Kepalsuan-Kepalsuan Piala Dunia Qatar

Kepalsuan-Kepalsuan Piala Dunia Qatar

 

Kota-Kota Palsu

Lusail adalah kota palsu, tempat stadion-stadion plastik raksasa didirikan dalam semalam. Jalan-jalan lebar dan Boulevard lapang melingkarinya. Di antara stadion-stadion itu ada Champs-Élysées, Place Vendome, Bukit Hollywood, bahkan Venesia tiruan. Para pengunjung tidak hanya akan mendapati pengalaman menonton sepakbola seperti di stadion-stadion bersejarah Eropa, tetapi juga pengalaman berbelanja, makan, dan menghayati karya seni kelas dunia.

Qatar tidak hanya ingin menyelenggarakan acara sepakbola. Mereka sedang meyakinkan dunia bahwa salah satu tempat yang tak layak huni di dunia adalah sebuah sepetak surga. Pendingin udara raksasa diimpor untuk membuat gedung-gedung megah di tengah gurun. Pohon-pohon imitasi ditanam di setiap sudut jalan untuk memberi kesan hijau dan juga sedikit naungan bagi para pejalan kaki. 

Lanskap Doha ditata sedemikian rupa untuk memberi kesan sebagai kota masa depan. Menara-menara kaca satu warna mencakar langit yang tak pernah gelap. Di sekelilingnya jalur-jalur aspal segar bersanding dengan juluran pipa-pipa gas berlomba-lomba membelah gurun dan melintasi cakrawala.

Mereka bahkan melangkah jauh. Waduk-waduk kecil dirancang untuk memberi rasa sejuk dan memperdengarkan suara gemericik air di tengah padang pasir. Taman-taman dan akuarium gadungan dibangun untuk memberi kesan bahwa negara tanpa keragaman hayati itu juga sangat peduli dengan alam liar.

Rumput-rumput hijau, pohon kurma, dan taman-taman luas menghijau segar mengelilingi hotel mewah dan museum-museum gagah mengesankan bahwa manusia bisa menciptakan surga dunia di Doha.   

Turnamen Palsu

Sepp Blatter sudah mengaku: Piala Dunia di Qatar adalah sebuah kesalahan besar. Qatar dipilih, pertama-tama, bukan karena tradisi sepakbolanya. Mereka pernah juara Asia dan juga menjadi penyelenggara acara sepakbola di tingkat Asia. Tapi, sedikit orang percaya keputusan itu murni untuk mengembangkan sepakbola dunia.

Lima belas tahun yang lalu, bayang-bayang krisis kapitalisme global memaksa elite politik Eropa untuk mencari cara menyelamatkan negaranya. Nicolas Sarkozy dan teman-teman elitenya butuh dukungan keuangan. Pada saat yang sama, Platini terpilih sebagai Presiden UEFA. Sepp Blatter sudah mulai mengendus langkah kuda Muhammad Bin Hammam. 

Di internal FIFA, kepala-kepala federasi sepakbola dari Selatan butuh dukungan finansial dan Bin Hammam pegang anggaran. Ini menjadikan pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2022 menjadi ajang pertaruhan dan pertarungan segitiga Platini-Blatter-Bin Hammam—dengan Sarkozy dan delegasi Eropa menjadi pemain kunci dalam proses seleksi.  Tidak terlalu sulit bukan untuk menjelaskan, mengapa Qatar terpilih dan dunia mendapatkan turnamen palsu? 

Satu hal paling menyedihkan dari turnamen ini: orang-orang yang memeras keringat dan membanting tulang untuk menyiapkan pesta sepakbola tak bisa masuk gelanggang dan menikmati perayaan. Mereka hanya mendapatkan tulang sementara daging dan jeroannya milik orang jauh yang punya uang dan kuasa untuk bisa membelinya. 

Kita juga mendapatkan pesta besar dunia yang dibayang-bayangi oleh kecemasan dan ketakutan. Para pemabuk cemas tak bisa menjangkau harga minuman. Para penyuka sesama takut dipenjara kalau ketahuan sedang bersenang-senang. 

Tapi kepalsuan di turnamen ini tidaklah buruk semua. Ada ironi yang menyenangkan (dan menyedihkan, tergantung kamu perempuan atau lak-laki) ketika penonton laki-laki dewasa dan anak-anak yang tertutup rapat oleh thobe dan shimag tak berkedip memandang dan mengambil gambar pendukung Kroasia setengah telanjang yang kepanasan berjalan melintasi tangga. 

Kita bahkan menyaksikan orang-orang Arab bisa rukun, untuk sementara. Mereka yang biasa berseteru dan saling meludahi itu tampak mesra setiap saudara-saudara sebahasa dan segenetika dari Maroko, Tunisia dan bahkan Iran sedang berlaga.

Kita juga melihat, pada akhirnya, di Qatar, turnamen sepakbola palsu membuka kesempatan bagi penonton sepakbola untuk memberi Lionel Messi penghormatan yang menyentuh hati. Ia mungkin tidak juara, tapi setiap orang yang menyaksikan Argentina bermain menyadari bahwa satu-satunya hal yang bisa dilakukan sepakbola untuk menghormatinya adalah menghayati setiap pertandingan yang dimainkannya sebagai pertunjukan maestro agung yang terakhir kalinya.  

Sepakbola Palsu

Tidak ada tempat yang lebih baik untuk memulai pembahasan mengenai hal-hal palsu selain tim Spanyol. Pertama-tama, Luis Enrique tidak hanya menempatkan Gavi sebagai striker palsu. Lebih jauh, ia bahkan punya bek tengah palsu. Andai saja, dia masih punya Xabi Alonso, ia mungkin akan menjadikannya kiper palsu. 

Hasilnya? Juga palsu. Euforia kemenangan 7-0 atas Kostarika memberi pendukung Spanyol fatamorgana. Pemain-pemainya bicara tentang final dan kemungkinan bertemu secara dini dengan Brasil. Apa lacur, bunga yang buruk akan layu bahkan sebelum berakhirnya musim gugur. 

Dan lihatlah akibatnya jika tim-tim lain mengikuti kepalsuan Spanyol dan angka-angka statistik yang menipu. 

Jerman memiliki angka penguasaan bola sangat tinggi. Neuer masih salah menjadi satu libero terbaik. Joshua Kimmich tak pernah salah umpan. Namun, angka-angka itu seperti tong kosong yang mengalihkan perhatian dari impotensi sepakbola yang mereka mainkan. Ke manakah penyerang-penyerang oportunis dan licin yang pernah mereka punya seperti Gerard Mueller, Rummeneige dan Jurgen Klinsman? Bahkan kini mereka tak lagi memproduksi tukang sundul macam Miroslav Klose atau Oliver Bierhoff.

Keberhasilan Jerman di 2014 melenakan mereka dari bahaya menjadi orang lain. Publik Jerman kini mempertanyakan lagi apa yang membuat sepakbola Jerman, menjadi tidak Jerman. Itulah akibat jika memaksa setiap kiper menjadi libero, setiap bek kanan menjadi gelandang, dan berharap keras Musiala akan menjadi imitasi Iniesta. 

Jepang, yang dianggap pembunuh raksasa, pada dasarnya sama. Mereka menempatkan Maeda sebagai penyerang palsu. Dia memang punya kaki yang cepat dan lincah bergerak di sela-sela pemain belakang lawan. Tetapi bahkan melawan tim tua Kroasia, dia tidak banyak punya peluang.

Penyerang memenangkan pertandingan, namun pertahanan memenangkan kejuaraan, begitu kebenaran sejati sepakbola mengajarkan. Tim tidak perlu punya striker haus gol untuk jadi juara. Prancis sudah membuktikannya dua kali. Maroko, Kroasia, lalu Inggris dan Belanda bukan hanya tidak pernah kalah tetapi juga berada di antara tim yang paling sedikit kebobolan. 

Terutama di turnamen padat yang penuh emosi dan dibayang-bayangi oleh ketegangan adu penalti, hasil-hasil pertandingan tidak banyak ditentukan strategi canggih dan jadi-jadian. Piala Dunia adalah panggung bagi pemain-pemain berego besar dan tim yang punya determinasi. Kekuatan mental, kebugaran fisik, dan ketabahan menghadapi kesulitan jauh lebih menentukan di babak tos-tosan dari pada racikan taktik, formasi posisi dan angka-angka statistik. 

Anda boleh berargumen Spanyol memenangkan Piala Eropa dan Dunia berturutan dekade yang lalu dengan yang palsu-palsu. Namun jangan lupa, mereka punya, dan, selalu memainkan, Fernando Torres atau David Villa di semua pertandingan di turnamen itu. Dan tentu saja Anda tidak akan bilang Sergio Ramos, Carles Puyol atau Gerard Pique sebagai Rodrigo gadungan.

Jika tim-tim yang suka palsu-palsu cepat pulang, tidak ada jaminan tim-tim sepakbola yang  memainkan pemain betulan di posisi sejati juga bertahan. Apalagi jika pemain itu adalah … Romelu Lukaku.

Dunia Yang Palsu

Tentu saja Qatar punya selera humor yang buruk. Negara ini tak punya air tawar dan pepohonan, namun gencar berkampanye tentang membangun kota-kota masa depan dengan prinsip berkelanjutan. Ini negara yang menggunakan energi listrik paling besar untuk menerangi kota-kotanya yang mendapat cahaya matahari paling banyak di dunia. 

Mau humor yang lebih buruk lagi: ini adalah negara dengan Yayasan Sosial beranggaran paling besar di dunia. Yayasan itu menganjurkan hak asasi, kesetaraan pendidikan, dan kesetaraan. Namun para Pendiri, Pembina dan Pengurus Yayasan itu bajunya dicucikan, makanan dan minumannya dibuatkan, dan anak-anaknya diasuh oleh pembantu di rumah yang jumlahnya tiga kali dari jumlah anggota keluarga. 

Dan bicara tentang tentang pelayanan, ada jutaan orang yang bekerja siang-malam dengan upah rendah untuk menyulap padang gurun menjadi kuil bersepuh emas. Di antara stadion yang megah dan berkilau itu, jutaan liter keringat menguap ke udara, dan jutaan tangan menahan derita. Seperti halnya pembangunan piramida mesir, darah dan bangkai manusia tanpa nama dan pusara terkubur di sana. 

Namun, sepalsu-palsunya Qatar tidaklah sepalsu pengkritiknya. Pertama-tama, butuh keajaiban dan sejarah untuk mengubah teluk kecil di antara gurun tandus dan laut tempat bajak laut Sudan buang berak menjadi kota perdagangan penting abad-21.

Sebelum menjadi negara mandiri, Qatar adalah tempat perebutan pengaruh dan kuasa bagi suku-suku Arab pengembara dari Bahrain, Oman, hingga Saudi. Seperti sejarah di tempat lain, jika orang Arab berkelahi, orang Inggris-lah yang akan menjadi pemenangnya.

Qatar modern, dengan minyak, teknologi, restoran, museum, koleksi seni, dan belakangan sepakbola, sedikit banyaknya, hasil campur tangan pemerintah Inggris dan para elite minyak. Uang minyak menjadi perantara bagi Qatar untuk membentuk imajinasi kemodern bangsanya. 

Champs-Élysées atau Rimini palsu; kebun raya buatan, seni instalasi jadi-jadian, wacana keberlanjutan yang dibikin-bikin, atau slogan Doha sebagai kota ramah lingkungan yang tidak meyakinkan, yang diejek-ejek penulis Inggris itu, adalah imitasi dari modernitas yang yang diciptakan di Paris, London atau Milan.

Sindrom pascakolonial Qatar itu diterima dengan baik oleh orang-orang di Eropa sejauh tidak mempertanyakan warisan kolonialnya. Dengan mengadopsi struktur properti dan sistem keuangan global, Qatar menjadi rumah yang nyaman buat Bankir, pengacara, investor, pekerja tambang. 

Tidak terelakkan, Qatar memiliki kepercayaan diri di percaturan global. Dan sepakbola, adalah tempat yang tepat untuk memulainya. Mereka menawarkan uang sponsor cuma-cuma ke Barcelona. Paris Saint Germain mereka beli. Tiap klub punya jadwal ritiro musim dingin di Doha.

Tapi, menjadi kaya di mata orang kulit putih tidak pernah cukup. Punya tiruan Menara Eifel yang harganya lebih mahal dari harga menara asli tidak membuat orang Qatar setara. Bukan kulit mereka saja yang harus menjadi putih. Untuk menjadi modern, jiwa orang Qatar pun harus menjadi putih seperti orang-orang Eropa. 

Meskipun orang-orang Qatar berusaha punya kulit dan jiwa putih, orang-orang kulit putih Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Denmark, Australia dan juga Amerika, harus tetap perlu membuat jarak dan garis batas. Batas-batas itu, baik yang ril maupun yang imajiner, melintasi warna kulit, posisi geografi, dan juga apa yang dianggap baik dan tidak baik. 

Untuk menunjukkan bahwa jiwa-jiwa orang Qatar masih kotor dan sehitam minyak mentah yang mereka timba, orang-orang itu tidak hanya mengeluh betapa Qatar tidak punya tradisi sepakbola tetapi juga harus mengkuliahi Qatar dengan isu hak asasi manusia. Seperti mental para pendahulunya, mereka menginginkan dan menikmati uang minyak, tapi tidak menginginkan kotoran yang dihasilkannya. 

Bahkan ketika isu hak asasi manusia itu benar adanya dan kini menjadi nilai-nilai universal, justru itu menunjukkan betapa para pengkritiknya itu memiliki standar ganda. Mereka tidak hanya menjual ide tentang modernisasi dan globalisasi sepakbola, tapi memaksa orang mengikuti bagaimana seharusnya modernisasi dan globalisasi itu dilakukan.

Itu mengingatkan kita pada anekdot ini: dulu, orang-orang barat itu datang ke Hawai (atau bisa juga Jawa), bertemu dengan orang-orang setengah telanjang. Ketelanjangan itu mereka anggap sebagai tanda keterbelakangan dan pikiran purba. Lalu sekarang ketika orang-orang yang dulu bertelanjang itu memakai pakaian yang rapat, mereka datang lagi dan mengatakan, pakaian rapat itu sebagai tanda anti-kemodernan dan anti-kebebasan. Yang modern dan maju itu adalah berpakaian terbuka.

Kuliah tentang hak asasi manusia itu menunjukkan betapa palsunya dunia jika hanya ada satu pihak yang punya satu kuasa, satu ide, dan satu cara menjalani hidup di dunia. Sama palsunya dengan keinginan untuk menjadikan sepakbola sebagai permainan yang hanya mengenal satu ideologi, satu bahasa, dan satu cara, yang mewujud pada keyakinan bahwa sepakbola yang baik adalah sepakbola berdasar statistika penguasaan bola, dan manifestasi paling akhirnya adalah … menggunakan VAR!