Menilik Nyaringnya Melodi Pedagang Keliling

Menilik Nyaringnya Melodi Pedagang Keliling

Di suatu pagi, saya terbangun karena suara tukang sol sepatu yang nyaring tak henti-hentinya terdengar. Sebenarnya saya kesal, tapi suara itu justru saya renungi, “kenapa suara tukang sol sepatu harus begitu?” Lalu saya juga teringat pada suara pedagang lainnya, pedagang minyak keliling yang tak kalah nyaring pula ketika berteriak “miinyaaakk”. Kenapa, ya, setiap pedagang membangun ciri khas mereka sendiri, semacam memiliki lambang yang sekalipun tak ada aturan tertulis mereka bisa sepakati bersama: beginilah suara tukang minyak, begini suara tukang sol, dan begini suara tukang sate?

Mereka seolah merancang suara seperti itu untuk membuat saya mengingat produk mereka, semacam kode rahasia yang memberi tahu otak saya, “Hei, suara ini berarti sate favoritku!” Biar lebih mudah, mungkin aku akan menyebutnya simbol suara. Sebab ia berfungsi seperti simbol atau lambang, tetapi menggunakan audio sebagai ganti visual.

Pertanyaannya jadi menarik, kenapa pedagang-pedagang punya simbol suaranya masing-masing? Kekesalan bercampur ke-kepo-an saya itu berujung pada riset sederhana berikut ini.

Simbol Suara Dari Masa ke Masa
Riset saya mengantarkan saya pada fakta bahwa simbol suara sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Yang hendak saya bahas sebagai contohnya adalah turkish bird language atau bahasa burung turki yang muncul sejak 500 tahun yang lalu. Bukan burung asal Turki yang bisa ngomong, ya, turkish bird language adalah sistem komunikasi yang digunakan oleh komunitas suku Kuskoy di Turki. Disebut sebagai bahasa burung karena penuturnya terdengar seperti burung yang saling bersahut-sahutan.

Pada saat itu, suku Kuskoy hidup di pegunungan Pontic, Turki bagian utara. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai petani dan tinggal di daerah perbukitan, luasnya lahan membuat mereka sulit berkomunikasi sehingga melahirkan turkish bird language. Sistem komunikasi itu mengubah suara manusia yang semula sebuah kata-kata menjadi cicitan atau siulan mirip burung. Bahasa ini muncul karena jarak rumah mereka yang berjauhan, sehingga untuk berkomunikasi mereka memerlukan kode agar saling mengerti.

Pada mulanya kalimat-kalimat yang digunakan sangat sederhana dan terbatas, misalnya “bantu aku di ladang”, “ayo, ke rumahku minum kopi” atau “apakah kamu punya roti?”. Untuk pertanyaan terakhir, penuturnya akan bersiul dengan enam siulan terpisah. Siulan ini dibuat dengan perkawinan gerakan lidah, gigi, dan jari. Seiring dengan perkembangan waktu, bahasanya pun ikut berkembang. Ia dipakai untuk mengabarkan kematian, kelahiran, atau digunakan dalam ritual suku.

Sampai sekarang, bahasa ini masih digunakan. Pada 2012 saja, ketika Presiden Recep Tayyip Erdogan dari Turki mengunjungi Desa Kuskoy, mereka dengan riang bersiul, “Selamat datang di desa kami!”

Selain turkish bird language, simbol bahasa serupa juga muncul di Afrika Selatan dari suku Zulu dan suku Xhosa, namanya dikenal dengan sebutan click language, artinya bahasa yang muncul dengan menempelkan lidah pada atap-atap mulut hingga menimbulkan suara “klik klik”. Coba saja sambil Anda praktikkan.

Penggunaan bahasa yang mengandalkan anggota tubuh ini bisa dibilang menginspirasi alat sederhana bernama bel atau lonceng. Alat ini muncul pada 400 SM, ketika senator Romawi bernama Paulinus dari Nola, menggunakan lonceng untuk memanggil orang-orang untuk berdoa di gereja. Penggunaan bel ini kemudian menyebar luas dan terus digunakan oleh umat Kristiani untuk menandakan waktu ibadah. Dari sini, simbol suara terus menyebar dan berkembang hingga sekarang.


Simbol Suara Diadopsi Jadi Sound Trademark Hingga Kini

Siapa yang menyangka kalau kumpulan metode ini menggelitik otak bagian kanan? Berdasarkan penelitian, suara seperti yang kita bahas di atas, kumpulan melodi itu ternyata menggelitik otak bagian kanan yang berfungsi untuk kemahiran dan kekreativitasan seperti seni, musik, isyarat, imajinasi, sehingga suara menjadi lebih mudah nyantol ke otak manusia. Mereka akhirnya juga punya peran yang signifikan dalam kehidupan sosial, contohnya saya lonceng gereja tadi sebagai alat preventif untuk menghimbau orang-orang.

Hal tersebut akhirnya diadopsi untuk industri perdagangan yang kini kita sebut sebagai sound trademark. Makanya, pedagang-pedagang dengan ciri khas masing-masing akhirnya berseliweran untuk mengetuk otak pembeli agar memborong dagangannya.

Tentunya, hal yang saya sebutkan diatas tadi tak jauh-jauh kok dari kehidupan kita. Seperti yang di awal saya bahas soal tukang minyak dan sol sepatu yang menggunakan permainan verbal dan melodi yang nyaring. Tapi ada pula yang tak pakai kata-kata verbal, misalnya, suara sendok yang dipukul ke mangkok khas dari tukang bakso atau penjual mie tek-tek yang diketok ke wajan. Ibaratnya, penjual-penjual keliling itu sedang ingin menunjukkan eksistensinya masing-masing lewat suara khas yang mereka buat.


Mulai Tergusur Teknologi
Bahasa simbol dari bahasa burung sampai orkestrasi pedagang kaki lima kini nasibnya sama-sama dicekik oleh teknologi. Mari kita bicarakan dari Turkish Bird Language dulu. Kabar menyedihkannya, bahasa ini mulai jarang diteruskan oleh generasi muda Kuskoy karena mereka telah menggunakan telepon seluler.

Penelitian menyebutkan, lebih banyak generasi tua yang menguasai bahasa ini, sedangkan hanya ada segelintir generasi muda yang menguasai bahasa ini. Ya pasti, hal ini menimbulkan kekhawatiran kalau budaya autentik mereka mulai hilang. Maka dari itu, untuk menyelamatkan warisan ini, Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turki (TÜBÄ°TAK) menggelar proyek “Turkish Written in Wind”. Proyek ini mengajak orang-orang Kuskoy yang masih mempertahankan bahasa ini untuk membuat kamus daring. Proyek ini berhasil menerjemahkan 400 kata turkish bird language ke dalam kata verbal. 

Sejauh ini, proyek tersebut disambut positif, terutama bagi kalangan pelajar Turki untuk mempelajari budaya negara mereka. Berharganya bahasa ini sebagai warisan dan identitas di Turki membuat UNESCO akhirnya memasukkannya dalam Warisan Budaya Tak Benda pada 2017.

Senasib dengan Turkish Bird Language, suara-suara dari pedagang kaki lima juga mulai dilibas oleh jingle yang biasa dimainkan di sound system. Saya jamin, Anda pasti tak asing dengan suara, “tahu bulat digoreng dadakan”. Suara pedagang keliling tahu bulat juga khas, namun hal itu muncul dari sebuah rekaman, bukan kemahiran berisyarat. Makanya setiap ada pedagang tahu bulat, suara mereka pasti sama persis. 

Saya jadi teringat, ketika saya mendengar tukang sol sepatu dengan suara nyaringnya di dekat kos saya, selang beberapa hari, saya mendengar lagi tukang sol sepatu di daerah kos teman saya. Kedua suara pedagang itu sama-sama nyaring, tapi jelas saya tahu bahwa keduanya memiliki perbedaan melodi karena muncul dari suara orang yang berbeda. 

Pedagang dengan kemajuan teknologi biasanya juga telah beralih dari jalan kaki keliling menjadi pakai sepeda motor atau mobil pick up, sehingga, kadang kala suara dagangan mereka justru kalah dengan suara rusuh knalpotnya. 

Lagi-lagi, dengan kendaraan pula, kita jadi susah mengejar mereka. Kadang baru dengar sekali suaranya dan hendak membelinya, baru pakai sandal untuk keluar rumah saja para pedagang itu sudah ngibrit saking cepatnya kendaraan mereka.

Saya tak memungkiri fakta bahwa mungkin teknologi memudahkan mereka untuk berjualan. Buat apa capek-capek berteriak kalau ada sound system? Tapi tak dapat ditampik juga bagi generasi yang pernah merasakan jajanan-jajanan dengan suara unik itu, pasti Anda rindu bukan mendengar alunan mereka?