Makanan dan Inflasi

Inflasi Dunia, Bagaimana Nasib Pangan Indonesia?

Per September 2022, IMF mengumumkan pemicu inflasi terbesar tahun ini adalah makanan dan bahan bakar. Inflasi yang diakibatkan oleh harga makanan tahun ini jauh lebih besar daripada inflasi konsumsi lainnya di rentang waktu 5 tahun (2016-2020) sebelum pandemi. 

Artinya? Makanan semakin mahal tapi pendapatan mandeg. Efek dominonya semakin tinggi kemungkinan orang-orang terkena stunting, kurang gizi, dan kelaparan. Untungnya, manusia adalah kelompok spesies yang kreatif–bahan makanan, semurah dan tidak begitu menggugah selera bisa disulap menjadi makanan yang enak. Dan menariknya, fenomena ini tak hanya terbatas di Indonesia saja, tapi juga menjadi fenomena global yang terus hidup hingga sekarang.

Ibu Rumah Tangga Melawan Inflasi

Ada banyak catatan sejarah tentang makanan-makanan masa paceklik. Tengok Irlandia yang sempat menghadapi paceklik kentang dari tahun 1845-1852. Kebobrokan administrasi Inggris serta buruknya distribusi kentang membuat jutaan rakyat Irlandia kelaparan dan mati. Tragedi ini juga yang membuat mereka kembali ke diet leluhur mereka: makan produk turunan susu dan gandum. Sayang seribu sayang, makanan ini tetap tak bisa menyelamatkan mereka karena petani terlanjur ketergantungan kentang.

Fenomena kekurangan bahan pangan mulai sering bermunculan pasca-Perang Dunia 1. Mayoritas bahan pokok penting dikirimkan ke medan perang untuk memberi makan para prajurit. Tak hanya itu, kapal-kapal pembawa bahan makanan negara-negara sekutu juga kerap diserang oleh kapal-kapal selam Jerman. Dimana-mana pasar dan toko kelontong kosong, padahal banyak mulut berteriak kelaparan. Pemerintah Inggris mengeluarkan kebijakan yang menjatah makanan ke seluruh rakyat, termasuk para penghuni Istana Westminster. 

Masa-masa seperti ini memaksa para ibu harus memutar otak dan menjadi sekreatif mungkin. Berbekal bahan makanan seadanya, mereka menyulapnya menjadi makanan yang (setidaknya mencoba untuk) terasa enak. Prinsipnya, bahan makanan boleh terbatas, tapi makan enak dan bergizi wajib hukumnya. Contoh makanan yang kerap dimakan keluarga Inggris selama Perang Dunia adalah sup kacang, roti yang terbuat dari kentang kering, oat, jelai (barley), dan bahan-bahan lain yang harusnya tak ada di makanan manusia, dan puding yang terbuat dari kentang dan coklat. 

Namun bukan berarti orang-orang pada masa itu tidak makan daging. Pada hari-hari spesial mereka bisa makan semur domba atau sapi. Ada juga yang makan tuna kalengan–yang pertama kali dibuat pada masa Perang Dunia I–untuk memenuhi kebutuhan protein. Sayang, hal serupa sulit didapatkan oleh keluarga-keluarga miskin. Mereka hanya bisa makan daging paling sering seminggu sekali.

Langkanya bahan makanan juga terulang kembali di masa Perang Dunia II. Makanan yang tak umum seperti umbi tulip, ubi bit, jamur, kulit pohon, bahkan sampai yang ekstrem seperti daging anjing, kucing, kuda, dan monyet dikonsumsi, semata untuk bertahan hidup. Tapi ketika masa damai kembali, makanan-makanan tersebut ditinggalkan. Statusnya kembali menjadi makanan orang miskin atau lebih parah lagi, balik kasta sebagai makanan ternak. Hal ini setidaknya terjadi pada jamur pasca-Perang Dunia II di negara-negara Skandinavia. 

Indonesia juga sempat mengalami krisis makanan pasca-perang kemerdekaan. Dalam orasinya pada 1952, Sukarno menyinggung soal permasalahan pangan rakyatnya–dari beras yang naik gila-gilaan, makan bonggol pisang untuk menyambung hidup, busung lapar, sampai yang bunuh diri karena tak bisa memberi makan keluarganya. Untuk menanggulanginya, pemerintah membentuk Lembaga Makanan Rakyat (Instituut Voor Volksvoeding) yang kemudian mempopulerkan program Empat Sehat Lima Sempurna. 

Bukan berarti semua makanan zaman susah tak dimakan lagi. Banyak makanan yang kita tahu dan konsumsi sekarang merupakan makanan krisis ekonomi. Contohnya ada borscht dari Russia dan Ukraina, ikan–yang dulunya hanya dimakan rakyat biasa di bawah kerajaan Majapahit–menjadi makanan yang dimakan oleh semua strata. Kita juga tak bisa melupakan singkong, ikan asin, genjer, tiwul, dan yuyu sawah yang identik dengan kemiskinan, tapi sekarang jadi makanan pokok. 

Krisis Kelaparan Sekarang

Lalu bagaimana dengan tahun 2020? Pada awal pandemi, krisis kelaparan dunia semakin diperburuk oleh rantai pasok makanan yang terganggu akibat lockdown dan pengurangan aktivitas di luar ruangan. Sebagai gambaran, sebelum pandemi ada 135 juta orang dari 55 negara yang mengalami kelaparan akut karena konflik, krisis iklim, dan krisis ekonomi. Ini belum termasuk mereka yang terdampak akibat pandemi. FAO memperkirakan ada 720-880 juta orang kelaparan–naik dari 650,3 juta di tahun 2019. 

Efek COVID-19 terhadap ketahanan pangan begitu buruk sampai-sampai banyak orang yang merasa bahwa kelaparan akan membunuh mereka duluan sebelum COVID-19. Pasalnya, rantai pasok yang terganggu mengakibatkan banyak barang-barang penting pertanian seperti pupuk dan pembasmi hama langka di mana-mana dan menyebabkan banyak kebun gagal panen. Kasus ini terutama paling banyak dialami oleh petani Afrika, memperburuk krisis pangan mereka.

Krisis ekonomi yang diakibatkan oleh COVID-19 juga membuat pola konsumsi makanan masyarakat berubah. Stres yang diakibatkan oleh pandemi membuat orang-orang lebih banyak ngemil dibandingkan sebelumnya. Survei Mondelez tahun 2020 menunjukkan 40% orang Indonesia tak lagi sarapan, tapi lebih memilih untuk ngemil tengah malam (31%). 

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Dieny, dkk (2021) terhadap 425 perempuan dan 138 laki-laki menunjukkan pandemi membuat orang lebih banyak makan dibanding sebelumnya. Mayoritas responden melaporkan konsumsi makanan kaya protein nabati dan hewani serta sayur dan buah-buahan jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi. Namun perlu diingat hal ini bisa terjadi karena mayoritas responden merupakan kelas menengah perkotaan dengan pekerjaan mapan, sehingga tak bisa dijadikan patokan diet masyarakat Indonesia pada umumnya.


Banyak keluarga tak mampu Indonesia yang dipaksa memilih untuk membeli makanan atau membeli hal-hal penting, seperti pendidikan dan sewa rumah. Pun makanan yang bisa dibeli seringkali tak memiliki gizi yang cukup alias terlalu terfokus pada karbohidrat, tapi minim protein dan lemak. Kurang gizi merupakan masalah yang fatal karena bisa mengakibatkan stunting. Tak hanya itu, skenario ini juga bisa meningkatkan angka anak-anak yang putus sekolah dan berujung ke naiknya angka kemiskinan. 

Perang Rusia-Ukraina yang masih berlanjut juga sempat membuat masyarakat ketar-ketir. Meskipun masyarakat Indonesia bukan konsumen minyak matahari, kita adalah importir gandum terbesar sedunia. Dan kebetulan pula Rusia dan Ukraina merupakan eksportir gandum terbesar dunia. Indonesia khususnya mendatangkan gandum dari Ukraina.

Isu ini sempat membuat geger masyarakat karena menimbulkan ketakutan bahwa harga mie instan–panganan favorit kita semua–akan naik hingga tiga kali lipat. Isu ini akhirnya ditepis oleh bos salah satu merk mie instan dengan alasan terigu bukan komponen utama dalam produk tersebut. Namun Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) di bulan September akhirnya mengatakan ada kenaikan harga, meski tak banyak karena hanya sekitar Rp200-300. Bahan pokok lainnya juga tak mengalami perubahan yang banyak, tapi siapa yang tahu seperti apa tahun 2023?