True Crime: Trauma Orang Jadi Hiburan?

Pertemuan pertama saya dengan cerita horor-thriller–percaya atau tidak percaya–berawal dari cerpen detektif majalah Intisari. Ketika orang biasanya pertama kali bersentuhan dengan cerita-cerita horor atau thriller via film yang ditayangkan di bioskop tengah malam suatu stasiun televisi atau komik siksa neraka, saya malah dari… cerpen Intisari. Dan kocaknya, sejauh ini saya hanya kenal satu orang yang punya pengalaman yang sama.

 

Cerpen-cerpen detektif ini begitu membekas di pikiran sampai-sampai saya tertarik membaca lebih banyak cerita serupa. Dari yang awalnya hanya berfokus ke kejahatan fiktif, perlahan fokus saya bergeser ke kejahatan nyata. Lagi-lagi eksposur ini saya dapatkan dari deretan buku non-fiktif sebuah toko buku besar yang cabangnya ada di mana-mana.

 

Buku kriminal non-fiktif pertama yang saya baca membahas tentang pembunuh berantai terkenal di seluruh dunia, lengkap dengan komentar para psikolog yang mengklaim pernah mewawancarai mereka selama di penjara. Kejahatan yang mereka lakukan memang mengerikan, tapi juga membuat beberapa bagian di otak saya kelap-kelip. Pendeknya, sejak saat itu saya penasaran dengan pembunuh berantai dan kisah cerita kejahatan nyata alias true crime.

 

Saya bukan satu-satunya orang yang suka kisah-kisah true crime. Justru sekarang true crime sedang naik-naiknya, yang berarti…?

 

Menelusuri Awal True Crime

 

Ketertarikan masyarakat pada cerita-cerita true crime sebenarnya sudah ada sejak abad ke-16, ketika teknologi penerbitan dan tingkat literasi masyarakat sedang naik-naiknya. Para penulis dan penerbit Inggris mengkapitalisasi tren ini dengan menerbitkan pamflet dan koran. Salah satu genre yang terbukti laku adalah pamflet (biasanya sepanjang 6-24 halaman) yang menceritakan tentang kejahatan-kejahatan mengerikan beserta jalannya persidangan.

 

Cerita di pamflet-pamflet ini mirip konten koran lampu hijau kontemporer: pembunuhan domestik, kejahatan seksual, aktivitas kriminal yang dilakukan oleh perempuan, dan penyiksaan. Mereka juga kerap kali membumbui cerita-cerita ini dengan ilustrasi super eksplisit. Semakin detail kengerian kejahatannya, semakin banyak pamflet yang dibeli sehingga cara ini sering digunakan oleh para penerbit untuk mendulang untung. 

 

Menariknya, kejahatan-kejahatan luar biasa dalam cerita true crime awal selalu berkaitan dengan konsepsi dosa menurut agama Kristen. Contohnya cerita pembunuhan ganda yang terjadi di Basel, Swiss pada 1565. Johannes Füglin, pendeta yang melaporkan kasus ini menyatakan pelaku telah melakukan berbagai macam dosa; dari meninggalkan keluarga, berhutang, dan rajin mabuk-mabukan. Dari sini sang pendeta secara implisit menyatakan bahwa perilaku yang jauh dari Tuhan dan kejahatan kecil lambat lain bisa membuat pelakunya beralih ke kejahatan serius.  

 

Kontur dari true crime ini terus berubah seiring waktu. Dulu cerita-cerita ini sering dibuat oleh para pendeta. Pada abad ke-19 penulis-penulis terkenal seperti Arthur Conan Doyle, Charles Dickens, Edgar Allan Poe, William Thackeray, dan Victor Hugo mulai berkecimpung di dunia ini. Charles Dickens dan William Thackeray mengkritik hukuman kriminal pada masa itu yang dianggap tak adil, sedangkan Arthur Conan Doyle, Edgar Allan Poe, dan Victor Hugo lebih berfokus pada penyelesaian kasus-kasus kriminal. 

 

Ketertarikan mereka mengubah fokus true crime dari masalah moral dan religi, menjadi ke pendekatan saintifik. Lensanya sekarang terfokus pada bagaimana polisi dan detektif menyelesaikan masalah-masalah kriminal. Hal ini pula yang membuat ketertarikan publik pada true crime meningkat pesat.

 

Walau begitu, cara media untuk menggambarkan true crime pada saat itu masih sarat dengan detail yang sebetulnya tak perlu dimasukkan. Saking jengahnya, para kritikus literatur sampai mencetuskan satu istilah peyoratif untuk menggambarkan kisah-kisah ini: sensasionalisme. Mereka menuding genre ini sebagai genre “orang miskin dan tak berpendidikan” karena tak bisa memberikan apa-apa selain cerita yang terlalu dilebih-lebihkan. 

 

True Crime Masa Kini

 

Namun hal tersebut tidak membuat ketertarikan terhadap true crime menyusut. Toh buktinya genre ini terus dibuat sampai sekarang. Bedanya hanya di teknis – true crime sekarang bisa dibuat lebih realistis dan membuat orang-orang merasa menjadi bagian dari investigasinya. True crime baru ini tak hanya menampilkan kejahatan dengan cara yang sensasional, tapi juga menunjukkan masalah-masalah yang kerap menghantui investigasi kepolisian dan pengadilan hukum. Alhasil ia bisa terus relevan hingga sekarang, bahkan menjadi sub-genre dokumenter yang paling digandrungi.

 

Menariknya, penggemar terbesar dari true crime adalah perempuan. Hal ini menarik mengingat laki-laki lebih sering menjadi korban kejahatan dibanding perempuan. Beberapa ahli mengajukan beberapa alasan, yaitu (1) perempuan lebih rentan menjadi korban kekerasan berbasis gender seperti KDRT dan pemerkosaan; (2) media terlalu sering mengangkat kasus kejahatan luar biasa yang kerap kali melibatkan korban perempuan (Ditton & Duffy, 1983); dan (3) lebih banyak perempuan menjadi korban pembunuh berantai. Data dari Radford University menunjukkan 51,41% korban pembunuhan berantai adalah perempuan.

 

Berangkat dari tiga poin ini, Vicary dan Fraley (2010) menunjukkan bahwa bisa jadi para perempuan menyukai true crime karena mereka tidak pernah merasa aman. Kebetulan saja true crime bisa memberikan wawasan baru supaya mereka bisa menghindari atau bahkan kabur dari kejahatan yang mungkin akan menimpa mereka. Namun ada pula yang menyukai cerita true crime karena elemen detektifnya (problem solving) atau karena sesimpel suka 

intrik

 

Dua alasan tadi membuat saya tertarik; saya masuk ke tim pertama alias suka membaca cerita true crime karena ingin tahu motivasi para pembunuh supaya bisa menghindar dari mereka. Sementara teman saya satu lagi–yang saya ceritakan di awal tulisan ini–membaca true crime karena investigasinya menarik. Dan nampaknya bukan kebetulan kalau teman saya ini laki-laki. 

 

Hal lainnya yang perlu diperhatikan dari true crime adalah bagaimana ia dirajut dan dipasarkan layaknya hiburan biasa. Padahal cerita-ceritanya berdasarkan kisah nyata, dengan korban yang merupakan manusia betulan dengan keluarga dan teman yang masih eksis sampai sekarang. Beberapa produsen true crime setidaknya cukup tahu diri untuk meminta izin keluarga korban sebelum mengangkat ceritanya ke publik. Tapi seringkali para produser membuat serial true crime tanpa meminta izin atau bahkan memberitahu keluarga para korban, seperti yang terjadi pada serial Dahmer yang sekarang tayang di Netflix. 

 

Serial ini mendapat banyak perhatian–tak hanya dari para kritikus dan pecinta true crime, tapi juga dari para keluarga korban. Eric Perry, sepupu dari korban Jeffrey Dahmer Errol Lindsey, mencuitkan kemarahan keluarganya akan serial ini. 

 

<blockquote class="twitter-tweet"><p lang="en" dir="ltr">I’m not telling anyone what to watch, I know true crime media is huge rn, but if you’re actually curious about the victims, my family (the Isbell’s) are pissed about this show. It’s retraumatizing over and over again, and for what? How many movies/shows/documentaries do we need? <a href="https://t.co/CRQjXWAvjx">https://t.co/CRQjXWAvjx</a></p>&mdash; eric perry. (@ericthulhu) <a href="https://twitter.com/ericthulhu/status/1572996958884700160?ref_src=twsrc%5Etfw">September 22, 2022</a></blockquote> <script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>

 

Keluarga korban-korban lain juga dengan lantang menyuarakan keberatan mereka. Para keluarga ini menyatakan tidak ada pihak baik dari Netflix maupun produser Dahmer yang menanyakan pendapat atau bahkan meminta izin. Lebih parahnya lagi, Netflix bahkan tidak mendonasikan keuntungan dari serial ini ke keluarga korban. Langkah Netflix ini tentunya sangat buruk mengingat Dahmer merupakan serial paling panas Netflix sejak dirilis tanggal 21 September 2022. 

Dari sini seharusnya kita berefleksi–haruskah kesenangan kita berdiri di atas trauma orang lain? Hal apa yang bisa kita lakukan bagi para keluarga korban yang masih ada? Dan yang paling penting, cara penyampaian true crime seperti apa yang tetap menghormati keluarga korban dan tidak membuat mereka trauma untuk kesekian kalinya?