Kalo Tuhan Cuma Satu, Kenapa Agama Ada Banyak?

Kalo Tuhan Cuma Satu, Kenapa Agama Ada Banyak?
Memangnya, masih relevan ya ngomongin Tuhan?


Kalo Tuhan Cuma Satu, Kenapa Agama Ada Banyak?


Pertanyaan di judul tulisan ini muncul dalam suasana lebaran. Ketika perut masih penuh diisi dengan ketupat, opor ayam dan rendang, serta badan masih capek ketemu beberapa saudara bisa-bisanya saya menemukan pertanyaan itu nongol di timeline.


Harusnya, hari-hari pekerja yang santai begini dan belum punya cuti, kita mengisinya dengan kegiatan yang gak perlu-perlu amat buat berpikir keras, terutama perihal ketuhanan. Apalagi hari-hari saya ke depan nanti akan dipenuhi oleh kerja-kerja pembuatan konten. 

Lebih baik waktu libur yang sebentar itu digunakan buat santai dan bermain bersama anak. Tapi ya namanya manusia kan, selalu ada aja yang perlu dipikirkan, karena itu saya coba buat tulis di sini.

Tentang Tuhan yang Tak Pernah Selesai


Persoalan tentang Tuhan selalu menarik untuk diperbincangkan. Twit di atas pun segera dikerumuni banyak orang. Kamu bisa menemukan pertanyaan serupa berdekade-dekade sebelum twitter muncul, seolah-olah pertanyaan dan topik itu adalah objek kajian abadi.

William C. Chittick, dalam Tuhan Sejati dan tuhan-tuhan Palsu, mengajak pembaca merenung bahwa keyakinan tentang Tuhan tidak sama dengan Tuhan yang sebenarnya. Lebih jauh, biasanya seseorang yang beragama akan lebih suka mengatakan bahwa yang ia temukan bukan proposisi melainkan hubungan dengan Yang Suci.

Sementara Karen Armstrong dalam bukunya A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity, and Islam menyebut manusia sebagai homo religiosus. Armstrong menarik kesimpulan bahwa manusia pada saat itu mulai menyembah dewa-dewa dan bersamaan dengan menciptakan karya seni. Ada kesamaan secara praktik di sini, yakni Armstrong melihat agama merupakan sebuah bentuk dari ketakjuban terhadap dunia yang misterius sekaligus indah. Meski tidak ada yang bisa memastikan agama apa yang pertama kali diyakini atau dipeluk manusia.

Ada satu hal yang menurut Karen perlu digarisbawahi, sejauh agama didefinisikan dalam kaitannya dengan wahyu ketuhanan, agama pertama yang tercatat adalah yang dibawa oleh Ibrahim. Darinya pola keberagaman masyarakat dari yang politeistik menjadi atau dikenalkan pada keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan di alam semesta atau yang biasa disebut sebagai pandangan monoteisme yang menjadi cikal bakal agama besar di dunia: Yahudi, Kristen, Islam.

Muhammad al-Fayyadl dalam Teologi Negatif Ibn ‘Arabi: Sebuah Kritik atas Metafisika Ketuhanan, menyatakan bahwa monoteisme Ibrahim sebagai "monoteisme radikal". Maksudnya adalah karena Ibrahim telah sampai pada kesadaran tentang Tuhan setelah melewati serangkaian pencarian yang terus-menerus dan setelah ia melakukan pencarian, barulah ia meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang layak ia sembah.

Pola dan semangat monoteis dalam pencarian Tuhan ini diteruskan oleh agama turunan Abrahamik lainnya: Yahudi, Kristen dan Islam. Ketiga agama ini memiliki klaim monoteisme masing-masing. Menariknya, soal keimanan yang dicapai dan diperoleh melalui pencarian mulai dicoba untuk dipahami dan dirumuskan dalam sebuah konseptualisasi—biasa disebut "teologi".

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa teologi merupakan sebuah penemuan penting dalam agama-agama wahyu—agama Abrahamik—yang berbeda dari agama non-Abrahamik yang tidak menjadikan wahyu sebagai tolok ukur kebenarannya. Dari sini terjadi pergeseran secara menyeluruh dalam arti kemunculan teologi memiliki implikasi perubahan cara umat beragama dalam mendekati Tuhan: dari yang semula berbasis pada pencarian, mulai bergeser dengan mendasarkan pada kepercayaan atas doktrin yang memiliki resiko bahwa tidak ada sesuatu yang benar di luar konsep teologi.

Dengan demikian pembahasan tentang Tuhan dengan segala predikat tentangNya akan selesai dan seolah-olah menjadi kebenaran utama dalam memahami ketuhanan hingga akhir ini. Kita bisa lihat corak seperti ini di sekitar kita, semisal ketika mengatakan bahwa Tuhan adalah A dan bukan B yang telah dikonseptualisasikan dengan pengetahuan manusia.

Teologi Negatif atas Respon Ketuhanan yang Positif


Melalui buku Teologi Negatif Ibn ‘Arabi, kita dapat melihat kecenderungan ini: seringkali konseptualisasi tentang Tuhan menjadi dogmatis dalam memandang ketuhanan. Dari sini kemunculan teologi negatif dapat dikatakan sebagai kritik terhadap pembakuan konsep ketuhanan dalam teologi pada umumnya. Selain karena ketidakpuasan atas argumen ontologis antara keidentikan Tuhan dengan "ada", teologi negatif menyatakan bahwa "Tuhan" bukan realitas yang objektif. Harus diakui bahwa kemunculan teologi negatif menunjukkan problem serius dalam metafisika ketuhanan yang dianut oleh teologi selama ini.

Kita bisa melihat ini semisal dalam agama Abrahamik, pada perkembangannya di lingkungan mistikus dan filsuf Yahudi dengan filosofi Kabbalah. Kemudian dalam agama Kristen kita bisa liat dalam figur Dionisius the Aeropagite, St. Augustinus, St. Bonaventura, Meister Eckhart.

Sementara dalam dunia Islam kita bisa temukan corak teologi negatif dalam pemikiran Muhyi al-Din Ibn 'Arabi—figur yang dikenal luas di dunia Islam sebagai sufi besar yang mengajarkan wahdat al-wujud, salah satu ajaran terkenal tentang "kesatuan Ada".

Selain itu, ketika kita menyebut Ibn Arabi sebagai teolog negatif atau memberi suasana lain dalam Islam berteologi, berarti juga ada problem yang berkaitan dengan konsep ketuhanan yang telah dianut secara dogmatis dan positif. Dengan demikian teologi negatif mengajak kita untuk meredefinisi ulang konsepsi ketuhanan selama ini dengan asumsi bahwa Tuhan yang kita percaya selama ini bukan seperti apa yang kita bayangkan.

Konsekuensi dari konsepsi yang boleh disebut jarang ditemui dalam misal obrolan sehari-hari adalah tak jarang memunculkan anggapan "sesat" dan asing. Hal ini juga tak luput dari situasi yang dialami oleh Ibn 'Arabi sendiri yang mengalami persekusi oleh penguasa saat itu yang memaksa ia untuk pergi dari Andalusia ke Mekah. Alasan yang menarik ketika membicarakan pemikiran Ibn 'Arabi adalah konsepsinya tentang pengetahuan Tuhan yang sama sekali tidak bisa dibuktikan dengan pengalaman empiris dan juga tidak bisa dijangkau oleh akal-rasional.

Dalam pengantar buku William C. Chittick, Tuhan Sejati dan tuhan-tuhan Palsu, kita bisa melihat bahwa ada salah sebuah hadis qudsi berfirman:

"Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku."

Secara tidak langsung hadis ini menegaskan bahwa pengetahuan kita tentang Tuhan sebenarnya hanya sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuan tentang Tuhan yang sebenarnya. 

Seringkali kaum teologi mengidentikkan Tuhan dengan esensi, substansi, atau identitas. Misalnya ketika mengatakan "keberadaan Allah", "Allah itu ada", "Allah itu sesuatu". Dari sini tawaran yang dihadirkan oleh teologi negatif, sekurang-kurangnya, adalah mengungkapkan apa pun tentang "Tuhan dengan cara negatif. Misalnya jika selama ini anggapan "Tuhan dapat diketahui", "Tuhan ada", "Tuhan dapat dipikirkan", maka teologi negatif melakukan jalan sebaliknya "Tuhan tidak ada", "Tuhan tidak dapat diketahui, "Tuhan tidak dapat dipikirkan"—lebih radikal lagi dengan tidak mengungkapkannya atau membicarakannya.

Fayyadl mengatakan bahwa tidak adanya dasar pengetahuan bagi teologi negatif untuk melakukan pencarian menuju makan ketuhanan dan justru telah memunculkan individualitas murni, maksudnya adalah menjadi sesuatu yang bersifat pengalaman eksistensial.

Momen Negatif


Sebagai seorang tokoh sufi besar, Ibn 'Arabi sejak muda telah menerapkan apa yang ia tekankan mengenai pencarian dan pengalaman ketuhanan yang paling ideal untuk dirinya. Selain itu seorang sufi adalah ahli ilmu tasawuf yang pada hakikatnya merupakan upaya mengenali diri. Ada ungkapan terkenal untuk ini, yakni, "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya."

Namun, dalam kasus Ibn 'Arabi, pencarian diri dalam rangka mencapai pengenalan Tuhan itu berlangsung unik dan tidak lazim. Momen-momen perjumpaan dengan Tuhan terkadang berlangsung secara negatif. Berawal dari pertobatan–ketika ia belum menginjak 20 tahun–Ibn 'Arabi atas kenikmatan dunia menuju pengalaman relijius seorang sufi.

Anggapan awam setelah melakukan pertobatan saja mungkin dianggap cukup disertai turunan ibadah yang diwajibkan. Tapi ternyata seperti yang ditulis oleh Addas, Ibn 'Arabi belum mampu mengenal Tuhan yang sebenarnya, karena sosok tentang Tuhan masih samar untuknya.

Dari momen pertobatan yang bisa disebut penyangkalan-diri, kemudian Ibn 'Arabi mengelami "pencerahan" atau fath yang berarti "pembukaan" atau "keterbukaan". Momen ini menunjukkan adanya suatu rahasia yang datang dari sesuatu yang lain di luar dirinya. Fath dalam kasus Ibn 'Arabi datang dari Tuhan yang secara tiba-tiba. Selain momen fath yang dialaminya, Ibn 'Arabi juga mengalami jadhbah atau ekstase, yakni kondisi sering kehilangan kesadaran dan akal sehatnya karena kekuatan Tuhan yang tak bisa ia duga dan perkirakan sebelumnya.

Lebih jauh perkenalan Ibn 'Arabi dengan Tuhan ia alami sendiri tanpa adanya kehadiran siapa-siapa. Menariknya, Nabi 'Isa yang menjadi gurunya setelah ia bertemu dalam mimpi. Dalam mimpi yang dialami Ibn 'Arabi, Nabi 'Isa-lah mendukung dan menekankan sikap zuhud dan selalu menyucikan diri kepada Allah tanpa terikat dengan apa pun di dunia. Bagian tidak memiliki apa-apa ini secara ontologis merupakan tanda melepaskan total segala atribut yang dimiliki oleh hamba, sehingga satu-satunya yang dimiliki hanyalah status ontologisnya sebagai "hamba". Dengan pelepasan tersebut, kebanyakan seorang sufi menegasikan dirinya dari apa pun yang bukan Tuhan dan menyerahkan hidupnya semata-mata untuk Tuhan.

Tuhan dalam pandangan Ibn ‘Arabi


Sebelum kita melihat motif negasi dalam pemikiran Ibn ‘Arabi, mari kita menengok lebih jauh ke dalam tasawuf, karena kita dapat temui persinggungan tentang asumsi negasi atau negativitas mengenai Tuhan seperti pada pandangan kaum sufi generasi awal, seperti Sahl al-Tustari, Abu Yazi al-Busthami, Junaid al Baghdadi, Abu Manshur al-Hallaj, atau Abu Bakr al-Syibli. Ada motif-motif negasi yang tetap dalam ajaran sufistik mereka. 

Seperti misalnya ketika Sahl al-Tusatari menyatakan tentang kemustahilan mengetahui Tuhan: "Terpujilah Dia, yang tentang-Nya para ahli makrifat tidak mendapat apa-apa selain pengetahuan bahwa mereka tidak dapat mengetahui-Nya.

Pernyataan lainnya datang dari khalifah pertama Rasulullah, Abu Bakr al-Shiddiq:
Ketidakmampuan untuk memahami adalah sebenar-benar pemahaman.

Dalam pandangan Ibn 'Arabi itu sendiri kita bisa liat corak negasi atau negativitas mengenai ketuhanan. William C. Chittick dalam bagian Esensi dan Ke-Tuhan-an, menggarisbawahi bahwa esensi Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, tanpa adanya atribut atau predikat dari manusia. Sementara ketuhanan adalah esensi yang berhubungan dengan manusia, alias sebuah upaya rasionalisasi oleh manusia. Menurutnya, hanya sifat-sifat negatif yang dapat kita letakkan kepada Tuhan. Hal ini jugalah yang dilakukan oleh Ibn 'Arabi yang terkadang menyatakan bahwa tiada sesatu pun yang dapat diterapkan pada Tuhan, karena ia memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang positif maupun yang negatif.

Lebih jauh Ibn 'Arabi mengatakan bahwa esensi Tuhan berada di luar atau jangkauan akal. Sebab akal senantiasa mengalami keraguan, penegasian dan penegasan. Seperti kita lihat dalam kutipan yang diambil oleh Chittick,

Dari sini dapat dikatakan bahwa Esensi tak terpahami, alias mengalami suatu negativitas, karena tak ada satu pun orang yang dapat mengetahui-Nya, hanya melalui Nama-Nya kita dapat mengenali-Nya tentang ketuhanan dan bukan Tuhan itu sendiri. Hal ini seperti kutipan yang ada dalam tulisan Chittick:
...jika saja Ia dapat dikenal, Ia akan terlingkupi. Jika saja Ia terlingkupi, hal itu berarti bahwa Ia terbatas. Jika Ia terbatas, Ia akan terbatasi. Jika Ia terbatasi, Ia akan terkuasai. Tapi, Esensi Yang Nyata jauh dari itu semua.

Sementara Fayyadl menyatakan bahwa Ibn 'Arabi melihat ada kecenderungan, motif, dan logika-logika positif selama ini tentang Tuhan yang bersifat problematis. Pertama-tama ketika kita membicarakan Tuhan secara objektif, padahal tidak adanya kriteria yang pasti tentang "kebenaran". Semisal, teologi selama ini sebenarnya tidak membawa pencerahan dan positif, melainkan negatif: pembicaraan tentang Tuhan telah dinegasikan oleh ketidakpastian, ketidakmungkinan kita membicarakan tentang Tuhan. 

Setiap kesesuaian pikiran ketika membicarakan Tuhan, menurut Ibn 'Arabi mengandaikan adanya suatu tempat bagi konsepsi, standar, batasan. Setiap konsepsi itu adalah konstruksi atau ciptaan pikiran untuk mempermudah terjadinya kesesuaian tersebut. Dengan kata lain, konsepsi tersebut secara logis tidak menunjuk kepada Tuhan itu sendiri.
...perenungan terhadap Esensi Tuhan merupakan suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Perenungan hanya dapat dilakukan dalam hubungan dengan ciptaan.

Sementara dalam buku Pengetahuan Spiritual Ibnu Al 'Araby karya William C. Chittick, ia mengutip tulisan Ibn 'Arabi yang menekankan setiap diskursus apa pun yang ingin menampilkan suatu representasi tentang Tuhan secara langsung, sesungguhnya sedang mengalami kontradiksi dalam dirinya, karena ia ingin merepresentasikan sesuatu yang tak dapat direpresentasikan. Ibn 'Arabi mengatakan bahwa pada akhirnya bukan membicarakan Tuhan itu sendiri, melainkan konsep Tuhan atau konsep ketuhanan, atau Tuhan yang telah dipahami secara konseptual.

Secara tidak langsung dapat dikatakan pengetahuan kita ketika berbicara tentang Tuhan, yang didasarkan atas pikiran, tindak berpikir dan objek yang dipikirkan dengan asumsi selalu adanyan hubungan yang langsung, telah runtuh. Alasannya karena ketika memikirkan tentang Tuhan, sebenarnya objek yang dipikirkan tersebut tidak ada. Kita bisa lihat bahwa pikiran sedang memikirkan yang-tak-terpikirkan, yang-tiada.

Dalam pandangan Ibn 'Arabi, Tuhan sebagai Tuhan itu sendiri tidak hadir dalam pikiran sebagai Objek yang dipikirkan dengan logika non-kontradiksinya. Padahal, Tuhan menampakkan diri-Nya sebagai kontradiksi itu sendiri: tak bisa dibatasi, tak bisa dikenali, tidak objektif. Serta Tuhan ada terlebih dahulu sebelum adanya pengetahuan itu sendiri dan dari sini pengetahuan sebenarnya bersifat pasif di hadapan Tuhan—sebuah momen negatif, momen krisis bagi setiap pembicaraan dan pengetahuan tentang Tuhan dalam kerangka-kerangka tertentu. 

Selain itu ketika kita berbicara tentang nama atau sifat Tuhan. Menurut Ibn 'Arabi, bahkan kata Tuhan itu sendiri tidak cukup memadai, dalam arti tak ada kata apa pun yang dapat menandai Tuhan, alias Ia yang tanpa nama, yang tak ternamai.

Corak negativitas lain dalam pemikiran Ibn 'Arabi tentang Tuhan adalah Dzat Tuhan. Lagi-lagi Dzat tidak dapat dimasukkan ke dalam "kriteria", "standar", atau "kerangka" apa pun—dalam istilah Ibn 'Arabi merupakan "batasan" bagi Dzat dan sekaligus titik berhenti bagi akses pengetahuan tentang Dzat. Ibn 'Arabi, seperti dinyatakan oleh Fayyadl, seolah-olah mengatakan bahwa "mengetahui Tuhan dengan jalan tidak mengetahui-Nya atau mengetahui Tuhan dengan jalan mengetahui ketidakmungkinan-Nya diketahui".

Apabila momen ini telah dapat dilalui akan berujung ke dalam konsep "ketidaktahuan", "kebodohan" pasca pengetahuan, Ibn 'Arabi mengatakan terjadinya kemungkinan pengetahuan yang baru—dalam bahasa Ibn 'Arabi: pengenalan, penyaksian, pandangan oleh Tuhan secara tak terduga, tiba-tiba, dan tanpa adanya awalan konseptual.

Dengan kata lain, melalui teologi negatif Ibn 'Arabi kita dapat melihat bahwa apa-apa yang kita pikirkan tentang Tuhan selalu berangkat dari pengetahuan yang memiliki kerangka dan batasan dari apa yang kita pikirkan.

Apabila menyadari kondisi-kondisi negatif dalam memahami Tuhan, boleh jadi kita akan berkata tidak akan pernah ada kata akhir dalam upaya menjangkau dan mempersepsikan tentang Tuhan. Seperti yang dikatakann oleh Ibn Arabi bahwa keyakinan setiap orang bergantung pada kapasitas dan kemampuannya untuk menangkap atau mendapatkan pencerahan/penyingkapan (tajalli) Tuhan. Dengan demikian, sangat memungkinan setiap keyakinan atau setiap orang memiliki jalan kebenarannya sendiri dan tak ada justifikasi untuk membenarkan jalan kebenarannya, karena pada awalnya pengetahuan tersebut mengandung momen-momen negatifnya itu sendiri.