Kijang Innova Zenix, Seperti Kijang Lepas ke Rimba

Kijang Innova Zenix, Seperti Kijang Lepas ke Rimba
 
Evolusi Kijang dari Mobil Barang Jadi Mobil Keluarga
    


Ketika ada orang bertanya, “mobil keluarga macam apa yang paling pas buatmu?” Saya dengan tegas akan menjawab, “Toyota Kijang!” Alasannya banyak, dari mulai spesifikasi sampai kenyamanannya, tapi terutama karena saya punya kenangan personal dengan mobil itu. 

Kijang adalah mobil pertama yang saya kenal. Sebelum saya lahir, pada 1993, satu-satunya mobil keluarga kami adalah Kijang Grand Extra keluaran 1992 yang menurut ibu saya, “dibeli dari uang hasil jualan sekam.” Mobil ini pula yang mengantarkan ibu saya selama sembilan bulan bolak-balik periksa kandungan ke rumah sakit sampai saya lahir. 

Orangtua saya menggunakan Kijang itu sampai saya berumur enam tahun. Saya masih ingat bentuk kotaknya atau yang orang-orang sekarang sebut boxy, dan warnanya merah. Dengan bumper besi di bagian depan, ia terlihat gagah dan mencolok ketika melewati jalanan kampung. Apalagi saat itu di kampung saya masih sangat sedikit orang yang memiliki mobil. 

Dengan privilese semacam itu, saya merasa lebih keren daripada teman-teman lain di kampung. Seringkali saya sengaja membuka jendela ketika melewati lapangan kampung, sekadar untuk melambaikan tangan ke teman-teman yang sedang bermain sepakbola. Mereka akan membalas lambaian saya dengan teriakan girang, seperti melihat pejabat yang sedang melintas.  

Di mobil itu ada tiga baris kursi. Ruas pertama, di bagian depan, untuk dua orang. Satu untuk supir, satu untuk penumpang. Di bagian kedua bisa untuk tiga orang penumpang dewasa. Baris belakang muat sampai empat orang penumpang dewasa, karena bentuk kursinya yang membujur mirip kursi angkot. 

Dengan jumlah muatan sampai sembilan orang dewasa, Kijang itu lebih dari cukup untuk menjadi mobil keluarga. Bahkan lebih dari cukup untuk mengangkut dua keluarga, satu hal yang sering kami lakukan sebagai keluarga berhaluan extended alias kalau jalan-jalan selalu berombongan. Orangtua saya sering mengajak kakek-nenek serta pakde-bude piknik. Bagi saya yang masih bocah, momen seperti ini sangat menyenangkan dan menjadi kenangan yang hangat. 

Mobil itu akhirnya dijual tahun 1999 untuk menambal kekurangan biaya membangun musala, tempat ayah saya mengajar ngaji dan meniti karier sebagai kyai. Namun, di benak saya terlanjur menempel bahwa mobil keluarga adalah Kijang. Saya sangat girang ketika orangtua saya membeli lagi Kijang Innova tipe G pada 2004. Orangtua saya masih menggunakannya sebagai mobil utama keluarga sampai sekarang. 

Dari Mobil Barang, Jadi Mobil Keluarga

Adalah program Kendaraan Bermotor Niaga Serbaguna (KBNS) Soeharto  yang menginspirasi kelahiran Kijang. Si “Bapak pembangunan” menginginkan kendaraan niaga berbasis lokal murah bagi masyarakat untuk menunjang percepatan pembangunan ekonomi.

William Soeryadjaya, pendiri Astra yang telah mengantongi izin resmi distributor Toyota, menangkap keinginan Soeharto tersebut. Ia menginisiasi proyek basic utility vehicle (BUV) pada 1972 yang mengawali produksi mobil di dalam negeri. Keputusan ini pula yang nantinya menjadikan Toyota Astra Motor (TAM) menjadi penguasa industri mobil Indonesia. 

Lima tahun kemudian, tepatnya 9 Juni 1977 Kijang lahir. Versi paling terkenal terkait penamaan ini adalah berasal dari akronim Kerjasama Indonesia-Jepang yang saat itu memang baru dimulai dan sedang getol-getolnya. Namun, sebetulnya Toyota hanya melanjutkan penamaan hewan dari produk mereka di Filipina yang bernama Tamaraw atau kerbau. 

Soeharto menjajal langsung Kijang keluaran pertama tersebut didampingi Try Sutrisno dan Ali Sadikin. Sejak saat itu pula Kijang memulai kejayaannya di Indonesia, dan berevolusi dari mobil barang menjadi mobil keluarga multi purpose vehicle (MPV). 

Berikut adalah perjalanan Kijang dari waktu ke waktu: 


NO
Generasi Kijang 
Teks
Gambar
1.
Generasi I: Kijang Buaya (1977-1980)
Kijang generasi pertama adalah mobil barang berbentuk pick up. Dikenal juga dengan sebutan  Kijang Buaya atau Kijang Bajul karena kap mesinnya di bagian depan dan strukturnya melebar hingga ke sisi bodi. Ketika kapnya dibuka mirip mulut buaya yang sedang menganga. 

Mobil ini menggunakan mesin Corolla 3K dengan kapasitas 1.200 cc. Membuat tarikannya lebih kuat dan halus dibanding mobil angkut lain pada zamannya. 


Ciri khas lain, jendelanya terbuat dari terpal plastik. Lalu, lampu bulat di moncongnya yang menyerupai hidung. Tulisan Toyota besar di bagian depan membuatnya tampak garang sekaligus mewah. 


Setelah setahun beredar di pasaran, banyak orang yang justru menggunakannya untuk mengantar keluarga. Posisi mesin yang berada di depan membuat baknya minim getaran, sehingga cenderung lebih aman untuk mengangkut orang.Tren ini ditangkap banyak karoseri untuk menyediakan modifikasi bentuknya menjadi mobil angkut penumpang. Dari sinilah Kijang sebagai mobil keluarga dimulai, meskipun tak resmi. 


2.
Generasi II: Kijang Doyok (1981-1985)
Pada 1981, Toyota meluncurkan Kijang Generasi II. Perubahan utama pada bodi yang lebih halus, engsel pintu jadi tersembunyi, kap mesin hanya terbuka di bagian atas, penambahan jendela kaca, grill di bagian depan, serta tenaga mesin yang berubah menjadi 5K dengan kapasitas 1.500 cc. 

Toyota mulai menyadari Kijang digunakan sebagai mobil keluarga. Mereka ingin look yang lebih menawan serta tenaga mesin yang lebih kuat. 


Kijang generasi kedua ini juga dikenal sebagai Kijang Doyok. Konon julukan ini karena bodinya yang lebih ramping dengan hidung mancung yang mirip tokoh kartun Doyok yang terbit di koran Pos Kota. 


3.
Generasi III: Kijang Super/Kijang Soeharto & Grand Extra (1986-1996)
Ini adalah awal Toyota secara resmi merilis Kijang sebagai mobil keluarga. Secara desain dan spesifikasi pun berubah total. Toyota menggunakan teknologi full pressed body saat produksi yang mengurangi dempul sampai 5 kg per mobil. Toyota pun menghadirkan dua versi sasis, yakni pendek (KF-40) dan panjang (KF-50). 


Kijang super


Untuk generasi ketiga ini, ada tiga tipe yang beredar di pasar: Kijang Super (1986), Kijang Grand Extra (1992), dan Kijang Soeharto (1995). 


kijang grand extra


Kijang Grand Extra punya teknologi yang lebih mutakhir. Antara lain Toyota Original Body yang menjadikannya minibus pertama dengan bodi berkualitas setara sedan. Desain eksteriornya semakin modern dan dinamis, seperti stiker yang memanjang di samping bodi. Mobil ini pun telah memiliki AC double blower yang bikin penumpang makin nyaman. 


Kijang Soeharto


Kapasitas mesin Kijang generasi ketiga meningkat pesat. Menjadi 5K berkapasitas 1.500 cc. Bahkan, pada 1995 Toyota menambah kekuatannya menjadi 7K dengan kapasitas 1.800 cc untuk tipe Kijang Soeharto. 


Harga murah dan kapasitas ciamik, membuat generasi tiga laris di pasaran. Terjual hingga  ratusan ribu unit dan menjadi MPV paling laris saat itu. 


4.
Generasi IV: Kijang Kapsul (1997-2004)
Pada generasi keempat ini, Kijang menjadi sangat modern. Seolah Toyota sedang menyambut awal milenium baru. Bodinya tetap kotak, tapi lebih lembut dan dinamis. Untuk pertama kalinya pula Toyota menghadirkan Kijang bertransmisi otomatis. 

Kijang kapsul


Dengan mesin  7K dan kapasitas  1.800 cc empat silinder segaris, Kijang generasi keempat   jadi lebih  kencang dan tangguh. Pada 2000, terdapat penyempurnaan dengan teknologi EFI atau fuel injection dan pilihan tenaga mesin dari 2.000 cc sampai 2.400 cc. 


Kijang Kapsul memiliki beberapa tipe, yakni SX, LX, SSX, LSX, SGX, LGX, dan Krista. Huruf awal menunjukkan ukuran bodi, S untuk short atau pendek dan L untuk long atau panjang. Tipe tertinggi adalah Krista yang sudah power steering, AC double blower, dan eksterior yang sporty.  


5.
Generasi V: Kijang Innova (2004-2015)
Kijang Innova bisa dikatakan sebagai tonggak kedua evolusi Kijang. Pada generasi ini, Kijang tak lagi jadi mobil kelas rakyat, tapi MPV premium. Toyota mengaplikasikan teknologi baru mesin VVT-i dan diesel common rail. Ada pula fitur multi information display dan Air Bag yang bikin kendaraan ini lebih aman. 


Kijang Innova


Satu-satunya hal yang membuat Kijang Innova tak kehilangan jejak dari pendahulunya adalah tetap menggunakan sasis ladder frame. Hal ini karena Kijang Innova masih menggunakan penggerak roda belakang (RWD) yang membuatnya tetap tangguh di berbagai medan, termasuk pegunungan.  


Konsekuensi dari lahirnya Kijang Innova, adalah Toyota membuat Avanza untuk tetap menggaet pasar kelas bawah. 


6.
Generasi VI: All New Innova (2015-2022)
Generasi ini adalah pengembangan dari Kijang Innova sebelumnya. Khususnya pada desain interior dan eksterior yang lebih sporty dan stylish. All New Innova pun sudah facelift. 

All New Innova keluaran pertama memiliki mesin bertenaga 136 ps pada 5.600 rpm. Pada edisi 2016, kekuatannya bertambah menjadi 149 ps pada 3400 rpm dengan turbo. Dengan kekuatan semacam itu, generasi ini berubah menjadi kendaraan multi performance vehicle untuk menunjang bodinya yang sporty. 


Edisi terakhirnya dikenal sebagai All New Innova Reborn. Salah satu perubahannya adalah punya edisi captain seat. 


7.
Generasi VII: Kijang Innova Zenix (2022-sekarang)
Generasi terakhir ini bisa dibilang tak ada Innova-innovanya dan tak ada Kijang-kijangnya. Barangkali, selain namanya yang masih menyandang merek Kijang Innova, satu-satunya yang membuatnya punya benang merah dengan edisi sebelumnya adalah pada desain bodi bagian belakang yang tetap kotak. Selebihnya, jauh berbeda.  

Kijang Innova Zenix tak lagi menggunakan sasis ladder frame, tapi berubah menjadi monokok dengan penggerak roda depan (FWD). Membuatnya lebih ringan dan dinamis di jalanan. 


Untuk tipe tertingginya, tipe Q, bahkan sudah menggunakan lampu LED. Ada pula versi bodykit dari Modelista. Desain eksteriornya pun tak sepenuhnya MPV. Ada roman-roman SUV dan crossover, seperti dilengkapi over fender yang membuatnya siap menerabas medan berlumpur. 


Tak ada lagi seri diesel di Kijang Innova Zenix. Sebagai gantinya Toyota menghadirkan seri bermesin hybrid generasi kelima. Tipe bensin menggunakan mesin TNGA 2.0L kode M20A-FKS Dynamic Force Engine 1.987 cc 4 silinder Dual VVT-i. Kapasitasnya 171 ps pada 6600 rpm. 


Sementara yang hybrid menggunakan mesin  TNGA 2.0L kode M20A-FXS. Toyota mengklaim ketika melaju mesin 1.987 cc 4 silinder dual VVT-i akan diperkuat motor listrik berdaya 113 ps dan torsi 21 kgm, sehingga menghasilkan daya gabungan 186 ps.


Dari sisi keamanan, Kijang Innova Zenix pun telah dilengkapi Toyota Safety Sense (TSS) 3.0 dengan algoritma khusus utnuk membaca keadaan sekitar. Beberapa fitur sistem ini adalah Pre-Collision System (PCS), Dynamic Radar Cruise Control (DRCC), Lane Departure Alert (LDA) dan Lane Tracing Assist (LTA), dan Automatic High Beam (AHB). Seluruhnya membuat mobil ini tak hanya nyaman untuk berkendara, tapi juga aman. 


Rajanya Mobil Keluarga

Pada 2022 lalu, penjualan Kijang sejak awal diluncurkan telah mencapai 2 juta unit. Sebuah angka yang layak untuk menyematkan gelar raja mobil keluarga padanya. Angka penjualan jumbo itu tak lepas dari resistensinya menghadapi pandemi. Gaikindo mencatat penjualannya tumbuh 14,64% pada Januari-Mei 2022 dibanding tahun sebelumnya. 

Belum genap sebulan sejak diluncurkan pada akhir November lalu, penjualan Kijang Innova Zenix pun telah mencapai 7.200 unit. Sebanyak 70-80 persen dari angka tersebut berasal dari varian hybrid. Lagi-lagi bukti bahwa Toyota berhasil membaca kecenderungan pasar mobil Tanah Air. 

Sebelum menulis artikel ini, ayah saya menelepon. Salah satu obrolan kami adalah tentang mobil. Katanya, “ganti Kijang Innova Zenix bagus juga kayaknya.” Saya anggap itu adalah kode untuk mengganti Kijang Innova G yang sudah 12 tahun dipakainya. Saya sih sangat tertarik untuk membeli Kijang Innova Zenix, tapi satu masalahnya: belum ada uangnya!