Mengapa Saya Bermain Liga Fantasi

2013 adalah tahun ketika saya sedang gandrung-gandrungnya sepak bola. Meski tak bisa menyaksikan semua pertandingan seperti sekarang, saya berusaha keras untuk menonton semua yang saya bisa, dari liga mana pun. 

 

Ketika itu, saya merasa sebagai orang yang paling tahu sepakbola. Dengan penuh percaya diri, saya memberanikan diri mendaftar di sebuah permainan virtual bernama Fantasy Premier League (FPL). Saya yakin betul, kemampuan analisis dan prediksi yang saya milikibisa mendatangkan poin optimal. Saya merasa tertantang meski sebenarnya tidak tahu apa-apa soal liga fantasi.

 

Simpelnya, liga fantasi seperti FPL adalah permainan di mana seorang peserta menyusun tim yang menurutnya bisa menghasilkan poin sebanyak mungkin. Di FPL, peserta bisa memilih pemain dari 20 klub berbeda. Syaratnya, maksimal hanya boleh ada tiga pemain dari masing-masing klub. Poin si pemain di FPL ditentukan oleh penampilan mereka di dunia nyata. Makin banyak gol, makin tinggi pula poinnya.

 

Boleh dibilang, liga fantasi tak ubahnya judi. Hasil yang didapat seorang peserta dari permainan itu berasal dari apa yang sungguh-sungguh terjadi di lapangan. Bedanya, dalam judi hasil yang diperoleh berupa uang, sementara di liga fantasi peserta hanya mendapatkan poin–meski banyak juga liga fantasi berhadiah. Hadiah, entah berupa uang atau barang-barang lain, di liga fantasi hanyalah bonus. Kepuasan utama dari permainan ini adalah mendapatkan poin itu tadi.

 

Permainan liga fantasi ini bermula pada dekade 1960-an di Amerika Serikat. Mulanya dari bisbol, lalu diikuti pula oleh football. Menurut data Statista yang dirilis pada 5 Desember 2020, pemain liga fantasi di Amerika mencapai 60 juta orang, dengan 40 juta di antaranya terlibat di liga fantasi NFL. Nilai industri liga fantasi diperkirakan mencapai 7,2 miliar dolar AS.

 

Sepak bola sedikit terlambat ke dunia ini. Liga fantasi sepak bola baru muncul pada 1971 dan versi Premier League dirilis pada 2003. Sampai musim 2021/2022 lalu, jumlah peserta FPL pun "baru" mencapai 9 juta orang. Jumlah itu diperkirakan masih terus akan bertambah.

 

Pada musim 2013/2014 itu saya tak bertahan lama di kompetisi FPL, karena ternyata permainan ini tidaklah sama dengan sepak bola yang saya pahami. Tidak ada poin untuk tekel, intersep, umpan kunci, dan hal-hal lain yang menurut saya penting.

 

Pada dasarnya, poin hanya diberikan untuk gol, assist, clean sheet, penyelamatan, seberapa lama seorang pemain berada di lapangan, serta apakah pemain tersebut dijadikan kapten atau tidak. Sebaliknya, poin pemain akan dikurangi jika dia membuat gol bunuh diri, mendapatkan kartu kuning dan merah, serta timnya kebobolan.

 

Sebenarnya, permainan ini sederhana saja. Tak banyak yang mesti dipertimbangkan. Tapi di balik kesederhanaan itu, tersimpan kesulitan karena, bisa saja, pemain yang tampil brilian sepanjang laga tak mendapat poin sebanyak pemain yang beruntung bisa mencetak gol karena berdiri di tempat yang benar.

 

Pada waktu itu saya memutuskan bahwa FPL bukanlah permainan yang tepat bagi saya karena besarnya unsur perjudian di dalamnya. Saya terbiasa bermain gim "Football Manager" yang mempertimbangkan banyak sekali hal dan saya tak mendapatkan kepuasan tersebut lewat FPL.

 

Pada 2020, pandemi melanda dan saya membutuhkan sesuatu yang baru. Pada titik itu saya tak lagi bermain "Football Manager", karena makin lama makin kelewat realistis sehingga sisi menyenangkannya perlahan hilang. Saya juga sudah mulai muak dengan sepak bola karena selama delapan tahun telah bergelut di dunia kepenulisan dan jurnalisme sepak bola. Namun, saya memutuskan untuk mencoba FPL lagi.

 

Awalnya karena kawan-kawan SMA saya. Sejak dulu kami sangat dekat karena selama tiga tahun tak pernah berganti kelas. Ada 14 laki-laki di kelas kami dan pertemanan itu bertahan sampai sekarang. Kami memang tak setiap hari bertegur sapa. Bertemu pun sangat jarang. Sebagian dari kami sudah berkeluarga dan prioritas yang dipilih tentu sudah berbeda. Tapi sebisa mungkin kami tetap menjalin kontak.

 

Tiba-tiba saja datanglah ajakan untuk membuat liga FPL sendiri. Ya, di FPL, setiap kelompok memang bisa membuat liga tertutup mereka sendiri. Jadi, setiap peserta secara otomatis akan tergabung dalam liga utama yang berisikan jutaan orang, lalu liga berdasarkan klub mana yang dipilih sebagai favorit, serta liga-liga internal seperti milik saya dan teman-teman SMA. 

 

Dari 14 orang yang ada di grup, sembilan di antaranya memilih untuk membuat akun FPL dan mengikuti kompetisi. Dari sembilan orang, lima di antaranya merupakan pemain baru, termasuk saya. Hasilnya, lewat FPL ini, silaturahmi di antara kami jadi semakin intensif. Jika biasanya kami cuma berbicara di grup saat ada momen-momen tertentu, dan lebih banyak berbincang lewat jalur pribadi, sekarang grup kami menjadi sangat hidup.

 

Hampir setiap hari ada saja topik yang dilempar ke grup. Topik utama memang FPL karena nama grup kami saja sangat berbau sepak bola (kami menggunakan nama kesebelasan SMA kami). Namun, topik-topik lain pun pada akhirnya ikut dibahas. Pendek kata, FPL membuat kami jadi lebih dekat dari biasanya. Intensitas interaksi kami memang takkan bisa seperti masa SMA dulu, tetapi inilah masa-masa terdekat kami semenjak lulus.

 

Apa yang terjadi pada saya dan kawan-kawan SMA saya itu rupanya bukan hal baru di dunia liga fantasi. Dalam penelitian berjudul "A Qualitative Inquiry into Motivations to Participate in Fantasy Football", disebutkan bahwa camaraderie merupakan satu dari tiga alasan utama mengapa orang mau berpartisipasi di liga fantasi.

 

Menurut kamus Universitas Cambridge, camaraderie berarti "perasaan bersahabat terhadap orang-orang yang bekerja bersama atau memiliki pengalaman bersama kita". Saya tidak bekerja bersama teman-teman SMA saya, tetapi saya jelas memiliki pengalaman bersama mereka, bahkan selepas dari bangku sekolah. Lebih spesifik lagi, Balloudi dkk. mendefinisikan camaraderie sebagai "penciptaan dan upaya untuk mempertahankan relasi, baik yang baru saja dibentuk maupun yang sudah lama terbentuk".

 

Alasan kedua yang ditemukan Balloudi dkk. dari para partisipan adalah competitive efficacy alias kemampuan untuk berkompetisi. Mereka yang mengikuti liga fantasi seperti FPL adalah orang-orang yang merasa mampu mengalahkan peserta lainnya. Mereka menginvestasikan waktu dan tenaga untuk memilih pemain, menyusun tim, serta memutuskan untuk memakai chip apa. Chip, dalam FPL, adalah kemudahan-kemudahan yang diberikan penyelenggara kepada peserta untuk mendulang poin lebih banyak dari biasanya.

 

Terakhir, ada pula vicarious involvement alias keterlibatan yang teramat besar dalam mengikuti perkembangan liga atau olahraga tertentu. Biasanya, orang-orang yang mengikuti liga fantasi merupakan mereka yang memang dari sononya menyukai olahraga atau liga tertentu ketimbang orang kebanyakan. Dari situ mereka jadi tahu perkembangan tim, siapa pemain yang absen, siapa yang cedera, siapa yang sedang dalam puncak performa, dan informasi-informasi itu digunakan untuk menyusun tim terbaik menurut masing-masing peserta.


Bagi Balloudi, Hutchinson, Cattani, dan Reese, penelitian ini ditujukan untuk dua hal. Pertama, memberikan saran kepada para penyelenggara liga fantasi untuk menciptakan produk yang lebih menggoda bagi peserta-peserta liga fantasi, seperti website yang lebih interaktif dan scoreboard yang diperbarui secara real time. Kedua, mewanti-wanti akan bahaya liga fantasi karena pada dasarnya aktivitas ini bisa menimbulkan adiksi, seperti halnya judi.