Membayangkan Perpustakaan Bayangan

Membayangkan Perpustakaan Bayangan (Panjang Umur Sci-Hub!)

 

Jika kamu sedang atau pernah berkuliah, pastinya kamu sudah tidak asing lagi dengan Sci-hub, Library Genesis, dan Z-lib. Barangkali Anda mengetahuinya dari teman sejawat, kakak tingkat, atau bahkan dosen anda sendiri. Kita memanggil situs-situs semacam itu sebagai perpustakaan bayangan. 

 

Selain berbentuk situs web, perpustakaan bayangan juga dapat berbentuk sebuah forum para akademisi yang menyediakan akses perpustakaan lembaganya secara cuma-cuma (forum Reddit: r/scholar). Bahkan, mungkin para dosen juga mengelola perpustakaan bayangan mereka sendiri lewat folder Google Drive yang berisi literatur bajakan. Intinya, perpustakaan bayangan menyimpan dan memberikan akses berbagai literatur akademik secara “tidak resmi” dan, bahkan “ilegal”. 

 

Ketika kita mendengar kata “ilegal” atau “bajakan”, kita pasti berpikir bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang buruk dan terlarang. Kita mungkin berpikir menggunakan perpustakaan bayangan berarti mendukung pembajakan terhadap karya-karya jerih payah akademisi. Bukankah kita seharusnya menghargai para peneliti dengan membeli akses literaturnya dari perusahaan publikasi?

 

Hahahaha, tidak juga.

 

Jangan salah, menggunakan Sci-hub untuk mengunduh artikel Geger Riyanto atau Chatib Basri tidak sama dengan menggunakan Spotify bajakan untuk mendengarkan lagu terbaru BTS. Dalam dunia akademik, para ilmuwan justru ingin penelitiannya dibaca, dibicarakan, dan dikutip, bahkan jika kita membacanya melalui perpustakaan bayangan.

 

Waw, tunggu sebentar! Apakah tulisan ini mengajak kita untuk mendukung sebuah tindakan yang melanggar hukum?

 

Ya, untuk beberapa alasan di bawah ini.

 

Sistem publikasi akademik dunia yang mudharat

 

Tahukah kamu bahwa para peneliti seringkali harus membayar biaya publikasi terbuka karya ilmiahnya, dan tidak menerima sepeserpun dari penerbit? Ya, praktik tersebut umum terjadi. Tentu tidak masalah jika ongkos tersebut hanya untuk menutup biaya penerbitan, namun sejumlah penerbit besar memilih untuk menarik untung secara gila-gilaan.

 

Pada 2013, Sang Lima Besar (Reed-Elsevier, Wiley-Blackwell, Springer, Taylor & Francis, dan SAGE) perusahaan penerbit jurnal tercatat mengendalikan lebih dari 50% jumlah artikel yang terbit di seluruh dunia. Margin keuntungan yang dilaporkan oleh perusahaan penerbitan Elsevier bahkan dapat mencapai 37%, perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Google dan Microsoft cuma bisa melongo melihat tingginya keuntungan tersebut.

 

Bagaimana caranya industri publikasi bisa meraup untung sebesar itu? Selain menarik uang dari para akademisi, perpustakaan kampus dan lembaga penelitian juga membayar biaya langganan jurnal yang harganya selangit.

 

Gambar 1. Konstelasi para aktor dalam publikasi akademik

 

Kamu tahu dari mana datangnya sebagian besar dana perpustakaan kampus dan berbagai lembaga penelitian? Benar, uang pajak. Dalam kata lain, praktik bisnis industri publikasi secara tidak langsung dibiayai oleh uangmu sendiri. George Monbiot menyebut ini sebagai perampokan di siang bolong. 

 

Peneliti mencari kedudukan

 

Pelanggan utama dari industri publikasi adalah akademisi. Dalam dunia akademik, terdapat slogan “publish or perish”. Jika seorang peneliti, tidak melakukan publikasi, maka ia akan lenyap dari dunia akademik. Setiap hari, siang dan malam, para akademisi menghabiskan waktunya hanya untuk bisa menerbitkan naskah penelitiannya.

 

Karir para peneliti bersandar pada sejumlah indikator, misalnya jumlah pembaca dan penyitir, faktor dampak, dan juga jenis jurnal yang meloloskan naskahnya untuk terbit. Dengan kata lain, kedudukan adalah sumber daya yang diinginkan oleh peneliti. Uang tidak selamanya menjadi prioritas, banyak peneliti memerlukan uang sebatas untuk memenuhi kebutuhan dan modal proyek penelitiannya.

 

Untuk memperoleh kedudukan, para peneliti harus membuat penelitian yang bernilai. Untuk menyusun penelitian yang bernilai dan dibaca oleh banyak akademisi, peneliti harus memperbaharui wawasan keilmuannya dengan membaca perkembangan terbaru di dunia penelitian. Bagaimana ia dapat mengakses perkembangan tersebut? Tentunya lewat berlangganan jurnal yang mutakhir.

 

Skema Open Access (OA) pun seringkali digadang-gadang menjadi solusi untuk menjamin keterbukaan akses pengetahuan secara terbuka. Tanpa OA, pembaca harus membayar akses terhadap literaturnya. Setidaknya ada tiga macam OA yang sering kita temui:

  1. OA Emas: pengirim naskah yang membayar agar naskah dapat terbit secara terbuka
  2. OA Hijau: pengirim naskah boleh mengunggah versi praterbit ke repositori terbuka
  3. OA Platinum: tidak menarik biaya sepeserpun, kecuali naskah melewati batas kata.

 

Bagi orang yang tidak sepakat dengan perpustakaan bayangan, skema Open Access (OA) sudah cukup untuk menjamin keterjangkauan jurnal bagi para akademisi. Akan tetapi OA sendiri memiliki pekerjaan rumah. OA belum bisa membebaskan ribuan jurnal yang masih terperangkap di balik paywall. Selain itu, banyak penerbit besar memasang ongkos yang sangat tinggi hingga ribuan dollar untuk OA emas.

 

Ketika para akademisi, terutama di negara-negara Selatan, tidak dapat mengakses penelitian yang mutakhir karena harus membayar ongkos yang tidak merakyat, di sinilah perpustakaan bayangan berperan penting. Bahkan, selain memberikan akses bagi para peneliti, perpustakaan bayangan juga dapat meningkatkan jumlah pembaca dan penyitir penelitian yang diterbitkan secara tertutup (paywalled) sebesar 1.72 kali.

 

Para peneliti dan para pelajar membutuhkan akses

 

Tak heran jika banyak orang menggunakan perpustakaan bayangan, meskipun tak selalu terang-terangan. Dalam sebuah survei sederhana (N=398), kami menemukan sebanyak 86,18% responden pelajar UGM menggunakan perpustakaan bayangan untuk mengakses publikasi akademik.  Bahkan, 71% dari mereka, ketika diberikan sebuah opsi, memilih menggunakan Sci-hub dibanding layanan kampus.

 

Kebutuhan pelajar akan perpustakaan bayangan ini juga semakin tegas. Sebanyak 91,25% dari responden menggunakan menggunakan perpustakaan bayangan untuk tugas kuliah. Kebutuhan ini didasari oleh tekanan para pelajar untuk menyelesaikan studi mereka di perguruan tinggi. Dalam respon terbuka, responden-responden kami menulis:

 

Sebenarnya tidak baik, namun [perpustakaan bayangan] sangat mudah digunakan, dan sering kali kami tidak memiliki sumber daya untuk membeli literatur yang kami butuhkan untuk menyelesaikan tugas kami.”

-R, Fakultas Psikologi

 

Sebagai sebuah science-dependent community, mereka terpaksa menggunakan Sci-hub di hadapan tanggungan akademik dan sukarnya akses ke ilmu pengetahuan. Unsur keterpaksaan ditunjukkan dengan adanya responden yang mengakui keraguan mereka ketika menggunakan perpustakaan bayangan:

 

Penggunaan Sci-hub memang ilegal dan tidak seharusnya dipakai. Namun, … meskipun sebenarnya sudah ada perpustakaan kampus, tetapi kadang hal itu masih belum menyediakan publikasi-publikasi di bidang yang 'kurang terkenal' dan sedikit publikasinya seperti di bidang geospasial.”

A — Fakultas Teknik

 

Perpustakaan kampus yang seharusnya menjadi akses utama pelajar dalam memperoleh literatur juga sangat terbatas. Lebih dari setengah responden kami (58,31%) melaporkan mereka menjumpai publikasi yang tidak bisa diakses oleh perpustakaan kampus namun bisa diakses oleh perpustakaan bayangan. Padahal, pada 2016, kampus yang biasa-biasa tersebut sudah mengeluarkan Rp40 miliar untuk langganan jurnal ilmiah.

 

Penggunaan perpustakaan bayangan pun juga tak serta merta marak akibat keterbatasan akses. Perpustakaan bayangan juga menjadi sebuah gerakan yang dilakukan secara sadar oleh akademisi. Hal ini tergambarkan dalam ungkapan dua responden kami:

 

Dosen (mata kuliah) saya pernah bilang, yang dibagikan ilmu pengetahuan, jadi harusnya gak perlu copyright, imagine living in a world like that.”

R — Fakultas Filsafat

 

“Saya tidak menyetujui monopoli karya ilmiah yang dimiliki oleh publisher. Menurut saya tidak perlu merasa bersalah apabila menggunakan Scihub dkk. karena uang yang dibayar ke jurnal juga tidak masuk ke peneliti. ”

M — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

 

Penggunaan perpustakaan bayangan menjadi sebuah respon kalangan akademik terhadap struktur penerbitan ilmiah saat ini. Bagi mahasiswa, peneliti, dosen, dan khalayak umum, artikel akademik adalah sebuah kebutuhan, dan kita akan melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

 

Pentingnya Perpustakaan Bayangan

 

Sekarang ini sulit melepaskan peran perpustakaan bayangan dari perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Penggunaan perpustakaan bayangan adalah salah satu cara mengatasi keterbatasan akses ilmu pengetahuan terutama bagi peneliti dan akademisi yang tidak memiliki banyak sumber daya. Belum lagi, dampaknya terhadap anggota masyarakat yang sedari awal tidak memiliki akses ke layanan universitas atau perpustakaan yang memadai.

 

Tetapi bagi kita yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan seharusnya adalah barang publik yang bisa dimiliki semua orang, perpustakaan bayangan adalah salah satu cara kita mewujudkannya. Seperti yang diungkapkan Karaganis, perpustakaan bayangan bukanlah sekadar layanan, ia adalah bukti nyata dari baiknya keterbukaan dan keterjangkauan jutaan karya-karya ilmiah bagi siapapun yang mencarinya