Indonesia Krisis Lagu Anak, Terdengar Seram, Tapi Benarkah

Indonesia Krisis Lagu Anak, atau Orang Tua yang Nggak Bisa Berhenti Meromantisasi Lagu Anak di Zamannya?

Ketika saya diminta untuk menulis artikel ini, saya secara iseng meminta pendapat beberapa teman sebaya yang belum menikah dan belum punya anak. Dari beberapa tanggapan tersebut, saya dapat menyimpulkan
Lagu anak sudah mati.
Tidak ada lagi orang tua yang memainkan atau memutar lagu-lagu anak-anak
Krisis lagu anak
Dan pernyataan lain yang mungkin akan bikin Joshua dan Sherina, sebagai mantan penyanyi cilik, merasa sedih

Tapi, benarkah demikian? Dalam keadaan bingung tersebut, saya iseng menanyakan kepada kawan yang sudah menjadi bapak dan ibu. Saya tanya apa mereka masih memutar lagu untuk anaknya. Mereka menjawab: iya. 

Ini testimoninya.

Andrey Micko, 35 tahun ((ilustrasinya bapak-bapak rocker yang lagi gendong dua anak)))

Saya punya dua anak. Yang paling besar umur 12. Sedang yang kecil umur 4 tahun. Waktu mereka masih kecil, saya hampir tiap hari mendengarkan lagu anak-anak ke mereka. Tapi lagu yang saya perdengarkan adalah lagu yang saya dengerin pas kecil dulu, kayak lagu Pelangi, Ambilkan Bulan Bu dan Naik Naik Ke Puncak Gunung. Bukan gak mau muterin lagu anak-anak yang baru, ya. Tapi lebih ke informasinya yang saya kurang tahu, sih.

Selain lagu anak-anak, saya juga sesekali mendengarkan mereka lagu rock kesukaan saya. Sebagai seorang ayah, saya kepengin juga anak saya gandrung musik yang bapaknya suka. Di umur satu tahun saya ingat betul, saya mendengarkan anak saya lagu-lagu GNR atau Skid Row. Ya, siapa yang tahu kan masa depan orang? Kali aja salah satu dari mereka jadi rockstar. Melanjutkan mimpi bapaknya yang gagal. Nasib orang gak ada yang tahu. Tapi saya gak pernah memaksakan mereka, sih. Setiap orang punya jalannya sendiri.

Intinya, saya masih mendengarkan lagu anak-anak kok mereka. Lagu anak-anak kan seperti anda semua tahu, di liriknya banyak memberi pesan. Makanya saya berharap ke depan banyak yang musisi yang mau mengabdikan dirinya untuk musik anak-anak. Saya ingat banget, waktu kecil Kak Nunu dan Papa T Bob kan jadi idola banget, ya. Ya semoga harapan saya terwujud.


Keke Zulaiha, 33 Tahun ((ilustrasinya ibu muda mirip Sherina)

Karena aku punya anak, aku masih sering dengerin lagu anak-anak jaman aku dulu. Aku pengin dia tahu dulu waktu kecil ibunya tumbuh dengan lagu yang seperti apa. Lagu anak berbahasa Indonesia yang aku dengarkan bersama anak biasanya lagu-lagu di album Sherina. Aku juga suka memutar Project Pop yang judulnya Lumpia vs Bakpia. 

Buatku, album anak terbaik  (yang kunilai dari kacamata orang dewasa) adalah albumnya Sherina yang Andai Aku Besar Nanti dan Petualangan Sherina. Dari segi musikalitas, satu album begitu kaya, dengan kosakata pada lirik yang ciamik, lagu dikemas dengan menarik, belum ada yang bisa ngalahin. 

Selebihnya, aku dan anakku mendengarkan lagu-lagu anak berbahasa Inggris. Anakku suka soundtrack-soundtrack film dan juga mendengarkan podcast. 

Aku merasa, lagu anak-anak zaman Papa T Bob, Kak Nunu, Kak Seto, itu lebih kaya secara tema. Misal, ada lagu tentang tukang bakso, itu, kan, dekat banget sama kita, ya. Anak-anak secara gak langsung diajari tentang seluk beluk membeli bakso.  Atau, lagu Aku Cinta Rupiah-nya Cindy Cenora. Itu lagu anak dengan muatan financial literacy yang bagus banget, ditambah kosa kata di dalamnya sungguh kaya. Ada kata ‘merajalela’ di dalam lagu. Kata yang mungkin nggak akan anak dengar dalam percakapan sehari-hari. 

Aku rasa, permasalahan lagu anak-anak hari ini berkaitan juga dengan literasi dini untuk anak-anak. Betapa, menyanyi dan membaca, di zaman ini malah jadi  hal yang mewah banget buat anak-anak. Anak-anak dengan mudah mengakses konten-konten di sosial media, tapi sulit mengakses nyanyian dan bacaan yang berkualitas, yang bisa membantu mereka merasa relate dengan dunia di sekitar. 

Padahal, ini kan salah satu golnya early literacy. Hal-hal ini kelihatannya sederhana, tapi menurutku ini masalah yang harus dipikirkan secara serius. Semoga ada lagi musisi-musisi Indonesia yang mau mengolah lagu anak dengan ciamik seperti yang dilakukan Elfa Secioria, Kak Nunu, Bu Kasur, dan yang lainnya.

Ini kelihatannya sederhana, tapi menurutku ini masalah yang harus dipikirkan secara serius. Apa benar lagu anak berkualitas berhenti di dua puluh lima tahun yang lalu?

Tolong Santai Saja, Krisis Lagu Anak Mungkin Tidak Semenyeramkan Itu

Pemerhati anak sekaligus psikolog, Kak Seto, pada tahun lalu resah bukan main melihat anak di zaman sekarang yang dinilai lebih fasih dan mengerti lagu tentang cinta. Menurut pria yang konsisten memilih gaya rambut ini, lagu cinta modelan patah hati akan membuat mentalnya menjadi mudah hancur sebelum usianya.

“Anak-anak kita menyanyikan lagu tentang patah hati, perselingkuhan, jatuh cinta. Kemudian berjoget dengan gaya yang kurang pantas untuk usia mereka,” ujar Kak Seto di YouTube Merry Riana.

Saya menghargai benar keresahan Kak Seto. Sebagai orang yang sudah puluhan tahun berjuang untuk anak-anak Indonesia, Kak Seto dikenal memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu anak-anak. Tapi, tenang lah. Saya akan memberikan anda optimisme meski hanya secuil.

Optimisme itu berangkat ingat tulisan Galih Nugraha Su, seorang musisi yang juga aktif sebagai pengajar dan pengkritik dunia pendidikan, yang pernah dimuat di Jurnal Ruang.

Menurut Galih, kekhawatiran bahwa Indonesia saat ini tidak memiliki banyak lagu anak mudah untuk diatasi. Pasalnya, orang tua dan guru di sekolah dapat memperkenalkan lagu-lagu populer yang sesuai dengan minat anak-anak saat ini. Referensi lagu yang dikenalkan pun tidak harus selalu terbatas pada lagu anak-anak saja, melainkan bisa mencakup berbagai jenis lagu. Galih tidak begitu memusingkan istilah “lagu anak”. Bagi Galih, bercerita jauh lebih memiliki peran penting daripada lagu dalam mengembangkan minat anak-anak.


(((tulung bikin ilustrasi Galih Nugraha Su sedang berfatwa))))

Bagi saya, lagu saya posisikan sebagai pengiring, pengingat cerita, pencatat pengetahuan dan penanda zaman. Lagipula, toh lagu di masa depan lebih berfungsi untuk melihat kehidupan masa lalu, dari mulai pilihan nada hingga liriknya. 

Maka ketika saya mengajar, saya fokus untuk membiasakan anak-anak bercerita tentang kesehariannya. Kemampuan mereka mengobservasi ini diasah terlebih dahulu. Anak belajar untuk bercerita dan berbagi pengalaman mereka. 

Hal ini saya lakukan karena anak tentu mengerti kebutuhannya sendiri, dalam situasi dan kondisi zamannya. Maka, dengan cara berdialog inilah anak-anak mengetahui minatnya terkait lingkup hidup. Dan hasil akhir setelah sekian lama berlatih bercerita tentang keseharian, berargumentasi, dan menyumbangkan ide serta fantasi mereka? Kelak pengalaman-pengalaman ini mereka tuangkan dalam bentuk karya: lagu.

***

Di pengujung tulisan, menurut saya, kita tak usah terlalu takut dengan orang yang bilang jika lagu anak-anak sudah mati, Indonesia krisis lagu anak-anak, atau lagu anak-anak sudah tak hype lagi.

Kini televisi sudah tak lagi menjadi media pilihan satu-satunya untuk mencari segala macam informasi dan hiburan. Survei Pew Research Cent menyebut jika YouTube memegang peranan penting dalam menyediakan konten untuk anak-anak. Dari total survei menyebut, 81% dari semua orang tua dengan anak berusia 11 tahun atau lebih muda menyebut mereka membiarkan anak mereka menonton video di YouTube. Selain itu, hasil survei tersebut juga menyebut 34% orang tua mengungkapkan jika anak-anak mereka rutin menonton konten di YouTube.

Begitu besarnya pengaruh YouTube ini makin diperkuat dengan survei yang menyebut jika di Amerika Serikat, rata-rata di sana anak-anak menghabiskan waktu lebih dalam satu jam tiap hari untuk menonton YouTube. Dalam survei yang digelar pada September 2022 ini menyebut jika separuh responden melaporkan bahwa menonton video YouTube adalah aktivitas online populer yang dipilih anak-anak mereka untuk dilakukan.

Tapi anda tak perlu khawatir jika anak anda akan dewasa sebelum waktunya. Dalam hal ini, YouTube secara eksplisit menyebut jika platform mereka menyediakan opsi YouTube Kids untuk anak-anak. Anak-anak anda hanya akan terpapar konten yang ramah anah. Maka itu, selain opsi YouTube Kids, diperlukan pula kontrol orang tua agar YouTube Kids menjadi tontonan yang bermanfaat untuk anak.

Berikut saya tampilkan channel YouTube bertema anak-anak terpopuler per Februari 2023 yang memiliki banyak subcrible.

Sumber: Statista.com

Tak hanya di Amerika, ramainya channel YouTube juga berlaku di Indonesia. Coba tengok video klip Roda di Bus yang diunggah YouTube CoComelon Bahasa Indonesia. Kamu bisa jadi kaget saat tahu video ini ditonton lebih dari 50 juta kali. Kita hanya perlu menyadari jika banyak media untuk mendengarkan lagu, tak semata televisi. Saya jadi ingat seorang teman yang playlist di Spotify-nya kini malah lebih banyak lagu anak-anak–alih-alih mendengarkan musik metal sebagaimana yang ia suka bujang.

Lagipula bagaimana cara mengukur hype atau tidaknya sebuah lagu? Ada kecenderungan, yang dikhawatirkan oleh orang tua saat ini adalah karena tidak ada lagi ikon-ikon anak seperti: Tasya, Sherina, Joshua, Eno Lerian, dan yang lainnya. Hal ini bikin kekhawatiran orang-orang tua ini agak berlebihan dan cenderung membanding-bandingkan, “Zaman gue dulu nih ya!” atau “Duh, kasihan anak zaman sekarang nggak punya musik keren kayak gue waktu kecil.” 

Orang mengonsumsi hiburan seperti spons, dan apakah ‘hiburan’ yang dikonsumsi kemudian menjadi ‘mendidik’ atau tidak saya rasa tidak relevan bagi anak-anak, sebab mereka masih memiliki orang-orang yang peduli dengan tumbuh-kembangnya dan akan selalu ‘mengajarkan’ mereka dengan atau tanpa lagu anak yang populer. Lagi pula, hari ini anak-anak bisa mendapat lagu anak dari mana saja, di sekolah, tempat ngaji, lingkungan bermain, video game, bahkan dari abang-abang tukang tahu bulat.

Semakin ke sini, segala protes tentang kurangnya lagu atau hiburan untuk anak terlihat agak membosankan karena kebanyakan muncul dari pandangan orang dewasa melihat dunia anak-anak hari ini, kayak bapak-bapak gagal move-on. Penilaian ini cenderung berbenturan dengan moral, adab, serta pola pikir orang dewasa, bukan anak-anak. Kita tidak pernah benar-benar bertanya kepada anak-anak, apakah mereka benar-benar sudah tak ada hiburan yang mengasyikan lagi? Jangan-jangan yang mengkhawatirkan justru orang-orang tua ini.

Selamat hari anak dan semoga tidak menjadi orang tua yang membosankan dan tukang ngedumel!