Jangan-Jangan Violet Evergarden adalah Lontenya

 


Alienasi Kerja: Masalah Lama dengan Nama Baru
Jika saja Sartre tidak terjebak dalam ideologi borjuasi yang menekankan bahwa hasrat kompetitif antardiri (baca: kesadaran, L’etre pour-soi) sebagai watak utama realitas, mungkin ia tak menyatakan omong-kosong  “Neraka adalah orang lain,” alih-alih slogan Sartre yang akan kita kenal mungkin adalah “Neraka adalah Kerja!”

Hari-hari ini keluhan atas kultur kerja semakin terdengar. Suatu waktu, Elon Musk mencuit bahwa mereka yang melakukan WFH sejatinya hanya berpura-pura kerja. Cuitan tersebut ditanggapi dengan pertanyaan balik, “Memang selama ini apa yang kami lakukan di ruang kerja?”

Keluhan atas kultur kerja juga menjadi motor dalam gerakan Antiwork yang memperjuangkan sebuah dunia di mana kerja tidak lagi ada. Sejalan dengan pernyataan yang tenar beberapa hari lalu di Twitter, bahwa “kita semua adalah lonte!” Kita menjual diri, kita kerja, hanya demi bertahan dalam hidup, pertaruhan yang semakin bajingan ini.

Lagi, banyak pula kita yang mengeluh karena kerja kita tidak sesuai dengan pendidikan yang kita tempuh. Empat tahun lamanya, bergelut dengan buku, di kantor jadi babu! Ada pula istilah baru, Quiet Quitting, sebuah cara untuk kerja demi menjaga kewarasan.

[Ilustrasi: Orang yang stress karena kerjaan]

Kita sedang menghadapi fenomena lama dengan nama baru. Jauh hari, Marx dengan cerdas menggambarkan segala keresahan itu dan menyebutnya dengan ‘alienasi kerja’.

“Dalam bekerja, seorang pekerja tidak menegaskan dirinya tetapi justru menyangkal dirinya, tidak merasa puas tapi justru kecewa, tidak mengembangkan dengan bebas tenaga mental dan fisiknya, tetapi justru membusukkan badan dan menghancurkan pikirannya.”

Tentu saja kita tidak akan berpanjang-panjang dengan teori alienasi Marx, kecuali ini Indopoggers—eh, maksud saya, Indoprogress :P Tetapi, saya hendak mengajak Anda melihat bagaimana fenomena alienasi kerja digambarkan Violet Evergarden, sebuah anime produksi Kyoto Animation

Selain meminjam gaya steampunk-ish, gaya retrofuturistis yang mendaur-ulang dan meminjam estetika serta teknologi di Eropa era Victoria untuk dihidupkan di abad 19 versi alternatif, Violet Evergarden juga rupanya asyik jika dibaca melalui kaca mata alienasi kerja yang lahir di abad ke-19.

Upaya Membaca Violet Evergarden
Violet Evergarden (selanjutnya ditulis VE) bercerita tentang seseorang bernama Violet Evergarden. Ia seorang mantan tentara yang hidup di dunia yang tidak lagi membutuhkan dirinya sebagai tentara. Ia harus hidup sebagai seorang pekerja sipil, juru ketik surat, Auto-Memory-Doll.

Violet sebagai Auto-Memory-Doll

Umumnya, kisah VE dibaca melalui kerangka idealis (membaca melalui ide-ide besar seperti ‘cinta’, ‘kemanusiaan’, dan ‘kehendak bebas’), misalnya ‘bagaimana Violet menemukan kemanusiaannya ?’ atau ‘bagaimana Violet memahami makna cinta?’

Pembacaan semacam ini  cukup sering ditemukan, tetapi seindah dan semegah apapun pembacaan itu, hasil akhir bagi para pembaca hanyalah perasaan terpesona. Pembacaan ini jadi semacam default karena sesuai dg sensibilitas ideologi borjuasi yang enggan menilik pada realitas material. 

Jadi kali ini kita akan menggunakan pembacaan ‘materialis.’ Pembacaan ini melihat bukan sekedar ide besar atau pokok pikiran, tapi pada kondisi atau hal ‘material’ yang terdapat di dalam narasi VE. Pertanyaan yang bisa kita ajukan kira-kira, “Apa kondisi material yang memungkinkan Violet mampu memahami makna cinta?” Dengan begitu, kita akan melihat struktur naratif Violet, alih-alih sebagai perjuangan mencari makna di ranah abstrak-metafisis, justru merupakan perjuangan mencari makna melalui kerja-kerja konkret yang ia lakukan sepanjang narasi.

Permainan Tanda dalam Violet Evergarden
Pertama kita melihat bagaimana kisah VE dibangun melalui tanda-tanda yang digunakan.

VE menggunakan dan mengulang tiga permainan tanda, yakni kontradiksi, overdeterminasi, dan resolusi. Tiga mode tanda ini terlihat jelas ketika kita melihat pengulangan tema berikut: perbandingan antara Violet lama dg Violet Baru, penggambaran pertemuan Violet dg rekan kerja dan klien, dan perkembangan psikologis Violet. Dan setiap mode tanda ini selalu menggunakan ingatan (baik Violet atau siapapun) untuk menggerakkannya.

Salah satu ingatan Violet atas Gilbert, tanda yang terus berulang di VE

Violet Lama X Violet Baru
VE adalah kisah tentang Violet yang berada dalam keadaan kontradiktif. Ia adalah mantan tentara, manusia yang sekian lama menghayati peran ketentaraan yang sudah pasti mendarah daging di dalam dirinya—jika frasa ‘korban cuci otak’ terasa berlebihan. Kini ia harus hidup di masyarakat paskaperang, di mana bukan kemampuan untuk membunuh yang diperlukan, melainkan kemampuan untuk berhadapan dan berdamai dg orang lain. Violet menubuhkan dua keadaan dunia kontradiktif : perang X paskaperang, tentara X sipil, membunuh X melayani; hal ini digambarkan dg penggunaan dua kata kontradiktif yang digunakan Violet: Perintah X Kehendak. Umumnya, mode permainan tanda ini diwujudkan dg membandingkan keadaan Violet lama (serpihan ingatan dan Dialog) dg Violet Baru, yang dulu dan sekarang.

Permainan Tanda Kontradiksi

No.

Kontradiksi

Contoh Naratif

1

Abai X Paham Emosi

Violet mulai menyadari apa ucapan Gilbert mengenai luka-luka, baik di tubuh dan dirinya. Gambaran kontras antara Violet lama yang tidak mengerti apa itu luka, apa itu sakit hati, apa itu cinta.

 

2

Perintah X Kehendak

Violet lama yang tidak mengerti apapun selain perintah. Bertentangan dengan bagaimana Violet baru yang menegaskan kehendak dan keinginannya di hadapan orang lain

 

3

Represif X Ekspresif

Violet yang dapat mengekspresikan perasaan gembira, bertentangan dengan Violet lama yang tidak memiliki ekspresi, mirip seperti boneka.

 

4

Laporan X Surat

Violet yang sedang belajar untuk menulis surat, selama ini ia hanya tahu bahwa surat adalah laporan militer semata, yang tidak melibatkan emosi penulisnya.

 

5

Alat X Manusia

Violet lama menghayati bahwa dirinya tidak lain dari alat, senjata perang, dan anjing Gilbert. Bertentangan dengan Violet baru yang memahami bahwa ia adalah diri yang memiliki kehendak.

 

6

Membunuh X Melayani

Violet sebagai tentara yang menganggap kerja adalah membunuh manusia lain. Berbeda dengan Violet baru yang menganggap kerja sebagai tugas melayani orang lain.

 


Violet sebagai senjata perang, sebagai anjing Gilbert dan militer

Interaksi Violet dengan orang lain
Dari keadaan awal yang kontradiktif itu, VE berjalan melalui proses overdeterminasi. Istilah Overdeterminasi diadaptasi secara longgar dari konsep Althusser. Althusser menggunakan istilah ini untuk menggambarkan bahwa momen sosiopolitis tertentu bisa terbentuk dari banyak hal yang nampak kontradiktif. Dari banyak kekuatan politis tersebut, tidak ada satu hal tunggal yang dapat ditunjuk. Sederhananya, tidak ada satu sebab utama di atas segala sebab lain. Di sini, ‘overdeterminasi’ tidak digunakan dalam penggunaan teknis tersebut. Namun, semata untuk menggambarkan peristiwa di mana keadaan kontradiktif pada Violet bisa menentukan, sekaligus ditentukan oleh interaksi dengan orang lain.

Violet bertemu dengan orang-orang di sekelilingnya, rekan atau klien kerjanya. Setiap interaksi tersebut menggambarkan kontradiksi awal, misalnya, tidak seperti manusia secara umum, Violet sama sekali tidak mempertimbangkan aspek emosional dalam interaksi. Setiap episode adalah tahap demi tahap Violet memahami, secara perlahan, bagaimana manusia secara umum bersikap. Momen seperti ini umumnya adalah momen di mana Violet memahami sedikit demi sedikit arti dari ingatan masa lalunya.

Relasi overdeterminasi ini digambarkan dengan bagaimana setiap pertemuan antara Violet dg orang lain saling mempengaruhi. Violet memaknai ingatannya dari cerita orang lain, orang lain dengan bercerita dg Violet memaknai ingatan mereka juga.

Permainan Tanda Overdeterminasi

No.

Overdeterminasi

Contoh Naratif

1

Violet & Cattleya

Karena menyaksikan Cattleya mampu memahami makna ‘aku cinta kamu’, Violet mengajukan diri sebagai Doll

 

2

Violet & Erica

Mendengar cerita Violet tentang motivasinya menjadi Doll, Erica menjadi ingat terhadap motivasinya.

3

Violet & Iris

Mendengar cerita Iris tentang asal-usul namanya, Violet teringat Kembali Ketika Gilbert memberinya nama.

 

4

Violet & Leon

Violet mulai memahami bahwa kerja Doll bukan hanya kewajiban, melainkan kontribusi bagi banyak manusia, setelah Kerjasama dengan Leon

 

5

Violet & Oscar

Oscar mengingat Kembali anaknya, Olivia, dan berhasil menyelesaikan cerita anaknya karena interaksinya dengan Violet.

 

Violet berhasil membantu Oscar menyelesaikan buku cerita untuk mendiang anaknya, Olivia

Perkembangan Diri Violet
Resolusi merujuk pada bagaimana akhirnya Violet memahami kemanusiaan, memahami apa itu makna dari kalimat terakhir Mayor Gilbert “Hiduplah dan Bebaslah, dari lubuk hatiku, Aku cinta kamu.” 

Tindakan konkret Violet untuk mencari dirinya adalah dengan meninggalkan kerja lamanya yang alienatif, dan memilih untuk menjadi Doll, sebuah kerja yang menuntut ia memahami relasi antar manusia, serta memahami kemanusiaannya sendiri.

Selain Violet, tokoh lain juga digambarkan dalam keadaan menghadapi kerja alienatif. Hodgins dan Gilbert sama-sama meninggalkan kerja mereka sebagai tantara untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dengan cara yang berbeda. Dietfried, di sisi lain, tetap bekerja di militer, namun memisahkan antara dirinya dengan pekerjaannya. Dietfried dari awal menerima kerja sebagai seorang prajurit dengan sikap sinis. Benedict, sebagai pengantar surat, pada satu waktu mengeluh bahwa kerja sebagai pengantar surat adalah kerja yang membosankan. Lalu, dengan mengantarkan surat Taylor ke Issabella York, ia memahami bahwa kerja sebagai pengantar surat tidak semudah itu, dan bahwa kerja ini memiliki nilai dan memiliki peran besar bagi banyak manusia. Erica memutuskan untuk menjadi penulis naskah drama, setelah mengetahui motivasi awalnya menjadi Doll.

Permainan Tanda Resolusi

No

Pekerja

Resolusi

1

Violet

Meninggalkan kerja militer, menjadi Doll

2

Hodgins

Meninggalkan kerja militer, mendirikan CH Postal Company

3

Gilbert

Meninggalkan kerja militer, mengabdi di pulau korban perang

4

Dietfried

Menjalani kerja militer, bersikap sinis pada kerjanya

5

Benedict

Memaknai kembali kerjanya

6

Erica

Meninggalkan kerja Doll, menjadi penulis naskah

 

Violet, seorang Doll yang siap melayani klien, dan masyarakat yang membutuhkan jasa kerjanya.

Membaca Alienasi Kerja Melalui Permainan Tanda Violet Evergarden
Alienasi, keterasingan dalam kerja, sederhananya adalah keadaan di mana seorang pekerja merasa bahwa apa yang ia kerjakan, atau produksi dari pekerjaannya, menjadi sesuatu yang asing, menyeramkan, dan memusuhi dirinya. Alih-alih kerja merupakan sesuatu yang membebaskan, malah mengerangkeng dirinya, membuatnya tidak bahagia. Kerja, baginya, hanyalah cara untuk sekadar bertahan hidup: ia hidup untuk kerja, kerja untuk hidup.

Setiap deskripsi Marx tentang alienasi kerja benar-benar menggambarkan apa yang dialami Violet: ia menyangkal dirinya, ia tidak merasa bahagia, badan dan pikiran, dan emosinya hancur karena ia bekerja. Violet menganggap bahwa ia sebatas alat, bukan manusia berkehendak, tidak mengerti apa itu cinta, dua tangannya putus karena kerja. Violet adalah korban dari alienasi kerja.

Benedict yang merasa kerja pengantar surat membosankan

VE menggambarkan bagaimana Violet yang menjadi korban alienasi kerja merengkuh kembali kemanusiaannya. Yang dilakukan Violet adalah kerja menjadi Doll. Dan kemanusiaan, kehendak, dan diri yang ia lupakan dan sangkal, diperoleh kembali melalui interaksi dengan orang lain. Pada akhirnya, Violet mengetahui apa itu cinta. Pencapaian itu terwujud melalui kerja yang dilakukan oleh Violet.

Dengan menggunakan tiga permainan tanda berikutnya, serta mengerangkakannya dalam persoalan alienasi kerja, maka VE membaca fenomena alienasi kerja sebagai berikut:

Kontradiksi
Kontradiksi menggambarkan dua jenis kerja yang dijalani Violet. Di satu sisi, kerja yang membuat Violet kehilangan kehendak, merusak jiwa, menekan emosinya, dan menghancurkan badannya. Singkatnya, kerja yang mengalienasi. Di sisi lain, kerja yang membuat Violet mampu mengembangkan karakternya, dirinya, hingga mampu meraih kembali kemanusiaannya. Kerja yang membebaskan.

Pada VE, kerja sebagai tentara digambarkan sebagai kerja alienatif. Seorang prajurit hanyalah alat bagi kepentingan militer. Kerja mereka adalah membunuh musuh dan diri mereka sendiri. Dan kehendak atau pertimbangan personal mereka tidak berlaku. Yang bisa mereka lakukan hanya memenuhi tugas atasan mereka.

Kerja sebagai Doll, di sisi lain, mengharuskan pekerja melibatkan diri. Meskipun Violet mendapat modal didikan militer yang bisa bekerja secara efisien, efektif dan akurat, semua privilege itu tidak berguna jika Violet tidak dapat memahami dan menafsirkan emosi kliennya. Dan untuk memahami emosi tersebut, Violet pun harus memahami emosinya sendiri.

Kemudian, beberapa adegan menggambarkan bahwa kondisi kerja dari masing-masing posisi tersebut dibedakan dari beberapa kontras. Kerja militer membuat Violet kerja dalam jam kerja yang panjang dan tak manusiawi. Kerja Doll, khususnya di CH Postal Company, justru menganjurkan bahwa setiap pekerja harus memanfaatkan waktu istirahat. Dan bahkan dilarang kerja di luar jam.

Dengan begitu, kerja sebagai Doll adalah kerja liberatif, sementara tentara adalah kerja alienatif.

Overdeterminasi
Overdeterminasi menggambarkan proses kerja dan bagaimana suatu kerja dapat berujung kepada alienasi atau liberasi pekerja. VE lebih menekankan, dalam narasinya, liberasi pekerja. Kerja apapun tentu terbentuk dari relasi yang dibangun oleh pekerja dg setiap manusia yang terlibat dalam proses kerja tersebut. VE menggambarkan bahwa relasi kerja liberatif adalah relasi di mana mereka yang terlibat dalam suatu kerja saling melayani satu sama lain.

Kerja bukan hanya proses untuk menyelesaikan tugas atau perintah atasan. Kerja adalah relasi, dan proses di mana setiap manusia berinteraksi memenuhi kebutuhan masing-masing melalui prinsip kerjasama. Dalam proses kerja liberatif, seorang pekerja, melalui kerjanya, melayani kebutuhan orang lain, dan hasil dari pelayanan tersebut adalah perkembangan diri pekerja.

Kita dapat membedakan kerja alienatif dan liberatif dari bagaimana suatu kerja, atau profesi didasarkan pada prinsip tertentu. Kerja alienatif didasarkan pada prinsip kompetitif dan egoisme atau ketidakpedulian pada orang lain. Sementara kerja liberatif adalah kerja dengan prinsip kooperatif. Dengan memedulikan orang lain dan kepentingannya, kita membentuk kolektivitas yang saling melayani.

Resolusi
Resolusi menggambarkan apa keputusan yang diambil oleh para pekerja yang teralienasi. Ketika seorang pekerja teralienasi, apa yang harus ia lakukan? 

Alienasi bisa berasal dari kondisi material kerja, ataupun dari sikap pekerja terhadap kerjanya. Violet yang berpindah dari kerja-keja militer ke Doll menunjukkan bahwa salah satu cara menghadapi alienasi adalah keluar dari kerja yang secara material mengasingkan pekerja. Benedict, di sisi lain, berada dalam kultur kerja liberatif, tetapi ia merasa teralienasi. Benedict lepas dari alienasi melalui pemaknaan ulang atas nilai kerjanya. Dietfried, di sisi lain, menghadapi alienasi kerja dengan selalu mengambil jarak antara dirinya dan militer, melalui sikap sinisnya terhadap militer.

VE, karenanya, menggambarkan tiga cara menghadapi alienasi kerja:

1)  Keluar kerja dan mencari/membentuk pekerjaan yang liberatif

2)  Memaknai ulang nilai kerja

3)  Tetap bekerja dengan sikap sinis, bekerja seadanya (Quiet Quitting)

Bagaimana dengan kamu?