Pembunuh Berantai Itu Menyamar Sebagai Juragan Roti

Pembunuh Berantai Itu Menyamar sebagai Juragan Roti

13 Juni 1983. Gadis bernama Cindy itu berlari sekencang-kencangnya menembus pepohonan cemara. Musim panas sudah tiba, tapi matahari baru bangkit dan hawa dingin belum betul-betul lenyap.

Cindy berlari tanpa alas kaki dan tanpa celana. Tubuh mungilnya hanya dibungkus kaos dan celana dalam. Di salah satu pergelangan tangannya, tercantol sebuah borgol. Sesekali Cindy menoleh ke belakang sembari terus memacu kedua kakinya untuk segera keluar dari rimbunnya hutan Alaska.

Setelah kurang lebih setengah jam berlari, Cindy melihat secuil harapan. Jalan raya menuju kota Anchorage sudah tampak.  Tak lama kemudian Cindy tiba di bibir jalan dan menengok ke kanan kiri. Napasnya masih terengah-engah, peluh mengucur deras, dan jantungnya berdebar kencang. Sesekali Cindy melongok ke belakang untuk memastikan dirinya sudah aman.

Lalu truk itu pun berhenti. Di dalamnya ada seorang pria yang sedikit kebingungan. Pemandangan yang tak biasa di tepi jalan itu menarik perhatiannya. Setelah sang pengemudi menghentikan mobil, barulah dia menyadari bahwa gadis yang mengangkat tangannya tadi masih sangat muda. 

Tanpa meminta izin, Cindy membuka pintu belakang mobil. Sambil membanting pintu, Cindy merunduk. Dia berusaha sembunyi dari siapa pun yang mengejarnya.

"Tolong antar aku ke motel terdekat," pinta Cindy.

Pria itu mengangguk dan tanpa banyak bicara mengantar Cindy. Setelah Cindy keluar, pria itu langsung beranjak. Sementara itu, Cindy berlari kencang menuju kamar yang sebelumnya telah dia sewa. Melihat seorang gadis muda tampak ketakutan dengan pakaian yang tidak normal dan tangan terborgol, resepsionis motel itu lantas menelepon polisi.

Tak lama kemudian dua orang petugas datang dan mengetuk kamar Cindy. Namun, pintu tak langsung dibuka. Cindy terlebih dahulu mengintip melalui jendela dengan menyibak tirai untuk memastikan bahwa orang yang mengetuk kamarnya benar-benar polisi. Setelah kepastian itu didapat, barulah Cindy mempersilakan mereka masuk dan menceritakan semuanya.

***

12 September 1982. Dua orang pria memutuskan kembali ke perkemahan. Hari sudah mulai gelap dan mereka masih berada di dalam hutan.

Mereka berdua adalah polisi yang tengah berlibur. Mereka pergi ke hutan untuk berburu. Lokasi hutan itu sebenarnya tak jauh dari kota Anchorage; hanya kurang lebih 20 mil. Akan tetapi, akses menuju ke sana sangatlah sulit. Untuk ke sana, seseorang harus menggunakan perahu atau pesawat terbang kecil karena tidak ada jalan darat yang bisa dilalui. 

Dua polisi itu tahu bahwa untuk mencapai perkemahan sebelum malam mustahil mereka melalui jalur yang dilewati ketika berangkat. Mereka pun memutuskan untuk mengambil jalan pintas menyusuri Sungai Knik. Ketika tengah berjalan menyusuri sungai itu mereka mendapati sebuah pemandangan ganjil.

Sebuah sepatu menyembul dari dalam tanah berpasir. Kedua polisi menghentikan langkah dan perlahan bergerak mendekati sepatu. Mereka terkejut ketika menemukan sepatu terdapat tulang kaki manusia di balik sepatu. Tulang itu tampak masih menyambung dengan tubuhnya.

Kedua polisi paham betul pentingnya "tidak merusak integritas tempat kejadian perkara". Mereka memutuskan untuk memberi tanda pada tempat ditemukannya sepatu tersebut serta pada peta yang mereka bawa. Setelah meninggalkan lokasi, dua polisi itu melaporkan temuannya ke kantor.

Keesokan harinya, petugas laboratorium forensik (labfor) dikirim ke tempat ditemukannya sepatu. Dengan hati-hati mereka mengangkat sepatu beserta semua tulang berulang yang dikubur di dalam tanah berpasir tadi. Para petugas labfor juga menemukan pakaian wanita membungkus tulang berulang itu.

Setelah mengangkat jenazah, para petugas terus berupaya mencari barang bukti lain, sampai akhirnya sebutir selongsong peluru berhasil ditemukan. Peluru itu berkaliber .223. Biasa digunakan untuk senapan berburu. Jenazah korban dan selongsong peluru tadi pun segera dibawa ke laboratorium untuk diteliti.

Dari hasil temuan laboratorium, disimpulkan bahwa perempuan tersebut sudah meninggal setidaknya enam bulan sebelum tulang belulangnya ditemukan. Jelas, dia tewas karena dibunuh.

Tiga tembakan peluru kaliber .223 tadi merenggut nyawanya dan korban ditembak dalam keadaan tanpa busana. Setelah korban tewas, si pembunuh memakaikan kembali pakaiannya lalu menguburnya. Satu barang temuan lainnya adalah perban yang diduga  digunakan sang pembunuh untuk menutup mata korban.

Beberapa pekan setelah autopsi dilakukan, laporan forensik gigi dikirimkan ke Kepolisian Anchorage. Laporan itu mengonfirmasi bahwa tulang belulang yang ditemukan di pinggir sungai tadi merupakan milik Sherry Morrow, seorang penari erotis berusia 23 tahun yang dilaporkan hilang sepuluh bulan sebelumnya.

Dalam laporan orang hilang yang sudah dimiliki polisi, disebutkan bahwa hal terakhir yang diucapkan Sherry kepada temannya adalah bagaimana dia ditawari uang 300 dolar untuk menjalani sesi pemotretan dengan fotografer profesional. Sherry menghilang persis setelah berkata hendak menemui fotografer tersebut.

Melihat laporan itu, polisi yakin bahwa pembunuh Sherry adalah si fotografer. Namun, mereka tak memiliki bukti. Polisi cuma memiliki selongsong peluru yang jamak digunakan para pemburu di Alaska sehingga peluru itu tak bisa mengarahkan mereka kepada siapa pun. Kepolisian Anchorage pun memutuskan untuk menceritakan apa yang telah mereka temukan dan miliki kepada media. Harapannya, seseorang di luar sana yang mengetahui sesuatu bakal menghubungi mereka.

Dalam konferensi pers, ada seorang wartawan yang bertanya kepada Kepolisian Anchorage, "Apakah kematian Sherry ini berkaitan dengan kematian tak terselesaikan lain yang juga terjadi di wilayah yang sama?" Pertanyaan wartawan itu mengacu pada ditemukannya dua jasad perempuan di lokasi yang sama dua tahun sebelumnya. Satu dari dua korban tersebut adalah Joanne Messina yang juga seorang penari erotis.

Karena ketiadaan bukti yang mengaitkan tiga kematian tersebut, kepada publik polisi menegaskan bahwa apa yang terjadi pada Sherry tidak berkaitan dengan ditemukannya jasad Joanne dan satu korban lainnya. Akan tetapi, para polisi di Kepolisian Anchorage diam-diam sudah curiga bahwa ini semua merupakan ulah pembunuh yang sama.

Dengan kata lain, ada seorang pembunuh berantai di kota mereka.

***

Cindy muncul di saat yang tepat. Selama lebih kurang sembilan bulan, laporan menghilangnya penari erotis dan pelacur di Anchorage terus berdatangan ke meja para polisi. Akan tetapi, tak satu pun dari para polisi itu tahu harus memulai dari mana. Mereka benar-benar kebingungan dan kasus-kasus tersebut terbengkalai.

Cindy masih tampak ketakutan ketika mempersilakan dua petugas tadi masuk ke kamar motelnya. Dengan segera, salah satu petugas membuka borgol yang masih tergantung di tangan Cindy. Mereka bertiga lalu duduk dan salah seorang petugas, Gregg Baker, bertanya, "Apa yang terjadi denganmu? Bisakah kau menceritakannya?"

Kendati masih ketakutan, tak ada getaran dalam suara Cindy. Kronologi yang disampaikannya pun begitu jelas dan runtut. Cindy Paulson, itulah nama lengkapnya.

"Semalam, aku turun ke jalan seperti biasanya dan sebuah mobil mendekatiku. Di dalamnya ada seorang pria berkacamata dengan rambut keriting. Dia kelihatan tidak berbahaya dan dia menanyakan berapa harga pelayananku," tutur Cindy. Dia adalah seorang penari erotis yang sesekali melacurkan diri di jalanan Anchorage.

Semua tampak baik-baik saja. Cindy tak melihat ancaman dari pria tersebut dan, karena itulah, dia berani masuk ke dalam mobil setelah kesepakatan harga tercapai. Namun, baru saja Cindy duduk di kursi penumpang depan, pria itu menerjang ke arahnya dan memborgol tangannya ke pegangan pintu. Sepucuk pistol juga ditodongkan ke kepala Cindy.

"Diam!" hardik pria itu.

Cindy menurut dan pria itu membawanya ke sebuah rumah di area pemukiman kelas menengah. Rumah-rumah di sana tidak bisa dibilang mewah tetapi bisa dipastikan tak ada dari para penghuni yang hidupnya susah. Rumah pria itu berada di sana. Ketika sampai, si pria membawa Cindy turun ke ruang bawah tanah.

Hati Cindy mencelos. Satu benda yang langsung dia saksikan di ruang bawah tanah itu adalah rantai yang tergantung di langit-langit. Pria itu lantas mengikat Cindy dengan rantai tersebut. Selama berjam-jam kemudian, pria tersebut memperkosa Cindy nyaris tanpa henti. Dia baru berhenti ketika merasa sudah lelah.

"Aku mau tidur sebentar. Nanti kalau aku sudah bangun, kita akan pergi ke kabinku yang ada di hutan," ucap pria itu pelan.

"Lepaskan aku! Tolong, lepaskan aku! Aku janji takkan bilang ke siapa pun," pinta Cindy sambil menangis.

Namun, pria itu tak peduli. Dia kemudian mengancam Cindy. "Kalau sampai kau membuat suara sekecil apa pun atau coba melarikan diri, kau akan kubunuh," katanya.

Cindy pun terdiam. Air mata menetes di pipinya. Dia merasakan sakit di semua bagian tubuhnya. Dia diperkosa sekaligus disiksa. Setelah pria itu meninggalkan ruangan, ketakutan luar bisa mencekam Cindy. Dia membayangkan apa yang akan terjadi ketika si pria kembali.

Namun, ketika si pria itu kembali muncul, dia justru melepaskan Cindy dari ikatan rantai di ruang bawah tanah. Dia kemudian membawa Cindy naik ke ruang tengah dan memamerkan koleksi hasil buruannya. Beberapa kepala hewan yang sudah diawetkan dengan air keras tergantung berjejer di tembok. Pria itu menceritakan bagaimana dia amat menyukai berburu dan di mana dia biasa melakukan hobinya itu.

Dalam situasi yang terkesan tidak berbahaya itulah Cindy menyadari bahwa pria tersebut sama sekali tak memiliki niat untuk membiarkannya hidup. Pria itu membiarkan Cindy melihat wajahnya dan melihat jelas isi kediamannya. Dengan begitu, Cindy bisa dengan mudah mengidentifikasi si pria apabila dibiarkan hidup. Pada titik itu, fokus Cindy hanya satu: Mencari kesempatan melarikan diri.

Walau begitu, Cindy tak segera kabur. Kalau dia langsung berupaya lari dari rumah ini, si pria bakal dengan mudah menangkapnya kembali. Maka dari itu, Cindy pun mengikuti kemauan si pria. Ketika dia menyuruhnya masuk ke dalam mobil lagi, Cindy menurut. Mereka kemudian pergi ke lapangan udara Merrill Field yang letaknya tak jauh dari rumah si pria.

Sesampainya di Merrill Field, si pria memarkir mobilnya di dalam hangar. Cindy kemudian dimasukkannya ke dalam pesawat. Dengan posisi duduk di dalam pesawat, Cindy mengamati gerak-gerik penculiknya. Senapan demi senapan, tas demi tas, dimasukkan pria itu ke dalam pesawat. Dia tampak benar-benar sedang mempersiapkan diri untuk berburu.

Seketika Cindy sadar. Inilah momen yang tepat baginya untuk melarikan diri. Kalau sampai pesawat ini tinggal landas, tamatlah riwayatnya. Maka, ketika si pria sedang berjalan menuju mobil untuk mengambil sesuatu, Cindy pun melompat keluar dari kokpit, bangkit, lalu berlari sekencang-kencangnya.

Si pria marah besar. Sambil meneriakkan ancaman-ancaman, dia berlari mengejar Cindy. Akan tetapi, Cindy berhasil lolos dari kejaran si pria dan akhirnya kembali ke kamar motelnya. Semua ini diceritakan Cindy dengan jelas dan runtut kepada dua polisi yang ada di kamarnya.

Dua polisi itu langsung percaya pada cerita Cindy karena penuturannya yang sangat jelas tadi. Mereka kemudian mengajak Cindy ke rumah sakit supaya luka-luka yang ada di tubuhnya bisa dirawat. Cindy setuju dan ikut masuk mobil bersama kedua polisi. Akan tetapi, dalam perjalanan menuju rumah sakit, Cindy bersikeras agar mereka mampir dulu ke lapangan udara tempat pesawat si pria berada.

Cindy berpikir, apabila mereka segera ke sana, pesawat si pria bisa jadi masih ada di hangar dan bisa segera diidentifikasi. Mendengar penjelasan itu, kedua polisi tadi menurut. Mereka lalu bergerak ke arah lapangan udara.

"Itu hangarnya!" seru Cindy sambil mengarahkan telunjuknya.

Mobil pun diarahkan ke sana. Cindy benar; pesawat milik si penculik masih berada di sana. Namun, si pria sudah tidak ada. Gregg dan rekannya pun segera mengumpulkan informasi mengenai pesawat tersebut. Mereka mencatat nomor ekor pesawat, warna dan jenis pesawat, dan sebagainya. Ketika melakukan itu, mereka dihampiri petugas keamanan lapangan udara.

Petugas keamanan itu berkata, "Ya, semalam pemilik pesawat ini terlihat mencurigakan di mobilnya. Karena aku merasa ada yang tidak beres, plat nomor mobilnya kucatat."

Dengan bantuan petugas keamanan dan informasi yang mereka kumpulkan dari pesawat di hangar itu, polisi berhasil mengidentifikasi pemilik dua kendaraan tersebut. Pria itu bernama Robert Hansen. Dia adalah seorang pengusaha roti yang sangat sukses. Setelah mengantarkan Cindy ke rumah sakit, Gregg dan rekannya berinisiatif untuk berkunjung ke rumah Robert.

***

Kedua polisi itu mendapati rumah Robert tengah kosong. Mobilnya tak ada di tempat parkir dan tidak terlihat ada aktivitas di dalam rumah. Akan tetapi, tak lama kemudian, sebuah mobil menepi dan masuk ke tempat parkir. Mobil itu sesuai dengan deskripsi Cindy. Ketika pemiliknya keluar, kedua polisi tak ragu bahwa inilah orang yang mereka cari.

Meski baru saja hampir membunuh seseorang, Robert tampak tenang. Dia menghampiri mobil polisi yang diparkir di depan rumahnya dan bertanya, "Ada yang bisa kubantu, Pak?"

"Ya," jawab Gregg. "Kami perlu bicara dengan Anda. Boleh kami masuk?"

"Tentu saja," sahut Robert sembari memimpin jalan. Suaranya masih terdengar begitu tenang.

Robert memasukkan kunci, membuka pintu, dan mempersilakan kedua polisi masuk ke rumahnya. Sontak, kedua polisi itu menyadari bahwa penampakan rumah ini sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Cindy. Kepala hewan buruan tampak menempel di tembok rumah, semua detailnya pas. Para polisi itu lalu bertanya, "Anda semalam di mana?"

Robert menjawab, "Oh, saya pergi dengan teman-teman. Saya bisa beri kontak mereka. Anda bisa tanya ke mereka, tapi mereka semua bakal bilang saya bersama mereka."

Kedua polisi itu mengangguk lalu meminta izin untuk melihat-lihat isi rumah Robert. "Silakan," ucapnya. "Anda berdua bisa periksa rumah saya."

Kedua polisi itu berkeliling tetapi tak menemukan tanda-tanda bahwa Cindy pernah disekap, diperkosa, dan disiksa di sana. Dengan perasaan kecewa, mereka mengucapkan terima kasih kepada Robert dan segera kembali ke kantor. Sesampainya di kantor, mereka menghubungi dua kawan yang disebut Robert menghabiskan malam bersamanya.

Kedua kawan itu membenarkan ucapan Robert. Masing-masing dihubungi secara terpisah dan mereka berdua memberikan kesaksian yang sama. Karena inilah, dua polisi tadi, mau tidak mau, harus setidaknya mempertimbangkan bahwa Robert telah berkata jujur dan Cindy membuat kesalahan.

Kedua polisi itu lalu mengunjungi Cindy di rumah sakit. Mereka ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan remaja 17 tahun itu benar. Berbagai pertanyaan diajukan dan Cindy bersikeras bahwa kesaksian yang dia berikan sudah benar. Namun, pada titik ini pula muncul sedikit keraguan dari pihak kepolisian. Sebabnya, ketika ditawari untuk menjalani tes poligraf, Cindy menolak.

Keraguan ini tidak hanya muncul dari pihak kepolisian. Dalam diri Cindy pun muncul rasa tidak percaya. Dengan memintanya menjalani tes deteksi kebohongan, Cindy merasa bahwa dua polisi yang menangani kasus ini tidak mempercayainya. Karena polisi tidak percaya pada dirinya, Cindy pun jadi tidak percaya kepada mereka.

Karena ini Cindy kemudian menghilang. Dengan dicekam ketakutan, gadis berambut coklat itu memutuskan pergi dari Anchorage. Tak seorang pun bisa menemukannya sampai bertahun-tahun kemudian. Di sisi lain, Kepolisian Anchorage kehilangan korban sekaligus saksi yang sebenarnya paling bisa mereka andalkan. Kasus ini pun sempat terlupakan sejenak.

***

2 September 1983. Sebuah proyek pembangunan jalan di area Sungai Knik mesti terhenti ketika para pekerja menemukan sesuatu yang tidak biasa: jenazah.

Polisi dipanggil ke area tersebut dan, setelah jenazah diangkat seutuhnya dari dalam tanah, mereka turut menemukan selongsong peluru berkaliber .223 seperti di tempat Sherry dikuburkan. Selongsong peluru itu lantas dikirim ke laboratorium, sementara jenazah yang baru saja ditemukan segera diautopsi oleh dokter forensik.

Hasilnya, diketahui bahwa selongsong peluru kaliber .223 itu berasal dari senapan yang sama dengan peluru di kuburan Sherry. Pada jenazah itu pun ditemukan beberapa luka tembak yang menjadi penyebab kematian. Lagi-lagi dengan menggunakan rontgen gigi, polisi berhasil menemukan identitas jenazah tersebut. Namanya Paula Goulding dan dia baru berusia 17 tahun ketika tewas. Sama halnya dengan Sherry dan Cindy, Paula pun seorang penari erotis. Paula telah dilaporkan hilang lima bulan sebelumnya.

Ditemukannya jasad Paula beserta selongsong peluru tersebut menjadi momen di mana polisi bisa mengonfirmasi bahwa mereka tengah berhadapan dengan seorang pembunuh berantai. Sebelum ini, yang ada hanya dugaan dan kecurigaan. Dengan bukti yang lebih kuat, mereka pun bisa membuat kesimpulan kuat.

Polisi yakin bahwa pelakunya adalah Robert. Akan tetapi, dengan bukti yang sudah mereka temukan, mereka belum bisa menarik benang merah ke arah Robert. Pada titik ini, penyelidikan tidak lagi dilakukan hanya oleh Kepolisian Anchorage tetapi juga Polisi Negara Bagian Alaska.

Salah seorang detektif dari Polisi Negara Bagian Alaska, Sersan Glenn Flothe, kemudian berinisiatif untuk menghubungi agen Biro Investigasi Federal (FBI) yang memiliki pengalaman dengan pembunuh berantai. Agen FBI itu bernama John Douglas.

Kurang lebih sepuluh tahun sebelumnya, John menjadi salah satu dari agen FBI yang ditugaskan untuk menjalankan Unit Ilmu Perilaku (Behavioural Science Unit) dengan bantuan profesor dari Boston College, Ann Burgess. FBI kala itu sudah melihat adanya kenaikan dalam kasus pembunuhan berantai. Namun, mereka sama sekali belum memahami ilmu di balik perilaku ini.

BSU FBI ini kemudian menjalankan tugasnya dengan mewawancarai sejumlah pembunuh berantai seperti Edmund Kemper (Co-Ed Killer), David Berkowitz (Son of Sam), dan Charles Manson (meskipun Manson sebenarnya tidak pernah membunuh langsung). Dari wawancara-wawancara ini, mereka bisa mendapatkan informasi mengenai perilaku para pembunuh berantai.

Pada 1981, ilmu yang dimiliki BSU ini digunakan untuk menangkap Wayne Williams, seorang pembunuh berantai dengan 28 korban di Atlanta. Sebagian besar korban Wayne adalah anak-anak. Atlanta sempat menjadi kota yang mencekam karena kasus ini. Wayne akhirnya ditangkap setelah beraksi selama dua tahun.

Keberhasilan John mengungkap pembunuhan berantai di Atlanta membuat namanya dikenal luas. Reputasi sang agen pun tak luput dari pantauan para penegak hukum Alaska. Setelah mendapat cerita dari Sersan Flothe, John setuju untuk membuat profil pembunuh berantai Alaska tersebut.

Profil yang dikirimkan John membuat para penyelidik Alaska terkejut. Di situ disebutkan bahwa pelaku adalah pria berusia 40-an yang mudah berbaur di masyarakat, disukai banyak orang dan bisa berhubungan baik dengan orang lain, terlihat normal, hidup berkecukupan karena memiliki bisnis yang sukses, menyukai alam bebas dan berburu, serta memiliki cacat dalam berbicara entah cadel atau gagap. Semua ciri yang disebutkan John itu ada dalam diri Robert Hansen.

Profil yang dikirimkan John itu kemudian disampaikan kepada hakim setempat. Sang hakim pun tahu reputasi John sehingga dia tak ragu lagi untuk menerbitkan surat perintah penggeledahan untuk kediaman Robert. Kali ini, surat perintah tersebut diberikan kepada agen FBI setempat. Kali ini pula para penegak hukum berhasil menemukan bukti-bukti yang sangat kuat.

Ada selembar peta yang mereka temukan di rumah Robert. Peta itu merupakan peta untuk berburu dan di sana terdapat 37 tanda X yang digoreskan oleh Robert. Beberapa tanda X itu menunjukkan lokasi tempat ditemukannya empat jasad perempuan tadi. Mereka juga menemukan sepucuk senapan berkaliber .223 serta sekantong perhiasan korban yang salah satunya merupakan milik Sherry.

Ketika para agen FBI mengangkut barang-barang bukti yang mereka temukan, seorang perempuan yang merupakan tetangga Robert datang menghampiri. Perempuan itu tampak ketakutan tetapi memberanikan diri untuk berbicara dengan salah satu agen.

"Kalian harus tahu bahwa suamiku berkawan dengan Robert. Belum lama ini dia berbohong kepada polisi untuk menjadi alibi Robert, tapi dia sebenarnya tidak tahu apa-apa. Dia tidak mengerti kalau Robert terlibat dalam masalah besar. Aku juga tidak tahu apa-apa tetapi aku ingin berkata bahwa suamiku berbohong. Dia tidak bersama Robert malam itu," ucap perempuan itu.

Kesaksian sang tetangga ini menjadi akhir bagi petualangan kriminal Robert.

***

"Baiklah, aku mengaku," kata Robert. "Tapi ada satu syarat."

Robert sadar bahwa alibinya sudah runtuh dan dia tak punya pilihan selain mengaku. Namun, dia hanya bersedia mengakui pembunuhan empat orang yang jasadnya sudah ditemukan. Secara tidak mengejutkan, para penegak hukum menyetujui permintaan Robert. Mereka yakin bahwa setidaknya ada 37 perempuan yang tewas di tangan Robert. Mereka ingin mengetahui identitas para korban serta di mana mereka dikubur.

Kesepakatan tercapai. Robert hanya akan dihukum atas pembunuhan empat perempuan yang jasadnya telah ditemukan. Dengan kesepakatan yang telah ditandatangani, dia menceritakan semuanya.

"Biasanya aku berkendara di malam hari, berkeliling Anchorage untuk mencari perempuan  muda yang lemah. Aku biasanya mencari pelacur yang bekerja sendirian di jalan atau penari erotis yang kudekati di dalam klab," tutur Robert.

Pria 44 tahun itu mengaku sebagai seorang fotografer profesional kepada para korban. Dia selalu memuji kecantikan mereka dan menjanjikan bayaran yang menggiurkan jika mereka mau difoto. Banyak di antara korban ini yang ingin menjadi model sehingga mereka melihat Robert sebagai kesempatan untuk lepas dari dunia malam. Mereka pun setuju untuk diambil gambarnya oleh Robert.

Setelah calon korbannya setuju, Robert berkata pada mereka untuk menemuinya pada keesokan harinya di sebuah tempat publik, biasanya restoran cepat saji. Tempat-tempat ini dipilih agar para korban tadi tidak mencurigai Robert. Akan tetapi, keesokan harinya, Robert bakal datang lebih awal ke restoran cepat saji yang disepakati dan bersembunyi di dalam mobil. Robert ingin melihat apakah mereka datang sendirian atau tidak.

Ketika sudah memastikan bahwa korban itu datang sendirian, Robert meminta mereka masuk ke dalam mobil. Korban tidak tahu bahwa sudah terdapat borgol di pintu sisi penumpang. Ketika masuk, Robert langsung memborgol tangan mereka ke pintu mobil sehingga para korban tak bisa kabur. Tak lupa, Robert juga menodongkan pistol ke kepala korban, persis seperti yang dilakukannya terhadap Cindy.

Saking seringnya melakukan ini, Robert mengatakan bahwa memborgol dan menodongkan pistol ke kepala para perempuan itu sudah menjadi memori otot baginya. Dengan begitu, semakin kerap Robert melakukannya, semakin cepat pula dia melakukannya.

Sama seperti Cindy, para korban itu dibawa ke rumah Robert di daerah Muldoon, disekap, dirantai, diperkosa, dan disiksa. Setelah itu mereka dibawa ke lapangan udara Merrill Field, dimasukkan ke pesawat Piper Super Cub miliknya, dan diterbangkan ke kabin Robert di wilayah hutan Sungai Knik.

Sesampainya di kabin, korban itu ditelanjangi dan dipakaikan penutup mata. Dengan tangan masih dalam kondisi terborgol, mereka itu disuruhnya berlari menyelamatkan diri. Para korban percaya bahwa nasib akhirnya berpihak pada mereka; bahwa mereka akan terus hidup apabila bisa melarikan diri.

Namun, yang mereka tidak tahu adalah bahwa di sekeliling kabin Robert terdapat Sungai Knik yang dalam. Pepohonan dengan formasi yang rapat juga bakal membuat siapa pun bakal dengan mudah tersandung dan jatuh. Robert sebenarnya tak pernah ingin membiarkan mereka hidup. Dia ingin memburu mereka hidup-hidup.

Robert memburu korban-korbannya itu persis seperti dia memburu hewan. Ada kalanya dia cuma melihat mereka itu berlari tak tentu arah dan terjatuh. Ada kalanya dia mendekati mereka dan melukai tubuh dengan belati supaya ada jejak darah yang bisa dia ikuti. Sampai akhirnya, ketika korban tak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan, barulah Robert menembaki mereka sampai tewas dengan senapan berburunya.

Setelah korban-korban itu tewas, Robert melepas borgol dan memakaikan kembali pakaian mereka. Namun, dia bakal mengambil perhiasan milik para korban tersebut untuk dijadikan koleksi. Para korban tersebut lalu dikuburkan di liang lahat yang dangkal.

Setelah mendengarkan pengakuan Robert, FBI dan para polisi Alaska melakukan pencarian ke semua titik penguburan. Akan tetapi, mereka hanya mampu menemukan delapan jasad. Sisanya tak ditemukan entah karena sudah dimakan binatang hutan atau Robert tidak benar-benar ingat di mana dia menguburkan mereka.

Robert sendiri tidak pernah benar-benar mengonfirmasi bahwa dia telah membunuh 37 orang. Akan tetapi, FBI yakin bahwa korban Robert sebenarnya lebih dari itu karena ada peta lain yang berhasil mereka temukan. Setidaknya, ada 17 korban lain yang diduga telah dihabisi oleh Robert.

Kendati begitu, dengan pengakuannya tadi, pengadilan sudah bisa langsung menjatuhkan vonis bersalah kepada Robert. Dia dihukum 461 tahun penjara plus satu hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan bebas bersyarat. Pada 21 Agustus 2014, Robert mati di dalam tahanan pada usia 75 tahun.

Kisah ini sendiri salah satunya diabadikan lewat film "The Frozen Ground" (2013) yang dibintangi Nicolas Cage, John Cusack, dan Vanessa Hudgens. Untuk membuat film ini, sutradara Scott Walker melakukan riset mendalam dengan menemui beberapa tokoh yang terlibat dalam perburuan Robert, salah satunya Sersan Glenn Flothe. Dari Glenn ini pulalah Scott Walker berhasil menemukan sosok Cindy Paulson. Glenn berkata bahwa Cindy-lah pahlawan yang sesungguhnya di balik penangkapan Robert.

Tidak diketahui secara persis di mana Cindy berada sekarang. Akan tetapi, berbagai sumber menyebutkan bahwa kini dia masih tinggal di Alaska bersama keluarganya. Cindy memiliki suami serta tiga orang anak dan hidupnya sudah jauh lebih baik. Bahkan, Cindy sendiri terlibat langsung dalam pembuatan film dengan menceritakan pengalamannya kepada aktor yang memerankan dirinya, Vanessa Hudgens. Namun, setelah pembuatan film selesai, Cindy memilih untuk menghilang dalam kedamaian.