Fiksi Sains sebagai Media Komunikasi Sains

Fiksi Sains sebagai Media Komunikasi Sains


TL;DR
Fiksi Sains adalah media efektif untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat lebar melalui kolaborasi antara ilmuwan dan pembuat media.
Karya seperti novel “"The Three-Body Problem”" dan film “"Interstellar”" membuktikan bagaimana fiksi sains dapat menginspirasi penonton untuk belajar lebih banyak tentang sains.
Kolaborasi antara ilmuwan dan kreator media penting dalam memperluas pemahaman dan apresiasi terhadap sains melalui hiburan.


Sampai saat ini, komunikasi sains terlihat jarang dilirik sebab sains sering mendapat prasangka sebagai disiplin yang sulit atau rumit dipahami. Padahal, komunikasi sains harusnya digaungkan sebagai keahlian profesional bahkan ke tahap penerbitan, pembuatan film atau story telling. Dengan keahlian komunikasi sains, penulis, sutradara dan penulis bisa mengembangkan sebuah sektor hiburan secara keseluruhan. 

Tinjau Arthur C. Clarke, misalnya, seorang penulis fiksi sains yang juga merupakan fisikawan yang bekerja bersama editor, penerbit, penulis skrip dan sutradara Stanley Kubrick untuk mengembangkan 2001: A Space Odyssey. Kendati anggapan kebanyakan orang, 2001: A Space Odyssey bukanlah adaptasi dari buku. Karya ini merupakan karya fiksi sains yang dilakukan secara komunal, buku yang dinyatakan ditulis oleh Clarke dan film yang dinyatakan disutradarai oleh Kubrick itu sebenarnya dikerjakan bersama-sama. Meskipun demikian, kebanyakan ilmuwan tidak meluangkan waktu untuk mengedukasi publik mengenai sains melalui bahasa dan konsep yang mudah. 

Di Amerika, The National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (NASEM) berkolaborasi langsung dengan Hollywood untuk mengkomunikasikan sains ke berbagai lapisan penduduk. NASEM, dengan bekerja sama dengan Hollywood melalui Science and Entertainment Exchange telah berhasil menjodohkan pembuat film dengan ilmuwan untuk mendorong gambaran sains dan ilmuwan yang lebih akurat di film dan di televisi. 

Karya-karya fiksi sains dapat mendorong penonton untuk berpikir lebih dalam atau luas mengenai topik-topik sains, dengan mengenalkan mereka dengan ide-ide baru, atau gambaran dari konsekuensi skenario-skenario tertentu. Para peneliti di bidang komunikasi sains  biasanya memang mencirikan fungsi tersebut kepada fiksi sains sebagai genre literatur. Bahkan, berbagai studi di bidang komunikasi sains menunjukkan bahwa karya fiksi sains efektif sebagai alat komunikasi sains. Karya-karya ini dapat digunakan untuk meningkatkan ketertarikan kepada sains baik dalam skala kecil maupun besar, dan mendorong penikmat karya sains fiksi untuk terlibat dalam diskursus sains terbaru. 

Memang dalam disiplin komunikasi sains, melalui berbagai penelitian telah ditemukan bahwa penggunaan narasi dalam penjelasan suatu konsep ilmiah meningkatkan tingkat pencerapan informasi. Tapi ‘narasi’ saja tidak sama dengan fiksi sains. Fiksi sains adalah genre literatur yang sangat luas, dengan berbagai subgenre-subgenre yang variatif. Mungkin dalam pembentukan narasi ilmiah, karya fiksi sains yang menarik perhatian kita adalah hard science-fiction, dimana biasanya pengarang menulis penjelasan bagaimana suatu fenomena di dalam novel dapat terjadi. 

The Three-Body Problem: Dampak dan Diskusi atas Karya Penulis Hard Sci-Fi Populer

Daripada meraba-raba, mari kita ambil contoh salah satu novel hard sci-fi yang terkenal: The Three-Body Problem oleh Cixin Liu. Agar tidak terlalu banyak spoiler, penjelasan akan dibatasi ke judul novel saja. Dalam novel tersebut, Cixin Liu membangun narasi dengan perlahan dan mendetail untuk menjelaskan apa persisnya three-body problem atau masalah tiga-benda itu. Bahkan dapat dikatakan bahwa Liu membawa kita berpetualang bersama untuk mengerti masalah tiga-benda. Liu juga menggunakan fenomena fisika seperti Cosmic Microwave Background yang digunakan secara cermat dengan penjelasan yang cukup matang dan konsekuensi terhadap plot yang signifikan, bukan sekedar name-dropping atau techno-babble. Di bab-bab menuju akhir, mungkin Liu kekurangan jumlah halaman sehingga beberapa penjelasan datang dalam bentuk eksposisi panjang untuk menjelaskan fenomena di buku. Kendati demikian, Liu berhasil menarik perhatian kita dengan alur cerita yang ia buat, sehingga meskipun penuh dengan penjelasan fisika, pembaca masih dapat menikmati novel. Dari sisi akurasi ilmiah, memang ada beberapa masalah di gagasan Liu, tapi namanya juga fiksi, penulis bebas berimajinasi. Fiksi sains tidak perlu akurat secara ilmiah, tapi diperlukan konsistensi dalam narasinya. 

Semenjak diterbitkan, fans The Three-Body Problem berkembang cukup besar, dan di forum-forum diskusi, mereka juga ikut membahas fenomena sains lain yang berkaitan dengan alur cerita novel Three-Body. Sehingga argumen bahwa fiksi sains dapat mendorong pembaca untuk mengetahui dan mencari tahu soal sains terealisasi dalam forum-forum pembaca fiksi sains. Dalam media lain, TV misalnya, fans serial Star Trek sangatlah banyak dengan demografi yang beragam. Fans-fans ini kerap membahas topik-topik sains, bahkan yang hubungannya mungkin hanya sedikit dengan franchise Star Trek. Di dalam forum, fans mengadakan diskusi, menyebarkan berita diskusi atau artikel sains yang berkaitan dengan sains dibalik Star Trek, literasi sains meningkat akibat perjalanan bintang kapal USS Enterprise. Contoh lainnya, terdapat studi di bidang komunikasi sains yang secara spesifik meneliti penonton serial Doctor Who. Meskipun tidak semua penonton menjadi fans militan yang sering membahas sains, beberapa responden menyatakan bahwa ketertarikannya mengenai isu sains meningkat, bahkan beberapa responden mengejar karir di bidang sains karena terpengaruh serial Doctor Who. Doctor Who dan Star Trek, meskipun sama-sama serial fiksi sains, cukup berbeda dari satu sama lain, Doctor Who lebih banyak spektakel dan adegan-adegan menakjubkan dibandingkan masalah ilmiah, bahkan Doctor Who cenderung mengandung banyak techno-babble. 

Penulis-penulis hard sci-fi modern yang laku di pasaran seperti Cixin Liu, Adrian Tchaikovsky, memiliki latar belakang akademis di STEM (Science, Technology, Engineering dan Mathematics) sehingga mungkin memiliki kapabilitas untuk menjelaskan topik-topik sains dengan lebih mudah. Isaac Asimov dan Arthur C. Clarke dari generasi sebelumnya juga merupakan penulis fiksi sains dengan latar belakang STEM, bahkan untuk kasus Asimov, ia juga merupakan profesor. Karya-karya Asimov dan Clarke sangatlah berpengaruh di dunia fiksi sains, dan tak lekang oleh waktu. Berbeda dengan Liu atau Tchaikovsky, penulis hard sci-fi seperti Andy Weir tidak memiliki latar belakang dari STEM, tapi jika kita melihat bagian “Acknowledgements” di belakang bukunya, kita akan menemukan ahli-ahli di bidang STEM tertentu yang menjadi konsultan Weir dalam menulis buku. Inilah peran Science Entertainment Exchange di Amerika, karena penulis dapat menjalin koneksi dengan ilmuwan yang berhubungan, dan ilmuwan dapat membagikan ilmunya melalui narasi fiksi sains. Konsultan sains bukanlah konsep baru. Franchise Star Trek sejak awal tayang di tahun 1960-an memiliki konsultan sains. Sehingga konsep-konsep seperti transporter (alat teleportasi) dan lain-lain didasarkan oleh teori sains, yang meskipun kadang dipertanyakan. Misalnya, di dalam transporter Star Trek, ada komponen alat bernama Heisenberg compensator untuk meniadakan efek ketidakpastian Heisenberg saat memindai informasi dari tubuh seseorang. Meskipun secara teknis techno-babble, dari berbagai macam bentuk franchise Star Trek, mereka memiliki buku panduan teknis yang ditulis oleh para konsultan sains dan teknis dari franchise tersebut. Bahkan fisika dalam Star Trek pun dibahas dengan komprehensif dalam “The Physics of Star Trek” oleh Lawrence M. Krauss, seorang fisikawan ternama (tetapi problematik). 

Stigma dan Tantangan yang Dihadapi oleh Fiksi Sains

Fiksi sains sebagai genre sebenarnya cukup lama dianggap sebagai genre yang niche. Peminatnya terbatas, dan dianggap rumit, tapi tidak memiliki literary merit yang cukup tinggi. Pasalnya, fiksi sains menarik perhatian masyarakat paling besar pada masa Perang Dunia, dimana pembaca butuh eskapisme sesaat dari dunia yang kelam. Oleh karena itu, fiksi sains menjadi genre picisan yang hanya menjual spektakel untuk menghibur pembaca agar cepat laku. Fiksi sains juga mempunyai stigma bahwa isinya hanyalah jargon-jargon ilmiah agar terlihat keren saja, tapi tidak bermakna apapun. Pada masa ini, fiksi sains tidak dilihat sebagai media komunikasi sains, fiksi sains adalah sebatas genre seperti genre cerita romantis. Beberapa puluh tahun silam karya fiksi sains sangatlah banyak di pasaran, tapi yang bertahan melalui waktu hanyalah karya-karya ikonik seperti Asimov, Philip K. Dick atau Ursula K. Le Guin. Sebetulnya ada cerita panjang kenapa karya-karya mereka bagus dan berpengaruh, tapi itu cerita untuk lain hari. Dewasa ini sepertinya fiksi sains sudah menarik perhatian pembaca lagi dengan karya-karya baru seperti Three-Body atau kumcer dari Ted Chiang. Nampaknya, generasi sekarang sudah mulai lupa akan stigma buruk fiksi sains dan mulai menyimak pengaruh fiksi sains di dunia literatur. 

Adapun yang sering luput dari perhatian pembaca, comic book movies seperti Marvel Cinematic Universe juga memiliki konsultan sains, atau paling tidak film Ant-Man and the Wasp. Konsultan sains dari film Ant-Man and the Wasp, Spyridon Michalakis adalah seorang fisikawan teoretis di Caltech, ia bahkan membuat banyak penjelasan mengenai topik-topik yang dibahas di film tersebut. Meskipun didasarkan oleh teori kuantum, Ant-Man and the Wasp akhirnya menjadi film yang menggaungkan quantum buzzwording, atau penggunaan kata kuantum untuk merujuk ke hal-hal yang rumit. Tapi, ya, karena animo film seperti itu sangat besar, tidak menutup kemungkinan penonton tertarik untuk mencari lebih lanjut mengenai sains yang kerap disebut dalam film itu. 

Dalam media lain, film fiksi sains seperti Interstellar yang konsep sainsnya cukup kuat juga memicu banyak diskusi mengenai sains dan fisika dibalik film itu di antara penonton awam. Tentu saja, selain sutradara yang kelas kakap (Christopher Nolan), konsultan sains Interstellar juga tidak kalah termahsyur, yakni Kip Thorne, pemenang Nobel di bidang fisika. Meskipun Interstellar merupakan proyek pertama Thorne sebagai konsultan sains film, Thorne memang sudah tertarik untukk dapat menjelaskan konsep-konsep relativitas kepada publik, dan ia melakukannya lewat Interstellar. Ingat adegan-adegan ikonik dari black hole atau ketika karakter utamanya melalui wormhole? Penggambaran dalam adegan-adegan itu semua didasarkan oleh perhitungan Thorne, bekerja sama dengan tim efek visual. Penjelasan Thorne mengenai film Interstellar kemudian dijadikan buku berjudul “The Science of Interstellar”. Partisipasi aktif dari ilmuwan layaknya Thorne inilah yang perlu didorong agar penikmat media awam dapat membuka wawasan melalui hiburan seperti film. 

Meskipun mungkin secara mikro setelah kita membaca novel dan menonton serial atau film fiksi sains biasanya kita tidak merasa habis “diajari” oleh media hiburan tersebut, ternyata fiksi sains dapat mendorong kita untuk berpikir mengenai topik-topik sains yang biasanya tidak masuk ke radar keseharian kita, atau mungkin penikmat yang awalnya abai terhadap sains, bisa menjadi tertarik dengan dunia sains dan meniti karir karena terinspirasi dari fiksi sains. Fiksi sains tidak harus memiliki penjelasan yang rumit untuk menginspirasi, fiksi sains hanya perlu dinikmati, dan mendorong kita untuk bertanya hal-hal ilmiah yang biasanya luput dari keseharian kita.