Dating Apps Membuatmu Semakin Tidak Bahagia?

Sebelum ada Tinder dan aplikasi sejenis, orang-orang dari seluruh penjuru dunia mendapatkan pasangan lewat perjodohan yang berujung ke pernikahan. Berhubung perjodohan dilakukan untuk mengkonsolidasi kekayaan, status sosial, dan hubungan baik antar keluarga, banyak orang tidak bahagia dengan pernikahan mereka. Di Eropa, pernikahan yang didasarkan pada kesepakatan calon suami-istri alih-alih demi memupuk kekayaan dan status baru dimulai pada abad ke-19. Sejak itu, perjodohan dirancang pertama-tama bukan untuk langsung menikah, melainkan mempertemukan dua orang yang memiliki kemungkinan cocok untuk hidup berdampingan dalam pernikahan. 

 

Walaupun terpisah laut dan bahasa, praktik perjodohan sejak dahulu cenderung mirip dengan satu sama lain. Contohnya, Eropa mengenal praktik courtship, dimana calon pasangan perempuan yang ditemani pendamping menerima calon-calon pria yang dipilih oleh orangtua si perempuan. Di masyarakat muslim, praktik ini dikenal sebagai taaruf. Pembedanya biasanya berada di praktik pemberian hadiah pertunangan dan mas kawin: ada kultur yang mewajibkan keluarga perempuan memberikan mahar ke keluarga laki-laki atau malah sebaliknya. 

 

Asal Usul Pacaran?

 

Aturan perjodohan mulai melonggar pada awal abad ke-20; pengaruh orangtua mulai menurun, sehingga anak-anak muda mulai memilih pasangan mereka sendiri. Pertemuan mereka tak lagi terbatas di rumah sambil diawasi keluarga, tapi juga di tempat umum seperti jalanan, pasar, dan restoran. 

 

Istilah ‘dating’ mulai dikenal di abad ini, tepatnya pada 1920an. Pada masa ini, pacaran dalam konteks Amerika Serikat dan banyak masyarakat Barat lainnya mulai ditempatkan sebagai endgame sebuah hubungan alih-alih persiapan untuk menikah, tapi. Namun, bagi mayoritas penduduk dunia, pacaran masih dianggap sebagai metode penjajakan sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.

 

Dalam konteks Indonesia, pacaran berawal dari tradisi Melayu zaman dulu. Sang laki-laki yang ingin mempersunting perempuan datang ke rumah sang calon istri. Ia lalu berpantun atau memainkan suling untuk menarik perhatian ayah sang perempuan. Sang ayah akan menanyakan keseriusan laki-laki dalam mempersunting anaknya, lalu memanggil anaknya untuk ditanya pendapatnya. Apabila sang anak setuju, maka keduanya akan ditandai dengan tanaman pacar air. Dari sini lahirlah tradisi ‘pacaran’. 

 

Setelah ditandai, sang laki-laki diwajibkan untuk mempersiapkan dirinya sebelum menikah. Durasinya sepanjang 3 bulan atau sampai tanda pacarnya hilang dari jari. Setelah ini, sang laki-laki diberikan pilihan: merelakan sang pacar karena belum siap menikah atau lanjut ke jenjang yang lebih serius.  

 

Pacaran dalam Budaya Pop

 

Seiring waktu, tradisi pacaran dari yang main suling atau berpantun di depan rumah sang pujaan hati berubah menjadi membawa makanan. Anda bisa menyaksikan ini, misalnya, di film Warkop DKI yang berjudul Gengsi Dong (1980): Dono mendatangi rumah pujaan hatinya sambil membawa kue doger. Di film lain, Kasino membawa kue tart, yang bisa dibaca sebagai perubahan ke arah yang lebih ‘Barat’ dan modern. 

 

Tren ini berubah menjadi membawa martabak atau terang bulan di novel Lupus dan Olga Sepatu Roda di akhir ‘80an. Sepertinya terang bulan atau martabak menjadi pilihan karena bisa ditemukan dimana saja di malam hari. Ini penting karena orang-orang sering ngapel ke rumah pasangan pada malam hari. Tak hanya itu, martabak cocok di banyak lidah dengan harga yang pantas dan lebih murah daripada kue tart. 

 

Kebiasaan membawa martabak atau terang bulan untuk ngapel ini menarik karena sepertinya hanya muncul di media dengan latar belakang Jakarta dan Bandung. Namun, bisa jadi daerah lain punya kebiasaannya sendiri, tapi tidak terangkat karena jarang diangkat oleh media-media Jakarta. 

 

Di masyarakat Barat dewasa ini, kita kerap melihat pasangan yang belum menikah dan tinggal bersama alias cohabitation alias hidup bersama alias kumpul kebo. Kelihatannya sederhana, namun untuk sampai ke tahap ini pasangan memerlukan waktu yang panjang. Cohabitation dalam konteks Amerika Serikat dan Eropa mendapatkan momentum pada 1960an berkat lunturnya norma-norma sosial konservatif moral tradisional yang melemah dan keberadaan pil kontrasepsi membuat seks di luar pernikahan menjadi lebih lumrah. 

 

Menariknya, kumpul kebo sering dianggap sebagai ‘fenomena anak kuliahan’. Padahal orang-orang lulusan universitas jarang kumpul kebo–justru mereka yang berasal dari kelompok miskin yang lebih sering berada di hubungan tipe ini. Hal ini dikarenakan harga pernikahan yang begitu mahal. Turunnya pekerjaan stabil dengan gaji yang bagus juga menjadi alasan kenapa orang-orang enggan menikah dan memilih kumpul kebo. 

 

Meskipun mahal, banyak dari mereka yang masih ingin menikah. Ini karena pernikahan membawa banyak keuntungan daripada kumpul kebo saja. Tak hanya itu, pernikahan juga menjadi cara bagi pasangan untuk mengekspresikan cinta sekaligus merayakan hubungan mereka–baik dalam konteks sosial maupun hukum.  

 

Pacaran Modern

 

Perkembangan teknologi membuat pacaran menjadi lebih gampang diakses. Tak perlu lagi minta teman mengenalkan temannya yang jomblo atau dikenalkan dengan anak dari teman orangtua, sekarang urusan mencari pacar bisa dilakukan sendiri lewat media sosial atau dating app. 

 

Namun keberadaan aplikasi kencan mulai dikritisi karena merusak kesehatan mental dan tidak manusiawi. Alih-alih menghapuskan rasa kesepian, aplikasi kencan justru memperparah perasaan tersebut. Notifikasi match dengan orang lain dan jumlah match yang dimiliki memang bisa meningkatkan rasa percaya diri, tapi perasaan ini hanyalah sementara. Rasa senang yang diakibatkan bersifat sementara, sedangkan perasaan negatif—yang lahir dari di-ghosting, tidak digeser balik, dan perasaan bahwa harga diri kita hanya dinilai dari penampilan yang justru tidak abadi. Maka tak mengherankan apabila orang-orang kesepian cenderung bersikap impulsif; saking seringnya menggeser profil, kehidupan pribadi pun terpengaruh. 

 

Ketidakmanusiawian aplikasi kencan memang sudah didesain dari awal. Aplikasi kencan lebih sering berfokus pada foto dan profil pendek pengguna, yang kadang saking pendeknya tidak memberi informasi penting tentang diri pengguna yang sebenarnya. Beberapa aplikasi kencan membuat kuis atau desain profil yang lebih komprehensif untuk diisi oleh pengguna. Namun, ini juga tidak efektif dalam mengurangi rasa tidak berharga, kesepian, ketagihan, dan efek negatif lainnya.

 

Selain itu, ada permasalahan fetishisasi yang merugikan minoritas. Fetishisasi terjadi kala seseorang dinilai menarik secara seksual karena karakteristik non-seksual mereka, seperti etnis, seksualitas, dan bentuk tubuh. Hal ini dianggap merendahkan karena hanya menilai seseorang lewat penampilan dan melupakan bahwa mereka juga manusia dengan segala kompleksitasnya.  

 

Namun, bukan berarti aplikasi kencan sepenuhnya negatif. Aplikasi kencan memberikan kita kesempatan untuk berenang di kolam yang lebih besar, sehingga memperbesar kemungkinan untuk mendapatkan pasangan. Studi yang dilakukan pada kelompok jomblo dan pengguna aplikasi kencan di Swiss menunjukkan banyak orang menemukan pasangannya lewat aplikasi kencan. 

 

Tak hanya itu, tingkat kebahagiaan mereka setara dengan pasangan lain yang bertemu lewat cara-cara konvensional. Perempuan yang ada di aplikasi kencan lebih tertarik untuk menikah dibanding mereka yang mencari pasangan langsung. Ditambah aplikasi kencan juga memungkinkan orang-orang dari latar belakang pendidikan dan tempat tinggal yang berbeda untuk bertemu, membuat kolam pacaran menjadi lebih egaliter. 

 

Adanya aplikasi kencan memungkinkan kelanjutan evolusi hubungan intim manusia. Sekarang orang-orang bisa mencari pacar tanpa pusing memikirkan batasan geografis dan lebih terbuka dengan opsi pacar yang tak konvensional. Di masa depan nanti, bisa saja ada orang yang memilih untuk pacaran dengan AI, seperti Agus Hermawan dengan Sarah Sambiloto.