Makananku, Ceritaku: Kare Jepang

Kari Jepang Tampak Sederhana, tapi Tidak Sejarahnya

Masyarakat Jepang selalu cerdik memodifikasi banyak hal. Semua yang datang dari luar pada praktiknya akan dimodifikasi sesuai selera. Di dunia kuliner, kari adalah salah satu contohnya. Saat ini kari menjadi menu harian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jepang. Makanan ini tak mengenal usia: mulai dari anak-anak sekolah dasar hingga pekerja kantoran yang terburu-buru.

Hidangan ini seakan-akan milik Jepang. Padahal, kari bukanlah menu penemuan Negeri Sakura. Meski tak ada sejarah tunggal yang menyebut bagaimana kari masuk ke Jepang, namun sebagian orang di Jepang meyakin kari dibawa oleh Angkatan Laut Inggris pada masa Restorasi Meiji (1866-1869). Rombongan Angkatan Laut Inggris mulanya jatuh cinta dengan kari buatan India. Mereka lantas membawa kari itu ke mana saja mereka pergi. Para tentara Inggris ini memilih kari sebagai menu favorit dan simpel saat melewati perjalanan panjang di laut. Cukup ditambahkan sayur dan daging, bumbu kari mampu membuat lahap tentara Inggris.

Suatu ketika para tentara Inggris ini terdampar di laut lepas Jepang. Mereka konon mencekoki kari kepada tentara Jepang. Gayung bersambut. Tentara Jepang merasa cocok dengan cita rasa kari. Kabar lezatnya kari lantas menyebar sampai-sampai Angkatan Laut Kekaisaran Jepang menjadikan kari sebagai menu utama untuk semua anggota yang bertugas di tiap hari Jumat.

“Belum ada catatan resmi bagaimana makan kari menjadi kebiasaan. Tapi konon kebiasaan Curry Friday ini bermula di para tentara sedang bertugas di laut dan tidak bisa melihat apa pun selain langit terbentang selama berhari-hari. Beberapa pelaut lupa hari apa saat itu, sehingga staf administrasi menyajikan kari setiap hari Jumat untuk membantu mereka mengingat hari,” ujar Lt. Cmdr. Kiminori Kusuhashi, kepala bagian urusan masyarakat di JMSDF Distrik Yokosuka.

Tak hanya berkutat di lautan, popularitas kari lantas menyebar di daratan. Tak lama berselang, tepatnya di abad ke-20, kari lantas menyebar terlebih setelah Jepang membuka pelabuhannya untuk perdagangan luar negeri. Bubuk kari lantas menjadi barang impor kelas atas. Puncaknya, pada periode Taishō (1912–1926), kari yang semula hanya bisa dijangkau oleh para tentara menjelma panganan masyarakat umum. Menu-menu kari pun lahir berbarengan dengan munculnya restoran kari. Popularitas kari makin melesat. Saat ini, rata-raya 45% orang Jepang makan kari 2-3 kali sebulan dan lebih dari 14% bahkan memakannya sekali atau dua kali seminggu. 

Berikut saya sodorkan varian kari yang menjadi favorit di Jepang. ((bikinin ilustrasinya ya, nanti tinggal di swipe ke bawah. Oke?)

Curry Rice

Nasi kari adalah hidangan umum yang disajikan saat makan siang sekolah atau kantin perusahaan. Di Tokyo, kari babi adalah versi utama, sedangkan di Osaka atau wilayah Kansai, kari daging sapi bakal sering tampak menjadi pilihan menu. Biasanya nasi kari dimakan dengan acar sayuran seperti acar jahe merah, acar bawang merah, dan acar lobak coklat yang disebut fukujinzuke. Selain itu, di beberapa daerah nasi kari sering dicampur dengan saus Worcester yang dituangkan di atas kari. Bahkan tak jarang jarang saus mentah atau setengah matang ditambahkan sebagai pelengkap hidangan.

Curry Udon

Udon adalah salah satu jenis mi khas Jepang yang bentuknya tebal dan besar-besar. Mi ini disajikan dengan bumbu kari beserta irisan tipis daging sapi.

Pork Curry

Pork curry adalah jenis kari yang dikombinasikan dengan lemak babi. Pada dasarnya ini adalah kuah kari yang dikombinasikan dengan elemen utama yaitu lemak babi. Ya sesederhana itu.

Katsu Curry

Sama dengan dua jenis kari sebelumnya, yang membedakan jenis kari ini adalah bahan utamanya yaitu daging ayam yang digoreng, lalu dikombinasikan dengan kuah kari.

Curry Pan

Curry pan terbilang unik dibanding jenis kari pada umumnya. Jenis kari ini lebih mendekati seperti kue lumpia dengan isian kuah kari yang kental. Pan sendiri adalah roti kering dengan isian bumbu kari


Mencari Jejak Kari Bak Mengurai Benang Kusut

Sulit mengidentifikasi dan terlampau bagaimana kari pertama kali muncul sebagai sebuah makanan. Penulis kuliner asal India, Palak Patel, misalnya, meyakini kari sudah ditemukan jauh sebelum Inggris menjajah negaranya pada 1608. 

Sebelum Inggris datang, India dijajah oleh bangsa Portugis. Persinggungan budaya antara Portugis dan India melahirkan sebuah menu bernama sebuah menu bernama vindalo. Dengan memadukan lada, cuka dan daging babi, vindalo lantas dibaluri 20 jenis paprika dicampur dengan air asam jawa. Pembuatan vindalo itu melahirkan kata kari. 
 Di India, orang meyakini kata kari berasal dari negara bagian Tamil di India Selatan yang artinya “menghitamkan dengan rempah-rempah”.

“Dalam memahami sejarah lengkap kari Anda harus melihat lebih jauh ke masa penjajahan ketika Portugis tiba di India pada 1498 dan memperkenalkan cabai. Kemudian datanglah orang Belanda pada 1605, disusul oleh orang Prancis yang tiba di India Selatan pada taun 1664, dan klasifikasi baru makanan India untuk orang non-India ditetapkan — makanan tersebut berevolusi dan berubah seiring berjalannya waktu,” tulis Palak Patel.

Palak Patel mengakui, kolonisasi memainkan peran penting dalam menyebarkan makanan India keluar dari India, tetapi juga mengklasifikasi ulang hidangan klasik yang mengambil alih masakan mereka sendiri.

Pendapat Palak Patel tentu tak menjadi sejarah tunggal. Sebagian sejarawan mengidentifikasi kari muncul di India pada era Kesultanan Mughal sekitar abad ke-11. Menurut sejarawan Inggris, Elizabeth Colingham, saat itu penguasa kesultanan Mughal yang berdarah Persia-Mongolia membawa kecintaannya terhadap kuliner nenek moyangnya ke anak benua India. Kari lahir dari percampuran antara rebusan daging dan susu dari utara dan rempah-rempah pedas dari selatan. 

Tapi jauh sebelum itu, sejarah kari tak bisa dipisahkan dari perdagangan rempah yang sibuk di Samudra Hindia. Jalur rempah ini melibatkan kontak budaya antara dua kelompok dominan saat itu, yakni pedagang rempah dari India dan Arab. Jalur rempah ini menjadi pusat transaksi sejumlah komoditi yang menjadi komponen kari, seperti cengkeh, pala yang diangkut dari Kepulauan Banda dan Maluku. Lalu ada lada yang tumbuh subur India, dan kayu manis di Srilanka.

Di sinilah kita bisa melihat bagaimana kari menjelma sebagai makanan yang muncul di era persinggungan budaya yang begitu cair. Pedagang Islam punya peran penting dalam akulturasi budaya boga, seperti dalam kasus kari. Persilangan budaya di sepanjang jalur rempah ini memunculkan banyak versi kari. Seperti di semenanjung Arab, ada kuliner yang mirip-mirip kari. Namanya hawamid. Makanan adalah daging yang direbus bersama larutan kental yogurt atau susu.
Bahkan ada jenis kari yang disebut tharid dengan campuran sedikit kayu manis. Makanan ini adalah favorit Nabi Muhammad. Setelah ledakan ekonomi dinasti Abbasiyah pada abad ke-9, terutama di pusat kebudayaan Muslim waktu itu di Baghdad, ditemukan bukti-bukti tentang modifikasi resep tharid yang mengandung lebih banyak rempah. 
Maka itu, terlampau dini jika menyebut kari menjadi milik India seorang. Sejarah kari memang tak tunggal. Sebagaimana kari yang di dalamnya memasukkan banyak bumbu dan rempah-rempah yang beragam, sejarahnya pun demikian.