Malang Butuh Transportasi Umum!

Malang Butuh Transportasi Umum!

Meskipun sudah hampir seperempat abad berdomisili di Malang, banyak hal yang belum saya ketahui dari kota ini. Tapi lain halnya dengan transportasi publik. Bukan sok tahu, tapi dari cilik piyik, saya sudah naik angkot atau mikrolet—angkutan umum resminya Malang. Oleh karena itu saya anggap diri sendiri sebagai pribadi yang layak membicarakan hal ini.
Oleh karena itu, saya mau memulai tulisan ini dengan jeritan hati: Malang butuh transportasi umum! Memang sudah ada angkot, sih. Tapi bagaimana dengan kualitasnya, sistemnya, dan kelayakannya? Apakah bisa diperbaiki supaya orang-orang lebih memilih transportasi umum daripada kendaraan pribadi?
Perdebatan yang Membuat Iri
Beberapa bulan yang lalu, Jawa Barat ramai dengan perdebatan antara pembangunan masjid besar dan kebutuhan transportasi publik. Di satu sisi Gubernur Jawa Barat, yakni Ridwan Kamil, menyatakan pembuatan Masjid Raya Provinsi didasarkan atas aspirasi dan keinginan ormas Islam Jawa Barat. Namun di sisi lainnya, ada masyarakat yang ingin transportasi umum yang layak. 
Siapa sangka ternyata perdebatan itu mendapat perhatian besar, sampai-sampai ditanggapi oleh Gubernur Jawa Barat tersebut. Isu ini menjadi viral dan melahirkan opini serta argumen soal transportasi publik Bandung. Hasilnya kurang jelas, tapi paling tidak isu ini mendapat perhatian dari pemerintah. 
Terlepas dari bagaimana sikap dan respon dari masing-masing pihak, situasi ini membuat saya berpikir tentang daerah sendiri. Kalau dipikir-pikir keadaannya dengan Malang sebenarnya hampir sama, atau bahkan lebih buruk sejak Covid-19 melanda. Saya pun heran, kenapa diskusi ini tidak ramai dibicarakan provinsi saya? Atau lebih spesifiknya, di kota Malang? Padahal dilihat dari keadaanya sekarang, rasanya keberadaan transportasi umum perlu menjadi perhatian pemerintah.
Perkembangan Transportasi Umum di Malang
Angkot Malang tidak pernah ditandai dengan kode huruf ataupun angka. Mereka lebih nyaman dengan penggunaan singkatan. Misalnya, rute Gadang–Arjosari yang disingkat menjadi GA, begitu pula ADL yang merupakan singkatan dari Arjosari–Dinoyo–Landungsari. Ada juga jurusan LG dan GL yang sama-sama dari Gadang–Landungsari tapi beda jalur.
Untuk peta trayeknya sendiri sebenarnya bisa dilihat di situs resmi dari Dinas Perhubungan (Dishub). Namun, tidak adanya sistem dan pengawasan yang kuat membuat jalur ini kadang dinego oleh sopir angkot. Misalnya, oper penumpang ke teman angkotnya kalau mereka merasa perjalanan itu nggak worth it karena penumpangnya sedikit. Belum lagi rekayasa lalu lintas yang sedang dilakukan Pemkot Malang saat ini juga membuat beberapa jalan yang dilalui tidak sesuai dengan peta trayek. 
Ketika masih sekolah, saya beruntung karena sekolah dan rumah hanya perlu naik satu angkot tanpa perlu oper. Angkot pun masih sering ramai, terlebih lagi ketika pagi hari karena banyak yang berangkat kerja maupun sekolah. Seringkali angkot yang biasanya hanya muat 10 orang bisa menjadi 15 orang kalau di jam sibuk. Orang yang tidak bisa memilih pun akhirnya berdempet-dempetan karena kedatangan angkot di pinggir jalan itu untung-untungan. Kadang bisa cepat, kadang harus menunggu sampai 30 menit.
Dulu saya memaklumi ini, bahkan membela angkutan kota ini ketika awal kemunculan transportasi online. Namun, seiring bertambahnya umur, mendapatkan banyak informasi dari sana sini, sebenarnya angkot bisa lebih baik kok! 
Apalagi sejak Covid-19, dunia perangkotan Malang jadi semakin tidak jelas. Jarangnya orang bepergian membuat pendapatan sopir angkot menurun drastis. Para juragan pun akhirnya menjual angkotnya, yang mana membuat jumlah angkot di Kota Malang semakin sedikit. Angkot ADL yang biasanya masih bisa ditemukan di jam 9 malam, saat ini tidak bisa ditemukan lagi di jam 6 sore. Situasi ini pun masih berlanjut meskipun Covid-19 sudah menjadi endemik. Dengan angkot yang semakin jarang terlihat, orang-orang pun akhirnya memilih alternatif transportasi lain karena tidak jelas kapan angkot itu akan datang.
Pemerintah Abai dengan Transportasi Umum
Beberapa tahun ini, kota Malang getol melakukan pembangunan dan renovasi dengan dalih membuat kota Malang menjadi kota pariwisata. Tidak ada yang salah karena toh selama ini Malang memang terkenal sebagai kota wisata. Namun alih-alih ke Malang yang “sebenarnya”, para wisatawan ini sebenarnya berlibur ke Kota Batu. Mungkin karena ini lah, Pemkot Malang ingin wisatawan tahu kalau Kota Malang juga nyaman untuk dijadikan tempat berlibur.
Namun dengan adanya target untuk membuat kota ini menjadi kota wisata, tentu harus siap dengan Malang yang lebih ramai. Kalau biasanya macet karena banyak mahasiswa dari luar kota, sekarang bisa saja Malang macet setiap saat karena ada wisatawan di masa liburan dan mahasiswa di hari biasa. 
Alih-alih membangun sistem transportasi umum yang bagus untuk mengatasi kemacetan, Pemkot Malang membuat sistem satu arah yang banyak diprotes warga sekitar. Apakah kemacetannya hilang? Mungkin iya ketika pagi hari jam masuk sekolah atau kerja. Namun, di beberapa kesempatan kemacetan tetap tidak bisa dihindarkan. Justru yang terjadi ialah lokasi macet berpindah ke daerah alun-alun kota. Belum lagi banyak kendaraan yang parkir di pinggir daerah Kayutangan yang membuat macet.
Semakin padatnya kota Malang seharusnya membuat Pemkot sadar akan pentingnya transportasi umum. Sayangnya, solusi yang diberikan Dishub Kota Malang masih berkutat pada rekayasa lalu lintas untuk mengurangi kepadatan jalan. Bayangkan apabila setiap pendatang, baik mahasiswa, wisatawan, atau pegawai, membawa motor atau mobilnya sendiri-sendiri. Jalanan di kota Malang sendiri sudah kecil, apalagi kalau ditambah kendaraan pribadi dengan jumlah yang banyak? Semakin penuh rasanya kota ini.
Penutup
Sudah saatnya kota Malang mulai membenahi sistem transportasi umumnya. Dengan banyaknya mahasiswa, iklim bisnis yang semakin berkembang, dan rencana pembangunan kota wisata, sudah selayaknya Pemkot membuat kota yang ramah pejalan kaki dan penumpang transportasi publik.
Tidak perlu muluk-muluk seperti TransJakarta atau bus kota lainnya, cukup awali dengan meningkatkan kualitas mikrolet serta perbanyak armada dan jumlah kendaraannya. Begitu juga dengan estimasi kedatangan dan jadwal keberangkatan agar penumpang tidak perlu menunggu terlalu lama dan bisa menentukan waktu untuk menunggu angkot.
Semakin banyak (dan bagus) transportasi umum, maka harapannya orang-orang tidak perlu memenuhi jalan dengan kendaraan pribadinya. Dengan begitu, tidak hanya jalan raya yang terasa semakin luas, melainkan polusi udara yang juga bisa berkurang membuat udara Kota Malang lebih segar!