Betulkah Ada Minimal Dalam Minimalisme?

Sekarang sudah abad ke-21: pemanasan global semakin sulit direm, es-es Antartika mulai meleleh, dan orang-orang semakin skeptis dengan kapitalisme. Skeptisisme ini juga meluber ke urusan gaya hidup. Semakin banyak selebritas dan influencer yang mempromosikan gaya hidup minimalisme, memuji gaya hidup ini sebagai gaya hidup yang hemat, eco-friendly, dan tidak neko-neko.

 

Pelopor modern untuk gaya hidup serba sederhana ini adalah Marie Kondo. Awalnya namanya tidak begitu dikenal di Barat, tapi ini semua berubah ketika New York Times memuji bukunya sebagai wangsit kehidupan dari Timur. Kepopuleran Marie Kondo semakin meningkat kala Netflix mendokumentasikan proses bersih-bersihnya di Tidying Up With Marie Kondo. Dengan ajaran KonMari-nya, ia mengajak para penonton dan pembaca untuk mengurangi hal-hal yang tidak spark joy. Oh, jangan lupa ucapkan terima kasih ke barang tersebut sebelum dibuang, ya

 

Naiknya gerakan minimalisme pada dekade 2010an bukanlah hal yang mengejutkan. Banyak orang yang merasa lelah dengan ramainya internet dan lingkungan perkotaan. Di sinilah minimalisme datang sebagai solusi: ia menjanjikan ketenangan pikiran dengan mengurangi kepemilikan barang-barang, mengkonsumsi barang-barang secara etis dan sesuai dengan kebutuhan, dengan bonus feeling good karena bisa berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon global. 

 

Namun sebelum ngehits di dunia modern, minimalisme sebetulnya sudah diterapkan lebih dulu oleh masyarakat Timur yang menganut Buddhisme, Zen, dan Taoisme. Baru pada 1900an para pemikir Barat berhenti menganggap filosofi Timur sebagai “tidak beradab” dan meliriknya sebagai filosofi yang bonafid. 

 

Meski begitu, pengertian mereka soal filosofi Timur banyak yang kurang tepat, seperti Nietzsche yang salah menginterpretasikan Buddhisme sebagai “nihilisme pasif” yang ingin menghancurkan dunia lama tanpa membawa dunia ke arah yang baru dan lebih baik. Meski demikian, interpretasi kurang tepat ini masih berjasa dalam melahirkan gerakan seni dadaisme dan minimalisme yang berusaha mengobrak-abrik seni di Barat. 

 

Desain, seni, gaya hidup

 

Konsep minimalisme baru mulai dirangkul di Barat pada awal abad ke-20. Bauhaus adalah pionir proto-minimalisme yang berusaha menyeimbangkan estetika dengan kegunaan. Form follows function, bentuk mengikuti kegunaan. Begitu filosofi mereka. Mies van der Rohe dan Marcel Breuer merupakan contoh desainer terbaik Bauhaus yang secara hati-hati mempertimbangkan dan mengembangkan desain yang bisa memainkan peran penting dalam masyarakat.

 

Minimalisme baru meluber ke dunia seni ketika Frank Stella menerbitkan hasil goresannya yang berjudul “Black Paintings” pada 1960an. Namun, aliran karya seperti milik Frank Stella dan Donald Judd kala itu lebih sering disebut sebagai “ABC Art”, “Cool Art”, sampai “Boring Art”. 

 

Istilah minimalisme baru muncul kala penulis teori seni Richard Wollheim menerbitkan esai berjudul “Minimal Art” pada 1965. Dalam tulisan tersebut, Wollheim berargumen karya gelombang seniman baru ini sebagai “karya yang minim konten seni”. Disebut begitu karena karya-karya mereka mendekonstruksi konsep seni klasik Barat lewat penggunaan barang-barang yang sudah ada. Tak ada lagi tangis, keringat, dan darah seniman yang identik dengan proses pembuatan karya.

 

Namun, lanjut Wollheim, karya minimalisme dibuat dengan jenis kerja yang spesifik, yaitu kuratorial. Kerja-kerja menghasilkan karya minimalis disalurkan ke pemilihan bahan baku, bentuk pengerjaan, besar karya, hingga ke soal kapan dan pada titik apa sebuah karya bisa dianggap selesai. Dalam menilai karya minimalisme, kita dipaksa mengapresiasi apa yang ada di depan kita. Dari sini pula konsep less is more lahir.


Pengaruh minimalisme di dunia desain semakin kokoh kala Dieter Rams mengeluarkan 10 manifesto desain bagus di akhir 1970. Manifesto ini lahir dari masa kecil Rams yang kerap menonton kakeknya bekerja sebagai tukang kayu serta observasinya akan dunia yang semakin berisik dan saling bertabrakan. Bagi Rams, penting bagi desainer untuk memahami bagaimana suatu barang bekerja, menitikberatkan desain pada fungsionalitas. 

 

Gaya hidup minimalis modern mendikte pengikutnya untuk hanya mengkonsumsi hal-hal esensial, mengurangi kepongahan, menghindari sikap belanja kompulsif, serta mengkritik makna sosial dari konsumsi. Para praktisi minimalis memilih melakukan konsumsi seperlunya (conscious consumption) karena mereka percaya hal ini membawa efek positif ke kehidupan pribadi dan sosial mereka.

 

Penelitian Kasey Lloyd dan William Pennington (2020) menunjukkan ada beberapa tema kunci perihal alasan mengapa orang memilih gaya hidup minimalis. Alasan pertama adalah otonomi (kebebasan, kesesuaian dengan nilai yang dianut, otentisitas); kompetensi (merasa memiliki kontrol terhadap lingkungan sekitar, berkurangnya tingkat stress dan kecemasan); ruang mental yang lebih luang (menghemat energi psikis, apa yang ada di dalam diri merefleksikan apa yang ada di luar); kesadaran (refleksi, mindfulness, menikmati); dan terakhir emosi positif (kebahagiaan, kedamaian). 

 

Bagi para responden penelitian Lloyd dan Pennington, hidup sebelum minimalisme dipenuhi dengan rasa “terperangkap”, “terbebani”, dan “terikat” oleh barang-barang yang mereka miliki—baik yang dibeli sendiri maupun pemberian dari orang lain. Sebagian responden mengaku mengobati rasa gelisah dan gundah dengan berbelanja karena itu satu-satunya obat yang mereka tahu. Sementara responden yang memiliki anak mengatakan waktu dan energi mereka banyak dihabiskan untuk merapikan, membersihkan, dan mengorganisir barang.

 

Para responden melaporkan kualitas hidup mereka meningkat pesat setelah berubah haluan ke minimalisme. Mereka punya waktu dan energi yang lebih banyak untuk mengurus keluarga, melakukan pekerjaan sukarela, dan membeli barang-barang yang dibuat secara etis dan ramah lingkungan. Semua pembelian dilakukan dengan riset dan pertimbangan yang matang.

 

Tak hanya itu, kaum minimalis percaya bahwa kita sebagai individu dan konsumen memiliki kontrol terhadap apa yang kita miliki. Barang seharusnya diperlakukan sebagai alat, bukan sebagai tujuan apalagi sumber kebahagiaan dan basis identitas individu. Oleh karenanya, konsumsi seharusnya diperlakukan untuk membeli barang-barang yang diperlukan, tanpa memikirkan ekspektasi sosio-kultural (Dopierała, 2017). 

 

Membaca testimoni-testimoni tersebut, minimalisme dianggap bisa menjadi solusi terhadap pemanasan global dan kapitalisme. Namun benarkah begitu? Apakah minimalisme bisa menjadi solusi terjitu bagi semua masalah kemanusiaan?

 

Kritik terhadap minimalisme

 

Sejak pandemi menghantam dunia, orang-orang kembali menyimpan barang-barang printilan dan mendokumentasikannya lewat tagar #cluttercore di TikTok dan Instagram. Foto dan video kamar serta apartemen sempit yang dipenuhi oleh barang  dari bawah sampai atas merupakan langganan tagar ini. Para pemiliknya pun bisa ditebak—golongan milenial dan gen Z. “Aku sudah pasrah aku tidak akan punya rumah, jadi membuat rumahku terasa nyaman dan menyenangkan sangat penting,” ucap Holton ke Guardian. Printilan, bagi mereka, adalah bagian dari identitas dan arsip ingatan yang sulit untuk dilepaskan. Maka tak mengherankan apabila pegiat minimalisme adalah mereka yang memiliki rumah.

 

Para pendukung minimalisme selalu menyatakan gaya hidup mereka “ramah lingkungan”. Pernyataan ini sekilas terlihat benar. Tapi viralnya bersih-bersih lemari a la KonMari pada 2018  lalu justru membuat pusat donasi dan panti asuhan dibanjiri oleh barang-barang tak layak pakai. Orang-orang membuang sampah mereka ke orang-orang miskin. Beggars can’t be choosers, kata mereka. 

 

Hal lain yang lebih mengganggu, tulis para pengkritik, adalah bagaimana gerakan minimalisme terlalu menekankan tindakan individu ketika mengkritik konsumerisme. Penekanan pada individu dan sikap individualistis yang dikampanyekan pendukung minimalisme tak hanya tidak efektif, tapi juga apolitis, tulis Mary Grigsby. Penekanan individualistis seperti ini melupakan fakta bahwa kapitalisme adalah sistem yang tak bisa dilawan dengan tindakan individual, tapi tindakan kolektif di segala lini.

 

Kritikan senada juga dilontarkan oleh Spencer Kornhaber. Di esainya yang diterbitkan oleh The Atlantic, Kornhaber menyamakan ‘bersihnya’ dunia karena lockdown pandemi dengan estetika minimalisme yang kosong. Kornhaber juga menuliskan orang-orang yang mempraktikkan minimalisme dan masih bisa hidup nyaman adalah mereka yang berprivilese dan kaya.

 

Kritik terhadap korelasi minimalisme dan privilese juga ditulis oleh Arielle Bernstein. Lewat pengalaman kakek-neneknya yang menimbun barang akibat trauma Holocaust. Bagi kakek-neneknya dan juga mereka yang tinggal dibawah payung kemiskinan struktural, menyimpan barang yang bisa jadi diperlukan nantinya adalah strategi bertahan hidup alih-alih pencapaian estetis.

 

Bicara tentang orang kaya, lagi-lagi tak mengagetkan kalau rumah-rumah minimalis inspirasional dimiliki oleh para selebriti papan atas. Hanya mereka yang memiliki kelebihan waktu dan kekayaan yang benar-benar bisa menerapkan pola hidup minimalisme. Hanya mereka yang bisa memikirkan apakah barang-barang yang dimiliki sekarang harus dipertahankan atau dibuang. Karena, toh, kalaupun ternyata mereka memerlukan barang yang sudah terlanjur dibuang, mereka bisa  membelinya lagi. 

 

Minimalisme juga menekankan agar kita membeli barang-barang berkualitas tinggi. Memang saran ini bagus, tapi barang berkualitas tinggi biasanya berharga mahal dan sulit ditemukan. Maka tak mengherankan apabila Kyle Chayka menyindir minimalisme sebagai gaya hidup yang mensimulasikan kemiskinan. Padahal gaya hidup ini bisa ada karena usaha dan kerja mereka yang tertindas. 


Akhir kata, hal yang perlu digaris bawahi adalah minimalisme hanyalah bentuk konsumsi lain. Ia tidak membuat kita mengkonsumsi lebih sedikit, tapi justru lebih banyak. Gaya hidup ini tidak akan pernah dan tidak akan pernah bisa menghancurkan kapitalisme. Kalau untuk semakin menekankan perbedaan kelas ekonomi sih memang gaya hidup ini tokcer sekali.