Tak Ada yang Lebih Menyesakkan Dompet Daripada Harga Tiket Pesawat

Rio, salah satu penulis kami, tiba-tiba muncul ke group chat kantor membawa pesan paling seram: dia ketinggalan pesawat H-7 Lebaran. 

Nasib nahas itu tidak hanya terjadi kepada dirinya, tapi juga empat orang lain. Gontok-gontokan pun terjadi, tapi maskapai tetap keukeuh. Mereka hanya mau memberikan kompensasi sebesar 10% dari harga tiket. 

Harga tiket mau apapun modanya memang lagi mahal-mahalnya—maklum, high season karena Lebaran dan cuti bersama. Pemerintah sendiri sampai bilang harga tiket pesawat sekarang hampir menyentuh tarif batas atas (TBA).

Tapi pernah gak kepikiran kenapa maskapai bisa matok harga segitu?

Jadi ada beberapa faktor yang menentukan harga tiket pesawat. Pertama, jelas harga avtur, lalu kelas penerbangan, jenis maskapai, frekuensi penerbangan di rute tersebut, jumlah transit, lalu turn around time (TAT) pesawat dibandingkan dengan waktu penerbangan.


Nah, alasan kenapa maskapai lokal bisa mematok harga tinggi karena tingkat kompetisinya rendah. Buat negara sebesar Indonesia, jumlah maskapainya hanya ada 13. Bandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya yang daerahnya tidak sebesar Indonesia.

[tabel Jumlah Maskapai Beberapa Negara ASEAN]
Indonesia: 13
Singapura: 3
Malaysia: 7
Thailand: 8
Vietnam: 7
Filipina: 12

Tak hanya itu, jumlah penumpang sekarang masih belum mencapai tingkat sebelum pandemi. Laporan PWC mengungkapkan jumlah penumpang pesawat domestik 62,7 juta (81,7% dari jumlah penumpang tahun 2019). Jumlah pesawat yang beroperasi menurun, tapi biaya operasional seperti sewa hanggar dan lain-lain masih terus berjalan. Jadilah penumpang yang akhirnya menanggung beban.  
Garuda Indonesia operated 71 planes (50 percent of the 142 aircraft operated in 2019), Citilink operated 59 aircraft (89.4 percent of the 66 aircraft operated in 2019) and the Lion Air Group operated 298 aircraft (85.1 percent of the 350 aircraft it operated in 2019).

Data Penerbangan Indonesia - Google Sheets

Infografik price/km

Kalau dilihat harga per kilometernya, harga penerbangan domestik Indonesia dengan negara-negara lain sebenarnya tidak beda jauh. Malah ada yang lebih mahal. Tapi kita juga perlu paham UMR dan biaya beli mereka lebih tinggi dari kita. Jadi ya, wajar saja kalau pada ngeluh tiket pesawat mahal dan memilih untuk tidak mudik. 

Selain jumlah penerbangan kita yang terbatas, alasan lainnya adalah regulasi harga tiket Indonesia. Peraturan tarif batas atas yang ditetapkan pemerintah tahun 2019 masih menggunakan kurs USD tahun itu (Rp 10.000). Padahal kurs sekarang sudah menyentuh Rp 15.887 (kurs per 7 April 2024) yang berimbas ke kenaikan harga avtur. Sialnya, kurs per 22 April 2024 sudah naik ke angka Rp 16.247, jadi bisa dibayangkan beban perusahaan penerbangan semakin berat.

Makanya maskapai Indonesia kembali memprotes aturan tarif batas atas pemerintah. Namun, menaikkan harga tiket bakal membuat masyarakat semakin ogah naik pesawat. Padahal, menarik orang-orang untuk naik pesawat adalah faktor krusial untuk menurunkan harga tiket. 

Masalah ini membuat pemerintah miris—terutama menteri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno. Ia menargetkan perjalanan domestik tahun 2024 bisa naik ke 1,2-1,5 miliar perjalanan tapi kalau situasinya seperti ini tapi dengan situasi seperti ini jelas tidak mungkin.

Katanya sih, trio kementerian—Kemenparekraf, Kemenhub, dan Kementerian BUMN—akan berdiskusi soal harga tiket dengan para maskapai. Mari kita lihat beberapa bulan ke depan~