John Lennon Itu Cuma Abang-abangan Biasa

John Lennon Hanyalah Abang-abangan Biasa yang Mungkin Kalau di Tongkrongan Suka Cerita ‘Jaman Gue Dulu Nih, Ya’ dan Kalau di Rumah Suka Marahin Istri dan Anaknya

 

Andai Mario Dandy lahir di periode 40-an, tumbuh besar di Liverpool, punya bakat bermusik dan sedikit sentuhan tangan tuhan atau business man yang andal, bisa jadi namanya bakal melegenda karena menjadi salah satu personel The Beatles. Bayangkan fans fanatik The Beatles menyerukan nama Mario Dandy, George Harrison, Paul McCartney dan Ringo Starr.

 

Ketika kamu membaca Wikipedia tentang Mario Dandy, kamu menemukan fakta bahwa idola kesayangan kamu, Mario Dandy si Jenius bermusik, pernah memukul seorang pegawai bar di sudut kota Liverpool dan pegawai itu bernama John Lennon. 

 

Saya mungkin akan dihujat penggemar The Beatles. Tapi, sabar, jangan ngamuk dulu.

 

Begini, dalam rentang usia yang hampir mirip dengan Mario Dandy, John Lennon pernah melakukan penganiayaan terhadap Stuart Sutcliffe, member awal The Beatles sekaligus sahabat sejak keduanya masih menempuh pendidikan di Liverpool College of Art.

 

Pauline Sutcliffe, adik Stuart, menyebut John Lennon menginjak kepala kakaknya. John kala itu memakai sepatu bot dengan sol berlapis besi. Kejadian itu membuat Pauline yakin jika kelakuan John adalah yang menyebabkan kakaknya meninggal dunia. Stuart sering mengeluhkan ia sering sakit kepala sejak perkelahian itu. Stuart meninggal pada 10 April 1962 karena pendarahan otak.

 

Bagi penggemar The Beatles, khususnya John Lennon, kasus ini mungkin sudah tak asing dan dianggap ‘kenakalan’ remaja biasa. Beberapa pernyataan penggemar di forum musik malah meromantisasi kejadian ini karena John, ketika tahu Stuart meninggal, terlihat sangat sedih.

 

Sebelum Pauline membuat pernyataan terbuka, melalui media musik dan biografer John publik hanya tahu bahwa John dan Stuart pernah terlibat perkelahian, bahwa kepergian Stuart adalah hal yang meninggalkan luka mendalam dan penyesalan bagi John, bahwa saking sedih dan jeniusnya John membuatkan lagu In My Life buat orang yang pernah dia injak kepalanya; dunia berputar di sekeliling John.

 

Tuduhan Pauline itu makin diperkuat oleh pernyataan yang menyebut pendarahan itu bukan perkelahian remaja semata—seperti yang diyakini banyak orang—melainkan penganiayaan yang dilakukan oleh John Lennon.

 

"Saya percaya bahwa pendarahan otak yang merenggut nyawa Stuart disebabkan oleh cedera yang dilakukan John Lennon karena cemburu. Hasil pemeriksaan mengungkapkan Stuart memiliki penyok di tengkorak karena bekas pukulan atau tendangan. Dan beberapa bulan sebelumnya, Lennon dengna kejam nginjek kepala kakak saya dalam penganiayaan yang tidak beralasan,” tulis Pauline dalam biografi Sutchliffe.

 

Andai penganiayaan ini benar, tentu kita akan mengajukan pertanyaan: bagaimana mungkin seseorang tega menganiaya sahabatnya sendiri dengan cara sadis semacam itu?

 

Tenang, kengerian John Lennon belum selesai. Di ranah percintaan, musisi yang kerap memakai ”kacamata pantat botol” ini juga pernah menunjukkan kebengisannya.

 

Publik mengetahui John nikah muda dengan istri pertamanya, Cynthia Powell. Keduanya pertama kali bertemu saat mereka masih menempuh pendidikan di Liverpool College of Art pada tahun 1957. Lima tahun kemudian mereka menikah setelah Cynthia hamil.

 

Tak lama berselang, Cynthia melahirkan putra pertama, Julian buah hati bersama John Lennon pada tahun 1963.

 

Masa itu adalah masa John baru memulai kariernya bersama The Beatles. Laiknya pasangan muda yang kerap dihantui berbagai masalah, pasangan ini juga melewatinya. Tapi bukan pertengkaran biasa seperti lupa naruh handuk, pipis sembarangan, atau lupa matiin kompor. Pertengkaran keduanya jauh lebih serius. Apalagi, John dan memiliki anger management. Ia kesulitan mengendalikan emosi, dan melampiaskannya pada Cynthia.

 

Suatu waktu saat masih berpacaran misalnya, John cemburu setelah melihat Cynthia berdansa dengan temannya. Hal ini disampaikan Cynthia dalam bukunya berjudul John. John, yang darah mudanya masih menggelegak kala itu itu menampar Cynthia hingga membentur tembok.

 

Menjelang kematiannya dalam sebuah wawancara dengan Playboy, Lennon mengakui perbuatannya dan meminta maaf atas sikapnya tersebut. 

 

“Saya dulu kejam pada pasangan saya, dan secara fisik kepada perempuan mana pun. Saya adalah orang yang gemar memukul. Jika saya tidak bisa mengekspresikan perasaan saya, saya akan memukul," ujar Lennon.

 

Setelah kejadian itu, Lennon meminta maaf kepada Cynthia. Hubungan pacaran keduanya pun terus berlanjut. Meski sudah minta maaf atas kejadian tersebut, bukan berarti perilaku abusive hilang begitu saja, bahkan saat ia sudah menjadi ayah.

 

Alih-alih sayang anak, ia malah kerap melontarkan kalimat kasar ke anak pertamanya itu. Saat emosinya sedang tak stabil, ia menyebut Julian sebagai anak yang tidak direncanakan. Menurut John, anak pertamanya itu "lahir dari sebotol wiski" dan kerap mengulangi ucapan tersebut.

 

"Saya tidak akan berbohong kepada Julian. Sembilan puluh persen orang di planet ini, terutama di Barat, lahir dari sebotol wiski pada Sabtu malam, dan tidak ada niat untuk memiliki anak,” ujar John.

 

Sikap kasar John terhadap Julian ini dibenarkan Dorothy Jarlett, asisten rumah tangga John dan Cynthia. Pada 2015, sebuah surat yang ditulis Dorothy Jarlett mencuat ke publik. Dalam surat itu, Jarlett menggambarkan John sebagai seorang yang agresif dan kerap bersikap kasar kepada Julian. John juga menyebut Cynthia terlalu lembek dalam mendidik anak. Cynthia tidak terima dengan keluhan John tersebut. Hal inilah yang menjadi pemicu konflik di antara pasangan ini.

 

"Sering terjadi pertengkaran saat makan ketika John tampak terlalu keras dengan Julian dan mengkritik perilakunya di meja," tulis Jarlett.

 

Kondisi  rumah tangga John makin diperparah lantaran John makin kerajingan narkoba. Dorothy membeberkan, John sering meninggalkan puntung ganja di sekeliling rumah.

 

"Ini terjadi beberapa bulan setelah Lennon mulai memakai obat terlarang. Saya tahu ini, karena saya mulai menyadari benda itu tergeletak di berbagai sudut rumah," terang Dorothy.

 

Puncaknya, hubungan rumah tangga ini tak bisa diselamatkan ketika Cynthia memergoki John berselingkuh dengan seniman asal Jepang, Yoko Ono, pada bulan Mei tahun 1968. Meski awalnya menampik dan menyebut Yoko sebatas teman, John akhirnya mengakui skandal tersebut.

 

John dan Cynthia bercerai. Proses perceraian keduanya berlangsung cepat, memakan waktu tiga bulan saja, dari akhir Agustus 1968 hingga awal November di tahun yang sama.

 

John Lennon—pria muda yang pencemburu di saat pacaran dulu—pada perjalanannya menjelma sebagai sebagai seseorang yang dimakan ketakutannya sendiri. Dalam wawancara ini, saya pikir Julian dan Cynthia tidak layak diperlakukan seperti itu oleh John, atau tepatnya John tidak layak mendapatkan orang seperti Julian dan Cynthia. Saya kira, andai jurnalis musik kala itu bukan sekadar corong PR sebuah band atau suatu tokoh, publik kemudian bisa menilai sendiri apakah mereka ingin menggemari John Lennon atau tidak.

 

Menganiaya sahabat, kasar ke pasangan dan bengis ke anak rasanya sudah cukup sahih. Top. Apakah sudah cukup kebengisan ini? Belum. Suatu waktu di tahun 1963, para personel The Beatles tengah larut dalam pesta ulang tahun ke-21 Paul McCartney di Cavern Club di Liverpool.

 

Saat pesta berlangsung, DJ acara itu Bob Wooler mengomentari Lennon dan manajer The Beatles kala itu, Brian Epstein yang baru pulang dari perjalanan ke Barcelona. Wooler menyebut perjalanan itu sebagai “bulan madu” lantaran beredar rumor menyebut John dan Epstein punya hubungan percintaan. 

 

Rumor tersebut beredar luas meski saat itu John sudah menikah dengan Cynthia. Mendengar celotehan Wooler itu John naik pitam. Belum lagi, efek alkohol membuat John makin gerah dibuatnya.

 

Ia lantas memukuli Wooler dan menendangnya berulang kali bahkan saat dia terbaring berdarah di lantai. John dalam sebuah wawancara tahun 1971 membenarkan insiden tersebut.

 

“Saya menghajar dan memukulnya dengan tongkat besar. Momen itu adalah pertama kalinya saya berpikir saya bisa membunuh orang ini,” kenang John.

 

Pengalaman melihat John Lennon dari dekat dan segala keanehannya juga dirasakan Larry Kane, jurnalis perempuan yang ikut tur The Beatles di Amerika pertama pada tahun 1964.

 

John merasa cocok dan meminta Kane untuk menulis buku berjudul Lennon Revealed. Di momen itulah, selain terkenal kasar, Kane jadi tahu bahwa John adalah orang yang mabuknya resek banget.

 

Di suatu malam yang beringas di tahun 1973, Kane menyaksikan sendiri John Lennon mabuk berat di konser Smothers Brothers. Kala itu, turut hadir pula Harry Nilsson, produser proyek album solo Lennon. Saat Smothers Brothers tengah tampil, John berulang meledek duo folk yang tengah unjuk gigi di atas panggung. 

 

Aktor Peter Lawford yang juga datang di acara tersebut meminta John untuk diam. Tapi dasar John, dia tetap berceloteh bak burung pelatuk. Ken Fritz, manajer Smothers Brothers mendatangi John. Bukannya diam, John malah melayangkan bogem mentah ke wajah Fritz. Tak puas sampai di situ, John juga melempar gelas penuh minuman ke arah Fritz.

 

Dalam waktu sekejap, suasana klub jadi mengerikan. Para karyawan di klub itu mengusir John dari klub secara paksa. Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, John menceritakan adegan itu kepada Kane.

 

“Kami meneriaki Tommy (personel Smothers Brothers) dan saudaranya. Saya pikir kami hampir mengacaukan tempat itu. Dan saya tidak ingat bagaimana, tetapi mereka akhirnya mengusir saya,” ungkap John.

 

Saya agak heran dengan tiap-tiap pengakuan yang disampaikan John. Ia tanpa malu menceritakan dan mengakui semua kesalahannya sehingga saya jadi tidak bisa tidak berasumsi bahwa setiap pengakuan dosa John sekadar kamuflase agar mendapat pemakluman jika di masa depan ia melakukan kesalahan serupa, dan sebagai semacam self-defense jika suatu hari seseorang call out kelakukan dia.

 

Entahlah, tugas saya hanya memaparkan fakta. Hanya tuhan, setan dan John Lennon yang tahu.

 

Cinta Damai, Tapi Kok Kasar?

 

Fakta kalau idolamu itu tak ideal seperti yang kamu bayangkan memang menyakitkan. Tapi tenang aja. Jangan serius dan fanatik amat mengidolai orang. John Lennon bukan orang orang suci atau manusia sempurna dalam imajinasi apa pun.

 

John Lennon punya paket komplit sebagai laki-laki bajingan. Tapi di sisi lain, dia punya banyak lagu bagus yang mempengaruhi hidup orang. Buat makin menambahkan asas kebingungan ini, saya sengaja menyelipkan sisi aktivisme John Lennon yang heroik dan legendaris itu.

 

Kamu yang tergila-gila dengan The Beatles dan John Lennon pastilah tahu kalau John begitu mendambakan dunia yang damai. Dunia tanpa kekerasan. Dunia yang diselimuti cinta, cinta dan cinta.

 

Bersama tiga orang lainnya di The Beatles, Lennon mengutuk keras kritik global yang terjadi pada tahun 1966. Aksi protesnya berlanjut dengan mengkritik perang Vietnam dengan slogan “make love not war” serta merilis Give Peace A Chance  atau Imagine yang mempromosikan pasifisme—semacam gagasan perlawanan terhadap perang atau kekerasan sebagai sarana untuk menyelesaikan pertikaian—dan menjadi lagu bertemakan anti perang jadi lagu pop dunia.

 

Lagu-lagu ini sukses menggerakkan opini publik dan dinyanyikan oleh para demonstran dalam sebuah aksi demonstrasi besar-besaran di Washington D.C pada aksi Vietnam Moratorium Day yang kedua.

 

Dalam perjalanannya sebagai musisi, John Lennon makin giat mengkampanyekan perdamaian dunia, terlebih saat ia bersolo karir. Bersama Yoko Ono, Lennon menjadi seniman liar yang mendambakan dunia berjalan dengan damai. Aksi, lagu dan slogan yang dicetuskan oleh John Lennon mempengaruhi jutaan anak muda di dunia.

 

Merindukan dunia yang damai dan tanpa kekerasan tapi punya riwayat hidup sebagai pasangan dan bapak yang kasar. Hmm, kontradiktif, bukan? (garuk-garuk kepala).

 

Kalau kamu bingung artikel the Boston Globe yang ditulis oleh John McMillian, biografer dan penulis ini mungkin dapat menjawabnya. McMillian menyatakan bahwa media memberi kredit terlalu berlebihan atas aktivitas politik John Lennon dan kampanyenya soal pasifisme.

 

Menurut McMillian, pendapat Lennon soal pasifisme itu indecisive, dan keterlibatannya dalam gerakan damai sangat singkat dan tidak konsisten. McMillian mengakui bahwa John mungkin punya nilai-nilai damai yang tulus, tapi dia berpendapat bahwa warisan John disalahpahami dan terjadi misrepresentasi tentang pandangan politik John, yang mengakar dari pemujaan berlebihan. Sehingga yang tampil di media massa dan pikiran orang kebanyakan adalah pandangan yang naif tentang pasifisme John Lennon.

 

McMillian menambahkan, protes damai yang John selenggarakan seperti "bed-ins" dan "acorns for peace" mungkin bukan ide John, tapi ide dari Yoko Ono. Pada tahun 1972, karena ancaman deportasi dari administrasi Nixon, John secara tiba-tiba mengakhiri aktivismenya dan tidak melanjutkan perjuangannya meski sudah dapat green card pada 1975.

 

Soal riwayat domestic abuse dan kekerasannya, Bung John punya kalimat pembelaan. Menurut John, pada dasarnya ia bukan pria kasar. Kalau di masa muda ia pernah kasar, itu hanya proses yang harus dia lalui. Dari kesalahan masa lalu itulah, Bung John belajar menjadi lebih baik. Klise, sih, tapi yang ngomong John Lennon.

 

“Itu sebabnya saya selalu bicara tentang perdamaian. Orang yang paling kejamlah yang mencari cinta dan kedamaian. Semuanya sebaliknya. Tapi saya dengan tulus percaya pada cinta dan kedamaian,” ujar Lennon.

 

Kalimat John Lennon ini segera mengingatkan saya pada sosok abang-abangan yang pernah saya temui. Abang-abangan itu, dalam berbagai kesempatan, sering bilang kalau dia punya hidup yang kelam dan kesalahan di masa lalu. 

 

Hidup lantas membawa abang-abangan kita ini menjadi tua, bijak dan menyesali kesalahan masa lampau tersebut. Dan dia suka mengoceh soal pengalamannya itu.

 

Saya kadang bingung menanggapi jika berada dalam situasi tersebut. Paling cuma bisa cengengesan. Soalnya, agak susah membedakan mana yang “cerita pamer kenakalan masa muda,” “cerita pertobatannya yang heroik,” atau “cerita orang yang insecure akan maskulinitasnya,” saat mendengar ceramah si Abang yang sampai berjam-jam itu. Batasnya tipis seperti rambut dibelah tujuh.

 

Saya tentu tidak mengajak orang buat cancel John Lennon (siapalah saya), bagi saya sendiri sebagai penggemar dan penulis musik penting untuk menyampaikan fakta tanpa larut dalam balutan mitos ketokohan. Musik, terutama musik di dunia showbiz, adalah dunia di mana pelaku dan media secara sadar berusaha membentuk panggung pikiran di kepala penikmatnya; di mana setiap aksi dan gerak-gerik musisi sebisa mungkin mendapat sorotan lampu. Dunia yang sangat dekat dengan pembentukan mitos-mitos spektakuler, yang satu dan lain hal, hanya menguntungkan sektor bisnisnya saja.

 

Sebagai penulis musik, saya kira saya hanya perlu menyampaikan apa yang saya tahu secara jujur saja, sehingga mudah-mudahan pembaca artikel ini memiliki pilihan lebih banyak tentang idola mereka—dan terutama tentang hidup mereka sendiri, karena itu yang utama. Kalau setelah membaca artikel ini tidak mengubah penilaian kamu tentang John Lennon, ya tidak apa-apa. Saya hanya fokus pada mereka yang memiliki PTSD terhadap kekerasan domestik, yang mungkin penggemar John Lennon dan berhak tahu dan dapat memutuskan sendiri.

 

Lagipula, saat John Lennon menjadi bintang besar, dunia hiburan berpihak kepada laki-laki kulit putih. Manusia lain seolah cuma numpang.