Sekarang, Gaya Marah-marah Risma Tak Lagi Membuat Kita Terkesima

Sekarang, Gaya Marah-Marah Risma Tak Lagi Membuat Kita Terkesima

 

Menjelang pemilu 2024, kelakuan politisi semakin lucu-lucu. Salah satunya Tri Rismaharini, Menteri Sosial kita. Yang terbaru, Risma tengah mencuci mobil berplat merah. Aksi ini menuai kritikan warganet.

 

Dari zaman Risma masih menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, ia sudah kerap melakukan aksi-aksi ajaib. Bedanya, dulu aksinya dipuja-puja warga tapi sekarang justru dihina-hina. Apa saja tingkah laku di luar nalar yang pernah dilakukan Risma?

 

Kelakuan-Kelakuan Out of The Box Risma

 

  1. Cuci Mobil Dinas

Video empat puluh detik memperlihatkan Risma asyik mencuci mobil dinas dengan pajak yang mati. Banyak pihak menilai itu sebagai pencitraan. Tetapi PDIP sendiri heran mengapa Risma disebut pencitraan. Bagi mereka, kadernya justru menunjukkan keteladanan bahwa aset-aset negara itu harus dirawat. Kabiro Humas Kemensos, Romal Uli Jaya Sinaga menilai bahwa aksi bersih-bersih di kantor Kemensos sudah biasa dilakukan Risma. Pegawai Kemensos justru menanggapi positif hal itu. “Itu kan bukan publikasi umum, tapi kan Ibu (Risma) emang gitu orangnya,” kata Romal.

 

  1. Hobi Sujud di Depan Orang

Risma langsung sujud di kaki seorang pengajar Sekolah Luar Biasa (SLB) kala ditagih soal janji hibah dan perbaikan bangunan. Tapi Risma berkilah, ia menekankan bahwa sekolah harus lebih concern terhadap siswanya, setelah lulus akan jadi apa mereka? Tetapi pengajar SLB itu terus meminta janji hibah Risma. “Bu saya sudah sujud lho, Bu, Ibu mau saya sujud lagi? Saya enggak masalah, Bu,” ujar Risma. Akhirnya, Resmi memutuskan untuk memenuhi janji perbaikan bangunan, namun janji hibah tak ia penuhi. Sebelum aksi ini, Risma juga pernah sujud di kaki seorang dokter, waktu beraudiensi di Rumah Sakit Umum Dr Soetomo. Tingginya angka positif covid membuat Risma dan pemerintah Surabaya terus disalahkan. Ia menangis sembari sujud dua kali di depan sang dokter.

 

Aksi sujud ini menuai pro dan kontra dari warganet. Sebagian dibuat kagum karena Risma berani mengakui kesalahan, namun sebagian pihak merasa muak, aksinya dinilai hanya menunjukkan sikap melankolis dan lebih mirip drama sandiwara.

 

  1. Blusukan Melulu

Di hari pertama kerja sebagai Mensos, Risma langsung blusukan ke bantaran Sungai Ciliwung di dekat kantor Kemensos sampai ke kolong fly over Pramuka. Janji relokasi, tempat tinggal, dan pelatihan usaha dilontarkan oleh Risma kepada para pemulung dan gelandangan. Selanjutnya, Risma juga blusukan ke kolong Tol Gedong Panjang, Pluit, Penjaringan. Ia berjanji hendak mencarikan sekolah dan beasiswa untuk anak-anak di sana. Ia juga menjanjikan pemberdayaan perempuan di sana melalui usaha warung pecel lele. 

 

  1. Terkenal Suka Marah-Marah

Marah-marah adalah salah satu hobi Risma. Awalnya warganet kagum dengan aksi tegas Risma. Misalnya, aksi marah-marah Risma terhadap pegawai Disdukcapil Surabaya. Proses pembuatan e-KTP yang lambat membuat Risma geram. “Kalau ada bapak-bapak wira-wiri di jalan urus e-KTP, terus (alami) kecelakaan, kamu berdosa,” kata Risma. Yang tak kalah ikonik, Risma sempat marah-marah kepada para demonstran yang merusak fasilitas umum dan taman kota. Ia berdialog dengan salah satu demonstran asal Madiun. “Kamu tahu, aku bangun ini untuk rakyatku juga, kenapa kamu rusak kotaku? Kenapa kamu ndak rusak kotamu sendiri,” kata Risma.

 

Yang terbaru, Risma marah-marah terhadap pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) karena tak menjawab dengan benar soal data PKH Kabupaten Gorontalo. “Kamu tak tembak ya!” maki Risma. Bupati Gorontalo pun mengaku tersinggung atas sikap Risma terhadap warganya itu.

 

Pencitraan Risma Sudah Ketinggalan Zaman?

Meski sempat menuai pujian, aksi marah-marah Risma mulai dipertanyakan esensinya. Aksi marah-marah sebenarnya adalah bentuk pencitraan yang jadul. Bila dilakukan di era reformasi, bentuk komunikasi macam itu mungkin akan terus berhasil. Sebab, di era itu, kita memang membutuhkan sosok pemimpin tegas dan berani. Tetapi, di era digital ini, menurut peneliti media sosial Institute for Digital Democracy (IDD), beredarnya video marah-marah yang dapat dilihat berulang kali, akan membuat publik bosan dan tak simpati.

 

Pahitnya, rekam jejak marah-marah ini justru bisa menjadi bumerang untuk Risma. Bisa jadi oknum tak bertanggung jawab mengemas konten ini menjadi negatif untuk menjatuhkannya.

 

Aksi marah-marah Risma semakin tak wajar. Kekerasan verbal dan rasis mewarnai amarahnya. Selain ancaman “tak tembak,” Risma juga menyakiti hati warga Papua ketika ia memarahi pegawai Kemensos. Risma mengancam akan memutasi pegawai yang tak becus ke Papua. Ini mengisyaratkan bisa jadi Risma memandang Papua sebelah mata dan menjadi tempat bagi orang buangan. Politisi pun dibuat geleng-geleng dengan hobi marah-marah Risma, ramai-ramai mereka menyarankan Risma untuk ikut terapi kesabaran.

 

Selanjutnya, soal blusukan, banyak pihak menilai aksi ini hanya settingan dan haus pencitraan. Kegiatan ini dinilai tak memiliki urgensi. Setelah blusukan, tak ada kebijakan atau perubahan baru yang keluar dari Kementerian Sosial. Sebagian pihak menuding langkah ini hanya ikut-ikutan Jokowi.

 

Ada juga yang menudingnya belum move on dari Surabaya. Sebab aksi seperti ini kerap ia lakukan ketika masih menjadi Wali Kota Surabaya. “Kalau datang ke Jakarta dan kemudian datang ke kolong dan sebagainya, ternyata di Surabaya masih banyak sekali atau masih banyak yang begitu. Apakah beliau sedang kangen-kangenan dengan Surabaya sehingga di Jakarta ke kolong juga?” kritik Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

 

Sebenarnya, blusukan adalah kegiatan yang positif, karena membuat pemimpin menjadi kenal dengan lingkungannya. Tetapi bila dilakukan secara berlebihan, akan tampak gila pencitraan. Ada baiknya, daripada blusukan, Risma dkk menyelesaikan PR Kemensos terlebih dahulu, misalnya masalah bantuan sosial (bansos).

 

Gaya Komunikasi Politisi Macam Apa yang Disukai?

 

Pernah lihat cuitan-cuitan dari Ridwan Kamil atau RK di media sosial? Gaya komunikasi interaktif ini mendulang poin unggul, skor RK menempati angka 73,4, lebih unggul dari Ganjar dengan skor 73,2 dan Anies dengan skor 72,1.

 

Dalam membangun citranya, RK mem-branding dirinya sebagai pendengar yang baik dan tidak reaktif. Ia juga melakukan pendekatan terhadap generasi Z dan generasi millenial yang lekat dengan komunikasi visual. Ia pun meluncurkan Pundit Sticker di PlayStore, sebuah sticker chatting bergambar RK.

 

Bila Risma mengamuk kepada perusak taman, RK memilih menghukum perusak taman kota dengan push up atau membersihkan Jalanan Braga. Aksi ini menuai pujian, sebab dinilai lebih ada efeknya ketimbang marah-marah.

 

Tak melulu harus interaktif dengan masyarakat, membangun citra positif dari politisi juga bisa dimulai lewat keluarga. Contohnya yang baru-baru ini dilakukan Menteri Luar Negeri kita, Retno Marsudi, yang ngemper di jalanan sambil momong cucu. Branding bahwa “Menteri juga manusia” atau “Menteri juga emak-emak pada umumnya” mulai disematkan jadi pujian untuk Retno. Berkat foto momong cucu itu, Retno Marsudi dilabeli sebagai sosok yang sederhana

 

Sebelum Retno Marsudi, ada juga Jokowi yang hobi momong cucu dan kerap menuai komentar gemas dari warganet. Ia juga sepertinya adalah Presiden Indonesia yang sering diajak selfie. Terkadang, Jokowi justru menawarkan untuk memegang handphone warga dan mengecek hasil selfie-nya. “Jika kurang bagus, diulang lagi ya?” Kata Jokowi. Aksi ini membuat masyarakat melihat Jokowi sebagai sosok yang dekat dengan mereka. Ditambah, anak-anak Jokowi yang suka guyon dengan warganet, tentunya membantu menaikkan citra positif Bapak mereka.

 

Sederet gaya komunikasi dan upaya pembentukan citra positif para politisi ini, akankah mempengaruhi Pemilu 2024?