Dialita, Musik yang Menyembuhkan

 

Dialita, Musik yang Menyembuhkan

 

Menjelang akhir 2017, Dyah Paramita Saraswati alias Saras–yang saat itu masih berprofesi sebagai wartawan musik di Detik–untuk pertama kali menyaksikan Dialita dalam pertunjukan musik bertajuk Lagu untuk Anakku yang berlangsung di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. 

 

Sebelumnya nama Dialita, yang berisikan para perempuan penyintas 1965, berseliweran dalam obrolan bersama rekan-rekannya. Tapi, ia tidak pernah mengira bahwa lagu-lagu yang mereka nyanyikan terdengar begitu lantang dan menyentuh relung hati hatinya.

 

“Selain bernyanyi, mereka juga bercerita dan kisah mereka ternyata begitu pilu. Mereka mengisahkan mereka ditangkap tanpa adanya pengadilan terlebih dahulu, tanpa sempat berpamitan dengan orang-orang yang mereka sayangi,” kata Saras.

 

Setelah itu, kesukaannya pada Dialita makin menjadi-jadi. Empat tahun berselang di 2021, Saras mengangkat cerita Paduan Suara Dialita sebagai tesis guna menyelesaikan pendidikan Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia.

 

“Gue tertarik mendalami lagu-lagu mereka, karena gue percaya musik bisa jadi bentuk perlawanan yang lain. Cerita perempuan itu penting, apapun bentuk ceritanya. Karena ketika perempuan bercerita mengenai keseharian dia, dia juga bercerita pengalaman personal yang bisa berupa opresi dan gimana mereka menjalani keseharian sebagai the others dalam society yang patriarkal. Terlebih mereka adalah tapol 65, jadi ada double oppression di situ,” terang Saras.

 

Kesadaran Saras untuk menjangkau masa lalu adalah bentuk positif dari kehadiran internet. Oh, terima kasih internet! Selain itu, kita patut berbahagia atas akses buku-buku yang memberi gambaran terang bagaimana sejarah bekerja. 

 

Tanpa itu, kita mungkin hanya menerka-nerka. Saya membayangkan, tanpa internet dan akses pengetahuan, kita mungkin menganggap Dialita sebatas grup paduan suara yang berisi nenek-nenek menyanyikan lagu puja-puji untuk bangsa. Namun, dari pengetahuan tentang Dialita, kita jadi tahu Dialita tak sesederhana itu.

 

Menceritakan mereka rasanya sama seperti berhadapan dengan kekelaman sejarah bangsa Indonesia. Melalui Dialita, kita tahu bagaimana negara menghukum tanpa mengadili terlebih dahulu, termasuk menyunting bagian yang tidak diinginkan. 

 

Dialita adalah kelompok paduan suara yang berisikan para perempuan yang pernah ditangkap dan dijadikan tahanan politik tanpa adanya pengadilan. Mereka yang ditangkap adalah perempuan yang tergabung dalam Gerakan Wanita Indonesia (Gerwarni), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), maupun organisasi-organisasi lainnya yang memiliki hubungan dengan PKI. Selain itu ada pula mereka yang hanya terlibat dalam kegiatan yang berafiliasi dengan PKI atau kegiatan yang dianggap ‘kiri’.

 

Nama Dialita merupakan singkatan dari ‘Di Atas Lima Puluh Tahun’ yang merujuk pada usia para anggotanya yang rata-rata telah berumur lebih dari lima puluh tahun. Paduan suara ini terbentuk pada 2011, saat itu para perempuan penyintas 1965 kerap berkumpul dan

membuat bakti sosial untuk membantu sesama penyintas. 

 

Lima tahun setelah terbentuk, Dialita meluncurkan album berjudul Dunia Milik Kita (2016) yang

berisikan 10 lagu. Dalam album tersebut, Dialita turut mengajak nama-nama seperti  Frau, Cholil Mahmud, Sisir Tanah, Lintang Raditya, dan Keroncong Agawe Santosa sebagai kolaborator. 

 

Kesepuluh lagu yang ada di album tersebut merupakan lagu-lagu yang pernah hidup di penjara-penjara. Utati dan Mudjiati, dua anggota Dialita inilah yang berjasa mengumpulkan arsip dokumentasi dan menuliskan kembali lagu-lagu yang tercipta di Penjara Bukit Duri, Plantungan, Salemba, dan Ambarawa.

 

Musik dan Upaya Tetap Waras

 

Utati, dalam sebuah wawancara menyebut saat hidup di penjara tak banyak cara bagi tahanan mengekspresikan perasaan. Menulis tak bisa karena alat tulis dan kertas diharamkan. Dalam keadaan tersebut, musik jadi sarana menjaga kewarasan, tempat para tahanan mengadu sekaligus merawat harapan.

 

“Kalau pensil itu enggak bakalan (diizinkan untuk dimiliki tapol Bukit Duri). Buku juga enggak boleh masuk kecuali buku agama. Jadi yang dibaca oleh kami itu buku agama. Majalah saja dulu pernah ada yang mau memberikan majalah Kartini saja enggak boleh,” ujar Utati.

 

Pernyataan Utati ini membenarkan keraguan saya. Selama ini, dalam kedangkalan pengetahuan, saya selalu menyangsikan jika musik bisa menyelamatkan hidup seseorang. Ah lebay betul, kata saya. Padahal, kalau mau enggak tambeng, banyak literasi yang mencatat jika musik bisa mnejadi terapi menyembuhkan sesuatu. Terminologi terapi musik mulai dikenal pada aband ke-18. Walau jauh sebelum itu, musik sudah sering dipakai sebagai media penyembuhan.

 

Pada awal 1800-an, tulisan tentang nilai terapeutik musik muncul dalam dua disertasi medis, yang pertama diterbitkan oleh Edwin Atlee (1804) dan menyusul Samuel Mathews (1806). Atlee dan Mathews sama-sama murid Dr. Benjamin Rush, seorang dokter dan psikiater yang merupakan kerap percaya jika penggunaan musik untuk mengobati penyakit medis.

 

Namun secara praktik yang lebih luas, terapi musik makin populer di negara maju seperti AS setelah Perang Dunia 1. Saat itu, musik sering diputar di rumah sakit bagi veteran perang untuk menyembuhkan gangguan trauma dan mengurangi persepsi rasa sakit. 

 

Setelah itu, sekolah kesehatan di As makin serius mengembangkan cara ini dengan membentuk NAMT (National Association fot Musik Therapy) pada tahun 1950. Seiring berjalannya waktu, NAMT melakukan kerja sama dengan organisasi musik lainnya dan melebur di bawah nama AMTA (American Music Therapy Association) pada tahun 1998 yang berjalan hingga sekarang.

 

Terapi musik secara pengertian ialah penggunaan musik secara klinis untuk mencapai tujuan individu seperti mengurangi stres, meningkatkan mood dan ekspresi diri. Contoh umum terapi musik yang digunakan terapis musik di antaranya mendengarkan, menyanyi, memainkan alat musik, atau menggubah musik. 

 

Pengunaan musik sebagai terapi:

 

  • Menurunkan tekanan darah.
  • Meningkatkan daya ingat.
  • Peningkatan keterampilan komunikasi dan sosial melalui mengalami musik dengan orang lain.
  • Refleksi diri. Mengamati pikiran dan emosi Anda.
  • Mengurangi ketegangan otot.
  • Meningkatkan motivasi.
  • Mengelola rasa sakit.
  • Kegembiraan yang meningkat.


 

Setelah sedikit menyimak jika musik berguna sebagai terapi menyembuhkan rasa sakit, kita percaya jika musik tak sekadar bebunyian sebagai kawan perintang sunyi belaka. Musik, lebih dari sekadar hiburan. Ia sanggup menyembuhkan rasa sakit dan trauma atas masa lalu..

 

Terlebih dalam kasus Dialita, musik menjadi pengingat jika ada yang tidak belum selesai dengan sejarah bangsa ini. Lewat musik, mereka bersuara. Dialita tak butuh negara menghadirkan terapis musik untuk menyembuhkan luka masa lalu mereka. Toh tanpa negara, mereka sanggup menyanyikan sendiri lagu-lagunya. Dialita butuh negara hadir menyelesaikan ketidakadilan kasus pelanggaran HAM yang belum selesai. Sayangnya, sejauh ini negara tuli (atau pura-pura tuli) mendengar nyanyian mereka.