Ketika PMS Terasa Seperti Simulasi Neraka

Ada hal janggal yang Celine* (bukan nama sebenarnya) rasakan hampir seumur hidup. Ia merasa sedang berenang, tapi terus-terusan dihantam ombak demi ombak dan harus susah-payah bertahan supaya tidak tenggelam. Singkatnya, dia merasa kewalahan setiap saat. Pada tahun ke-3 kuliah, dia berkunjung ke psikolog. Dan untuk pertama kalinya perasaan yang terus menghantuinya punya nama: depresi.

 

Selama melakukan terapi bersama psikolog, Celine menggali memori untuk mengingat kapan gejala-gejala depresinya mulai muncul. Sejauh yang dia ingat, cemas berlebihan sudah dirasakan sejak ia duduk di bangku SD. Perasaan itu muncul karena kesulitan akrab dengan teman sebaya. Rasa cemas berlebihan memicu lahirnya kebiasaan berpikir konstan tentang interaksi yang sudah dilakukan. Lalu, perilaku menyakiti diri dan pikiran mengakhiri hidup muncul saat menginjak kelas 1-2 SMP yang dipicu oleh ketidakstabilan di dalam rumah. 

 

Perasaan cemas, sulit mengatur emosi, menyakiti diri sendiri, dan keinginan mengakhiri hidup terus terbawa hingga dewasa. Bahkan ketika ia sudah menjalani sesi Cognitive Behavior Therapy (CBT) dengan psikolog dan rutin minum antidepresan dari psikiater. Menurut psikiater, kondisi depresi yang dialami komorbid dengan masalah kejiwaan lain: bipolar, gangguan kepribadian ambang, ADHD, dan gangguan kecemasan umum.

 

Namun, Celine merasa ada hal yang belum digali sampai akarnya. Sesuatu yang dirasakan, tetapi tidak bisa jelaskan. Sampai akhirnya secara tidak sengaja dia menemukan video TikTok tentang premenstrual dysphoric disorder (PMDD).

 

PMDD adalah bentuk yang lebih serius dari PMS. PMS menyebabkan perut buncit, sakit kepala, dan nyeri payudara satu atau dua minggu sebelum menstruasi. Berbeda dengan PMDD, gejala PMS dibarengi dengan iritabilitas ekstrim, kecemasan, dan bahkan depresi. Secara sederhana, PMS mengacu pada gejala fisiologis sedangkan PMDD mengacu pada gejala psikologis.

 

Seseorang harus menunjukkan setidaknya lima dari sebelas gejala berikut untuk didiagnosis dengan PMDD.

 

  1. Tidak tertarik pada aktivitas dan hubungan sehari-hari
  2. Mudah lelah atau sedikit energi
  3. Perasaan sedih atau putus asa dan pikiran untuk bunuh diri
  4. Perasaan tegang atau cemas
  5. Merasa di luar kendali
  6. Perubahan nafsu makan atau makan berlebihan
  7. Perubahan suasana hati yang ekstrem
  8. Iritabilitas atau kemarahan yang terus-menerus
  9. Gejala fisik, seperti kembung, nyeri payudara, sakit kepala, dan nyeri sendi atau otot
  10. Sulit tidur atau tidur berlebihan
  11. Kesulitan berkonsentrasi

 

Secara turun-temurun, menstruasi ditabukan di masyarakat; pamali hukumnya membicarakan hal yang sudah menjadi realitas separuh penduduk bumi selama ratusan tahun. Meski begitu, PMS dan menstruasi sering dijadikan punchline bahan becandaan ngab-ngab. 

 

Tabunya tak hanya berhenti sampai situ: ia begitu mengakar sampai kita menyebut pembalut sebagai ‘roti’. Iklan pembalut pun selalu digambarkan dengan format yang sama: perempuan cis remaja atau dewasa muda yang gembira melakukan olahraga atau aktivitas fisik lainnya di luar ruangan berkat bantuan alat tersebut. Tidak ada penampakan rasa sakit atau tidak nyamannya menstruasi. Kalau begini, wajar saja sedikit sekali yang tahu atau bahkan membicarakan PMDD.

 

“Aku pikir semua orang yang menstruasi ngalamin yang kurasakan. Maksudku, kan banyak orang yang ngomong kalau PMS itu kayak neraka.”

 

Celine tertawa kecil, “aku kira ngerasa pengin mati sebelum mens itu wajar. Ternyata nggak.” 

 

Hingga saat ini, belum diketahui penyebab pasti dari PMDD. Diperkirakan penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron setelah ovulasi dan sebelum menstruasi dapat memicu gejala PMDD. Serotonin, zat kimia otak yang mengatur suasana hati, rasa lapar, dan tidur, mungkin juga berperan. Kadar serotonin, seperti kadar hormon, berubah sepanjang siklus menstruasi. Kondisi ini masih belum lazim diketahui orang, meskipun sekitar 5-10% orang dengan uterus hidup dengan PMDD. Pada tahun 2013, DSM-5 akhirnya menambahkan PMDD ke daftar gangguan depresi. Lalu, WHO memvalidasi kondisi tersebut sebagai masalah kesehatan global pada tahun 2019. 

 

The International Association for Premenstrual Disorder (IAPMD) bersama beberapa universitas di Amerika Serikat melakukan survei global pada tahun 2018. Dari 2.689 responden, ditemukan tingginya tingkat aktif pemikiran bunuh diri seumur hidup (72%), perencanaan bunuh diri (49%), niat bunuh diri (42%), mempersiapkan percobaan bunuh diri (40%), dan percobaan bunuh diri (34%), serta perilaku menyakiti diri tanpa disertai niat untuk bunuh diri (51%).

Terjemahan grafik:

Prevalensi Pemikiran dan Perilaku Melukai Diri dalam Responden yang Dikonfirmasi Secara Prospektif dengan PMDD

  • Pasif memikirkan bunuh diri
  • Aktif memikirkan bunuh diri
  • Perencanaan bunuh diri
  • Niat bunuh diri
  • Mempersiapkan percobaan bunuh diri
  • Percobaan bunuh diri
  • Perilaku menyakiti diri tanpa disertai niat untuk bunuh diri
  • Dirawat di rumah sakit karena perilaku menyakiti diri

 

Dalam kasus Celine, dia pertama kali menstruasi saat duduk di bangku SMP. Peristiwa itu terjadi bersamaan dengan ketidakstabilan di rumah. Sebelum mengetahui PMDD, Celine pikir perilaku menyakiti diri sendiri dan pikiran bunuh diri 100% dipicu oleh keadaan di rumah. Ternyata, PMDD juga berperan.

 

“Dulu pas SMA belum tau soal depresi apalagi PMDD. Setiap aku ngerasa pengin mati, aku ngomong ke ibu buat izin sekolah. Terus dimarahin karena dianggep aku males,” ujar Celine.

 

Pada masa SMA, Celine semakin sering mengalami fase depresi. Untuk meredakan rasa hampa, dia menyilet bagian-bagian tubuhnya dan makan makanan manis saat malam hari, lalu memuntahkannya. Terlepas dari mekanisme kopingnya yang tidak sehat, Celine berhasil lulus SMA dengan nilai di atas rata-rata dan masuk ke perguruan tinggi.

 

“Aku akhirnya memutuskan ke psikolog karena selama kuliah keadaanku makin parah. Udah nggak terhitung berapa kali percobaan bunuh diri. Aku juga sering minum alkohol biar nggak sedih-sedih amat,” kata Celine. 

 

Psikolog pertama dan kedua yang dikunjungi sama-sama mengatakan Celine mengalami depresi minor karena fase depresi yang dialami hanya berlangsung sekitar 10 hari sampai 2 minggu saja. 

“Makanya aku heran kenapa setiap bulan, aku berubah jadi orang yang nggak bisa ngapa-ngapain, susah mikir, dan sedih berlebihan. Eh, pas udah mens malah biasa, aja,” kata Celine.

 

Pengalaman yang dialami Celine juga banyak dirasakan orang-orang dengan uterus lainnya. Dalam pemeriksaan kesehatan, gejala-gejala PMDD tidak kasat mata. Saat berkunjung ke psikolog atau psikiater, penderita PMDD misdiagnosed depresi atau gangguan kecemasan. Satu-satunya cara untuk mendiagnosis PMDD adalah dengan memonitor selama setidaknya dua siklus menstruasi.

 

“Sampai akhirnya aku tahu soal PMDD dan kebetulan tiga tahun terakhir aku rutin catet mood dan siklus mens lewat aplikasi Clue. Memang terlihat ada hubungan antara menstruasi dengan kondisi kesehatan mentalku.”

 

Sebelum mengetahui tentang PMDD, Celine melakukan Dialectical Behavior Therapy (DBT) dengan psikolog. Mindfulness (perhatian penuh) adalah dasar dari DBT. Metode terapi ini adalah membuat Celine memperhatikan gangguan, pikiran, dan perasaan baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan tanpa penghakiman. Oleh karena itu, setelah didiagnosis PMDD, dia masih menjalani DBT ditambah dengan monitor jenis dan deskripsi perasaan yang muncul setiap hari. Metode terapi ini juga terbukti efektif untuk mencegah perilaku bunuh diri.

 

Psikiater tidak meresepkan Celine mood stabilizer dan sedative (karena sebelumnya didiagnosis bipolar dan gangguan kecemasan umum), melainkan menambah dosis antidepresan dari 5 mg menjadi 10 mg untuk membantu mengelola gejala depresi. 

 

“Awalnya aku ngerasa sedih, belum bisa menerima kalau penyakit ini sesuatu yang di luar kontrolku. Sesuatu yang udah dari sananya, gitu. Kalau depresi, trauma, anxiety, dan sebagainya seringkali dianggep karena faktor lingkungan, ya. Misalnya, nih, aku ngomong kalau depresi karena pengalaman traumatis jadi izin nggak masuk kantor. Bosku akan lebih mudah bersimpati, kan? Tapi kalau aku ngomong depresi karena lagi mau mens, dianggepnya sepele,” ujar Celine.

 

Celine berharap psikolog, psikiater, dan dokter kandungan belajar tentang PMDD, sehingga penderitanya bisa mendapat pertolongan.

 

“Psikologku ngomong kalau dia belum familiar sama PMDD, tapi dia janji mau belajar. Sedangkan psikiaterku malah ngomong, kalau PMS aja masalah kejiwaan. Berarti sekarang semua orang bisa jadi pasien psikiatri.”

 

PMDD belum lama diakui sebagai diagnosis "resmi" di bidang medis dan kesehatan mental. Oleh karena itu, banyak penyedia layanan kesehatan belum mendapat pelatihan tentang PMDD. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa kondisi tersebut ada. Apa pun latar belakangnya, setiap pasien layak mendapatkan tenaga kesehatan yang tidak menginvalidasi pengalaman dan rasa sakitnya.