
Highlight
-
Apa tema utama dari dokumenter "No Other Land"?
Dokumenter No Other Land menyoroti kehancuran rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat oleh tentara Israel. Film ini mengikuti perjuangan Basel Adra, seorang aktivis, dan menampilkan kekejaman sistematis yang dialami oleh warga Palestina serta ketangguhan komunitas mereka dalam menghadapi penindasan.
-
Mengapa "No Other Land" dianggap sebagai bentuk perlawanan?
No Other Land dianggap sebagai bentuk perlawanan karena film ini mengekspos kebijakan Israel yang mengusir paksa warga Palestina. Dengan menggunakan kamera ponsel sebagai senjata, film ini menunjukkan momen-momen humanis di tengah penindasan, menjadikannya sebagai advokasi murni untuk hak-hak warga Palestina.
-
Apa yang digambarkan dalam adegan-adegan film terkait kehidupan warga Palestina?
Film ini menggambarkan adegan-adegan pilu seperti tentara menghancurkan rumah dan sumur warga Palestina. Momen-momen humanis juga ditampilkan, seperti anak-anak bermain di ayunan darurat dan ibu-ibu yang menyelamatkan barang-barang dari reruntuhan, menunjukkan ketahanan dan semangat komunitas meskipun dalam kondisi sulit.
-
Mengapa "No Other Land" menjadi kontroversial di industri film, khususnya di Hollywood?
No Other Land menjadi kontroversial karena isu Palestina dianggap "riskan" di Hollywood. Meskipun film ini mendapatkan pengakuan internasional, termasuk nominasi Oscar 2025, tetapi kesulitan mencari distributor besar di AS. Ini mencerminkan bagaimana suara Palestina masih dipinggirkan di panggung global, meskipun ada dukungan publik yang signifikan, terutama dari generasi muda.
Baca juga:
10 Rekomendasi Film Keluarga Terbaru di Netflix yang Wajib Ditonton!
“Bloodhounds”: Karya Terbaru Netflix yang Bikin Emosi
10 Fakta Dokumenter Netflix "Mysteries of the Terracotta Warriors"
Sinopsis ‘No Other Land’: Dokumenter yang Mengguncang Dunia
Film No Other Land menyoroti kehancuran rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat oleh tentara Israel. Disutradarai oleh kolektif Palestina-Israel, dokumenter ini mengikuti perjuangan Basel Adra, aktivis yang lahir di Masafer Yatta.
Kawasan ini dirampas Israel untuk dijadikan area latihan militer, memaksa warga Palestina tinggal di gua atau bangun kembali rumah mereka yang dihancurkan setiap minggu.
No Other Land tidak hanya menampilkan kekejaman sistematis Israel terhadap Palestina, tetapi juga ketangguhan komunitas yang bertahan dengan kamera ponsel sebagai senjata.
Penjelasan Film ‘No Other Land’: Lebih dari Sekadar Kisah Sedih
Penjelasan film ini perlu dilihat sebagai bentuk perlawanan. Tanpa sudut pandang netral, No Other Land adalah advokasi murni. Para sutradara—termasuk wartawan Israel Yuval Abraham—mengekspos kebijakan Israel yang mengusir paksa warga Palestina.
Adegan bulldozer menghancurkan sekolah, sumur, dan rumah menjadi simbol penindasan yang tak berakhir. Film ini juga menyelipkan momen humanis: anak-anak bermain ayunan darurat, ibu-ibu menyelamatkan karpet dari reruntuhan, dan kolaborasi unik antara filmmaker Palestina-Israel.
Masafer Yatta: Tanah yang Diperebutkan Sejak 1830
Keluarga Basel Adra telah tinggal di Masafer Yatta sejak 1830. Tapi sejak 1999, Israel menetapkan wilayah itu sebagai “zona latihan militer”. Warga dilarang membangun tanpa izin—yang mustahil didapat.
No Other Land menampilkan adegan pilu seperti tentara menuangkan semen ke satu-satunya sumur atau merobohkan rumah saat anak-anak masih di dalam.
Apakah Palestina Sudah Merdeka? Fakta yang Tak Banyak Diketahui
Pertanyaan “apakah palestina sudah merdeka” sering memicu debat. Secara de facto, Palestina diakui oleh 139 negara sebagai negara merdeka, tetapi pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza membuat kedaulatan penuh mustahil.
No Other Land menunjukkan realitas warga Palestina: tidak bisa memilih, plat mobil dibedakan, dan hidup di bawah ancaman penggusuran setiap hari. Status “merdeka” menjadi ilusi ketika kebebasan dasar seperti air bersih pun dirampas.
Kenapa Israel Menyerang Palestina? Analisis dari ‘No Other Land’
Kenapa israel menyerang palestina dijelaskan melalui kebijakan pengambilalihan lahan. Film ini menampilkan narasi bahwa Israel ingin menguasai wilayah strategis di Tepi Barat, didukung oleh keputusan pengadilan yang mengabaikan hak warga Palestina.
Serangan bulldozer dan tentara bukan hanya soal keamanan, tetapi juga upaya sistematis meminggirkan masyarakat Palestina. Salah satu tentara bahkan berkata, “Tidak peduli!” saat seorang ibu berteriak bahwa anaknya masih di dalam rumah.
Oscar 2025: Kemenangan ‘No Other Land’ atau Kritik untuk Industri Film?
Meski masuk nominasi Oscar 2025, No Other Land kesulitan mencari distributor besar di AS. Ironisnya, film pemenang Berlin International Film Festival ini justru didistribusikan secara mandiri. Isu Palestina masih dianggap “riskan” di Hollywood, meski publik muda mendukungnya. Jika menang, ini akan menjadi kemenangan bersejarah—tapi juga bukti bahwa suara Palestina masih dipinggirkan di panggung global.
Ancaman dan Kontroversi di Balik Layar
Setelah menang di Berlin, sutradara No Other Land menerima ancaman kematian dan tuduhan antisemit. Tapi film ini justru membuktikan bahwa kolaborasi Palestina-Israel mungkin dilakukan. Yuval Abraham, sutradara Israel, dengan berani menyebut kebijakan negaranya sebagai “kejahatan”.
Bagi Gen Z yang melek sosial media, No Other Land adalah tamparan keras. Film ini menginspirasi aksi clicktivism—dukungan melalui like, share, dan tagar #FreePalestine. Tapi juga memicu pertanyaan: “Apa yang bisa kita lakukan selain menonton?” Basel Adra menjawab: “Mulailah dengan tidak berpaling.”
Mengapa ‘No Other Land’ Wajib Ditonton?
No Other Land bukan sekadar penjelasan film tentang konflik, tapi cermin ketidakadilan global. Bagi yang bertanya “apakah palestina sudah merdeka”, film ini menjawab dengan gamblang: selama pendudukan Israel terus terjadi, kemerdekaan hanyalah mimpi. Saksikan, bagikan, dan jangan berhenti bersuara—karena seperti kata Basel, “Kami tidak punya tanah lain.”