Pekerja Seluruh Dunia, Tutup Laptop, Ayo Nyantai!

Kerja hanya seperlunya. Tidak mau lembur kecuali terpaksa. Tidak mau buka laptop di akhir pekan. Tidak akan angkat telpon setelah lewat jam 5 sore. Ini namanya quiet quitting kan?

 

Bukan. Kalau menurut penghuni r/antiwork, namanya mengamalkan pasal anti-work: bekerja hanyalah cara untuk menopang hidup, bukan sebagai gaya hidup. 

 

Jadi, Mana yang Benar?

 

Secara definisi dan filosofi, quiet quitting dan anti-work sebenarnya sama. Keduanya sama-sama merujuk ke penolakan para pekerja terhadap eksploitasi yang dilakukan oleh bos mereka. Yang berbeda hanya kapan kata tersebut meledak di internet. Anti-work masuk ke kosakata pengguna internet berkat subreddit r/antiwork yang didirikan pada 2013 dan baru meledak di masa pandemi. Sedangkan quiet quitting meledak di Tiktok tahun 2022 karena video-video tentang protes anak muda akan kondisi kerja mereka yang jauh dari layak.

 

Istilah-istilah ini rasanya terdengar baru, tapi filosofinya sebetulnya sudah eksis sejak dahulu kala. Ia bisa ditarik ke kitab Kejadian yang menjelaskan Tuhan beristirahat di hari ke-7 setelah selesai membangun semesta dari nol. Lalu ke Yunani Kuno, ketika manusia-manusia merdeka bisa bebas melakukan apa saja yang mereka mau, sementara pekerjaan dilimpahkan ke para budak. Pekerjaan, singkatnya, hanya dilakukan oleh mereka yang sengsara.

 

Bekerja Lebih Sedikit Bukanlah Ide Baru

 

Namun akar dari kritik kerja modern baru berkembang di abad ke-17. Tokoh-tokohnya antara lain Paul Lafargue, Karl Marx, dan bahkan pemikir liberal John Stuart Mill. Meskipun Lafargue, Marx, dan Mill melihat kerja dari lensa yang berbeda, ketiganya setuju akan pentingnya pengurangan jam kerja.

 

Dalam buku yang berjudul The Right to be Lazy (1883), Lafargue menolak gagasan bekerja 8 jam sehari yang dielu-elukan oleh para pekerja pada masa itu. Ia menganggap ide kerja 8 jam sehari merupakan bagian dari propaganda borjuasi. Para proletar dan sosialis, menurutnya, seharusnya memperjuangkan hak mereka untuk malas-malasan, alih-alih menganggap kerja sebagai suatu hak yang harus diberikan kepada para pekerja. 

 

Sedangkan Marx dalam Critique of the Gotha Program (1875) dan Kapital vol. 3 (1883) menyatakan bahwa kerja hanya perlu dilakukan secukupnya, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Surplus kerja yang dihasilkan oleh masyarakat komunis bukan berasal dari panjangnya jam kerja, tapi dari produktivitas kerja dan pembagian surplus yang merata. 

 

Di sisi lain, Mill menyatakan kekayaan yang dihasilkan dari pekerjaan manusia seharusnya digunakan untuk bersantai ria. Mill melihat teknologi yang bermunculan sebagai penyelamat manusia dari sibuknya kerja manual, alih-alih sebagai pencuri kerja seperti yang digembor-gemborkan oleh ekonom-ekonom lain. Ajarannya untuk bersantai (gospel of leisure) menekankan waktu kosong yang dihasilkan dari berkurangnya jam kerja untuk mengejar aspirasi-aspirasi baru. Manusia senang, masyarakat pun maju. 

 

Ide akan waktu bersantai sebagai penyelamat manusia juga disebutkan oleh John Maynard Keynes. Kita sudah terbiasa dengan tekanan untuk terus bekerja sehingga tidak bisa membayangkan alternatif lain dimana kita bisa hidup tenang dan penuh kelimpahan, tanpa tekanan untuk kerja, kerja, kerja. Ia juga yang memprediksikan cucunya hanya perlu bekerja selama 15 jam/minggu—dan ini bisa terjadi berkat teknologi. 

 

Meskipun ide ini didukung oleh banyak pemikir terkemuka, para pemilik bisnis mati-matian menolaknya. Menurut mereka, jam kerja seharusnya tetap tinggi untuk memenuhi permintaan akan produk baru. Tentu saja permintaan tinggi ini dibuat oleh para pemilik bisnis agar produksi dan profit terus meningkat. 

 

Pun mereka tak bisa menekan laju ide mengurangi jam kerja. Pada tahun 1933, Senat Amerika Serikat menyetujui legislasi untuk mengurangi jam kerja menjadi 30 jam/minggu. Meskipun legislasi ini gagal di DPR karena tekanan besar dari industri, ide ini tetap dielu-elukan oleh serikat buruh. Bahkan pada 1956, Presiden Richard Nixon—dari partai Republikan yang konservatif—menjanjikan tak lama lagi masyarakat Amerika Serikat akan bekerja maksimal 4 hari/minggu.

 

Gagalnya Mendapatkan Jam Kerja yang Lebih Sedikit

 

Sayang, kebijakan kerja yang lebih sedikit tidak pernah terwujudkan. Runtuhnya ekonomi Keynesian dan naiknya neoliberalisme mengubur dalam-dalam perjuangan untuk mengurangi jam kerja. Tak hanya itu, neoliberalisme juga mencabut tunjangan-tunjangan kesejahteraan seperti kebijakan kesehatan gratis dan universal, subsidi di sektor-sektor penting, mengurangi peran pemerintah dalam urusan kenegaraan, dan menekan habis-habisan pajak untuk orang-orang kaya.  

 

Bersamaan dengan dipretelinya kekuasaan negara serta pemindahan kuasa ke para investor, jam kerja para pekerja semakin diperpanjang dan tunjangan mereka disunat. Teknologi yang digadang-gadang bisa memerdekakan pekerja dari pekerjaan kasar, justru malah membalikkannya. Surplus dari kerja tak lagi dirasakan oleh para pekerjanya, tapi lari ke kantong pengusaha.

 

Panjangnya jam kerja dan sedikitnya gaji yang kita terima merupakan konsekuensi dari neoliberalisme. Memang secara historis para pekerja punya toleransi yang tinggi terhadap kondisi kerja yang menyedihkan. Ini bisa kita lihat dari perjuangan pengurangan jam kerja dari 60-70 jam/minggu menjadi 50 jam/minggu yang membutuhkan waktu puluhan tahun. 

 

Lalu apa yang membuat pekerja sekarang sadar bahwa kondisi kerja sekarang tak masuk akal? Pertama, eksperimen kerja 6 jam/hari yang dilakukan Swedia terbukti berhasil: para pekerja terlihat lebih bahagia dan produktif dibandingkan ketika bekerja 8 jam/hari. Kedua, pandemi dan kebijakan WFH membuat para pekerja sadar bahwa pekerjaan mereka bisa diatur agar bisa mengikuti ritme kehidupan domestik masing-masing. WFH tak hanya memangkas waktu yang dihabiskan di jalan, tapi juga mengingatkan mereka kembali bahwa pekerjaan bukanlah tujuan utama hidup. Justru pekerjaan adalah cara untuk menunjang hidup. 

 

Toh pada akhirnya yang membuat hidup bermakna adalah waktu yang kita habiskan untuk keluarga, teman, dan aspirasi kita sendiri. Bukan pekerjaan yang ujung-ujungnya hanya menambah pundi-pundi uang bos.