Tentara Punya Popor Senjata, tapi Victor Jara Punya Musik dan Cinta

Tentara Punya Popor Senjata, tapi Victor Jara Punya Musik dan Cinta

TLDR:

Amerika punya Bob Dylan. Chile punya Victor Jara
Victor Jara jadi ikon Chile ketika pemerintahan sosialis Allende berkuasa pada awal 1970an.

11 September 1973 awan hitam bergelayut di langit Chile. Sejak pagi, radio terus menerus mengulang laporan: Hari ini, di Santiago sedang terjadi kudeta militer. Presiden Allende dikepung dan diserang di istana La Moneda.

Siapa mengira sebuah pagi berubah bencana yang ditandai masuknya tentara ke dalam kampus UTE, Chile’s State Technical University, di Santiago. Para tentara berhasil merangsek masuk sambil menenteng senjata dan tank. Mahasiswa terdesak dan tak punya pilihan lain: bertahan dan menyuruk di dalam kampus. Termasuk salah satu musisi yang akan menjadi fokus tulisan ini, Victor Jara. Dalam kondisi genting tersebut, Victor berhasil pulang sekejap pada sore hari untuk menemui istrinya. Ia mengabarkan kondisi di luar yang centang parenang. 

Momen itu lekat dalam ingatan Joan Jara, istri Victor. Dalam sebuah wawancara di film dokumenter Victor Jara Massacre at the Stadium, Joan mengenang peristiwa tersebut dengan sorot mata nanar. Situasi makin gawat, jam malam sudah berlaku. Tak ada pilihan selain bertahan di kampus, ujar Victor ke Joan. Tak lama Victor pamit dan mengucapkan sepatah kata cinta. “Dia bilang dia sangat mencintai saya. Dan saya harus berani,” kata Victor kepada Joan sebelum pamit.

Kata cinta terakhir itu menandai lenyapnya Victor. Di kampus, pertempuran mahasiswa dengan Angkatan Udara (AU) makin memanas. Segenap elemen di dalam kampus mencoba melawan sekuat tenaga, sebisanya. Namun, bagaimana pun, pertempuran berjalan tak seimbang. Tentara punya senjata. Kampus berhasil ditaklukkan. Malapetaka dimulai. Semua yang bertahan di dalam kampus, termasuk Victor kemudian ditangkap dan digiring ke stadion Chile. Sekitar 5.000-6.000 tahanan politik ini datang ke stadion dengan wajah lebam, bahu robek, luka dan darah mengalir dari sekujur tubuh.

Di stadion penyiksaan makin menjadi-jadi. Bersama ribuan tahanan lain, Victor turut disiksa tentara. Bermula wajah Victor yang dikenali para tentara, ia dipisahkan dari rombongan. Sesudah itu, penyiksaan bertambah hebat buat pelantun “Manifesto” ini. “Kau si bedebah Victor Jara, penyanyi lagu komunis, akan kuajarkan kau cara bernyanyi. Dasar bedebah” kata seorang opsir.

Ia dihantam menggunakan popor senapan. Punggungnya dipukul berkali-kali. Tentara lain turut memukul. Victor tak sanggup berdiri. Ia berlutut sembari tangannya diiikat. Wajahnya bersimbah darah. Alih-alih puas melihat Victor tak berdaya, sekondan tentara itu meremukkan tangan Victor. Tentara yang cuma tahu menyiksa dan mengucap kata “bedebah” itu menghantam pergelangan tangan Victor dan berujar, “Cobalah bermain gitar sekarang dengan tangan seperti itu, bedebah”.

Penyiksaan demi penyiksaan itu berlangsung selama lima hari. Pada 16 September 1973, tentara Pinochet menembak mati Victor Jara dengan 44 kali tembakan. Victor tewas di tangan tentara. Sebelum tewas, ia sempat menulis satu puisi dalam suasana getir. Dalam kondisi chaos, ia menulis satu puisi yang indah yang bisa selamat berkat diamankan seorang tawanan lain. Puisi itulah yang menjadi karya terakhir tersebut berjudul “Chile Stadium”.

Laguku, betapa mengerikan nadamu
Saat aku harus menyanyikan ketakutan
Ketakutan bahwa aku hidup
Ketakutan bahwa aku sekarat. Ketakutan

Hanya Raga yang Mati, Lagu Victor Menggema Sepanjang Masa

Para tentara yang cuma tahu cara menyiksa, mengucap kata “bededah” dan membunuh orang itu mungkin tak memperhitungkan betapa dicintainya Victor oleh warga Chile. Melalui kematian seorang bernama Victor Jara, momentum ini seakan mengabarkan pada dunia: banyak cara berjuang demi kebebasan dan keadilan. Ada yang berjuang lewat pelbagai aktivitas politik, mengangkat senjata atau sebagainya, sementara Victor berjuang lewat lagu-lagu yang ia ciptakan dan kemudian menyanyikannya.

Lagunya menjadi suluh penerang buat demokrasi. Lagu menjadi matahari pagi yang memberi semangat untuk para buruh pergi ke pabrik. Lirik lagunya bagai mesiu yang siap meledakkan kekuasaan yang lalim. Penguasa yang haus ambisi itu tentu merasa terganggu dengan nyanyian Victor. Victor melakukan tugasnya dengan baik.

Ada adagium terkenal: jika ingin melihat carut-marut Amerika, dengarkanlah lagu-lagu Bob Dylan. Persis Victor. Namun Victor terlibat jauh lebih dalam dibanding Bob Dylan. Kehidupannya adalah cerminan negaranya, masa-masa penuh gejolak yang ia jalani, dan filosofi pribadinya. 

Victor Jara lahir di Loquen, Chili, sebuah kota kecil di luar Santiago pada 28 September 1932. Ayahnya, Manuel, bekerja sebagai buruh sederhana–sementara ibunya, Amanda, melakukan kerja serabutan agar dapur tetap ngebul.

Selain miskin, gambaran keluarga bahagia tak tercermin di keluarga Victor. Kemiskinan lantas melahirkan masalah-masalah lain. Ayah Victor Jara menjadikan minuman keras sebagai pelarian. Pasutri tersebut kerap terlibat perkelahian. Setelah beberapa tahun mengalami percekcokan, ayah Victor pindah ke pedesaan untuk bekerja sebagai petani. Ibunya lantas pasang badan membesarkan Victor Jara dan saudara-saudaranya seorang diri.

Menurut Victor Jara, ibunya adalah seorang pekerja keras. Ia menolak kalah dan memberi kekuatan pada anak-anaknya. Di rumah, ibunya kerap bernyanyi dan bermain gitar. Dari sana minat Victor terhadap musik mulai tumbuh. Ibunya mengajarkan Victor bermain gitar dan juga mengenalkan banyak lagu daerah tradisional Chili. Waktu yang dia habiskan bersama ibunya itulah yang memberi besar terhadap gaya musiknya.

“Selalu ada gitar di rumah, karena ibuku adalah penyanyi. Dia biasanya bernyanyi di pemakaman, pembaptisan dan pernikahan. Dia bisa bernyanyi lagu folk yang terkenal di berbagai generasi,” ujar Victor.

Meski miskin, Ibu Victor punya keyakinan terhadap kekuatan pendidikan, sehingga ketika menyelesaikan sekolah dasar dan menengah, Victor diminta belajar akuntansi. Sayangnya, ibunya meninggal saat Victor baru berusia 15 tahun. Kematian ibu membuatnya mengambil keputusan berhenti studi akuntansi. Ia masuk sekolah seminari. Keputusan ini diambil lantaran ia percaya profesi pendeta merupakan profesi mulia dan penting untuk kemaslhatan umat. Dengan memilih jalan hidup sebagai pendeta, Victor muda percaya ia bisa menyebarkan pesan-pesan kebaikan untuk banyak orang.

Namun setelah dua tahun masuk seminari, ia melihat banyak praktik menyimpang dari pemuka agama yang ia lihat sendiri. Ia patah hati dan memilih tak melanjutkan. Ia kembali ke Lonquen. Di periode tersebut, ia mulai belajar musik rakyat Chili dengan teman-temannya. 

Dalam rentang waktu itulah, ia kembali bersekolah di Sekolah Teater di Universitas Chile. Di sana ia menunjukkan minat terhadap teater. Mulanya ia ikut kelas akting. Selepas gelar akting ia kantongi, Victor melanjutkan di program penyutradaraan. 

Minat menjadi sutradara makin menggebu-gebu. Victor berpartisipasi dalam banyak produksi teater. Di waktu yang bersamaan, ia juga mulai menyanyi dan mempelajari musik folk lebih jauh saat pertama kali bertemu Violeta Parra, seorang penyanyi dan artis yang sangat berbakat, pengagum musik dan instrumen tradisional Chili, dan pemilik sebuah kafe kecil di Santiago. Victor mulai mengenal musik lebih dalam. Ia bagai orang kerasukan selalu menenteng gitar dan bernyanyi. 

Aktivitas keseniannya dibarengi kesadaran politik. Lagu-lagu Victor Jara diisi dengan pemikirannya tentang rakyat jelata Chile. Dia sangat mencintai orang-orang pekerja di kota-kota kecil dan desa-desa, dan banyak lagunya merayakan kehidupan orang-orang ini. Selain itu, karena kecintaan  besar terhadap negaranya, banyak lagunya yang menyerang ketidakadilan dalam masyarakat atau skandal politik. 

Victor Jara adalah bagian penting dari gerakan musik besar Amerika Latin yang dikenal sebagai “Nueva Cancion” atau Lagu Baru. Gerakan ini terlibat dengan banyak aktivitas revolusioner di Amerika Latin, dan semua seniman Neuva Cancion memiliki tujuan dan pemikiran yang sama. Gerakan ini turut melahirkan ide politik Victor yang ia tuang lewat lagu-lagunya. 

Victor mulai mengikuti politik mutakhir Chile. Victor sebagaimana musisi-musisi progresif di Amerika Latin percaya pada filosofi komunis secara umum yang menjanjikan perbaikan kehidupan masyarakat miskin. Pada 1966, ia debut album yang bertajuk Victor Jara. 

Meski sudah bermusik, ia tetap melanjutkan aktivitas keseniannya sebagai sutradara. Ia kemudian memilih fokus bermusik pada 1970 dan meninggalkan kehidupan teaternya. Dengan gitar akustik dan suara bulatnya, Victor memotret realitas melalui lagu-lagunya.

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Victor tahu betul soal itu. Perjuangan itu termanifestasikan dalam cita-cita politiknya. Ia tak malu-malu memberikan dukungan terhadap presiden Salvador Allende pada 1973. Allende adalah bagian dari partai Persatuan Populer (sub-bagian dari Partai Komunis Chili). Victor Jara, serta dengan penyanyi Chili lainnya, mengadakan konser yang mendukung Allende dan tujuan politiknya. Allende adalah seorang kandidat progresif yang memiliki rasa cinta yang besar terhadap masyarakat kota-kota kecil di Chile. Partai Persatuan Rakyat mempunyai rencana untuk meningkatkan pendidikan, dan menyediakan peningkatan perumahan dan sosialisasi perawatan kesehatan gratis. 

Pada akhirnya, kampanye Allende sukses, dan dia terpilih sebagai presiden Chili setelah melakukan beberapa kompromi dan manuver politik. Namun, terdapat banyak penentangan terhadap terpilihnya Allende dan militer mengorganisir kudeta untuk menggulingkan presiden yang baru dilantik. Dalam kudeta yang terjadi, Allende terbunuh dan militer mengambil alih kendali pemerintah. 

Makanya, saya selalu tertawa sendiri kalau mendengar orang berujar: jangan campurkan musik dengan politik. Apalagi kalau kamu mendengar kisah Victor Jara. Pertanyaan tersebut hanya akan terdengar seperti keluhan anak manja atawa anak orang kaya yang baru kenal musik. Musik seolah-olah begitu suci, sedangkan politik teramat kotor.

Padahal, di dalam politik, ada cinta kepada hidup yang tengah diperjuangkan. Seperti yang Victor bilang kalau dia melakukan semua ini demi cinta. Cinta kepada negara, kepada rakyat dan kepada kehidupan yang damai. Victor Jara mungkin sudah lama mati, tapi cintanya tidak. Ia menjadi monumen jika musik tak semata hiburan. Musik bisa jadi formalin abadi untuk cinta yang kekal. “Kita ada di sini karena cinta dan kita ingin menjadi lebih baik karena adanya cinta,” ujar Victor.