Usaha Ahmad Dhani Meniru Ahmad Dhani

Usaha Ahmad Dhani Meniru Ahmad Dhani dan Deretan Grup Musik yang Sebaiknya Tak Perlu Reuni

Reuni grup musik tampaknya sedang tren. Kombinasi jitu antara berakhirnya larangan konser, konsumsi YouTube yang memungkinkan anak-anak muda mengakses musik yang lebih tua sepuluh tahun dari umurnya, dan kebosanan orang tanpa hiburan selama pandemi bikin bisnis reuni jadi tampak menggiurkan.

Tahun ini ramai grup musik memutuskan reuni dengan personel yang melekat di ingatan publik. Terlepas apa pun motifnya, hadirnya grup musik dengan formasi reuni ini ikut menyemarakkan beberapa panggung seperti Cokelat, The Groove dan Dara Puspita di Synchronize Fest 2022 serta grup Tiket di Soundrenaline 2022.

Panggung reuni tampak menyenangkan.

Bagi musisi, selain cuan, reuni memberikan kebahagiaan lantaran bisa bermusik bareng kawan lama di atas panggung. Sedangkan bagi penggemar, reuni memanggil kembali ingatan di mana mereka tumbuh bersama karya musisi tersebut. Termasuk penggemar baru yang mungkin baru mengenal mereka setelah bubar.

Tak hanya reuni di atas panggung, Dewa 19 bahkan merilis single baru berjudul Tangis Terakhir pada 10 Desember bersama vokalis lamanya, Ari Lasso. Meski tanpa Wawan dan almarhum Erwin, vokal Ari Lasso di karya terbaru Dewa 19 disebut-sebut mengobati kerinduan penggemar setelah hampir 23 tahun Ahmad Dhani, Andra Ramadhan dan Ari Lasso tak merilis lagu bareng.

Di kolom komentar video lirik yang diunggah akun @Dewa19, ratusan komentar memuji single ini. Saya malah berbanding terbalik dengan ratusan komentar tersebut. Sebagai orang yang juga mendengarkan Dewa 19 dari album awal, saya merasa Ahmad Dhani kini kehilangan taji dalam menciptakan lagu.

Lagu Tangis Terakhir ini dibuka dengan petik gitar yang segera mengingatkan pendengar Dewa 19 pada lagu Kangen, lalu disambut orkestra yang segera mengantar pendengar pada album Bintang Lima. Percobaan menarik untuk memenuhi tema nostalgia. Masalahnya, kehadiran orkestra di sepanjang lagu dengan progresi kord dan lirik yang lebih pop ketimbang track Mukadimah dan Roman Picisan ini alih-alih mengembalikan suasana rock opera dalam album Bintang Lima, justru malah terkesan membuat Dewa 19 terdengar seperti band-band yang populer di acara musik televisi pagi era pertengahan 2000.

Tak ada yang salah dengan band-band pop di televisi pagi itu. Hanya saja Dewa 19, lewat review pengamat musik dan klaim Ahmad Dhani sendiri, sudah kadung lekat dengan imaji sebagai band yang lebih superior ketimbang band-band itu.

Ahmad Dhani mungkin lupa bahwa formula yang membuat lagu seperti Roman Picisan berhasil justru karena orkestra, rangkaian notasi, dan penulisan lirik saling mengisi satu sama lain membentuk konstelasi rock opera. Secara tematik elemen-elemen itu mendukung tema utama album Bintang Lima. Jika diisi dengan lirik generik seperti “Malam ini habis, air mataku/ Aku tak mau lagi, menangis karena sakit hati” atau di bagian reff “Inilah tangis terakhirku/ Ku tak bisa menahan lagi”, bahkan orkestra paling megah pun tak akan sanggup menyelamatkan ketidak-sinkronan lirik dan tema lagunya.

Kalau mau buat lagu pop generik pun tak apa, sebenarnya. Dan mungkin malah lebih cocok.

Ahmad Dhani mencoba menarik pendengar lamanya dengan menyelipkan bait Munajat Cinta “Malam ini ku sendiri/Tak ada yang menemani” dari band sampingannya The Rock. Ini bisa dibilang upaya keras Ahmad Dhani untuk menguatkan konsep ‘reuni’ dalam track ini. Sayang sekali yang terjadi justru ambyar, karena tak ada anggota yang ikut dalam reuni Dewa 19 yang anggota The Rock, selain Ahmad Dhani himself, dan cuma Ahmad Dhani. Kalau memang berniat membuat track reuni, apalagi dengan vokalis Ari Lasso, bukankah lebih tepat memotong lirik dari album Dewa 19 di era Ari Lasso? Tapi, siapalah saya di hadapan Paduka Ahmad Dhani.

Orang tentu tak gampang melupakan tuts piano saja dan vokal Ari Lasso di lagu Cinta Kan Membawamu Kembali, iringan piano sederhana dan lirik nggak sok-sokan puitis justru berhasil melahirkan lagu cinta yang lugu dan naif. Dan sebagai pendengar, kita tahu apa hendak disampaikan oleh lagu ini dan kita bisa merasakannya sekalipun mungkin kamu tidak menyukai lagu ini. Lain halnya dengan lirik sederhana di lagu Tangis Terakhir, elemen-elemen artistik di lagu ini yang dimaksudkan sebagai kolase dari lagu-lagu Ahmad Dhani, sekaligus upaya Dhani untuk melebur dalam bisnis musik hari ini membuat lagu ini terasa tidak seimbang.

Ahmad Dhani mungkin berusaha memoles kejayaan masa lalunya dengan cara yang ia pikir out-of-the-box, ia membayangkan dirinya sedang merangkai kolase, menempel elemen-elemen yang pernah ia pakai sambil berusaha memikirkan pasar musik hari ini, ia menggabung semuanya menjadi satu musik yang ia pikir baik untuk Dewa 19 dan baik untuk bisnis. Harus diakui bahwa effort yang ia keluarkan untuk track ini memang maksimal. Sayangnya, sebagai kolase ia tidak menghasilkan kolase yang menarik. Terkesan cuma asal tempel dan tidak ada gunanya.

Ini menjadi ironi, atau komedi yang sangat lucu jika kamu membayangkan usaha keras Ahmad Dhani meniru dirinya sendiri di masa lalu, seperti orang yang kejar-kejaran dengan bayangannya sendiri. Sebenarnya tak apa juga kalau Dhani sudah tak mampu membuat lagu-lagu cinta seperti Kirana, Aku Milikmu, Satu Hati atau Restoe Boemi atau dia lebih nyaman dengan model musik industrial yang nanggung tapi cocok di kuping banyak orang. Kita akan memaklumi itu kok.

Lagu Tangis Terakhir ini menjadi penanda bahwa tak semua usaha menjadi diri sendiri, yang cemerlang nan penuh puja-puji, itu bisa berhasil. Terlebih buat Dewa 19, mungkin Ahmad Dhani lupa bahwa yang membuat Dewa 19 di era awal menjadi terdengar seperti Dewa 19 yang kita kenal bukan hanya sosok (dan klaim) besar Ahmad Dhani, tetapi juga anggota Dewa 19 lain. Komposisi masing-masing individu dalam album Terbaik, Terbaik atau Pandawa Lima yang membuat album-abum itu berhasil sebagai album.
Dalam lagu Tangis Terakhir hanya solo gitar Andra yang terdengar setia pada musik Dewa 19–Andra hari ini tak perlu repot memulas dirinya untuk menjadi Andra yang dulu. Membawa Ari Lasso ke track baru rasanya tak sanggup mengembalikan kegemilangan album-album di masa lampau, apalagi untuk melampauinya.

Beberapa hal mungkin hanya baik untuk dikenang saja.

Alih-alih happy, hadirnya Tangis Terakhir ini malah membuat saya kepikiran: gimana kalau band lain yang juga saya idolakan memutuskan reuni dengan fomasi legendarisnya.

Kalau reuni manggung buat satu kali saja sih tak apa-apa, tapi takutnya mereka malah memutuskan bikin single baru yang karyanya bikin patah hati. Ngeri. Itu sih tak hanya jadi pikiran, tapi naik kelas jadi ketakutan. Berikut saya bagikan deretan ketakutan saya.


No
Band
Alasan
1
Slank F13
Meski penyebutan formasi untuk sebuah band agak membingungkan, tapi para penggemar Slank tahu jika formasi dengan komposisi Kaka (vokal), Bimbim (drum), Bongky (bas), Indra (keyboard), dan Pay (gitar) membuat band asal Potlot ini mempunyai tempat tersendiri di hati pecinta musik rock tanah air.

Beberapa kali, muncul rumor Slank F13 bakal kembali manggung. Namun, rumor tersebut hilang dan menguap bersama waktu. Kalau boleh usul, formasi ini gak usahlah reuni. Tapi kalau masih ngotot, cukup satu panggung besar dan selesai. Jangan malah melebar dibawa tur, misalnya. Apalagi bikin single baru. Duh, jangan dong please.

Biarkan imaji Slank F13 tetap hidup di kepala para penggemar.
2
Boomerang
Belum lama ini, Boomerang memutuskan reuni dan kembali menghibur para penggemarnya dengan nama Boomerang Reload. Dalam proyek reuni ini, mantan vokalis Roy Jeconiah menolak ikut serta. Untunglah Roy tak mau. Sebab, bagi saya, tanpa almarhum Hubert Henry Limahelu pada bass, Boomerang tak akan pernah sama. Boomerang adalah John Paul Ivan (Ivan) (gitar utama), Hubert Henry Limahelu (Henry) (bass) dan Farid Martin (drum) yang mampu melahirkan album rock ikonik seperti Kontaminasi Otak, Disharmoni dan X'Travaganza dengan deretan lagu yang populer di telinga pecinta musik Tanah Air. Kalau pun Roy bergabung, apa masih perlu mereka bikin lagu kayak Bawalah Aku, Kisah atau Pelangi? Sepertinya tidak perlu.
3
Peterpan
Sejauh ini, Ariel pun sebagai leader dalam band ini tak sekali pun menyinggung wacana reuni Peterpan formasi awal. Dan memang sebaiknya begitu. Top, Boriel!
4
Anang-KD
Ruwet bin heboh sih kalau duo ini sampai reuni bareng. Masing-masing sudah punya kehidupan yang bahagia. Kalau mereka sampai reuni, bisa-bisa wartawan infotaiment bakalan lembur sampai dua minggu.
5
Ratu (era Mulan Jameela)
Ini bukan cuma ruwet, tapi bakalan kisruh. Memang tak ada yang mungkin di dunia ini. Tapi menyatukan Maia Estianty dan Mulan Jameela dalam proyek reuni? Ini agak tidak mungkin.


Semoga deretan ketakutan itu tak akan pernah terjadi.