Fat Shaming Tak Membuat Orang Kurus

Subtitel: Angka obesitas dunia semakin meningkat. Solusinya? Bukan fat shaming. 

 

Selain krisis COVID-19 dan kesehatan mental, ada krisis lain yang menghantui dunia, yaitu krisis obesitas. Data WHO tahun 2016 menunjukkan setidaknya ada 1,9 miliar orang dewasa kelebihan berat badan–650 juta diantaranya menderita obesitas. Sedangkan World Obesity menyatakan setidaknya ada 764 juta orang dewasa yang obesitas pada 2020.

Angka obesitas akan diperkirakan terus naik, terutama apabila pemerintah seluruh dunia tak bekerja sama untuk mengurangi peningkatannya. Khawatir? Jelas khawatir dong. Nah, di sinilah muncul jurnalis kenamaan The Times, Matthew Paris, yang menyatakan bahwa solusi terbaik untuk melawan epidemi obesitas di Inggris adalah dengan… fat shaming.

 

Parris menggunakan contoh kasus rokok. Sebelum kampanye anti-rokok yang rutin diadakan di tahun '70an, banyak orang dewasa Inggris yang merokok. Angka ini baru turun sejak kampanye anti rokok digencarkan, salah satunya berkaitan dengan mengencangkan stigma. Berkaca dari kasus ini, Parris menganggap hal serupa juga bisa diberlakukan untuk kampanye mengurangi obesitas. 

 

Pendapat Paris sebetulnya bukan hal baru; Daniel Callahan, mantan dosen fakultas kesehatan Harvard, menyuarakan sentimen yang sama satu dekade lalu. Menurutnya, banyak orang yang tak menyadari bahwa diri mereka kelebihan berat badan karena fenomena ini sudah terlalu ternormalisasi. Oleh karenanya, publik harus dibuat “syok” lewat kampanye anti-obesitas yang lebih keras.

 

Beberapa solusi yang ia tawarkan terbagi menjadi tiga: peraturan kesehatan yang ketat dari pemerintah dan komunitas bisnis makanan, program prevensi obesitas untuk anak-anak, dan yang terakhir adalah tekanan sosial untuk orang-orang yang kelebihan berat badan. 

 

Solusi pertama sendiri sudah dicoba diajukan oleh gubernur New York, David Paterson pada 2009 dan 2010. Ia berencana menambah pajak sebesar 12 sen ke minuman soda, tapi ditolak oleh badan legislatif dan komunitas bisnis. Alasannya karena kebijakan tersebut tidak efektif dan malah merugikan UMKM dan para pekerjanya. Sedangkan solusi kedua sudah diprogramkan oleh CDC (semacam Kemenkes-nya Amerika Serikat), dimulai dari kelas dan kantin sekolah.

 

Dua solusi ini terdengar masuk akal bukan? Sampai ke solusi ketiga, dimana Callahan mendorong perusahaan untuk menggunakan clout alias pengaruh mereka untuk memaksa para pekerjanya untuk hidup lebih sehat. Pilihannya antara harus mengikuti standar kesehatan yang diberikan perusahaan seperti makan makanan sehat dan menurunkan berat badan atau pemecatan. 

 

Seolah solusi tadi kurang ekstrem, Callahan menekankan masalah obesitas adalah masalah nasional. Orang-orang yang obesitas harus sadar bahwa mereka adalah beban APBN kesehatan sehingga harus dihukum keras. Mereka harus dipaksa untuk makan lebih sehat dan berolahraga, serta membuat obesitas sebagai fenomena sosial yang tak bisa lagi ditolerir. Di sinilah stigma bermain–orang-orang dengan berat berlebih harus dikucilkan sampai berat badannya normal. Sama seperti perlakuan masyarakat terhadap perokok, tulisnya. 

 

Ketika membaca solusi ketiga, dahi saya mengernyit dalam-dalam. Sebagai seseorang yang beratnya bertambah cukup ekstrem karena pengaruh obat, solusi Callahan sangat tidak sensitif dan hanya menambah beban yang dialami oleh orang-orang gendut. Berbagai penelitian dan cerita-cerita pribadi menunjukkan bahwa orang-orang gendut dan obesitas mengalami berbagai macam diskriminasi, dari keluarga, teman, hingga tempat kerja. Lebih sedihnya lagi, mereka juga didiskriminasi oleh tenaga kesehatan yang menganggap semua masalah kesehatan mereka bisa diselesaikan hanya dengan “mengurangi berat badan”. Padahal bisa jadi masalahnya bukan di situ.

 

Terlebih, stigma terhadap berat badan berlebih paling banyak dialami oleh perempuan muda. Saking parahnya, banyak perempuan-perempuan muda berakhir mengalami gangguan imaji tubuh (distorted body image) sampai gangguan makan (disordered eating) yang bisa berkembang menjadi anoreksia nervosa dan bulimia nervosa (eating disorder).

 

Mari kembali ke artikel Paris. Ia mengklaim kampanye yang menstigma perokok di publik berhasil menekan angka perokok Inggris–kemungkinan Paris merujuk ke kampanye ‘No Smoking Day’ (Hari Tanpa Rokok) yang sudah diberlakukan oleh pemerintah Inggris sejak 1984. Penelitian yang dilakukan oleh Owen dan Youdan (2006) memang menunjukkan hari tersebut berhasil meningkatkan kesadaran publik soal bahaya rokok. 

 

Namun, argumen Paris melupakan satu fakta krusial: naiknya harga rokoklah yang paling efektif menurunkan jumlah perokok. Inggris adalah salah satu negara dengan pajak rokok yang tinggi. Ditambah mereka juga melarang merokok di restoran dan pub sejak tahun 2007. Aturan-aturan inilah yang berhasil menekan angka perokok muda ke angka 6% dan 8,6% untuk vaping di tahun 2022 dan 12,7-14,9% perokok dewasa. 

 

Argumen Paris juga tidak mempertimbangkan faktor-faktor seperti semakin banyaknya makanan yang sangat terproses (ultra-processed food) yang punya gizi kosong, naiknya kandungan gula dan garam dalam makanan kita, gaya hidup yang tak aktif, dan penyebab stres yang terus bertambah berperan penting dalam melebarnya ukuran pinggang masyarakat. Makanan ultra-processed tak hanya mengandung sedikit gizi, tapi juga tak semengenyangkan makanan yang minim proses. Akibatnya, orang-orang lebih mungkin mengonsumsi makanan secara berlebih.

 

Tingkat stres yang tinggi dari gaya hidup modern juga berperan besar. Pekerjaan modern yang memaksa kita untuk bekerja di waktu yang panjang membuat kita lebih sering begadang, yang kemudian membuat kita stres, sakit kepala, sampai mood buruk. Banyak dari kita yang berakhir makan berlebih sebagai cara coping atau menghibur diri sendiri. 

 

Kalau sudah begini, sudah jelas taktik mempermalukan tak akan pernah berhasil. Alih-alih membuat orang-orang lebih termotivasi, ia malah membuat mental orang lain jauh lebih hancur. Pasalnya, menguruskan diri tak semudah membalikkan telapak tangan.