Gula, Kamu Enak Tapi Jahat (Kalau Berlebihan)

Ini kisah Amanda. Dari kecil orangtua Amanda suka memanjakannya dengan makanan manis. Setiap dia rewel, orangtua langsung memberinya susu rasa stroberi atau permen berbagai rasa. Trik ini terbukti sukses; Amanda kecil anteng, tapi banyak gigi susunya yang bolong karena konsumsi gula berlebih.

 

Karena terlalu sering diberikan makanan manis, Amanda jadi punya ketergantungan terhadap gula. Ia jadi malas minum air putih dan akan tantrum kalau tidak diberi teh atau susu manis. Orangtuanya pusing, tapi karena sudah kepalang sayang, mereka menyerah dan memberikan apa yang ia inginkan. 

 

Kebiasaan Amanda ini berkali-kali jadi sorotan dokter anak dan dokter giginya. Namun sulit untuk mengubah kebiasaan yang sudah dipupuk dari kecil. Orangtuanya hanya bisa mengubah kebiasaan Amanda dengan mengurangi minuman kemasan ke buah dan jus. Tapi itupun sering tidak disentuh. 

 

Kebiasaan makan makanan manis–baik sebagai pemuas keinginan sekaligus distraksi dari pikiran negatif–terus dilakukan oleh Amanda sampai dewasa. Kebiasaan buruk ini diperparah oleh keengganannya untuk berolahraga. Kebiasaannya lari ke makanan manis makin parah ketika ia sedang mengerjakan skripsi. Berat badannya pun naik drastis. Tak hanya itu, ia juga merasa gampang lelah, mudah lapar dan haus, serta sering buang air di malam hari.

 

Khawatir, ia pergi ke rumah sakit untuk dites. Hasilnya? Amanda didiagnosis diabetes tipe 2. Saat itu usianya baru 22 tahun. 

 

Manisnya Gula Seganas Efek Jangka Panjangnya

 

Amanda memang bukan orang betulan; ia adalah karikatur buatan saya untuk menyorot bahaya konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang. Tapi selain itu, Amanda adalah contoh kasus dari semakin banyaknya anak-anak muda yang mengidap diabetes tipe 2. 

 

Orang-orang seperti Amanda merupakan kelangkaan beberapa dekade lalu. Tapi ceritanya sekarang menjadi cerita yang tak asing lagi–dari lorong rumah sakit sampai media sosial. Celakanya, laju peningkatan pasien diabetes diprediksikan akan terus naik. International Diabetes Foundation (IDF) memperkirakan pasien diabetes Indonesia akan naik menjadi 23,33 juta pada 2030 dan terus meningkat sampai 28,57 juta di tahun 2045.

 

Diabetes merupakan momok kesehatan yang sangat genting. Selain karena tak bisa disembuhkan dan hanya bisa dikontrol, diabetes juga menurunkan kualitas hidup pasiennya apalagi ketika penyakitnya sudah mencapai tahap komplikasi. Komplikasi yang diakibatkan diabetes sangat banyak, antara lain: masalah mata (retinophaty) yang bisa menyebabkan kebutaan, masalah kaki yang bisa berujung amputasi karena luka yang sulit kering, serangan jantung, stroke, gangguan ginjal, kerusakan saraf (neuropathy), penyakit gusi dan mulut, disfungsi seksual, sampai kanker.


 

Beban yang diakibatkan diabetes tak hanya terletak pada kesehatan pasien, tapi juga ke ekonomi pasien dan negara. Memang pengobatan penyakit diabetes dikover oleh BPJS Kesehatan, tapi ada pula dana yang harus ditanggung oleh pasien sendiri. 

 

Perhitungan yang dilakukan oleh Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS) UI menunjukkan perlu dana sebesar Rp199 triliun per tahun untuk membiayai pasien diabetes dengan komplikasi. Sedangkan tim penelitian UNAIR menunjukkan dana yang dikeluarkan oleh pasien pribadi yaitu biaya medis langsung sebesar Rp173.560 - Rp1.266.240 per orang per bulan. Sementara biaya langsung non-medis sebesar Rp0 - Rp240.000 dan biaya tak langsung sebesar Rp0 - Rp1.200.000 per bulannya.  

 

Gula, dalam Sendok

 

Walaupun risiko yang diakibatkan diabetes nyata, banyak orang yang masih menyepelekannya. Menurut Riskerdas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2018, 61,27% penduduk Indonesia di atas usia 3 tahun mengkonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari. Mengingat minuman kemasan punya kandungan gula 10-30 gram dalam satu porsi, bisa jadi mereka melebihi rekomendasi konsumsi gula Kemenkes, yaitu 50 gram/hari. 

 

[Infografis: 50 gram gula setara dengan 5-9 sendok teh (anggapannya 1 sdt=5g gula). Coca Cola 350ml: 39 gram gula (hampir 8 sendok teh gula). Es teh manis kemasan: 20-30 gram gula (4-6 sendok teh gula), milk tea dengan boba: 38 gram gula (hampir 8 sendok teh gula). Minuman isotonik: 25-40 gram gula (5-8 sendok teh gula). Es krim cone: 22 gram gula (4,5 sendok teh gula, yogurt tanpa rasa: 10 gram gula (2 sendok teh gula), kopi dan teh tanpa gula: 0 gram gula)]

 

Namun bagi orang-orang aktif–baik karena pekerjaannya menuntut mereka untuk wara-wiri seperti pelayan, kuli, dan petani atau karena rutin berolahraga minimal 3 kali dalam seminggu–bisa mengkonsumsi gula lebih banyak. Ini karena tubuh mereka bisa membakar kalori lebih banyak dari orang-orang biasa.

 

Masalahnya, kita sudah terlalu terbiasa dengan rasa manis, sampai-sampai reseptor perasa kita ‘mati rasa’ dengan rasa manis. Teh yang sudah diberi 1-2 sendok teh gula rasanya masih hambar di lidah, sementara minuman kopi kemasan dengan gula 20 gram baru terasa pas manisnya. Celakanya juga, banyak dari kita yang mengonsumsi minuman dan makanan kemasan manis lebih dari sekali. Boro-boro menghitung jumlah gula masuk, tahu batasan konsumsi gula per hari saja bisa jadi tak tahu. 

 

Ini yang membahayakan mengingat banyak penderita diabetes Indonesia tak terdeteksi. Laporan International Diabetes Foundation (IDF) menyebut ada 73,7% penderita diabetes tapi belum terdeteksi di Indonesia. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga soal penderita diabetes yang belum terdeteksi. Ada banyak faktor kenapa belum terdeteksi, tapi penyebab utamanya adalah keengganan atau ketidaktahuan warga untuk melakukan pengecekan kondisi tubuh (check up) rutin.  

 

Celakanya lagi, banyak produsen yang menyembunyikan gula dalam makanan dan minuman yang mereka jual. Biasanya gula disebut sebagai sukrosa, dextrose, maltosa, fruktosa, laktosa, glukosa, sirup agave, sirup jagung, dan madu. Semakin awal bahan ini disebut, semakin besar kandungannya dalam makanan atau minuman. Nah meskipun beberapa pemanis disebut sebagai ‘pemanis alami’ dan dianggap lebih sehat, kenyataannya tidak begitu. Tubuh akan tetap menandai pemanis-pemanis alami ini sebagai gula.

 

Namun hal ini bukan berarti kita harus menekan konsumsi gula sampai ke titik nol. Gula ada di dalam berbagai makanan kita, terutama di buah, biji-bijian, sayur. Gula dalam buah, sayur, dan biji-bijian tak jelek karena mereka mengandung banyak serat dan vitamin yang diperlukan oleh tubuh. Gula tambahan yang ada di makanan dan minuman kemasan juga tak selamanya buruk, asal kita bisa mengontrolnya supaya konsumsi gula harian tak melebihi 50 gram/hari.