Tentang Bunuh Diri: Tabu Tapi Nyata

 

*TRIGGER WARNING*

Konten dan pembahasan dalam tulisan ini bisa jadi menimbulkan pikiran dan perasaan tidak nyaman bagi pembaca. Bacalah dengan memahami risiko dan kondisi psikologis Anda. Jika kondisi tidak nyaman terus berlanjut, segeralah cari bantuan profesional kesehatan mental.

 

“Mau bunuh diri? Kurang doa tuh!”

 

Pernah mendengar komentar ini? Salah satu komentar yang mungkin seringkali kita dengar, khususnya di Indonesia, setiap mendengar berita tentang bunuh diri. Padahal menurut berbagai penelitian, perilaku bunuh diri itu sangatlah kompleks. Banyak sekali faktor penyebab, tanda peringatan, serta pemicu seseorang memiliki perilaku bunuh diri. Namun, kurangnya informasi dan kesadaran masyarakat menimbulkan banyak kesalahpahaman mengenai bunuh diri– sehingga isu ini menjadi topik yang sensitif dan tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Padahal di Indonesia, terdapat lebih dari 670  16.000 kasus bunuh diri per tahun dan terus meningkat setiap tahunnya, terlebih di masa pandemi COVID-19 selama dua tahun terakhir.

 

Meningkatnya kasus bunuh diri tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga menjadi perhatian dunia. Setiap tahunnya, terdapat dua tanggal penting untuk meningkatkan kesadaran akan isu bunuh diri, yaitu tanggal 10 September sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia dan tanggal 19 November sebagai Hari Penyintas Kehilangan Bunuh Diri Internasional. Pada dua hari tersebut, masyarakat dunia diajak untuk berperan aktif dalam pencegahan bunuh diri. Hari-hari tersebut juga mengingatkan bahwa peristiwa bunuh diri dapat berdampak ke banyak orang, sehingga ini merupakan isu kita bersama. Karena itu, mari kita belajar dan mengenali lebih jauh tentang isu bunuh diri!

 

Tentang Bunuh Diri

Bunuh diri didefinisikan sebagai suatu tindakan yang bertujuan untuk mengakhiri hidup diri sendiri (APA, 2013). Bunuh diri tidak terbatas pada perilaku percobaan bunuh diri (suicide attempt), namun mencakup pemikiran bunuh diri (suicide ideation). Pemikiran bunuh diri bisa dimiliki dalam dua bentuk, yaitu: (1) Pemikiran pasif/implist, artinya pemikiran yang mengarah pada mengakhiri hidup meski tidak disampaikan secara langsung seperti “mau hilang saja” atau “mau tidur dan enggak bangun lagi”; dan (2) Pemikiran aktif/eksplisit artinya pemikiran yang menyatakan secara jelas keinginan untuk mengakhiri hidup seperti “aku mau mati” atau “aku enggak mau hidup”.

 

Mitos & Fakta Bunuh Diri

Salah satu penyebab munculnya stigma terkait bunuh diri adalah karena banyak sekali misinformasi terkait isu ini. Kita bahas yuk fakta dari 5 mitos tentang bunuh diri yang sering kita dengar di masyarakat!

 

Mitos #1 Orang yang menyakiti diri (self-harm) tandanya ingin bunuh diri.

 

Fakta: Self-harm adalah perilaku merusak bagian tubuh secara sengaja dengan tujuan menyakiti diri. Meskipun dapat dilakukan untuk mengakhiri hidup, tapi self-harm juga bisa dilakukan tanpa keinginan bunuh diri atau bisa disebut dengan Non Suicidal Self-Injury. Umumnya, self-harm digunakan sebagai cara untuk menghilangkan perasaan negatif atau komunikasi. Namun apabila perilaku ini terus dilakukan, maka berisiko memunculkan keinginan bunuh diri.

 

Mitos #2 Orang beragama tidak mungkin ingin bunuh diri.

 

Fakta: Faktanya, keinginan bunuh diri dapat dirasakan oleh siapa saja termasuk orang beragama. Walaupun agama terbukti bisa melindungi seseorang dari perilaku bunuh diri, beberapa riset lain juga menemukan agama juga bisa meningkatkan risiko bunuh diri. Adanya anggapan bahwa memiliki masalah artinya jauh dari agama, seringkali membuat orang ragu untuk mencari bantuan profesional. 

 

Mitos #3 Orang yang bilang ingin bunuh diri secara terbuka (misalnya, di media sosial) sebenarnya hanya mencari perhatian, tidak benar-benar ingin bunuh diri.

 

Fakta: Banyak anggapan bahwa orang yang ingin bunuh diri tidak menunjukkan tanda tertentu. Nyatanya, hampir semua orang yang ingin bunuh diri akan menunjukkan tanda-tanda peringatan, termasuk membicarakan keinginan bunuh diri. Saat tekanan yang dirasakan sangat besar, individu umumnya lebih sulit mengelola emosi atau perilakunya secara efektif. Kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah, sehingga perilaku mereka tampak hanya “mencari perhatian” bagi orang lain. Padahal, perilaku tersebut sebenarnya adalah sinyal permintaan tolong.

 

Mitos #4 Orang yang ingin bunuh, artinya dia depresi

 

Fakta: Tidak semua orang yang ingin bunuh diri mengalami depresi. Terdapat orang-orang yang ingin bunuh diri karena kesepian atau trauma. Bunuh diri sangatlah kompleks, tidak disebabkan oleh satu peristiwa atau gangguan psikologis tertentu. Keinginan bunuh diri dapat terbentuk dari interaksi berbagai faktor, seperti neurobiologi, riwayat hidup, lingkungan, dan peristiwa menekan. Sehingga, tidak tepat jika seseorang diberitakan bunuh diri karena satu peristiwa seperti “Depresi karena putus cinta”.

 

Mitos #5 Membicarakan keinginan bunuh diri akan menyebabkan orang tersebut ingin bunuh diri

 

Fakta: Seringkali, kita ragu bertanya meski melihat tanda-tanda peringatan di orang lain karena khawatir akan memicu keinginan bunuh dirinya. Padahal, menanyakan tentang bunuh diri tidak akan meningkatkan keinginan bunuh diri, justru menurunkan keinginannya. Menanyakan secara terbuka tanpa menghakimi dapat memberikan ruang bagi orang itu bercerita mengenai masalahnya, serta mendukung agar ia mencari bantuan ke profesional.

 

Kalau saya ingin bunuh diri, apa yang bisa saya lakukan?

 

Pertama, buatlah dirimu merasa lebih aman

Jauhkan dirimu dari benda dan lokasi yang berbahaya, atau hindari hal-hal yang dapat memicu keinginan bunuh diri. Hal-hal ini mencakup cerita film, seseorang, atau situasi yang bisa menekan diri. Hubungi orang yang dapat kamu percaya. Ceritakanlah kondisi dan perasaanmu secara terbuka, agar orang lain dapat memahami kondisimu dan membantu dengan tepat.

 

Kedua, carilah distraksi atau tenangkan emosimu

Keinginan untuk mengakhiri hidup biasanya diiringi perasaan tidak nyaman luar biasa. Penting untuk mencari cara pengalihan atau distraksi emosi yang paling efektif untukmu, misalnya menggunakan karet gelang, menggenggam es batu, mandi air dingin, menulis, atau olahraga. Selanjutnya, cobalah menghirup dan menghembuskan nafas perlahan. Fokus pada panca indera-mu, sadari apa yang kamu lihat, sentuh, dengar, cium, atau rasakan. Eksplorasi teknik-teknik relaksasi yang paling efektif.

 

Ketiga, hadapi pikiranmu

Berbagai pikiran buruk mengenai diri, pengalaman masa lalu, hingga putus asa akan masa depan membuat kita sibuk dengan pikiran sendiri. Fokus temukan alasan untuk tetap hidup, sesederhana apapun itu. Tulis hal yang masih ingin dilakukan, seperti menantikan film favorit, melihat foto orang yang disayangi, atau pergi ke tempat yang diinginkan. Ingatkan dirimu bahwa: “Emosi tidak nyaman ini hanya sementara. This too shall pass”. Harapan untuk tetap hidup bisa jadi muncul seiring waktu.

 

Empat, cari bantuan profesional

Ketika memiliki keinginan bunuh diri, artinya dirimu sedang mengalami masalah yang kompleks. Carilah bantuan profesional untuk mendampingimu mengatasi masalah itu. Mencari bantuan memang bukan hal yang mudah. Rasa malu, takut, dan tidak menerima kondisi diri bisa jadi menghambat kita untuk meminta bantuan. Namun ingat, nyawamu berharga. Mampu mengakui rasa takut dan kerentanan diri, justru menunjukkan keberanian dan itu bukan hal yang memalukan.

 

Kalau orang terdekat saya ingin bunuh diri, apa yang bisa saya lakukan? 

 

  1. Siapkan dirimu

Menemani orang yang ingin bunuh diri memerlukan energi dan waktu secara khusus. Pastikan bahwa dirimu berada dalam kondisi psikologi dan fisik yang siap untuk mendengarkan orang tersebut. Apabila kondisimu sedang tidak memungkinkan, carilah orang lain yang bisa menemaninya.

 

  1. Pastikan dirinya aman

Pastikan bahwa orang tersebut berada di situasi yang aman. Situasi aman ini mencakup lokasi yang bisa dijangkau dengan segera dan jauh dari benda-benda berbahaya (seperti benda tajam, minuman beracun). 

 

  1. Be there and listen.

Berusahalah untuk hadir dan mendengarkan selama ia bercerita, sampaikan: “Terima kasih sudah mau terbuka. Aku ada disini untuk mendengarmu”. Tetap sabar dan tenang, biarkan ia bercerita sesuai kenyamanannya. Simpan asumsi, dengarkan tanpa menghakimi. Berikanlah pertanyaan terbuka mengenai perasaan, pemikiran, dan masalahnya. Tanya secara terbuka mengenai keinginan bunuh dirinya, supaya kamu memahami secara penuh kondisinya saat ini. 

 

  1. Kenali faktor risiko dan protektif

Ajak dia mengenali faktor risiko atau hal-hal apa saja yang dapat memicu keinginan bunuh dirinya. Dengan mengenali faktor risiko, kalian bisa menentukan langkah lebih lanjut untuk penanganannya. Selanjutnya, kenali faktor protektif atau faktor yang dapat mengurangi keinginan bunuh diri. Tanyakan “Apa yang membuatmu bertahan selama ini?”. Jika memungkinkan, buat juga safety plan atau rencana yang dapat melindunginya untuk terhindar dari perilaku bunuh diri.

 

  1. Cari bantuan orang lain.

Menemani orang yang ingin bunuh diri bukan hal yang mudah. Kita tidak mungkin menemani dia selama 24/7. Sehingga, menjaga seseorang yang ingin bunuh diri tidak bisa dilakukan seorang diri. Penting untuk mencari bantuan orang lain, baik itu anggota keluarga atau sahabatnya yang dipercaya, serta profesional kesehatan mental. Jangan rahasiakan bunuh diri. Sebisa mungkin, dukung dirinya untuk membangun kembali support system yang sehat.

 

Informasi lebih lanjut untuk bantuan pencegahan bunuh diri