Kawaii yang Menyeramkan

Kuat, Disiplin, dan Berkuasa. Begitulah pandangan kita terhadap institusi militer. Pandangan ini perlu dimiliki oleh mereka yang kerap dianggap sebagai garda terdepan pertahanan nasional. Suatu negara selalu dianggap berada dalam situasi rentan terhadap berbagai ancaman sehingga perlu sosok maskulin nan seram untuk melindunginya. 

 

Bagaimanapun, citra militer tidak sesimpel demikian di Jepang. Bertujuan mencapai segmen publik yang lebih luas, wajah militerisme diperhalus untuk ditawarkan kepada publik melalui berbagai saluran. 

 

Selayang Pandang Militerisme Jepang

 

Sebagai negara dengan konstitusi pasifis, Jepang dilarang untuk terlibat dalam pelbagai macam bentuk peperangan. Sistem perundang-undangan yang dibentuk setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia 2 ini melalui pasal nomor 9-nya secara harfiah melarang Jepang untuk melakukan atau terlibat dalam peperangan. Karena itu, sisa-sisa militer Jepang yang bertahan dari Perang Dunia 2 pun mengalami kebingungan organisasional.

 

Alhasil, kabinet Hitoshi Ashida pada 1951 mengusulkan untuk melakukan pembacaan ulang atas pasal 9 konstitusi Jepang yang menghasilkan gagasan bahwa pembentukan pasukan militer sebagai agen pertahanan nasional tidaklah melanggar konstitusi. Sejak saat itulah Pasukan Pertahanan Diri Jepang (JSDF) mulai dibentuk secara perlahan. Terjadinya Perang Korea sendiri memaksa pembentukan Cadangan Polisi Nasional pada tahun 1950 direorganisasi menjadi Pasukan Keamanan Nasional pada tahun 1952, sebelum akhirnya dibentuk menjadi Pasukan Pertahanan Diri pada tahun 1954. 

 

Menjabatnya Shinzo Abe sebagai Perdana Menteri Jepang punya andil besar dalam proses perluasan peran Pasukan Pertahanan Diri pada kehidupan tata negara Jepang. Setelah menjabat sebagai Perdana Menteri untuk kedua kalinya pada 2012, Abe mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk pertahanan. Pada 2014 Kabinet Abe mengizinkan diadakannya pembacaan ulang atas konstitusi Jepang yang dapat memuluskan penggunaan kekuatan militer dengan lebih leluasa. Meskipun proses ini memicu demonstrasi anti perang besar-besaran di Jepang, hasil pembacaan ulang konstitusi Jepang tersebut pada akhirnya disahkan pada 2015. 

 

Sejak saat itulah Pasukan Pertahanan Diri Jepang (JSDF) memiliki landasan legal untuk turut terlibat dalam kegiatan militer di berbagai belahan dunia. Bahkan, pada 2018 sendiri, kabinet Abe juga mengajukan proposal untuk mengganti konstitusi yang menyertakan sandaran legal untuk JSDF dalam melakukan aktivitasnya. Terdapat suatu dilema di mana antara kubu romantik yang menginginkan kembalinya kekaisaran Jepang yang megah nan berkuasa dengan kubu progresif di mana mereka menginginkan Jepang menjadi negara modern yang demokratis. Pemisahan publik menjadi dua titik ekstrim ini kerap mengemuka ketika membicarakan JSDF. 

 

Empat Anime Penyambung Lidah Militerisme

 

Selain berbarengan dengan perayaan 70 tahun berakhirnya Perang Dunia 2, periode 2010-an juga ditandai sebagai momen puncak produksi budaya populer Jepang bertemakan Perang Dunia 2. Di antaranya ada beberapa judul seperti High School Fleet, Girls & Panzers, Arpeggio of Blue Steel: Ars Nova, dan Kantai Collection yang kesemuanya menampilkan karakter gadis lucu dan rentan serta punya hubungan erat dengan tema persenjataan Perang Dunia 2 maupun juga JSDF.

 

Keempat anime tersebut dikemas dalam genre fantasi, di mana segala sesuatu dapat menjadi mungkin. Mulai dari bermain tank sebagai ekstrakurikuler di sekolah, proses adaptasi di sekolah militer dengan bumbu-bumbu kerapuhan karakter seorang perempuan muda, kapal yang punya versi humanoid sebagai perempuan muda, sampai sebuah armada perang di mana bukan berisikan kapal perang atau pun pesawat namikaze, melainkan cewek-cewek sekolah menengah yang tubuhnya dipenuhi armor perang. 

 

Dari sini muncul pertanyaan: sebenarnya apa kaitan antara militerisme dengan kartun Jepang bertemakan Perang Dunia 2 serta JSDF ini? Keuntungan macam apa yang diterima JSDF dengan adanya anime yang menampilkan mereka? 

 

Mari kita bersabar sejenak dan coba membedah wacana dalam satu per satu anime di atas melalui penjelasan di bawah ini. Simak terus, plis.

 

Girls und Panzer dan High School Fleet: Bagaimana Para Gadis Mencitrakan JSDF 

 

Seperti disebut sebelumnya, Pasukan Pertahanan Diri Jepang (JSDF) tidak memiliki landasan konstitusional yang kuat setelah Jepang dikalahkan pada Perang Dunia 2. Posisinya yang ambigu secara konstitusional membuat warga Jepang memiliki pandangan yang buruk terhadapnya. Setidaknya sampai pada periode 1990-an, di mana JSDF mulai aktif melibatkan diri pada kegiatan perdamaian internasional. Khususnya dampak dari framing citra positifnya di media setelah melakukan penanggulangan bencana pasca Jepang Timur dilanda gempa besar dan tsunami pada 2011. Sejak itu, citra JSDF telah meningkat di kalangan pemuda Jepang dan lebih umum lagi Publik Jepang.

 

Dalam rangka merekrut kaum muda dan meningkatkan citranya, Kantor Kerjasama Provinsi (PCO) JSDF mulai menggunakan karakter bergaya anime dalam materi promosinya. Latar dari anime High School Fleet (HSF) yang bertempat di Yokosuka, Prefektur Kanagawa, mengarah ke PCO JSDF Kanagawa, misalnya, mengejar poster promosi kolaboratif dengan produser anime, di mana kedua belah pihak melihat kampanye tersebut saling menguntungkan.

 

Cerita HSF sendiri mengikuti dua sahabat kecil Misaki Akeno dan China Moeka yang masuk ke sebuah sekolah-asrama kejuruan khusus perempuan yang berfokus pada ketahanan laut. Dengan cita-cita menjadi anggota “Blue Mermaid” yang kompeten, kita dibimbing untuk mengikuti suka duka perjalanan mereka menjadi semacam perwira angkatan laut. Semenjak Kapal Perang nyata dari Perang Dunia kedua dan sekolah perempuan fiktif yang sebenarnya mengacu kepada Pasukan Pertahanan Diri Maritim (MSDF) muncul di anime High School Fleet, penonton Jepang akan sangat mudah menghubungkan antara karakter perempuan muda dengan instansi MSDF yang sebenarnya. 

 

Hubungan yang sama terdapat pada anime Girls und Panzer (Garupan). Anime ini mengambil latar sekolah menengah khusus perempuan di Oarai, Prefektur Ibaraki. Kita mengikuti perkembangan sang tokoh utama, Nishizumi Miho, yang tidak ingin mendaftar ekstrakurikuler senshadō. Ekstrakurikuler ini menjadikan pendaftarnya dapat mengendarai tank dalam sebuah tim. 

 

Penyebutan ‘dō’ (yang bermakna ‘jalan’ atau ‘cara’) dalam senshadō memiliki makna yang sama dengan suatu rangkaian praktik tradisional yang membutuhkan pelatihan dan struktur dalam pelaksanaannya, seperti misalnya seni bela diri seperti jūdō dan kendō

serta membuat rangkaian bunga (kadō) atau upacara minum teh (sadō). 

 

Berbeda dengan imaji populer yang enggan mengaitkan perempuan dengan kekerasan, dalam alam cerita Garupan perempuan muda memegang peranan penting dalam aktivitas kultural (baca: bermain tank) senshadō. Dalam ekskul ini para anggota dibagi menjadi beberapa tim kecil di mana mereka mengoperasikan persenjataan dari era Perang Dunia kedua dengan latar realistis kota Oarai di belakangnya.

 

Tim kecil ini dilabeli dengan nama-nama hewan, seperti Tim Kelinci (Usagi-San) dan Tim Kura-kura (Kame-San). Susan D. Holloway dalam bukunya mengatakan penyebutan nama-nama ini, bagi penonton dari Jepang, akan memicu memori mereka kembali ke ruang kelas di Taman Kanak-kanak. Bahasa yang terkesan kekanak-kanakan ini dengan sengaja disandingkan bersama tema militer dimana perempuan sekolah menengah dan iklim kompetisi adil ala sekolah menengah memegang kendali. Singkat cerita, Miho bersama rekan satu timnya berhasil memenangkan kejuaraan Tank antar SMA tingkat nasional. 

 

Gambaran realistis tank Perang Dunia 2 yang dikendarai oleh gadis-gadis kawaii serta kaitan dengan nama tim yang bersifat kekanak-kanakan tentunya segera menarik perhatian para penonton laki-laki. Produser Garupan, Kiyoshi Sugiyama, membeberkan alasan penggunaan latar yang sangat realistis di mana ia secara eksplisit disandingkan dengan elemen fantastis–untuk tidak mengatakannya tidak realistis–dari cerita itu sendiri:

 

"Ceritanya tidak realistis karena anak-anak perempuan bersaing di turnamen tank di Jepang, dan untuk alasan ini, latarnya harus nyata untuk membuat cerita terlihat realistis"

 

Garupan menampilkan detail Kota Oarai sebagai latar ceritanya, sekaligus membawa promosi wisata Kota Oarai ke level yang selanjutnya. Sehingga para penonton akan dengan senang hati mengait-ngaitkan antara fiksi dengan realita, antara Kota Oarai dengan alam cerita dari Garupan itu sendiri. Di sepanjang daerah perbelanjaan kota Oarai terdapat figura berbahan dasar kardus seukuran manusia dimana karakter-karakter dari Garupan berdiri di depan toko dan juga stasiun. Miho dan kawan-kawan ini ditampilkan sebagai sarana bagi orang-orang lokal maupun penggemar dari luar kota saling berkomunikasi satu sama lain. Semisal menjadi spot foto atau pun memicu obrolan mengenai kecintaan mereka terhadap Garupan

 

Selain berfungsi sebagai sarana rekreasi bagi wisatawan, kerjasama antara Garupan dan otoritas lokal Kota Oarai juga ditujukan untuk merevitalisasi kota setelah dilanda gempa dan tsunami pada 2011 lalu. Pada Festival Ankō Matsuri 2012, Pasukan Pertahanan Diri Darat (GSDF) turut mengisi acara sebagai bagian dari kampanye revitalisasi Kota Oarai Pasca bencana. Kemudian pada Festival Kairaku Musim Semi tahun 2013 ditampilkan sebuah tank tipe-74 sungguhan di jalanan Kota Oarai.

 

Selain itu festival turut diramaikan oleh pidato publik dari seorang pengendara tank, yang merupakan perwira GSDF, serta pesan video oleh Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Liberal (LDP) saat itu, Ishida Shigeru. Meskipun secara sadar penggemar mengakui bahwa alam cerita Garupan adalah fantasi dan keterlibatan JSDF merupakan bagian dari program revitalisasi Kota Oarai pasca bencana belaka, realita dan fiksi telah bercampur-aduk dalam imaji para penggemar. Yang konsekuensinya adalah timbul perasaan intim terhadap militerisme secara umum, dan terhadap JSDF secara khusus.

 

Dalam mempertahankan “kenyataan” yang telah diciptakan oleh pertautan antara fiksi dan realitas, peran seiyuu atau pengisi suara juga menjadi vital di sini. Fuchigami Mai, seorang seiyuu dan penyanyi yang cukup terkenal, berperan sebagai pengisi suara Miho dalam Garupan juga berperan sebagai Iona, tokoh utama perempuan dalam Arpeggio. Dalam konteks khusus ini, penggemar Fuchigami dapat langsung mengasosiasikan Miho dengan Iona mengacu pada suara yang sama serta tema yang berkaitan dengan peperangan.  

 

Kapal Perang yang Diperempuankan

 

Kapal kerap digambarkan sebagai perempuan atau seorang Ibu dalam budaya Jepang. Oleh sebab secara historis awak kapal seringnya merupakan pria, proses pen-gender-an ini problematis ketika dikaitkan dengan anggapan bahwa kapal dilihat sebagai perempuan. Apabila dimasukkan ke dalam kalimat kira-kira akan menghasilkan: Perempuan dinaiki Pria. Sayangnya landasan berpikir ini digunakan sebagai bangunan utama dari plot anime Arpeggio of Blue Steel: Ars Nova

 

Kisah Arpeggio datang dari tahun 2039, dimana daratan dari berbagai belahan dunia tenggelam akibat pemanasan global. Konsekuensinya, dunia dilanda kekacauan besar-besaran serta kerusakan serius. Perang sipil terjadi dimana-mana sebagai konsekuensi langsung dari bencana lingkungan ini. Dengan latar belakang ini, sekelompok kapal perang tanpa awak bernama “Armada Kabut” mulai menyerang manusia. Tujuh belas tahun setelahnya lahirlah seorang kadet laki-laki bernama Chihaya Gunzou. Setelah mencapai usia matangnya ia bergabung dengan armada yang bertujuan memerangi “Armada Kabut”. Dari sini kita mengikuti kehidupan sang protagonis di armada dimana ia bertemu seorang wanita muda bernama Iona. Selidik punya selidik Iona ternyata adalah sebuah kapal yang memiliki wujud manusia. Dengan kata lain Iona adalah sebuah humanoid. Ia merupakan wujud manusia dari kapal selam I-401 yang ternyata telah mengkhianati “Armada Kabut” dan berbalik mengikuti perintah manusia. 

 

I-401 adalah kapal selam terbesar Angkatan Laut Kekaisaran Jepang selama Perang Pasifik. Karakter lain dalam “Armada Kabut” juga dimodelkan dari kapal perang sebenarnya milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dan semuanya dipersonifikasikan sebagai wanita muda. Misalnya, kapal penjelajah berat Takao, kapal perang Haruna dan Kirishima, dan kapal Kongō. Dalam Arpeggio, meskipun mereka bertindak seperti manusia, kapal-kapal perempuan ini sering melakukan percakapan di "ruang minum teh siber" dengan mengirimkan sinyal selama pertempuran. Kapal perang humanoid ini mengakui bahwa mereka hanyalah mesin; namun, ketika pertempuran dengan Iona semakin intens, kapal-kapal Armada Kabut mulai berjuang dengan membangkitan emosi mereka secara perlahan. Dengan demikian, sentimentalitas dan emosi perempuan muda kerap ditekankan dalam cerita, terutama ketika Iona mencoba membujuk Kongō untuk menghentikan serangan. Merangkul Kongō di dunia maya imajiner, Iona mengatakan kepadanya bahwa, "Kamu tidak sendirian. Aku di sini bersamamu."

 

Kantai Collection (KanColle) membawa narasi yang sama. Dikonversi dari game online garapan Kadokawa Game dengan judul persis, game ini mengizinkan pemain dipanggil sebagai Admiral (teitoku) dan dapat mengkustom kapal perang favorit mereka, yang avatarnya selalu seorang perempuan. 

 

Dalam anime KanColle, cerita mengikuti perspektif dari Fubuki, penghancur dari Perang Dunia 2 yang diperlihatkan sebagai remaja perempuan. Masuk sebagai anak baru di Chinjufu, akademi pencetak armada perang khusus perempuan, Fubuki mengalami masa adaptasi yang cukup berat. Kapal perang yang dipersonifikasi sebagai gadis ini dalam kesehariannya memerangi armada misterius bernama Abyssal yang ditengarai telah menghancurkan lautan. Ceritanya terutama menggambarkan kehidupan sehari-hari para gadis dalam Chinjufu, dengan titik fokus bagaimana Fubuki sebagai anak baru bergaul dengan gadis-gadis lain dan melatih dirinya untuk menjadi kapal perang yang tangguh. Kehidupan asrama yang dipenuhi emosi ala anak sekolah menengah merupakan perkembangan tema dari narasi dasar “kapal sebagai perempuan”.

 

Satu momen emosional datang ketika kolega dan temannya, Kisaragi, rusak parah dan tenggelam ke laut setelah serangan mendadak oleh Abyssal. Terlepas dari keterkejutan dan kesedihan mereka akibat insiden tersebut, Fubuki dan Mutsuki kembali ke medan perang dengan tegar. Jejak kapal perang yang diambil dari Perang Dunia Kedua mirip dengan yang ditemukan dalam Arpeggio. Namun, ikonografinya sangat berbeda. Gadis-gadis di KanColle disebut kanmusu (gadis kapal) dan ditampilkan sebagai kapal hybrid bergender perempuan dengan armor-pelengkap yang melekat di tubuh mereka bak kapal sungguhan dan sifat moe dalam pertempuran mereka. Tubuh dan persenjataan kanmusu digabungkan, yang memiliki konsekuensi beberapa penggemar melihat gadis-gadis kapal perang sebagai objek seksual. Tubuh seperti manusia milik kanmusu yang diperpanjang sebagai senjata sering menerima kerusakan serius setelah pertempuran, dimana ketika hendak “diperbaiki” mereka pergi ke dermaga yang sebetulnya lebih mirip seperti onsen

 

Selain relasi seksual yang problematis, narasi “kapal sebagai perempuan” ini juga mempromosikan wajah militer yang “berperasaan”, dimana suatu tindakan militer dapat dianggap memiliki justifikasi moral. Berbagai dilema emosional yang dialami oleh karakter dalam Arpeggio dan KanColle menyiratkan bahwa terdapatnya sentimentalitas suatu proses pengambilan keputusan militer dan politik. Kita diarahkan untuk berkesimpulan bahwa setiap penjahat perang, setidaknya, memiliki dilema individual sebelum melakukan tindakan politik dan militer tertentu. 

 

Setelah Tontonan

 

Narasi yang dialihwahanakan ke dalam anime berujung pada apa yang disebut sebagai nasionalisme-pop warga Jepang. Tipe nasionalisme ini merupakan cara orang pada umumnya untuk merasa bahwa diri mereka terkait dengan imajinasi suatu negara-bangsa. Biasanya produk-produk budaya pop menjadi medium penyambungnya di mana berbagai gambar dan simbol kerap diberi titik tekan berlebih sehingga konteks sejarahnya terabaikan. 

 

Nasionalisme semacam ini dikritik oleh seorang Psikoanalis dan Kritikus, Kayama Rika, sebagai sindrom “nasionalisme petit”. Sindrom ini menurutnya memiliki keterkaitan dengan tingkat ujaran kebencian pemuda Jepang terhadap orang-orang Korea dan China dalam ruang publik maupun maya. Kampanye anti-korea yang diorganisir oleh organisasi sayap kanan Zaitokukai pun dapat dikategorikan sebagai gejala dari sindrom ini. Metode kampanye online cukup efektif dan mendorong bentuk nasionalisme-petit menjadi nasionalisme yang lebih hardcore (gachi). 

 

Ternyata, cewek-cewek anime ini tidaklah selucu itu. Bahkan kalau boleh jujur cenderung berbahaya sebetulnya. Hehe.