Jalan-jalan Bersama Ibnu Batutah

Jalan-jalan Bersama Ibnu Batutah

 

Barangkali sebagian familiar dengan nama Ibnu Batutah, tapi barangkali asing juga. Kalau Anda doyan pelajaran sejarah ketika sekolah, mungkin Anda akan ingat dengan nama itu. Maka dari itu, artikel ini saya buka dengan memperkenalkan siapa Ibnu Batutah.

 

Ibnu Batutah adalah seorang pengelana terkemuka dari Maroko yang lahir pada 1304. Dari perjalanannya, ia menghasilkan sebuah tulisan yang dikenal dengan “Rihlah” atau artinya “Perjalanan”. Perjalanannya dimulai saat dia berusia 21 tahun, ia berniat menunaikan ibadah Haji ke Mekkah. Mulai dari situ, ia terus berkelana hingga ke Tiongkok dan kembali pulang ke Maroko. Ayo lihat spot-spot besar yang disinggahi Ibnu Batutah.

 

Disclaimer: peta ini dibuat dengan merujuk pada “Rihlah” beserta sumber-sumber kontemporer lainnya.

 

 

  1. Jazirah Arab

Wilayah pertama yang dijajaki Ibnu Batutah jelas Jazirah Arab karena misi menunaikan ibadah hajinya. Usai berhaji, Ibnu Batutah melakukan perjalanan ke Mesir untuk menimba ilmu. Ia melintasi Gurun Arab menuju Irak, Iran bagian selatan, Azerbaijan, dan Bagdad

 

Di sana ia bertemu dengan khan Mongol terakhir di Iran, dan beberapa penguasa yang tak begitu besar wilayahnya. 

 

Ibnu Batutah menghabiskan tahun-tahun antara tahun 1327 dan 1330 di Mekah dan Madinah menjalani kehidupan yang tenang sebagai seorang pelajar dan umat Islam yang beribadah di berbagai tempat. Ia kebanyakan menghabiskan waktunya untuk beribadah kala di Mesir. Usai beribadah, ia menaiki perahu berlayar ke Yaman.


 

  1. Afrika

Dari Aden, Yaman, Ibnu Batutah berjalan menuju Bandar Zeila yang terletak di pesisir Somalia, Afrika. 

 

Selanjutnya, Ibnu Batutah selanjutnya berkunjung ke Mogadisyu, Ibu Kota Somalia. Di sana, penduduknya mayoritas adalag pedagang dan memiliki banyak unta yang disembelih hingga ratusan ekor tiap harinya untuk dimakan. Setelah dari Mogadisyu, ia berjalan ke Kulwa, Afrika bagian timur. 

 

Wilayah sana dipimpin oleh Abu'l-Muzaffar Hasan, yang terkenal karena bakat dan kemurahan hatinya. Ia menggunakan seperlima dari harta yang diperolehnya dalam ekspedisinya untuk tujuan amal, misalnya memberikan bantuan pada fakir miskin. Wilayah ini juga dikenal amat kaya dan makmur. 

 

Di era sultan itu pula, Istana Husuni Kubwa dan Masjid Agung Kilwa—masjid agung terbesar saat itu dan hingga kini masih tergolong jadi salah satu masjid besar—dibangun. Ia menghabiskan waktu dari 1331 hingga 1332 di sana.

 

  1. India

Pada 1334, saat Ibnu Batutah bersinggah di India, pemimpin yang berkuasa adalah Muḥammad ibn Tughluq. Ibnu Batutah disambut dengan baik dan menjadi orang yang dilimpahi kekayaan oleh sang penguasa. 

 

Sultan Muḥammad adalah sosok yang murah hati, sering memberi fakir miskin sekaligus sosok yang kejam dan bisa menghukum orang tanpa pandang bulu, baik itu orang Muslim maupun India. Ibnu Batutah menyaksikan semua kejayaan sekaligus kemunduran kesultanan itu, setiap hari ia merasa takut akan nyawanya karena ia melihat banyak temannya menjadi korban. Kondisi Ibnu Batutah di India pun bagai buah simalakama, ia di satu sisi adalah orang yang diandalkan Sultan, namun di sisi lain, Sultan juga melihatnya sebagai ancaman.

 

Ia pun pergi dari Dehli dan sempat dihadang oleh para pemberontak India. Takut dengan kondisi yang tak kondusif,  Ibnu Batutah memilih pergi ke Kepulauan Maladewa dan bersembunyi selama dua tahun. Setelah dari Kepulauan Maladewa, ia memutuskan pergi ke Tiongkok.

 

  1. Nusantara

Sebelum sampai ke Tiongkok, Ibnu Batutah sempat singgah di Samudera Pasai pada 1345, kerjaan Islam pertama yang ada di Nusantara saat itu. Ibnu Batutah menggambarkan Samudera Pasai sebagai kota besar dengan dinding dan menara kayu. 

 

Perdagangannya sangat maju, mereka menggunakan emas sebagai mata uang. Perdagangan di daerah itu juga sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas. 

Saat itu, Samudera Pasai di bawah pimpinan Sultan Malikul Dhahir. Sang Sultan digambarkan sebagai sosok yang kaya, rendah hati, dan selalu merawat fakir miskin. 

 

Kerendahan hatinya itu ditunjukkan sang raja saat menyambut rombongan Ibnu Battutah. Para tamunya dipersilakan duduk di atas hamparan kain, sedangkan Sultan duduk di tanah tanpa beralas apa-apa, menunjukkan betapa kultur Samudera Pasai sangat menghormati tamunya.

 

  1. Tiongkok

Tiongkok adalah tujuan terakhir dari Ibnu Batutah. Sebetulnya, ia membawa banyak hadiah untuk Kaisar Tiongkok, tapi dirampas saat terjadi kekacauan di India. Ibnu Batutah akhirnya tiba di negeri Tiongkok, tepatnya pada masa pemerintahan Mongol (Dinasti Yuan). 

 

“Tiongkok adalah negara teraman dan paling nyaman di dunia bagi para pelancong,” kata Ibnu Batutah. Di sana, orang tak perlu takut bepergian sambil memboyong harta berharga mereka, berbanding terbalik dengan kondisi di India. 

 

Ibnu Batutah juga menyebut orang Tionghoa adalah maestro dalam bidang seni dan memiliki penguasaan terbesar terhadap seni tersebut. Di sana, baik biksu sampai golongan kelas bawah pun berpakaian menggunakan bahan sutera. 

 

Meski ia takjub dengan Tiongkok, di satu sisi, Ibnu Batutah yang beragama muslim merasa kontras dengan Tiongkok yang menurutnya menyembah berhala. Ia memutuskan kembali ke kampung halamannya pada 1353.

 

  1. Andalusia

Sebelum benar-benar menginjakkan kaki ke Maroko, Ibnu Batutah sempat singgah ke al-Andalus atau mungkin yang lebih familier disebut Andalusia, yang kini kita kenal dengan Spanyol. 

Dalam perjalanan kembalinya Ibnu Batutah ke Maroko, al-Andalus diserang oleh beberapa penguasa Kristen yang berusaha merebut kembali tanah tersebut dari kaum Muslim. Pada momen ini, Ibnu Batutah menyaksikan sukarelawan dari Maroko turut mempertahankan al-Andalus.


 

  1. Maroko

Ibnu Batutah pun kembali ke Maroko setelah bertahun-tahun berkelana, sekembalinya di Maroko, Sultan Abu Inan Faris sekaligus pemimpin Maroko memerintahkan seorang penulis bernama Ibnu Juzayy untuk menemui Ibnu Batutah. 

 

Ibnu Juzayy sangat girang dengan perjalanan Ibnu Batutah. Mereka berdua pun mulai menyusun apa yang disebut sebagai “Rihlah”. Ibnu Batutah menceritakan seluruh pengalamannya dan Ibnu Juzayy yang mencatat perjalanan itu.