Hari Buruk di Meta

Rabu kelabu di Meta alias Facebook. CEO Mark Zuckerberg mengumumkan bakal memecat 11 ribu orang atau setara 13% dari total pegawai sebagai langkah efisiensi keuangan perusahaan. Ini adalah PHK massal pertama sejak Zuckerberg mendirikan Facebook pada 2004. 

 

“Saya ingin bertanggung jawab atas keputusan ini dan bagaimana kita bisa sampai di sini (pemecatan pegawai). Saya tahu ini berat untuk semua orang, dan saya secara khusus meminta maaf kepada siapa pun yang terdampak,” kata Zuckerberg dalam keterangan resminya di laman Meta pada 9 November 2022.  

 

Zuckerberg mengaku telah keliru melihat masa depan perusahaan. Ia terlalu optimis melihat lonjakan bisnis e-commerce selama pandemi Covid-19 sebagai momentum pertumbuhan permanen bisnis daring. Ia pun meningkatkan investasi secara signifikan. Namun, “sayangnya, ini tidak berjalan seperti yang saya harapkan.”

 

Dalam keterangannya, Zuckerberg pun mengungkap rencananya ke depan untuk menyehatkan lagi keuangan Meta. Ia mengatakan bakal lebih merampingkan perusahaannya dan mengalihkan lebih banyak sumber daya ke sejumlah kecil lini bisnis potensial, termasuk iklan, AI, dan metaverse.  

 

“Secara fundamental, kami membuat seluruh perubahan tersebut karena dua alasan: pendapatan kami lebih rendah dari yang diharapkan pada awal tahun ini, dan kami ingin memastikan mengoperasikan seluruh platform dan Reality Labs secara efisien,” kata Zuckerberg. 

 

Meta memang perlu bangkit dari keterpurukan. Zuckerberg pun tentu boleh saja membuat resep ini dan itu terkait masa depan perusahaannya. Pertanyaannya, mampukah resep Zuckerberg meningkatkan lagi keuangan Meta?  

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mula-mula bisa melihat ke postur sumber pendapatan Meta. Berdasarkan laporan keuangan Meta, selama setahun ke belakang pendapatan terbesar ternyata berasal dari bisnis iklan platform (Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger). Rasionya selalu mencapai lebih dari 90% dari total pendapatan. 

 

Pada Kuartal II-2022 lalu, misalnya, bisnis iklan mendapat untung US$ 28,152 miliar. Angka ini setara 97% dari total pendapatan saat itu yang sebesar US$ 28,82 miliar. Jauh lebih besar daripada pendapatan dari layanan bisnis lain di keluarga platform yang hanya US$ 218 juta. 

 

Sumber: Meta 

 

  

Melihat postur pendapatan tersebut, masuk akal bila Zuckerberg ingin mengoptimalkan sumber daya Meta untuk mengembangkan bisnis iklan. Terlebih jumlah pengguna aktif bulanan platform di keluarga Meta terus meningkat dalam setahun ke belakang. 

 

Tren pengguna seluruh platform Meta bisa dilihat dalam tabel di bawah ini: 

 

 

 

Sumber: Meta 

 

Meski demikian, langkah Meta mendulang uang lebih banyak dari iklan bakal lebih sulit ke depannya. Meta harus menghadapi ganjalan dari kebijakan pembatasan tracking lintas aplikasi dari Apple yang berlaku sejak tahun lalu. Aturan ini mempersulit Meta melihat kecenderungan pengguna untuk menyajikan iklan yang relevan. 

 

Laporan The Financial Times pada November 2021 lalu, menemukan Facebook menjadi aplikasi paling terdampak akibat kebijakan ini. Setidaknya Facebook bakal kehilangan US$ 8 miliar dolar atau setara 13,2% dari pendapatan tahunannya. 

 

Sementara, berdasarkan laporan Meta, pada Kuartal II-2022 lalu Facebook kehilangan 2 juta pengguna aktif bulanannya. Penurunan tersebut paling banyak berasal dari pengguna di regional Eropa akibat perang Rusia-Ukraina, seperti bisa dilihat dalam tabel berikut: 


 

 

Sumber: Meta 

 

Di sisi lain, Meta juga mesti menghadapi TikTok yang saat ini sedang naik daun. Berdasarkan data We Are Social Report, rata-rata masyarakat dunia paling banyak menghabiskan waktu main media sosial di TikTok selain di Facebook dan YouTube. 

 

 

 

Sumber: We Are Social Report

 

Tantangan lain adalah kepercayaan pengguna ke Meta. Perusahaan ini memiliki rekam jejak buruk dalam melindungi data pengguna. Dalam satu dekade ke belakang, tercatat sembilan kali data pengguna Facebook bocor, termasuk skandal Cambridge Analytica terhadap 50 juta data pengguna. Kasus terakhir pada 2021 lalu ketika setengah miliar data pengguna Facebook bocor. 

 

Pada Agustus 2022 lalu, seorang eks teknisi Google pun mengungkap Meta memasukkan kode tertentu untuk menelusuri aktivitas pengguna. Isu ini turut menambah pesimisme pengguna terhadap keamanan data dalam produk-produk Meta. 

 

Hal itu pun terlihat dari sentimen negatif terhadap Meta yang meningkat selama beberapa waktu ke belakang, sebagaimana ditunjukkan analisis GlobalData berikut ini: 

 

 

 

Metaverse memang diprediksi sebagai masa depan internet dan bisa menjadi sumber pendapatan lain dari Facebook. Namun, ambisi Zuckerberg di lini ini justru bisa mengganjal pulihnya kesehatan keuangan Meta. 

 

Laporan The Wall Street Journal mengungkap data internal Meta yang mencatat pengguna aktif bulanan Horizon Worldsdunia metaverse Meta–kurang dari 200 ribu orang setelah setahun diluncurkan. Bahkan Meta merevisi target pengguna aktif bulanannya dari 500 ribu orang menjadi 280 orang. 

 

Data yang sama pun mengungkap hanya 9% dari seluruh wilayah di Horizon Worlds yang pernah dijelajahi pengguna. Sebanyak 50 tempat bahkan masih perawan sejak dibuat. Begitupun hanya 1% dari total pengguna yang membangun bangunan di dunia tersebut. 

 

Tak hanya itu, hasil survei internal terhadap 514 pengguna yang turut diungkap pun menemukan mayoritas mengatakan tak dapat menemukan dunia favoritnya. Alasannya, terlalu sedikit orang untuk berinteraksi dan avatar terlihat palsu karena tidak punya kaki. 

 

Sementara pendapatan Reality Lab–lini perusahaan Meta yang mengembangkan produk metaverse dan AI, hanya mampu menyumbang US$ 452 juta. Padahal, Zuckerberg telah menggelontorkan investasi sebesar US$ 9,4 miliar sejak Oktober 2021–ketika mengubah nama perusahaan dari Facebook ke Meta.

 

Hal ini seperti membenarkan pendapat kontributor Vulcan Post Michael Petraeus bahwa metaverse milik Meta adalah kegagalan terbesar dalam sejarah teknologi. 

 

PHK massal, seperti dikatakan Zuckerberg, memang jalan terakhir yang mesti diambil Meta saat ini. Namun, jalan itu barangkali tak perlu diambil bila Zuckerberg mampu sedikit meredakan ambisinya dan tak mengubah model bisnis Facebook demi ambisinya menguasai metaverse.

 

Tak ada yang meragukan kejeniusan Zuckerberg dan kemampuannya mengelola bisnis. Kebesaran Facebook adalah buktinya. Tapi, seperti kata Oscar Wilde yang kebetulan juga penulis favorit Zuckerberg, “dunia toleran terhadap apapun, kecuali orang jenius.”