Doa Tulus Pendengar Mahalini

Doa Tulus Pendengar Mahalini

Mahalini akan menjadi diva.

Saya tahu kalian mungkin bakal mikir, "Yaelah, artis modal hype yang gak jelas lagi." atau “Klaim berlebihan dari penulis musik.”

Jika mengingat apa yang dia capai hari ini, rasanya klaim saya tak sekadar pepesan kosong. Jadi, selain Lyodra dan Dere, saya tak ragu mencantumkan nama Mahalini sebagai penyanyi yang bakal berumur panjang di industri musik Indonesia.
 
Penyanyi asal Bali itu baru saja meluncurkan debut album bertajuk Fabula yang dirilis pada 23 Januari 2023. Album tersebut mendapat sambutan meriah dari pecinta musik Indonesia baik di dalam negeri atau di luar negeri dan berhasil menempati posisi 1 di Indonesia dan posisi 7 di Malaysia dalam kategori top album di Spotify.

Tak henti sampai di situ, Sial juga berhasil menjadi lagu pertama dari penyanyi perempuan yang berhasil meraih lebih dari satu juta daily streams dalam sejarah Spotify Indonesia, hingga berhasil debut di posisi #180 pada global chart. Pencapaian makin disempurnakan oleh video lirik Sial yang diunggah StarHits Music yang sudah diputar lebih dari 10 juta kali. 

Saya memutar lagu Sial selama dua jam non-stop, dan saya kira saya tahu apa yang mungkin membuat lagu ini jadi begitu diminati banyak orang.


Vokal Menyayat
Dominasi instrumen keyboard membuat vokal Mahalini terdengar jelas. Tak ada nada yang meleset–setidaknya dari kuping orang awam seperti saya–sehingga kualitas vokal Mahalini benar-benar ditonjolkan. Kita tahu lagu yang mengawinkan vokal dengan denting keyboard/piano, jika disajikan dengan tepat, dapat menghanyutkan pendengar.

Saya memberi nilai lebih dengan formula Mahalini yang memberikan penekanan di lirik tertentu sebagai penegasan pesan yang ingin disampaikan. 

Sepanjang lagu, saya merasakan Mahalini seakan berbicara dengan orang yang sudah menyakiti di lagu ini. Saya sebagai pendengar seolah duduk bareng Mahalini dan orang yang sudah menyakitinya.

Puncaknya, saya merinding saat masuki bagian bridge yang menampilkan vokal Mahalini yang tinggi dibalut penjiwaan orang yang tersakiti.

Cara bertutur di lagu Sial ini mengingatkan saya dengan lagu Somene Like You (Adelle), Rindu (Agnes Monica atau Kekasih Sejati (Monita Tahalea).

Kesederhanaan Lirik
Kamu tak perlu membuka kamus atau mengernyitkan dahi saat mendengarkan lagu ini. 

Bahkan saat pertama mendengarkan lagu ini, kamu langsung paham Malini lagi ngomongin apa saat mendengar lirik, “Sampai saat ini tak pernah terpikir olehku//Aku pernah beri rasa pada orang sepertimu” atau, “Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu?//Yang datang beri harapan, lalu pergi dan menghilang.”

Lagu ini bercerita tentang seseorang yang kecewa yang telah dicurangi oleh orang yang amat ia cintai. Pergi tanpa pesan kalau kata orang dulu. Duh, pedih betul.

Btw, kamu kalau di posisi jadi orang yang ditinggalin gitu, kamu bakalan nyari dia atau malah mengekalkan dendam dalam diam?
Bikin Lagu Bareng Andmesh dan Kamga
Selain punya bakat menyanyi, Mahalini juga dikenal bisa menciptakan lagu. Di lagu Sial ini, Mahalini dibantu oleh dua musisi lain yakni Andmesh dan Mohammed Kamga.

Wah ini sih kolaborasi “tiga bawang” yang jadi jaminan bisa menbuat mendengar nangis. Andmesh merupakan seorang penyanyi sekaligus pencipta lagu yang dikenal punya lagu dan lirik yang sanggup menyentuh.

Dengar saja lagunya Rindu, sebuah tembang yang ia ciptakan untuk mengenang almarhum ibunya. Pernah di suatu konser, air mata saya hampir tumpah menyaksikan Andemsh membawakan lagu tersebut. Teman-teman menertawai saya. Peduli setan, ah.

Sedangkan Kamga, sebagai pencipta lagu tak perlu diragukan. Bersama Tangga, grupnya dulu, Kamga sukses meluncurkan banyak hits seperti Cinta Begini atau Utuh.

Mahalini tepat melakukan kolaborasi ini. Di masa depan, saya berharap Mahalini bisa berkolaborasi dengan Tulus atau Laleilmanino untuk memberikan sentuhan lain di karya selanjutnya. Setuju gak?

Jebolan Idol Dijamin Sukses?

Setelah yakin jika Mahalini adalah penyanyi hebat, saya ingin mengenalkan Mahalini kepada anda.

Ia terlahir dengan nama Ni Luh Ketut Mahalini Ayu Raharja, dikenal secara mononim sebagai Mahalini pada 4 Maret 2000 di Denpasar, Bali. Di usia yang masih muda, Mahalini sukses menembus lima besar ajang Indonesian Idol musim kesepuluh yang disiarkan di RCTI pada tahun 2019–2020. Sejak awal audisi, Mahalini membuat juri dan masyarakat terpukau dengan range vokal yang tinggi dan aksi panggung yang memukau.

Usai kompetisi Mahalini bergabung dengan perusahaan rekaman Hits Records, singel ketiganya Melawan Restu berhasil membawanya meraih penghargaan Indonesian Music Awards 2021 dalam kategori New Artist of the Year. Single itu membuat nama Mahalini makin meroket. (Maaf saya ndak berminat ngomongin percintaan dia dengan Rizky Febian).

Dengan meroketnya nama Mahalini, mau tak mau membuat kita tak bisa menutup mata akan keterlibatan Indonesian Idol yang membuat namanya makin dikenal. Meski tak bisa dipungkiri, kita kemudian akan dijejalkan pertanyaan: Apa pasti jebolan idol bisa sukses berkarier panjang di industri musik tanah air?

Kita baiknya tak tergesa-gesa menjawab pertanyaan tersebut.

Proses bisa mencuat di Idol tak semudahkan membalikkan telapak tangan. Kamu harus mengalahkan ribuan orang untuk sampai di tahap 15 besar dan masuk televisi. Setelah itu, tiap minggunya kamu akan bersaing ketat untuk sampai di 5 besar bahkan grand final. 

Maka sampai di sini, saya mau bilang kalau sebagai ajang kompetisi, Indonesian Idol menjadi salah satu pintu gerbang menembus industri. Setelah tahapan di ajang ini selesai, perjuangan dan industri yang sesungguhnya barulah dimulai.Setelah menjadi juara dengan sendirinya popularitas sudah berada di dalam genggaman. Lalu mau apa? Apakah bisa jadi jaminan bahwa popularitas itu bakal berumur panjang? 

Ternyata tidak.

Kamu mungkin masih ingat betapa masyarakat Indonesia dulu begitu heboh dan memuji nama-nama seperti Joy Tobing, Regina atau Ihsan saat kompetisi berlangsung. Kini, mereka sudah melepaskan gelar Idol di belakang namanya. Tanpa merendahkan pekerjaan atau pilihan hidup yang mereka pilih sekarang, bisakah kamu tunjukkan karya terbaru mereka? Sanggupkah mereka bertarung di industri musik Indonesia hari ini? 

Kamu mungkin akan mengajukan pertanyaan: Tapi kan ada Judika atau Kunto Aji yang jebolan Idol dan sanggup bertahan sampai sekarang? Benar mereka itu lulusan Idol. Tapi mereka berjuang sendiri selepas ajang pencarian bakat itu usai–bahkan hingga sekarang.

Judika dikontrak oleh Sony Music Indonesia pada tahun 2007 dan merilis singel debutnya Bukan Rayuan Gombal. Sedangkan Kunto Aji merilis Generation Y dan Mantra-mantra setelah dirinya menyelesaikan kontak dengan manajemen Indonesian Idol. Dua album yang dirilis secara independen ini sukses membuat namanya dikenal oleh dua scene sekaligus, independen dan mainstream.

Di generasi yang lebih muda, selain Mahalini yang kini bergabung dengan Hits Record, kita mungkin familiar dengan Tiara Andini, Lyodra atau Ziva, ketiganya juga merupakan jebolan idol. Setelah kompetisi selesai, ketiganya lantas dikontrak oleh label rekaman rekaman Universal Music Indonesia dan secara otomatis mereka ditangani oleh perusahaan manajemen artis milik MNC Group, Star Media Nusantara.

Dari penjelasan di atas, kita seakan menjadi gambaran jika perjuangan sesungguhnya baru dimulai setelah mereka menjadi alumni dalam ajang pencarian bakat. Tak ada jaminan mutlak. Apalagi di industri hiburan yang memungkinkan kamu dipuja dan ditinggalkan kapan saja.

Klise memang, tapi nyata jika dibutuhkan dibutuhkan kerja keras dan strategi jitu agar kamu tak terlindas oleh kereta industri yang melesat kencang dan tanpa ampun. Di ujung tulisan, saya berdoa agar Mahalini terus memaksimalkan potensi yang dimiliki demi mengibarkan namanya di industri musik. Ngeri membayangkan jika di masa depan ia akan dilupakan dan hanya dikenang dengan “penyanyi yang pernah melejit” di zamannya.