Times tahun 2000 bahkan menyatakan sweatshop memecahkan masalah yang mereka buat sendiri, dan satu-satunya cara untuk menolong para pekerja malang ini adalah dengan membeli produk mereka. 

 

Benarkah? Tentu saja jawabannya tidak semudah itu. Testimoni para pekerja sweatshop yang dilaporkan oleh The New York Times pada 2019 menyebut realitanya tak seindah itu. Meskipun pekerjaannya stabil, gajinya terlalu kecil sampai mereka harus pintar-pintar membagi pos pengeluaran: bulan ini mending beli makan atau baju dan obat? Dilema ini paling banyak dirasakan oleh para pekerja sweatshop perempuan. Sebagai pekerja mayoritas, pekerja perempuan justru hanya menikmati 70-90% dari bayaran yang diterima pekerja laki-laki. Apalagi banyak dari mereka yang tidak mendapatkan hak pekerja seperti cuti hamil dan melahirkan. 

Belum lagi isu keamanan yang selalu menghantui para pekerja. Kebakaran pabrik tekstil Rana Plaza di Bangladesh merupakan salah satu tragedinya: 1.134 pekerja meninggal dan 2.500 lebih pekerja luka-luka, dengan banyak pekerja kehilangan anggota tubuhnya karena terlalu lama terkubur di bawah puing-puing gedung. Lalu ada pula isu perusahaan yang kabur tanpa membayar gaji para pekerja, seperti yang terjadi di sweatshop Uniqlo di Indonesia pada 2018.

Itu baru permasalahan tenaga kerjanya. Bagaimana dengan efek lingkungannya, mengingat produksi fast fashion yang begitu cepat? Industri fesyen diperkirakan mengonsumsi 93 miliar meter kubik air per tahun dan akan terus bertambah apabila kita tidak mengerem produksi dan konsumsi pakaian. Produksi fesyen juga menyumbang 10% emisi karbon global dan menyumbang 500.000 ton microfiber ke laut.

Lalu ada 92 juta sampah tekstil yang terbuang tiap tahunnya alias setara dengan 20% sampah global. Mayoritas pakaian ini dibuang di Dunia Selatan, salah duanya di Kenya dan Tanzania. Yang lebih menyedihkan lagi, 30-40% dari pakaian sisa ini merupakan sampah yang berakhir di TPA atau dibakar oleh penduduk lokal. 

Isu sampah mungkin tak akan seburuk ini kalau pakaian-pakaian ini bisa didaur ulang. Masalahnya, banyak produk fast fashion tak bisa didaur ulang karena menggunakan polyester yang terbuat dari minyak bumi. Terlebih pakaian-pakaian ini sudah tercampur dengan berbagai macam pewarna (yang lagi-lagi terbuat dari turunan minyak bumi), resleting, kancing, dan bahan-bahan lain sehingga sulit untuk dipisahkan. 

Kita juga tak bisa melupakan rantai pasokan merk-merk besar fesyen. Laporan KQED menunjukkan katun dipanen di Texas, Amerika Serikat lalu melewati perjalanan laut sepanjang 11.265 kilometer ke Shandong, Tiongkok untuk digiling, dicuci, diberikan pemutih, dan diwarnai yang terkadang mengotori aliran air warga lokal. Kain yang sudah jadi ini kemudian diberangkatkan sepanjang 2.896 kilometer ke Dhaka, Bangladesh untuk dijahit menjadi pakaian. Setelah selesai, pakaian dikembalikan lagi ke Amerika Serikat, tepatnya San Francisco untuk dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding ongkos produksi. Sudah boros emisi, mengeksploitasi buruh, dijual dengan harga yang kelewat tinggi pula. Mantap sekali bukan?

Produksi Baju On Steroid

Efek fast fashion ke lingkungan dan masyarakat memang tidak main-main. Sayangnya, layaknya industri di bawah kapitalisme ia tak akan berhenti—justru ia akan terus berinovasi untuk mengeluarkan produk baru dengan sangat cepat. Kalau dulu Zara dan H&M dikenal sebagai primadona fast fashion, sekarang posisinya telah digeser oleh Shein. 

 

Sumber: Shein's $100 Billion Valuation Is Fast Fashion's Big Moment - Bloomberg

 

Sumber: Shein suppliers' workers doing 75-hour week, finds probe - BBC News

Pabrik pakaian dari Tiongkok ini pertama kali muncul di radar tahun 2018-2019. Ia pertama kali terlihat di video-video content creator yang memamerkan belanjaan mereka di Youtube. Style pakaiannya yang trendy dengan harga jauh di bawah H&M dan Zara membuat kepopularitasnya meroket cepat. Sekarang namanya tersebar di berbagai sudut internet sebagai “brand fesyen murah tapi stylish dan cukup berkualitas.”

Reputasi Shein tak berhenti sampai situ. Sebagai perusahaan fast fashion yang baru berdiri tahun 2008, volume produksinya jauh melampaui Zara dan H&M. Koleksi baru ditelurkan hanya dalam waktu beberapa hari. Rahasianya? Mencuri desain dari desainer independen, membuat pekerja mereka bekerja 75 jam/minggu dan mengabaikan keselamatan pekerja, sambil menghancurkan planet lewat praktik produksi tak etis mereka.

Raksasa fesyen ini sadar keberadaannya tak disukai oleh banyak orang. Untuk mengubah imajinya, Shein merilis EvoluSHEIN, lini pakaian yang diklaim terbuat dari hasil daur ulang botol. Namun banyak yang mencurigai tindakan Shein ini sebagai cara untuk membersihkan nama mereka karena perusahaan ini berencana untuk IPO dua tahun lagi. Mereka tak bisa membiarkan valuasi mereka, yang telah mencapai 100 miliar USD, menurun. 

Pun sebetulnya Shein bukanlah satu-satunya perusahan fesyen yang melakukan ini. H&M yang pertama kali melakukannya dengan merilis lini Conscious. H&M juga berencana untuk mengurangi emisi karbon mereka di tahun 2030 dan rutin melaporkan perjalanan usaha berkelanjutan mereka. Perusahaan ini juga menampilkan skor Higg Index di pakaian untuk menginformasi pembeli soal efek pakaian yang hendak mereka beli ke lingkungan. 

Tapi ya, lagi-lagi langkah ini bukanlah langkah yang tulus. H&M melakukan ini semua sebagai cara untuk greenwashing, membuat lini produksi mereka menggunakan kostum ‘ramah lingkungan’. Hal ini terkuak berkat investigasi Quartz tentang klaim keberlanjutan H&M pada Juli lalu. Artikel Quartz dan The New York Times yang disebut di atas menyebutkan kalau permasalahannya ada di Higg Index dan H&M. 

Higg Index sendiri dibuat oleh Sustainable Apparel Coalition (SAC). Koalisi yang dibuat oleh Walmart dan Patagonia ini memiliki 250 anggota dari berbagai sektor, utamanya di bidang pakaian. Mereka melakukan riset tentang seberapa banyak dampak lingkungan yang diberikan oleh produksi sehelai pakaian. Sayangnya, ada beberapa perusahaan yang justru memutarbalikkan fakta. H&M menyatakan sebuah gaun mereka mengkonsumsi 20% lebih sedikit air, padahal kenyataannya mereka menggunakan air 20% lebih banyak dari rata-rata. Hal ini semakin diperparah dengan fakta bahwa Higg Index tidak transparan memberikan data-datanya.

Pun pakaian yang jujur dalam melampirkan penilaian dari Higg Index tak sepenuhnya ramah lingkungan. Total emisi, penggunaan air, dan minyak bumi yang digunakan hanya berbeda sedikit dari pakaian lainnya. Ditambah lagi, Higg Index lebih memprioritaskan pakaian sintetis dibanding yang terbuat dari katun. Tentunya ini bisa terjadi karena bahan sintetis merupakan bahan utama industri pakaian. Belum lagi SAC punya jaringan yang sangat kuat dengan industri yang seharusnya mereka pandang dengan kritis.

Melihat kekacauan ini semua, bisa dibilang Higg Index hanyalah omong kosong pemasaran industri tekstil untuk menutupi dosa-dosanya. Mereka tak bisa dan tak akan pernah serius untuk membuat industri mereka lebih berkelanjutan. 

Terus, Solusinya Apa?

Melihat besarnya dosa industri pakaian memang membuat hati berat. Apalagi pakaian merupakan kebutuhan pokok kita sebagai manusia. Beberapa pengamat menyarankan agar pembeli beralih ke produk slow fashion yang diproduksi secara etis dan berkualitas tinggi. Namun ini bukan solusi; produk-produk slow fashion punya harga yang jauh lebih tinggi dari produk fast fashion. Di masa inflasi dan gaji yang stagnan seperti sekarang, opsi ini bukan solusi.

Solusi yang masuk akal untuk sekarang adalah dengan membatasi pembelian pakaian. Banyak orang mengampanyekan membeli pakaian bekas, menggunakan pakaian sampai rusak, dan tidak mudah tergiur dengan microtrend yang sering muncul di media sosial. 

Salah satu cara untuk mengerem pembelian pakaian yang tak dibutuhkan adalah dengan membentuk capsule wardrobe, yaitu sejumlah pakaian yang dikurasikan berdasarkan gaya, kebutuhan, dan bentuk tubuhmu. Capsule wardrobe biasanya terdiri dari kaus, jaket, dan kemeja/gaun berwarna netral, celana bahan dan jeans, sepatu kasual dan formal, serta 1-2 pakaian dengan motif untuk menjadi signature gaya kamu.

Memang sebagai konsumen, perubahan pola konsumsi yang kita lakukan tak banyak mengubah realita fast fashion. Toh, bola tetap ada di produsen yang terus-terusan memompa barang-barang baru dan secara artifisial membuat tren yang berganti hanya dalam hitungan bulan.