Gender Pay Gap yang Masih Menghantui Perempuan Seluruh Dunia

 dibanding laki-laki. Ada apa gerangan?

 

Kesenjangan gaji masih menjadi masalah serius yang tak kunjung terpecahkan. Ia bukan hanya masalah negara-negara berkembang, tapi juga negara maju. Faktor-faktor penyebabnya banyak, tapi akarnya berasal dari struktur patriarki yang membatasi gerak dan bidang kerja perempuan. 

 

Banyak perempuan terpaksa bekerja di sektor informal yang lekat dengan imaji keperempuanan, seperti industri pelayanan, kesehatan, manufaktur tekstil, dan lain-lain. Sektor-sektor ini selain membayar buruh mereka dengan murah, juga tak memberikan pekerjaan yang stabil. Pekerjaan-pekerjaan ini kerap kali punya jam kerja yang panjang atau hanya menyediakan jam kerja paruh waktu tanpa jaminan kerja yang jelas. 

Terjemahan: Kesenjangan gaji/jam yang dirasakan oleh perempuan di berbagai negara. Chart-nya ini makin tinggi = makin tinggi beda gaji antara laki-laki vs perempuan.

Sumber: https://www.ituc-csi.org/IMG/pdf/the_gender_wage_gap_en.pdf 

 

Selain mendapatkan gaji yang lebih rendah, kerja perempuan seperti kerja perawatan kerap kali tak dihargai. Kerja perawatan dianggap sebagai pekerjaan yang secara alamiah bisa dilakukan oleh perempuan. Anggapan ini yang menyebabkan ia tak dihargai sebagai pekerjaan layaknya pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki. 

 

Tak mengakui pekerjaan perempuan sebagai pekerjaan yang setara dengan laki-laki menghambat kemajuan masyarakat. Dunia tak akan berfungsi tanpa adanya kerja perawatan yang dilakukan oleh perempuan. 

 

Apa saja yang harus dilakukan untuk menjembatani kesenjangan partisipasi kerja dan gaji yang diterima perempuan serta pembagian kerja?

 

  1. Memperkenalkan kuota khusus perempuan di pemerintahan dan sektor-sektor kerja yang kental dengan laki-laki, seperti sektor teknologi. 
  2. Mencanangkan program dan kebijakan yang ramah perempuan dan keluarga, seperti cuti hamil dan melahirkan untuk ayah dan ibu yang cukup panjang.
  3. Mendorong perusahaan untuk membayar pekerja perempuan setara dengan pekerja laki-laki dan menempatkan perempuan di posisi-posisi manajerial dan kepemimpinan.