Quiet Quitting: karena Kerja untuk Hidup, Bukan Sebaliknya

Belakangan ini ramai terdengar istilah ‘quiet quitting’. Bila kita lacak asal-usulnya, ada yang bilang istilah ini memiliki kesamaan dengan konsep work to rule yang sudah lama digunakan. Contohya, pekerja kereta api Prancis pada 1938 atau gerakan Tang Ping yang viral di Tiongkok tahun lalu. Tetapi, menurut saya, konsep quiet quitting sangatlah sederhana: kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.

 

Dengan memaknai bahwa ‘bekerja’ bukan satu-satunya alasan kita untuk hidup, banyak pekerja yang menyadari bahwa ada hal-hal lain dalam hidup kita yang penting dan berharga. Entah itu keluarga, pertemanan, pasangan, hobi, maraton Hunter X Hunter dan One Piece, dan hal-hal lainnya yang bisa menjadi alasan untuk kita hidup. 

 

Betul, banyak kehidupan orang bergantung pada pekerjaannya, apalagi mereka yang sandwich generation. Banyak juga yang bilang bahwa bekerja adalah hobi karena pekerjaannya mencerminkan passion. Namun, hal menjadi berubah saat kita melihat sisi para pemberi kerja. Seberapa butuh bos terhadap kita sebagai pekerja, dan apakah kita sudah cukup membuktikan bahwa mereka memang membutuhkan kita?

 

Di sinilah fenomena quiet quitting terjadi. Bayangkan seorang asisten dokter gigi yang berhenti melakukan pekerjaan administratif tambahan, atau seorang guru yang menolak lembur sejak melahirkan anaknya. Fenomena quiet quitting terjadi saat pekerja mulai berhenti berusaha ‘ekstra’ di tempat kerja mereka. Di saat para bos mengglorifikasi para pekerjanya yang bekerja lebih keras di LinkedIn sebagai kisah inspiratif, para pekerja mulai bekerja cukup sesuai job desc resminya. Mereka memberlakukan work-to-rule, atau singkatnya: datang, kerjakan, lupakan. Penyebabnya? Fakta bahwa kerja keras mereka tidak disertai apresiasi dari bos. Akhirnya, mau kerja keras atau tidak, ya tidak ada bedanya.

 

Sebelum ada yang bilang para pekerja yang quiet quitting harusnya lebih bersyukur dan tidak banyak maunya, coba berempati dulu dengan mereka. Banyak dari mereka kewalahan dan tertekan karena kehilangan keseimbangan antara pekerjaan dan hidup mereka. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa work-life balance erat kaitannya dengan kesehatan mental tenaga kesehatan. Semakin besar tekanan kerja dan panjangnya jam kerja, semakin tinggi kemungkinan para pekerja mengalami burn out. 

 

Semua pekerja yang quiet quitting pasti pernah memiliki fase saat mereka semangat bekerja, bahkan dengan senang hari memberikan inisiatif lebih di tempat kerjanya. Namun, momen ketika para pekerja dipaksa terus memberikan ‘lebih’, sementara bos tidak dapat menyediakan tempat kerja yang layak, di situlah para pekerja mulai bekerja seadanya untuk hidup, bukan sebaliknya. 

 

Berbicara tentang tempat kerja yang layak, di sini saya tidak hanya berbicara tentang upah, jam kerja, maupun beban kerja saja. Hal-hal seperti apresiasi yang sepadan dengan inisiatif lebih pekerjanya, memberikan credit untuk mengakui kontribusi pekerjanya, pengambilan keputusan yang demokratis di tempat kerja, serta kesempatan untuk pekerja mengembangkan kemampuan sesuai kebutuhannya juga penting. Para pekerja pastinya sudah saling memahami apa faktor yang bisa membuat tempat kerja mereka semakin ideal. Tetapi masalahnya, apakah para bos akan langsung mendengarkan mereka? 

 

Di sini saya hendak bercerita tentang dua teman saya. Teman pertama telah bekerja 7 tahun di sebuah LSM, sementara teman kedua bekerja kurang dari 1 tahun di sebuah perusahaan. Teman pertama memilih untuk melakukan quiet quitting secara berkala di dalam pekerjaannya, bekerja biasa-biasa saja dan mengurangi inisiatifnya saat dia sadar gajinya tidak pernah naik meskipun dana yang diterima bosnya cukup besar. Sementara teman kedua juga diupah rendah dan didiskriminasi dibandingkan koleganya yang orang Eropa, padahal pekerjaan mereka sama. 

 

Namun, berbeda dengan teman pertama, teman kedua memberanikan diri untuk bernegosiasi di sesi empat mata dengan bos. Negosiasinya berujung pada tawaran untuk menaikkan gajinya saja, tapi teman kedua saya menolak. Dia mengorganisir teman-teman sekantornya untuk ramai-ramai mengajukan protes terkait perusahaan tempat kerjanya di suatu platform curhat pekerja anonim. 

 

Para bos yang kebakaran jenggot akhirnya menaikkan dua kali lipat gaji teman kedua saya dan semua pekerja di kantornya. Belakangan, saya dengar 70% para pekerja yang protes (termasuk teman kedua saya) sudah keluar, tapi tempat kerjanya sudah berubah menjadi semakin layak. Apa yang teman kedua saya lakukan ini adalah strategi klasik yang sudah ada bergenerasi-generasi, yaitu berserikat.

 

Tentu, banyak faktor yang membuat orang seperti teman kedua saya yang berani berserikat. Baik teman pertama maupun teman kedua saya sama-sama mendapat tempat kerja yang tidak layak dan bos yang tidak menghargai mereka dengan baik. Yang membedakan adalah teman kedua saya sadar bahwa dia tidak resah sendirian. Teman kedua saya sadar bahwa untuk bisa kerja dan hidup layak, perlu ada upaya untuk mengganti budaya di tempat kerjanya dan tak bergantung pada ‘niat baik’ bosnya saja. 

 

Lantas bagaimana dengan teman pertama saya yang hanya melakukan quiet quitting sampai akhirnya betul-betul keluar dari tempat kerjanya? Apakah mungkin ada di antara kalian, para pekerja yang membaca tulisan ini juga sedang melakukan quiet quitting


Tenang. Walaupun masih di level individu, quiet quitting pun pada dasarnya adalah perjuangan untuk kita lebih menghargai diri sendiri di tempat kerja, sama seperti berserikat. Keduanya dilakukan atas dasar kesadaran kita bahwa kita sesungguhnya bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja saja. Tunggu beberapa saat saja, saya yakin para quiet quitters akan saling berkumpul, bertukar cerita, dan saling memantik keberanian dalam dirinya untuk membuat tempat kerjanya lebih layak dan mendorong bosnya lebih menghargainya lagi. Niscaya, setelah quiet quitting, terbitlah para pekerja yang berserikat dan pekerjaan yang lebih layak bagi semua.