Nggak Ada yang Minta Kami Nerbitin Tulisan soal Dinosaurus, tapi Kami Terbitin Juga

Nggak Ada yang Minta Kami Nerbitin Tulisan soal Dinosaurus, tapi Kami Terbitin Juga

Baru beberapa hari lalu saya beserta anak dan istri pergi ke mal di Cirebon. Kami mengajak putri kami mengunjungi mal tersebut karena ada wahana bermain dengan tema dinosaurus.

Tentu harapan kami, barangkali sama dengan orang tua lain, adalah untuk membahagiakan putri kami sekaligus memberi edukasi tentang dinosaurus. Berhubung putri kami masih batita, wahana bermain jadi medium tepat selain edukasi lewat karakter komik atau cerita oral dari kami.

Terbukti, hasilnya hingga artikel ini saya tulis, putri saya masih terbawa suasana bermain dengan dinosaurus dan ia menirukan suara seperti T. rex yang suka mengaum “rawwwr”. Ia bahkan menyebut dirinya “Dino Anin” saking bahagia dan masih teringat oleh wahana bermain itu.

Melihat dinosaurus dari sudut pandang yang ramah dan cute, seperti yang dilihat oleh putri saya, tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga membangkitkan imajinasi. Menurut saya, ini juga berlaku untuk orang dewasa ketika menonton Jurassic Park, membaca informasi tentang dinosaurus, atau membayangkan bagaimana penampilan mereka di masa lalu. Bahkan misalnya membayangkan siapa yang akan menang jika ada pertarungan antarmonster Godzilla melawan Kong. Hal ini terjadi begitu saja dan tentu bukanlah salah kita, sebab kita terbiasa mengonsumsi dan menerima representasi dinosaurus a la Hollywood dan media arus utama sejak kecil hingga saat ini.

Tapi, seiring bertambahnya informasi, bacaan atau tontonan, ternyata bayangan kita tentang dinosaurus itu tidaklah benar 100%. Mungkin ini juga yang nantinya akan diketahui oleh putri saya ketika dewasa, jika ia masih memiliki minat mencari tahu tentang dinosaurus.

Asal-Usul Gambaran Mengenai Dinosaurus

Sejak abad ke-19, paleoartist—seniman yang menggambarkan makhluk prasejarah berdasarkan penelitian paleontologi—telah menciptakan gambaran tentang penampilan hewan prasejarah saat mereka masih menghuni bumi. Salah satu contoh adalah di Chicago's Field Museum, yang menampilkan gambaran dinosaurus melalui karya seni dinding. Di sana, terdapat mural yang menampilkan pertarungan antara Tyrannosaurus (T. rex) dan Triceratops yang terlihat sangat menarik.

Dalam tulisannya, Asher Elbein mengungkapkan bahwa dalam karya seni tersebut terdapat semacam hasrat untuk menggambarkan dengan indah sebuah lanskap impresionistik yang berpadu dengan binatang prasejarah. Meskipun karya seni tersebut dianggap sudah ketinggalan zaman, yang jadi prioritas adalah binatang-binatang tersebut terlihat hidup dalam lukisan.

Tidak mengherankan jika kedua jenis dinosaurus yang disebutkan di atas selalu digambarkan dengan sangat kuat dan mungkin saja kita pernah bermain dengan mainan dinosaurus T. rex dan Triceratops saat masih kecil. Asher Elbein menyebut bahwa hal ini dimulai dari menganggap dinosaurus sebagai karya seni yang tidak hanya berfokus pada temuan ilmiah.

Dalam artikel Riley Black, ia menyebut bahwa hasil rekonstruksi gigi Triceratops menunjukkan bagaimana T Rex mampu merobek tiga tanduk untuk memperoleh daging di tubuhnya. Namun, hasil penelitian sebelumnya hanya menunjukkan bagaimana T. rex memakan Triceratops, tidak ada informasi apapun mengenai apakah T. rex bisa membunuh Triceratops melalui serangan ke bagian depan, yaitu tiga tanduk dan wajahnya. Oleh karena itu, pertarungan sengit antara keduanya yang seringkali dihadirkan oleh industri hiburan Hollywood dapat dikatakan sebagai bentuk hiperbolisasi dan spekulasi yang tidak memprioritaskan fakta-fakta ilmiah.

Untuk lebih mudah dipahami, meskipun T. rex adalah predator dan pemakan bangkai, bukan berarti dia mampu memakan semua jenis makanan, termasuk Triceratops dewasa. Penelitian dari David Hone dan Oliver Rauhut menunjukkan bahwa T. rex lebih memilih memburu mangsa yang lebih muda dan cenderung menghindari risiko ketika mencari makanan.

Anggapan bahwa T. rex lebih kuat dari Triceratops dapat diterima sejauh Triceratops telah punah terlebih dahulu. Dengan kata lain, kita perlu membayangkan ulang apakah keduanya pernah terlibat duel sengit itu benar terjadi? Hingga kini, tidak ada temuan yang mendukung anggapan tersebut. Di sisi lain, kematian Triceratops itu sendiri bukanlah disebabkan oleh T. rex alias masih menjadi misteri.

Kita tahu bahwa sedari awal, paleoart merupakan salah satu genre dalam karya seni yang fokus menghasilkan representasi kehidupan zaman prasejarah. Banyak hewan yang disajikan dalam paleoart yang tampak aneh di mata kita saat ini. Seperti yang ditegaskan oleh Lescaze, salah satu penulis esai kontekstual dalam karya paleoart, “Saya tidak banyak merenungkan perubahan ide paleontologis yang ada pada gambar dan lukisan tersebut." 

Lescaze mengambil pendekatan kebudayaan untuk memandang paleoart dan menekankan bahwa pandangan politik dan waktu prasejarah dapat mempengaruhi karya seni tersebut. Sejarah paleoart sendiri dimulai pada 1880-an, saat fosil-fosil Mesozoikum diteliti secara saintifik dan terjadi perselisihan antara kerajaan Eropa atas wilayah kolonial. Pelukis asal Amerika, Knight, kemudian dikenal sebagai pelopor dalam menghasilkan karya paleoart pada awal abad ke-20. Knight bekerja sama dengan ilmuwan seperti Henry Fairfield Osborn dan Barnum Brown dalam menghasilkan gambaran dinosaurus yang cukup dekat dengan penemuan fosil sebenarnya, meski menambahkan detail seperti bulu-bulu pada dinosaurus dan memberikan bentuk kaki yang berbeda dari temuan fosil.

Pengaruh ide Knight ini, menurut Lescaze, bisa kita lihat pada film King Kong dan Fantasia, serta ahli paleontologi dan seniman muda lain. Meski Knight telah lama mati, tapi pengaruh Knight dalam gaya lukisan dan karya seni grafis lain masih dipakai, dan semakin menjauh dari kata ilmiah. Dengan kata lain, dinosaurusnya Knight itu berumur panjang, dan hasil informasi kita terkait dinosaurus dalam film, lukisan, atau karya seni lainnya hanyalah pengulangan yang tidak berdasar dari hasil temuan paleontologis. Bukan hanya putri saya, orang dewasa juga cenderung menerima informasi yang seperti ini.

Dinosaurus yang Mesti Kita Ketahui

Mungkin kita boleh setuju jika selama ini gambaran tentang dinosaurus terbagi ke dalam dua kategori: kelompok saurischian raksasa pemakan daging seperti T. rex dan reptil raksasa dengan leher serta ekor panjang pemakan tumbuhan seperti Apatosaurus, dan kelompok kedua adalah dinosaurus pemakan tumbuhan yang mirip dengan unggas yang memiliki tanduk seperti Triceratops dan tubuh berpelindung seperti Stegosaurus. Pembagian ini ternyata telah ada sejak 1887.

Barulah temuan Matthew Baron merombak pembagian di atas secara radikal. Ia membagi mana yang jadi kelompok saurischians, yakni jenis sauropoda di cabangnya, serta menempatkan theropoda dan ornithischians di cabang yang lain. Sebelum temuan Baron, kelompok dinosaurus saurischian mencakup theoropoda dan sauropoda, namun sekarang kelompok saurischian hanya meliputi sauropoda saja. Theropoda sekarang berada di cabang lain bersama ornthischian.

Temuan 'pohon keluarga' dinosaurus dari Baron ini—seperti yang diungkapkan Lindsay Zanno, Head of Paleontology di NC Museum of Natural Sciences—menggoncang inti dari paleontologi yang selama ini kita percaya. 

Baron membandingkan 74 awal dinosaurus dan keturunannya. Dalam temuannya itu, Baron menuliskan kembali pohon asal usul dinosaurus. Menurutnya, dinosaurus pertama kali ada itu sekitar 247 juta tahun yang lalu, atau lebih duluan daripada yang selama ini dipercaya, yakni sekitar 231-243 juta yang lalu. Hal terpenting lainnya adalah, nenek moyang dinosaurus terbagi jadi dua kelompok--bukan hanya satu. Seperti yang dijelaskan di atas.

Selain itu ternyata anggapan selama ini nenek moyang dinosaurus merupakan pemakan daging, berdasarkan temuan terbarunya itu mengindikasikan pada mulanya adalah omnivora, kemudian dua kelompok—theropoda dan herrerausarida—ada yang ‘memilih’ menjadi karnivora sepenuhnya. 

Dalam pengelompokan pohon keluarga yang baru ini, terdapat perubahan pada asal muasal bulu/sayap yang sebelumnya ditemukan pada sebagian besar spesies theoropoda seperti T. rex, Velociraptor, dan burung modern. Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa beberapa ornithischia, seperti dinosaurus bertanduk Psittacosaurus dan dinosaurus kecil dan cepat Tianyulong dan Kulindadromeus, juga memiliki bulu halus atau duri.

Temuan lainnya juga mengatakan spesies berbulu merupakan bagian dari kelompok ornithoscelidan—yakni theoropoda dan ornithischia. Bulu yang ada pada dinosaurus tidak ada sedari awal, melainkan hasil evolusi ketika sauropomorpoda memisahkan diri dari yang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa bulu merupakan penemuan atau hasil dari evolusi ornithoscelidan.

Perihal temuan bulu ini diafirmasi oleh Maria McNamara, Professor Paleobiologi, University College Cork, bahwa kebanyakan bulu awalnya ditemukan pada nenek moyang burung modern—yang termasuk ke dalam kelompok theropoda (yang memiliki dua kaki, predator dengan tulang berongga seperti Velociraptors dan T. rex.) 

Bulu pada dinosaurus awalnya dianggap tidak terlalu penting dan belum ditemukan temuan fosilnya. Namun, segalanya berubah setelah tayangan film Jurassic Park pada 1993 dan temuan fosil di Cina yang disebut Jehol biota. Wilayah tersebut memiliki banyak danau dan ribuan fosil burung, dinosaurus, dan mamalia purba. Ketika diperhatikan lebih dekat, fosil dinosaurus di sana, seperti Sinosauropteryx yang merupakan bagian dari kelompok theropoda, memiliki rambut-rambut kecil atau proto-bulu, yang pendek dan tidak berfungsi untuk terbang. Hal ini mengubah pandangan tentang dinosaurus dan menunjukkan betapa pentingnya bulu dalam evolusi dinosaurus.

Ternyata bulu memiliki peran penting dalam evolusi dinosaurus dan berkaitan dengan metabolisme seperti burung. Menurut McNamara, hampir setiap bagian tubuh dinosaurus memiliki bulu, dan tidak hanya untuk kemampuan terbang pada burung modern. Bulu tersebut juga mungkin digunakan untuk berkomunikasi, seperti yang terlihat pada Sinosauropteryx yang memiliki bulu kecil di ujung ekornya. Temuan ini menunjukkan bahwa bulu sudah ada pada akhir evolusi dinosaurus, terutama pada kelompok theoropoda, dan berkaitan dengan fisiologi, kebiasaan, dan lingkungan hidup.


Di Mana Ada Fosil Di situ Ada Cuan

Sedari awal kita bisa lihat pembicaraan tentang dinosaurus dapat dimanfaatkan untuk kepentingan komersil maupun non-komersil atau biasa disandingkan dengan pengetahuan. Apabila Jurassic Park, buku dan produksi lainnya tentang dinosaurus dapat mendatangkan duit sekaligus bayangan kita tentang dinosaurus. Hal lainnya, seperti temuan fosil baru, atau jenis dinosaurus baru juga memungkinkan untuk mendatangkan cuan.

Pada tahun 1990, sebuah fosil Tyrannosaurus yang ditemukan dengan kondisi sangat baik dilelang dengan harga mencapai 7,6 juta dolar. Fosil tersebut menjadi lambang status yang menarik minat para pembeli kaya dan pedagang yang tidak bermoral. Peristiwa ini meningkatkan jumlah pasar gelap yang berhubungan dengan situs-situs fosil yang kaya di Cina dan Mongolia.

Tak jarang penjual ikut-ikutan membikin fosil palsu yang terbuat dari bahan pakaian atau plester. Dalam artikelnya How to Tell If a Dinosaur Is Fake, Ed Young menulis pernah ada waktu itu ketika foto dianggap sebagai Archaeopteryx—salah satu spesies penting yang menunjukkan burung berevolusi dari dinosaurus yang lain. Ketika temannya, Currie terbang ke Beijing, ternyata 100 persen palsu ketika melihat tekstur tulangnya. Sebabnya tak mungkin paleontologis beneran dapat ditipu dengan harga yang sangat mahal.

Tak dapat disangkal bahwa fosil asli memiliki nilai yang sangat tinggi dan sering menjadi target para kolektor dan pembeli kaya. Namun, terdapat pula permasalahan palsu-asli dalam perdagangan fosil. Misalnya saja saat Currie membeli fosil Tarbosaurus dari Mongolia yang terlihat asli dengan harga ratusan ribu dolar. Namun, setelah timnya melakukan analisis melalui medical scanner, ternyata hanya satu tulang rahang yang asli. Kasus serupa juga terjadi pada fosil Tarbosaurus lain yang dibeli oleh pemerintah Amerika pada tahun 2012. Meskipun sebagian besar dari fosil tersebut asli, namun gigi, jari-jari, dan ujung kaki merupakan hasil rekonstruksi ulang yang palsu. 

Terkadang penjual juga pintar menghias fosil agar lebih estetik. Salah satunya dinosaurus berbulu karena populernya, para pengrajin akan melukis garis luar bulu pada fosilnya. Ada juga yang menambahkan lambang atau simbol pada bagian fosil tengkorak oleh pemburu-fosil supaya lebih terlihat dramatis dan sempurna. Akan tetapi berdasarkan penilaian saintis dapat dipastikan sekitar 80 persen spesimen reptil yang ada di lokal dan museum berlokasi di Cina telah diubah atau secara artifisial telah disatukan.

Sementara dinoasurus palsu yang ada di Mongolia juga kurang lebih dapat ditemukan hal yang sama. Tepatnya di Gurun Gobi Mongolia, dinosaurus biasa ditemukan di batu pasir yang lunak. Penipu mengetahui hal ini, terkadang mereka menghancurkan batu yang ada di wilayah ini kemudian merekatkan kembali spesimen menjadi satu.

"Terkadang sangat sulit buat tahu mana yang palsu atau asli," kata Brusatte.

Dengan kata lain ada kemungkinan bahwa penemuan fosil ini sangat sulit dikatakan keasliannya dan juga memiliki dampak yang signifikan atas pengetahuan kita tentang hewan prasejarah. 

Namun, ada pengecualian. Pada 1998, pemilik sebuah museum kecil di Utah memperoleh sebuah spesimen dari Cina yang tidak pernah tercatat dalam jurnal ilmiah manapun. Spesimen ini kemudian diberi nama Archaeraptor, yang diklaim sebagai "mata rantai yang hilang" antara dinosaurus dan burung. Namun, menurut Currie, ahli paleontologi, spesimen ini mencurigakan sejak awal karena Archaeoraptor terlihat seperti kostum kuda dengan orang di dalamnya. Penemuan ini menyebabkan kebingungan bagi para pekerja museum, awalnya dianggap sebagai palsu, tetapi hasil CT scan menunjukkan sebaliknya: bagian yang palsu tidak memiliki struktur internal yang rumit seperti tulang asli.

Kadang-kadang, bahkan ahli dinosaurus pun mengalami kesulitan membedakan fosil yang asli dengan yang palsu. Selain itu, membedakan antara fosil dan faux-sils juga tidaklah mudah. Menurut Currie, salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan scan synchrotron, yang dapat menghasilkan resolusi yang lebih tinggi. Dengan menggunakan synchrotron, para peneliti dapat mengetahui komposisi kimia dari batuan tersebut untuk mengetahui apakah fosil tersebut asli atau palsu.

Sampai di sini, kita tahu, ada beberapa hal menarik yang ditawarkan fosil dinosaurus: fosil menjadi sumber pengetahuan bagi paleontologi, fosil menghadirkan industri fosil yang menarik kolektor dan penipu kolektor, fosil menjadi tontonan yang menghibur dan mungkin mengedukasi bagi kita, orang awam, yang mustahil membeli fosil seharga jutaan dolar.