Menuju Akhir Era Dolar Amerika

Pasar keuangan dunia menuju perubahan besar: era pemakaian dolar Amerika Serikat sebagai mata uang global akan segera berakhir. 

  

Kesimpulan seperti ini memang terlalu berani. Apalagi, Paman Sam punya peran cukup signifikan membuat pondasi sistem moneter dan keuangan dunia yang berlaku sejak pasca Perang Dunia II sampai saat ini. 

 

Presiden Nixon bikin keputusan memisahkan patokan nilai uang dari emas pada 1971. Sehingga, negara-negara lain tak bisa menukarkan mata uang mereka dengan emas seperti sebelumnya. 

 

Keputusan Nixon didorong oleh tingginya tingkat inflasi AS saat itu. Di sisi lain, cadangan emas AS menipis saking terlalu banyaknya negara yang mengkonversikan dolar ke emas. Kondisi terakhir inilah yang membuat Paman Sam berpotensi kehilangan kepercayaan dari dunia sebagai pemegang cadangan emas utama global. 

 

Sistem moneter internasional lantas berubah menjadi sistem fiat atau uang tanpa nilai intrinsik berlandaskan komoditas fisik seperti emas. Uang fiat bersifat sentral, maka diterbitkan oleh bank sentral sebuah negara. Nilai uang fiat tergantung kepada hukum permintaan dan penawaran di pasar, serta stabilitas ekonomi dan pemerintahan negara yang menerbitkannya.  

 

Namun, tak ada yang kekal di dunia yang fana ini. Dolar AS sebagai mata uang global sangat mungkin tergelincir dari posisinya saat ini, bahkan kolaps. Dan, data-data menunjukkan hal itu. 

 

Sirkulasi Dolar AS di Dunia Berkurang

 

Mata uang sebuah negara bisa menjadi mata uang global ketika banyak digunakan sebagai alat transaksi di seluruh. Salah satu indikator pentingnya adalah ketika ia digunakan sebagai cadangan devisa bank-bank sentral dan alat transaksi pembayaran perdagangan.  

 

Berdasarkan data IMF, dolar AS adalah mata uang teratas yang menjadi cadangan devisa bank sentral seluruh dunia pada kuartal pertama 2022. Sebanyak 58,88% cadangan devisa bank sentral seluruh dunia dalam bentuk dolar AS dengan total nilai mencapai 6.877 miliar dolar AS. Rasio ini adalah yang terendah sejak 1995. 

 

Rasio bank sentral seluruh dunia yang menjadikan dolar sebagai cadangan devisa pun menurun dibandingkan kuartal pertama 2018 lalu. Saat itu rasionya mencapai 62,79%. 

 

Berkaitan dengan hal itu, transaksi pembayaran internasional menggunakan dolar AS menurun kendati masih di peringkat pertama global. Hal ini terlihat dari aktivitas transaksi pembayaran perdagangan internasional dalam catatan SWIFT, sebuah sistem pesan global yang memungkinkan transfer uang ke seluruh dunia. 

 

Pada 2014 lalu, 51,9% dari total nominal transaksi pembayaran perdagangan internasional menggunakan dolar AS. Rasio itu menurun drastis pada 2021 menjadi hanya 40,51%. Pada Januari 2022, rasionya pun menurun lagi menjadi 39,92%.

 

Terdesak Ekspansi Yuan Tiongkok

 

Salah satu penyebab utama sirkulasi dolar AS berkurang, adalah perubahan lanskap perdagangan dan keuangan global. Terutama terkait upaya Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia mendominasi perdagangan global dan menginternasionalisasikan yuan. 

 

Pada 2013, Tiongkok meluncurkan proyek Belt and Road Initiatives guna meningkatkan investasi mereka terutama dalam pembangunan infrastruktur secara global. 

 

Dua tahun berselang, pada 2015, Tiongkok membuat Sistem Pembayaran Antar Bank Lintas Batas (CBIS) sebagai saingan SWIFT yang berada dalam kontrol AS. Langkah Tiongkok ini mendorong IMF menjadikan yuan sebagai salah satu mata uang cadangan global dan menempatkannya dalam keranjang spesial bersama dolar AS, euro, poundsterling, dan yen. 

 

Tiongkok bahkan membangun pusat perdagangan yuan di Amerika untuk mempermudah perusahaan-perusahaan di kawasan Amerika Utara melakukan transaksi dalam yuan di bank Kanada. Pusat perdagangan serupa juga dibuka di London dan Singapura. 

 

Pada 8 Juni 2016, Tiongkok memberi AS kuota 250 miliar yuan, setara dengan US$38 miliar, di bawah program Investor Institusional Asing Berkualifikasi Renminbi. Langkah ini menurunkan biaya bagi perusahaan AS yang berdagang dengan Tiongkok. 

 

Strategi Tiongkok bisa dikatakan berhasil. Sampai 2020, setidaknya ada 60 negara yang telah menandatangani perjanjian dan menyatakan tertarik pada prakarsa satu sabuk dan satu jalan

 

Bank-bank sentral dunia pun mulai lebih banyak memegang cadangan devisa dalam yuan. Dengan begitu, mereka bisa menurunkan suku bunga obligasi dalam yuan. Arus investasi dan perdagangan di antara para pemegang yuan dengan Tiongkok pun bisa semakin deras.

 

Data IMF menunjukkan, rasio bank sentral yang memegang cadangan devisa dalam yuan meningkat dari 1,40% pada kuartal pertama 2018, menjadi 2,88% pada kuartal pertama 2022. Imbasnya, bank-bank sentral yang memegang yuan sebagai cadangan devisa harus mengurangi rasio mata uang lainnya, termasuk dolar AS. 

 

Bank Sentral Israel contohnya, pada April 2022 lalu untuk pertama kalinya dalam sejarah memberi ruang sebesar 2% cadangan devisanya dalam bentuk yuan. Sebagai gantinya, mereka mengurangi rasio dolar AS ke angka 61% dari sebelumnya mencapai 67%. Sisa ruang lainnya mereka gunakan untuk memegang dolar Australia, dolar Kanada, yen, dan poundsterling. 

 

Yuan sebagai alat pembayaran perdagangan internasional pun meningkat signifikan, dari 0,5% pada 2014 menjadi 2,7% pada 2021. Pada Januari 2022, rasio yuan bahkan menjadi 3,20%, berdasar data SWIFT. Kenaikan ini juga didorong oleh keputusan Joe Biden untuk melarang bank-bank Rusia bertransaksi dengan SWIFT pasca-invasi Rusia ke Ukraina. Sebelum invasi, yuan menjadi mata uang asing terbanyak dalam cadangan devisa Bank Sentral Rusia dengan rasio 13,8%.

 

Rusia berencana menyalurkan sebagian besar cadangan devisanya melalui Tiongkok untuk mengakses barang dan jasa yang sangat mereka butuhkan. Langkah ini bakal kian memperluas sirkulasi yuan di pasar keuangan global.

 

Nilai Dolar AS Telah Lama Longsor

 

Di sisi lain, nilai dolar AS memang sudah lama terdepresiasi alias menurun alias longsor. Padahal, menjaga nilai agar tetap kuat adalah syarat penting bagi dolar AS mempertahankan posisi sebagai mata uang global.

 

Depresiasi bisa terlihat dari Indeks Dolar AS yang menjadi acuan utama nilainya terhadap serumpun mata uang dunia lain. Pada 31 Januari 2002, Indeks Dolar AS mencapai 120,28 poin. Namun, pada Januari 2022 poinnya menjadi 96,54 atau turun 25%. 

 

Sejak awal bulan ini, Indeks Dolar AS memang melejit dan mencapai puncaknya pada 29 Agustus 2022 dengan 109,4 poin. Namun, tetap saja angka tersebut lebih rendah 10% dibandingkan periode 31 Januari 2002 yang merupakan puncak Indeks Dolar AS dalam 20 tahun terakhir. 

 

Selain itu, penguatan Indeks Dolar AS belakangan terpengaruh kebijakan The Fed memutuskan mempertahankan kenaikan suku bunga lebih lama guna menekan laju inflasi. Sebuah kebijakan yang mengindikasikan penguatan pesat dolar AS dibayangi ketidakpastian ekonomi domestik. 

 

Pertumbuhan ekonomi AS minus pada dua kuartal awal tahun ini, yang secara teknis menandakan resesi lagi setelah terakhir kali pada 2020 lalu di tengah puncak pandemi COVID-19.

 

Defisit neraca berjalan AS pun mencapai 3,6 persen terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang 2021. Semakin tinggi defisit neraca berjalan, semakin tinggi pula nilai impor daripada ekspor. Impor yang semakin tinggi merugikan nilai mata uang sebuah negara karena harus membeli barang dengan mata uang negara produsen. 

 

AS punya preseden buruk nilai mata uangnya longsor selama 6 tahun (2002-2008) setelah defisit neraca berjalannya menyentuh 5% pada 2001. 

 

Sangat mungkin peningkatan nilai dolar AS kali ini adalah yang terakhir sebelum masuk fase longsor yang lebih dalam dan panjang. Sebaliknya, agenda Partai Komunis Cina menjadikan yuan mata uang global pada 2025 justru kian terang. Selamat tinggal, USD!