Kamu Tak Perlu Terkejut Kalau Maliq & D'Essentials Bikin Lagu Seenak Kita Bikin Romantis

Kamu Tak Perlu Terkejut Kalau Maliq & D'Essentials Bikin Lagu Seenak Kita Bikin Romantis

TL;DR
Kita Bikin Romantis viral di media sosial bahkan sebelum lagu dirilis pada 8 Maret 2024 lalu di bawah naungan label Warner Music Indonesia.
Dalam waktu 3 minggu, lagu mereka di YouTube sudah diputar lebih dari 6 juta kali.
Lagu ini diciptakan oleh Widi Puradiredja.
Melalui lagu ini, Maliq & D'Essentials seakan membuktikan bahwa mereka menolak menjadi dinosaurus yang berkutat pada kebesaran masa lalu.

“Kita bikin romantis, bikin paling romantis.” Entah berapa kali saya mendengar orang memakai lagu ini di sosial mereka, entah di Instagram maupun Tiktok. “Kéci betul ini lagu,” kata saya tiap mendengarkannya. Algoritma sosial media membuat refrain itu nempel di kepala saya. 
Kini, izinkan saya mereview lagu ini.
Musik:
Lagu ini dibuka oleh petikan gitar romantis dan isian kibor di belakang. Sedari awal, Maliq & D'Essentials seakan siap membombardir pendengar dengan moodnya yang romantis. Saya tiba-tiba mendadak kasmaran sejak awal lagu.
Kombinasi dua vokalis Angga Puradiredja dan Indah melahirkan kelembutan. Tanpa banyak babibu langsung mengajak pendengar membayangkan betapa indah hubungan dua asmara manusia.
Ini soal jam terbang. Maliq & D'Essentials mampu membikin musik yang nostalgia seperti di tahun 2000an awal, tapi terdengar fresh bagi pendengar baru.
Progresi kord lagu ini asik. Maliq sudah pernah mencobanya di lagu-lagu lain seperti Pilihanku atau Untitled.

Lirik:

Liriknya gak jelimet. Tak ada satu pun kalimat puitis yang bikin mereka yang bukan pembaca sastra pusing mendengarnya.
Tema lirik luas. Berbeda dengan lagu cinta remaja yang hanya memungkinkan para remaja patah hati mendengarnya, lewat lagu ini, Maliq & D'Essentials  bisa menjangkau pendengar yang lebih luas. Buat mereka yang baru pacaran, lagu ini seakan jadi soundtrack percintaan yang baru saja dimulai. Sedangkan bagi mereka pendengar Maliq 20 tahun yang lalu, lagu ini membawa mereka nostalgia masa muda. Di mana hidup masih indah tanpa cicilan.
Saya mewawancarai Pohan, pendengar Maliq sekaligus jurnalis musik yang sudah lama mendengarkan Maliq & D'Essentials.
((Dibikin slide aja))
Perkenalan gue dengan Maliq pertama kali di puncak sekitar tahun 2009. Waktu itu gue lagi sama teman-teman gue di Puncak. Telat banget, gue dengerin Maliq setelah 7 tahun mereka berdiri. Mungkin sebelumnya sudah pernah dengar, tapi gak ngeh ada band namanya Maliq & D'Essentials. Pertama gue dengerin lagu Sampai Kapan dan Hadirmu. Tapi yang bikin gue langsung suka sama Maliq ya karena lagu Sampai Kapan.
Pertama gue mendengarkan Sampai Kapan ini gue mengaitkan dengan feel masa kecil saat gue mendengarkan salah satu lagu New Kids on The Block, gue judulnya lupa. Ada perasaan kembali ke masa kecil itu. Nah gue tuh suka tipe suaranya Mas Angga.
Setelah suka gue dapat kesempatan nonton mereka live setahun sebelumnya, di salah satu festival jazz gitu. Nah pertama kali gue nonton, buset menyenangkan banget penampilan mereka. Lucunya, kedua kali gue nonton mereka di mal. Dan mereka masih menyenangkan, sampai sekarang.
Nah menurut gue, kenapa Maliq bisa relevan sampai hari ini, kalau lo ngeh di tubuh personel mereka ada Lale dan Ilman. Jadi gini, gue gak bilang bukan karena mereka berdua juga ya, soalnya banyak yang tahu sejak awal Maliq secara musikal otaknya Widi. Tapi kehadiran Lale dan Ilman kayak ngasih nafas segar.
Buat gue, perjalanan panjang Maliq itu melahirkan banyak bekal, yaitu karya. Banyak lagu-lagunya yang sudah dikenal. Jadi ketika main di berbeda panggung, dia punya banyak bekal yaitu lagu yang bisa dipakai sesuai audiens. 
Selain punya bekal, gue juga mau bilang Maliq itu band yang beruntung. Gila mereka bukan band yang personelnya muda-muda, tapi lagunya Kita Bikin Romantis bisa disukai sama anak sekarang.
Beruntung bukan berarti semesta mendukung ya. Lebih dalam daripada itu, mereka punya cara untuk bisa membuat karya yang tidak perlu merasa “gue keren” tapi orang ngelihatnya keren. 
Konon, dari cerita-cerita yang ada,  mereka itu pas bikin lagu Kita Bikin Romantis itu gak mikir apa-apa. Widi cerita, kalo masing-masing personel di fase sayang-sayangnya banget sama bandnya, lagi menikmati waktu bareng bandnya. Sesederhana itu, setulus itu makanya lahir karya enak seperti Kita Bikin Romantis. Itu keberuntungan.
Maliq & D'Essentials Itu Ibarat Soto Bang Anen
Pohan benar, Maliq punya cara mangkus agar mereka tetap dicintai: punya musik bagus, entertainer sejati dan keberuntungan. Tahun ini band yang digawangi Angga Puradiredja (vokal), Widi Puradiredja (dram), Indah Wisnuwardhana (vokal), Dendy 'Jawa' Sukarno (bas), Arya 'Lale' Aditya Ramadhya (gitar), Ilman Ibrahim Isa (kibor) ini resmi berumur 22 tahun. Sekadar mampu berujung panjang saja  tentu tak menempatkan mereka di posisi legendaris. Tapi setidaknya, Maliq punya tempat sendiri di hati para pendengar musik tanah air: mereka berujung panjang dan masih relevan. 
Tak seperti Slank yang terlihat lugu di hadapan penguasa, Maliq mampu melahirkan penggemar baru sambil menjaga para penggemar lama. Saya, beberapa kali menonton Maliq. Tiap kali mendengarnya, selalu disergap perasaan bahagia. Pun, ketika mendengar lagu-lagu mereka.
Selain kemampuan melahirkan penggemar baru, Maliq & D'Essentials anomali dari band pop: mereka mampu diterima segala segmen. Siapapun kamu, entah hipster paling edgy atau jamet sekali pun, mendengar atau menonton Maliq, kamu tak perlu tensin. Saya menemui fakta ini di lapangan ketika meliput konser atau festival musik. 
Pengamatan itu membuat saya mengibaratkan KALAU Maliq & D'Essentials mirip Sop Kaki Bang Anen. Hah kok bisa? Ya bisa.
Kamu pernah ke Sop Kaki Bang Anen? Kalau pernah,  kamu jamak menemui pemandangan orang mengantri dari mereka yang datang dengan mobil mewah parkir sampai pejalan kaki makan di tempat itu. Bagi mereka yang datang dengan mobil mewah, datang ke Bang Anen bukan hal yang memalukan. Sedangkan bagi mereka berkantong cekak seperti saya, makan di sana bukan hal yang menakutkan dompet.
Kehadiran sosial media mungkin membuat Sop Kaki Bang Anen makin populer, terlebih kehadiran influencer makanan yang membuat konten di warung itu. Tapi yang paling utama, Bang Anen sanggup melahirkan soto yang enak. Begitu pula dengan Maliq. 
Mereka mungkin update dengan situasi terkini seperti kemampuan membuat konten media sosial atau manajemen yang canggih, tapi jangan lupakan mereka melahirkan lagu yang easy listening tapi tak terkesan murahan. Pada akhirnya, karya juga lah yang membuatmu bertahan di industri musik ini. Tak sekadar melahirkan karya baru, tapi juga menghadirkan kebaruan. 
Maliq & D'Essentials ditakdirkan begitu.