Dari Musik ke Aksi Politik ke Upaya Demistifikasi Les Rallizes Dénudés

Dari Musik ke Aksi Politik ke Upaya Demistifikasi Les Rallizes Dénudés

 

Cerita band tak melulu soal kesuksesan atau kejatuhan. Ada pula yang memilih menempuh jalan sunyi, menjauh dari popularitas, dan menarik untuk diikuti. Seperti jalan yang ditempuh Les Rallizes Dénudés, unit psychedelic rock asal Jepang.

Perjalanan Les Rallizes Dénudés bermula dari perkenalan Takeshi Nakamura (Gitar) dan Takashi Mizutani (Vokal/Gitar) yang sering berjumpa di klub musik kampus di Universitas Doshisha pada tahun 1967. 

Nakamura kala itu kagum melihat perawakan Mizutani dengan rambutnya yang gondrong. Ia kemudian mengajak Mizutani untuk membentuk band. Nama Les Rallizes Dénudés dicetuskan oleh Mizutani yang berarti koper kosong, frasa lain yang mengacu ke orang bebal dalam bahasa Prancis. Setelah menemui kata sepakat, keduanya lantas mencari dua personil tambahan. Berjodohlah mereka dengan Moriaki Wakabayashi (Bass) dan Takashi Katoh (Drum).

“Kami ingin bikin lagu berbahasa Jepang, termasuk nama bandnya juga. Pada saat itu, bermunculan band komersial di televisi menggunakan bahasa Jepang, tetapi tidak ada band yang benar-benar memainkan musik rock asli dalam bahasa Jepang,” ujar Nakamura menjelaskan semangat awal band ini terbentuk.

Setelah terbentuk, mereka merekam lagu-lagu yang sudah diciptakan. Tak puas dengan hasil rekaman di studio, mereka memilih merekam karyanya secara live. Lalu, keganjilan lainnya adalah band ini malah memilih menyimpan karya mereka alih-alih mendistribusikannya. Selain tak merilis karya, band ini juga mengalami bongkar pasang personel kecuali Mizutani.

Meski bisa dihitung dengan jari, mereka sesekali tampil di muka umum. Menjelang tahun 1991 tiga album mereka: 67–'69 Studio et Live, Mizutani / Les Rallizes Dénudés dan '77 Live dirilis oleh label Rivista dalam format CD. Dalam ketiga album tersebut, secara keseluruhan unsur noise yang dipadukan dengan gaya bernyanyi Mizutani seperti orang yang malas-malasan sangat terasa.

Ketiga album tersebut, menurut mantan pencabik bass kedua di grup ini, Makoto Kubota direkam hanya dengan menggunakan delapan mikrofon dan satu mesin kaset stereo.

“Mixer Sony sederhana tanpa EQ, jadi itulah mengapa rekaman itu terdengar seperti itu. Hanya itu yang kami punya,” ujar Makoto Kubota. “Ini musik psychedelic, dipengaruhi dari Velvet Underground, The Dead, Stooges. MC5 memberi pengaruh yang sangat besar. Tapi di tahun segitu, tidak banyak orang yang memainkan musik seperti  itu.” 


 

Hidup seperti Hantu

Bootleg karya-karya Les Rallizes Dénudés bertebaran bak jamur seiring mitos yang menyelubungi band ini. Karya Mizutani menyebar gila-gilaan. Pernah suatu waktu di tahun 1996, Makoto Kubota bertemu dengan seorang penggemar yang membawa piringan hitam album Mizutani / Les Rallizes Dénudés. Ia kaget dan merasa lucu secara bersamaan.

“Setelah itu ada banyak CD. Musiknya menyebar gila-gilaan dan dia (Mizutani) tahu itu,” ujar Makoto Kubota.

Melihat banyaknya bootleg karya Les Rallizes Dénudés, Kubota sempat melempar wacana kepada Mizutani untuk merilis resmi album-album mereka. Bahkan, di bulan-bulan sebelum Mizutani meninggal pada tahun 2019, keduanya masih membicarakan hal ini melalui telepon. Mizutani tertarik dengan wacana tersebut. Sayangnya, Mizutani tak sempat melihat karyanya dirilis. 

Baru pada tahun 2022, 3 tahun setelah Mizutani mangkat, Les Rallizes Dénudés merilis album resminya 67–'69 Studio et Live, Mizutani / Les Rallizes Dénudés dan '77 Live di bawah bendera perusahaan The Last One Musique dengan bantuan personel yang pernah terlibat di band ini. Dan mereka juga merilis posthumous album bertajuk The OZ Tapes pada 27 April 2022.

The Last One Musique juga mengecam semua karya Takashi Mizutani yang beredar di publik. Menurut mereka, semua rilisan fisik lain yang berkaitan dengan Les Rallizes Dénudés namun tidak dipublikasikan di situs web mereka, tidak ada kaitannya dengan Takashi Mizutani.

“Kami, The Last One Musique, adalah satu-satunya label yang memegang hak hukum atas rekaman asli Les Rallizes Dénudés. Tujuan kami adalah untuk menyediakan musik Takashi Mizutani yang diproduksi dengan presisi dan akurasi, dengan suara yang jauh lebih hidup dan mencolok daripada bajakan yang telah beredar selama dua puluh tahun,” tegas The Last One Musique melalui pernyataan di web resmi lesrallizesdenudes-official.com.

Aktivitas Politik Berakhir Jalan Sunyi

Di awal terbentuk, Les Rallizes Dénudés berisikan anak-anak muda yang gelisah. Saat itu, kondisi dalam negeri Jepang bergejolak lantaran kedekatan Jepang dengan Amerika Serikat di mana Amerika Serikat dianggap terlalu mendikte dalam banyak bidang.

Hal tersebut memicu anak-anak muda revolusioner yang melahirkan rangkaian protes. Salah satunya yang paling protes legendaris ialah Pembajakan Yodogo yang dilakukan oleh sembilan anggota Liga Komunis Jepang-Faksi Tentara Merah. 

Hari masih pagi saat sembilan anak muda revolusioner menaiki Boeing 727 Japan Airways di Bandara Haneda Tokyo dalam penerbangan menuju Fukuoka. Pada pukul 7.33 pagi, sembilan pembajak ini mulai melancarkan serangan saat pesawat mencapai ketinggian. Mereka menyerang kokpit sambil menenteng bom pipa dan pedang samurai. 

Kesembilan pembajak itu lantas meneriakkan kalimat ancaman yang membuat 129 penumpang yang masih dalam keadaan mengantuk ini ciut nyali. Penerbangan yang harusnya dijadwalkan 45 menit ini berubah menjadi perjalanan menegangkan.

Sembilan pembajak kemudian meminta pilot agar pesawat diterbangkan ke Kuba. Tapi sayang, bahan bakar pesawat hanya cukup untuk menuju tujuan aslinya, Bandara Itatsuki Fukuoka. Mengetahui hal tersebut, sembilan pembajak ini marah besar. Mereka menolak mendarat di Bandara Itatsuki Fukuoka

Selama tiga hari yang panjang, sembilan pembajak tersebut melakukan negosiasi dengan pihak berwenang. Akhirnya kedua belah pihak menemui kata sepakat. Pihak berwenang setuju dan mengizinkan sembilan pembajak ini terbang ke Pyongyang Korea Utara. Sesampainya di Korea Utara, kesembilan orang itu disambut dan mendapat gelar pahlawan budaya. Kesembilan orang itu mendapat suaka politik, dan diminta menetap di negara tersebut. 

Meski tak ada korban dalam aksi tersebut, Takaya Shiomi, pendiri Fraksi Tentara Merah pada Agustus 1969 dihukum 20 tahun penjara karena diduga menjadi motor pembajakan ini ini.

Situasi politik dan Hubungan Internasional Jepang geger, tapi Les Rallizes Dénudés digegerkan dalam urusan lain: Moriaki Wakabayashi, salah satu personel Les Rallizes Dénudé, menjadi salah seorang dari sembilan pembajak tersebut. Selama puluhan tahun, ia bersama pembajak yang lain menetap di Korea Utara.

Cerita yang bak film itulah yang acap dibicarakan saat membicarakan band ini. Kita mungkin lupa bagaimana betotan bass Wakabayashi di band ini. Kita hanya ingat namanya sebagai seorang pemuda berusia 20-an berani melancarkan aksi yang super nekat tersebut.

Selain cerita masa muda nan heroik Wakabayashi, menjauhnya Takashi Mizutani dari lampu sorot skena musik juga masih menarik perhatian. Beredar rumor yang menyebut bahwa Mizutani sebenarnya ditawari ikut dalam aksi pembajakan tersebut. Namun, ia menolaknya. Meski tak ikut insiden pembajakan, tetap saja namanya masuk daftar incaran CIA lantaran aktivitasnya yang dinilai membahayakan kestabilan negara. Sejak namanya ikut terseret, ia makin misterius.

Ia seolah menjauh dari dunia musik dan dunia politik. Ia hanya sesekali tampil. Ia juga jauh dari publikasi media. Salah seorang jurnalis Red Bull berniat mewancarai dan mencoba melacak keberadaan Mizutani, sayangnya usaha itu gagal.

Menurut Makoto Kubota, semasa hidup Mizutani tinggal berpindah-pindah di Tokyo. Selain itu, ia juga sempat tinggal di Prancis. Kubota sendiri mengaku tak pernah lagi bertemu dengan Mizutani. Baru di tahun 2019, Mizutani meneleponnya dan mengajak rencana untuk merilis karya-karyanya secara resmi.

Selain pengakuan Makoto Kubota, sulit rasanya menemukan literasi mengenai keberadaan Mizutani semasa hidup, bahkan di web resmi band ini pun tak banyak cerita tentang Mizutani. Seolah Mizutani hidup meninggalkan lampu sorot popularitas. Tetapi, benarkah sedramatis itu?

The OZ Tapes dan Upaya Demistifikasi

Cerita tentang Les Rallizes Dénudés nyaris seperti premis cerita-cerita seinen. Tentu band itu menyadarinya. Terlalu banyak misinformasi, hal-hal konspiratif, hingga cerita yang dibesar-besarkan akibat status mereka sebagai salah satu pionir rock psikedelik, keterlibatan mereka dalam tahun-tahun politik yang panas, serta kekosongan narasi otoritatif dari para anggotanya. Band ini tidak lagi bergerak sebagai band, tetapi mesin penghasil mitos yang hidup lewat lagu-lagu bajakan, blog fanboy, VHS buram, hingga internet.

Misteri tak lahir dari ruang hampa dan memperlakukan band ini sebagai mitos jelas merugikan mereka sendiri, bagaimana pun dibutuhkan arsip terpercaya dan hal-hal lain yang dapat membantu pendengar atau penulis musik menempatkan mereka tanpa jadi mitos yang lebay.

The OZ Tapes, yang dirilis oleh Temporal Drift dan bantuan dari banyak orang yang terkait dengan band, menandai dimulainya upaya untuk mendistribusikan dan mendokumentasikan grup Mizutani dengan benar, lengkap dengan liner notes detail dan komentar dari orang-orang di sekitar Les Rallizes Dénudés.

“Semua orang ingin memperbaiki keadaan. Ada begitu banyak informasi yang salah di luar sana tentang band ini,” kata salah satu pendiri Temporal Drift Yosuke Kitazawa.

Liner notes di dalam album ini berisi cerita akurat mengenai Mizutani dan Les Rallizes Dénudés, semacam upaya untuk menyingkap kabut mitos yang menghalangi band ini. Temporal Drift menyadari bahwa penting untuk menghadirkan band ini sebagaimana mestinya, sehingga orang dapat lebih menghargai proses bermusik sebuah band dan bukan memuja mitosnya.

Di dalam The Oz Tapes banyak terdapat tulisan yang straight forward tanpa pendapat pribadi tambahan tentang musik Les Rallizes Dénudés. Mereka juga menyediakan latar akurat dan gambaran bagaimana Mizutani berinteraksi dengan musisi lain di dunia artistik kecil Tokyo. Mizutani, bagaimana pun, cuma manusia biasa. Ia tidak seperti yang digembar-gemborkan orang yang sering menyebutnya ‘misterius’, ‘pendiam’, atau ‘tidak peduli’. Melalui album resmi ini, runtuh sudah semua mitos tentang Les Rallizes Dénudés.

Orang bisa mengakses sejarah mereka tanpa distorsi kepentingan pihak tertentu atau pemujaan orang yang berlebihan, hingga tak masuk akal, tentang musisi idola mereka. Saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah upaya yang sama yaitu mendemistifikasi seorang tokoh seni dalam sejarah musik dapat juga dilakukan di Indonesia? Agar kita memiliki sejarah utuh tentang musik kita sendiri.