Pindah ke Bali, Ah!

Pindah ke Bali, Ah!

Testimoni Dua Pendatang dan Orang Bali Asli

Bali selalu tampak menggiurkan. Setidaknya begitulah perasaan saya sebagai orang yang tak pernah menetap lama di Bali. Dalam imajinasi kelas menengah ngehe kayak saya ini, Bali adalah surganya tempat ketenangan dan kebahagiaan–beda dengan Jakarta yang cuma punya uang tapi bikin hidup makin ringsek.

Imaji tersebut semakin dikokohkan oleh media sosial. Pelan tapi pasti, banyak orang termasuk saya merajut mimpi untuk menetap di Bali.

Belum lama ini dua orang kawan yang asli orang Jakarta memutuskan pindah ke Bali. “Gue pengen hidup tenang,” kata salah seorang teman. Saya kikuk menanggapinya. Enggan membantah, enggan juga membenarkan. Meski hasrat tinggal di Bali bergejolak, Jakarta tetaplah sebuah magnet yang senantiasa menahanmu untuk tetap tinggal.

Pendek kata, saya mencintai sekaligus membenci Jakarta. Sial. Untuk menjawab segala pertanyaan soal Bali, saya mewawancarai dua orang kawan yang memutuskan menetap di sana. 

Harmoko Gumelar Ajiwardana, Penulis (38 tahun)

Keputusan gue pindah ke Bali karena pengen cari plot lain dalam hidup aja. Gimana rasanya gak tinggal di Jakarta. Bali salah satu tempat yang menawarkan seribu kemungkinan lain untuk terjadi dibanding tempat lain di negara kita. Tapi juga gak perlu terlalu banting tulang. Kasarnya, kita cuma butuh laptop dan kamar kos buat bisa kerja. Selebihnya bertualang. 

Sebelum boyongan barang mutusin pindah ke Bali akhir 2021, gue sempet ngelakuin percobaan pertama selama tiga bulan tinggal di Bali tahun 2017. Di saat itu gue melihat Bali lagi dalam fase transformasi, perpindahan generasi, banyak orang-orang baru, anak-anak muda yang berani keluar dari stereotipe. Gue ngomong dari sudut pandang ranah subkultur aja; ada banyak kelab musik baru, bar tematis, kolektif baru bikin galeri, skatepark, toko buku, record store, studio tato. 

Gue pergi ke restoran pizza Bukowski, Hanks namanya, ada muka dia segede gaban di tangga masuknya. Kontribusi cutting edge buat masyarakat, dan pastinya ke kas negara juga.

Menurut gue itu tindakan politis. Hal-hal segar itu membuat orang-orang freak pada keluar kandang, nongkrong, membuka jalur bagi kemungkinan lain. Band baru yang bagus jadi muncul, label rekaman, DJ, seniman bla bla bla. Tahun 2017 itu gue pertama kali ke Canggu dan liat di rolling door toko yang tutup tulisan gede, ‘SLUTS LOVE CANGGU’ dan di sekelilingnya—nongkrong mengerubungi sebuah minimarket manusia dari segala penjuru dunia, saling bicara berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain, dari satu topik ke topik lain, ngobrolin hal-hal yang gak terduga kayak jualan senjata di Brazil atau holiganisme di Berlin. Anjing, pulau ini seru! International scenester. 

Tiba-tiba kita jadi punya teman dari seluruh dunia. Di saat yang bersamaan orang-orang dari seluruh Indonesia juga merantau ke Bali. Anak-anak lokal Bali pun bergeliat. Kombinasi tiga elemen itu yang bikin Bali jadi menarik, akulturasi antara anak lokal, para perantau, dan ekspatriat. Lahir banyak plot yang gue maksud tadi. Ide-ide baru yang ngebuat gue tetep pengen hidup. 

Bisa tiba-tiba kerja di perusahaan asal Swedia atau Rusia, ketemu orang-orang gila yang ajaib. Atau sama-sama seniman dari Jogja. Yang hancur juga banyak. Cobain jadi merasa selevel sama orang dari negara maju, bergaul sama mereka, latihan tinggal di Eropa. Biar gak minder kalau ngobrol Inggris. 

Memapas sedikit kesombongan anak metropolitan yang sebenernya ompong. Sebagai anak Jakarta sebenernya gue gak heran karena semua hal itu bisa juga terjadi di Jakarta. Yang jarang terjadi di Jakarta cuma satu: warung bir murah. Bukan cuma bir yang murah di Bali, tapi biaya hidup juga murah. Kosan gue cuma sejuta per bulan, kosongan sih—tapi ada AC & kamar mandi dalem. Lokasi deket ke mana-mana, kayak Mampang di Jakarta. Makan seporsi babi cuma ceban, lima belas ribu kalau mau pake sop. Seburuk-buruknya hidup gue di Bali gue masih bisa pergi ke pantai buat nongkrong di sana, dan tetep merasa cool.   

Ya, menurut gue Bali cuma sekedar tempat liburan. Fantasi kota dosa yang nikmat. Drugs murah. Musik, keliaran, homses. Ancur-ancuran. Karena memang cuma itu yang dulu gue cari dan dapetin setiap kali pergi ke Bali.  

Kalau soal kerjaan, pada dasarnya sama kayak kerjaan gue di Jakarta, beda medan aja. Hari-hari tipikal gue: bangun jam dua siang, bikin kopi, setel musik, terus bakar cimeng sambil boker buka sosmed—kayak ritual baca koran jaman dulu; bangun tidur langsung baca berita hari itu, cari tahu apa yang sedang terjadi di sekitar gue. Dan karena biasanya gue baru mulai nulis di atas jam 12 malem, jam-jam sebelumnya—kelar bosen nongkrongin sosmed—palingan baca buku atau kalau lagi mood, nerjemahin buku atau nonton film atau cari hal-hal gak penting di YouTube atau browsing Bandcamp. Hal-hal rileks yang bisa dilakuin sambil giting. Sore gue sarapan. 

Malemnya kalau ada gig keren gue dateng, atau kalau ada duit lebih ke Gimme Shelter, minum wiski kola sambil jelalatan dengerin Suicidal Tendencies diputer keras-keras. Kalau lagi gak punya duit, ya manyun, mau di kota apa pun elo tinggal. Masuk tengah malem gue mulai lanjut nulis sampe mentok. Kalau lagi gak mood nulis, ya tambah lagi wiski kolanya. Teparin cari booty call. Tapi, kan panen gak dateng tiap hari, bos!  

Selama elo berdagang sepertinya uang akan berputar keluar masuk kantong, cukup mengatrol ekonomi juga. Di samping gue dapet honor picisan dari jadi penulis partikelir. Gue bisa menulis banyak hal tentang Bali, bukan hanya subkultur tapi juga misalnya, histori budaya mereka yang antik, campurin sama isu kontemporer. Cerita soal Trunyan atau Pembantaian Jembrana. Kalau gue cukup lihai, kayaknya di Bali gak akan habis sumber cerita buat ditulisin.   

Sampe sini, gue juga lagi berusaha gimana caranya supaya bisa punya kaki di dua kota, Bali dan Jakarta. Gue butuh dua kota itu karena dua-duanya punya warna berbeda dan gue hidup di tengah-tengahnya, bolak balik seenaknya tak terikat. Kalau gue sampai bisa ngelakuin itu, bayangin berapa plot lain lagi yang bisa tercipta.


Philida Thea, Operations Manager di perusahaan wellness, Ubud 

Aku mulai stay di Bali sejak tahun 2017, on off. Awalnya aku tinggal di Canggu. Abis itu di tahun 2018 pindah ke Ubud. Nah pas pandemi aku pulang dulu ke Bandung di tahun 2021. Tahun 2022 aku balik lagi ke Bali.

Aku itu besar di Bandung. Aku sama sekali enggak pernah merantau. Menjelang lulus kuliah, aku kepikiran buat merantau dan spesifik  pengin di Bali. Kenapa Bali? Gak tau kenapa waktu itu aku punya bayangan ideal tempatku pengen merantau. Dan ternyata setelah aku cari tahu, semua bayanganku ada di Ubud. Aku pertama mengenal Ubud dari novel Dewi Lestari, aku lupa judulnya apa.

Dari novel itu, aku mulai jatuh cinta dan punya hasrat besar untuk tinggal di sana suatu hari nanti. Keinginan itu mengendap lama dan jadi manifestasi. Makanya pas tahun 2017 ada tawaran kerja di Bali, langsung aku gas saja. Tapi belum stay di Ubud, tapi di Canggu. Pas aku datang, Canggu masih belum seramai sekarang. Masih menyenangkan. Sekarang ramai banget kayak Jakarta.

Di Canggu aku bekerja untuk sebuah brand. Kepindahanku ke Bali ini sebenarnya agak spiritual, sih. Di tahun 2015 itu titik poinnya. Waktu itu, aku merasa banyak kejadian yang terjadi di hidup aku. Di titik itu aku merasa sepertinya aku butuh tempat yang bisa mengoneksikan hidup aku. Aku butuh tempat yang bisa merefleksikan hidup. Nah Ubud kayak memanggil-manggil gitu.

Baru di kemudian hari aku tahu arti Ubud itu obat. Makanya Ubud sejak dulu jadi tempat orang buat healing–jauh sebelum healing dimaknai dengan piknik, ya–Ubud jadi salah satu tempat orang untuk belajar mengenal diri sendiri. Ubud itu tempat untuk mengoneksikan diri baik lahir maupun batin. 

Di Ubud aku juga merasa belajar banyak hal. Aku mulai mencintai diriku sendiri. Mulai dari tubuh dan jiwaku. Aku mulai mengenal gimana sih gaya hidup yang sehat, pola  makan yang benar, bahkan sampai sabun yang aku pakai agar berguna buat diriku dan tidak merusak alam.

Bisa dibilang, kalau aku tidak Bali aku tidak bakal tahu semua itu lebih dalam. 

Sekarang aku bekerja untuk sebuah brand. Aku punya gaji yang bukan upah Bali. Sekarang aku tinggal di Ubud coret hehe. Kalau kamu tanya gimana biaya hidup di Bali, semua tergantung kita. Kalau aku sekarang tinggal di Gianyar kan, tempat tinggal dan makanan masih murah. Misal kamu mau makan nasi campur, dengan duit Rp15-20 ribu kamu udah dapat lauk yang komplit. Kos-kosan pun Rp1 juta juga udah bagus, full furniture. Lebih murah dari Jakarta.

Sekarang aku nyaman di Bali. Tapi besok kalau ada kemungkinan pekerjaan lain, aku terbuka untuk ke kota lain. Cuma kalau bisa dibilang Bali itu salah satu tujuan aku tinggal permanen. Kayak aku boleh kemana saja, tapi tempat pulangku ke Bali.

Setelah meminta testimoni dua orang yang hijrah ke Bali, yuk kita tanya pendapat orang Bali asli mengenai fenomena ini.

Gede Pramana

Ketika banyak orang memutuskan pindah ke Bali, menurutku gak ada masalah. Semasih bisa adaptasi dan berbaur, justru baik ya. Yang jadi masalah ketika tidak bisa adaptasi dan enggan berbaur, ini yang bikin ada jarak. Problem biasanya muncul ketika tidak saling kenal jadi tidak bisa paham satu sama lain, sehingga bukannya munculin hybrid, yang ada justru berusaha mendominasi.

Satu hal lainnya mungkin dampak yang ditimbulkan ketika perpindahan ini terjadi. Dulu kan orang dari desa pindah ke kota karena mengejar pendidikan atau untuk bekerja karena ternyata pembangunan fokusnya di kota, sehingga desa kehilangan sumber daya. Nah, kalo dari Jakarta ke Bali ini mungkin agak beda.

Sejak dibuka sebagai daerah wisata, orang Bali tidak bisa mengelak untuk membuka diri buat orang baru. Lihat saja biaya hidupnya, sebenarnya tidak relatif berbeda dengan kota-kota di Indonesia lainnya. Pilihan juga beragam, dari yang murah meriah, warung makan biasa, hingga yang luxury atau fancy restaurant juga ada. Rentang harga akomodasi juga beragam, ratusan ribu hingga jutaan. 

Justru yang agak susah mungkin transportasi, meski mulai ada upaya bikin transportasi umum, tapi perkembangannya lambat. Rasanya justru sekarang sudah mulai ramai banget, jadi mungkin kemacetan jadi hal yang perlu dicari jalan keluarnya.

Semakin ke sini mungkin perlu rule of the game yang fair dan proper, tidak hanya bagi orang yang datang ke Bali, tapi juga bagi orang Balinya. Saya punya pesan buat teman-teman yang mau pindah ke Bali. Sebelum pindah ada baiknya belajar dan memahami lingkungan barunya ya, jadi adaptasinya bisa smooth. Yang lain mungkin juga soal interaksi, sebisa mungkin ada upaya buat saling mengerti dan gak judging base on stereotype tertentu. Kalau tidak, begitu, yang terjadi justru gentrifikasi, yang malah bikin gampang tersulut ketika ada pemicu, apapun itu.