Kalau Cuma Jualan Jargon, Jadi Politikus Aja. Nggak Usah Jadi Anak Punk

Kalau Cuma Jualan Jargon, Jadi Politikus Aja. Nggak Usah Jadi Anak Punk

 

Some people called me.. yeah, people called me fake punk, some people called me plastic punk, some people called me..." ujar Yewon. Lalu, sebuah gelas plastik mendarat di wajahnya. Kalimat itu tak pernah selesai.

 

Yewon adalah vokalis Rumkicks, band punk asal Korea Selatan saat tengah manggung di Purwokerto, pada 8 Januari 2023.

 

Usai pertunjukan, pihak Rumkicks melalui cuitan di Twitter menulis jika mereka tak menoleransi segala bentuk kekerasan yang menimpa member band mereka. Rumkicks meminta pelaku harusnya pergi saja jika tak ingin menghormati mereka sebagai salah satu pengisi acara.

 

“Di Korsel, kami tidak akan menoleransi segala bentuk pelecehan online atau fisik terhadap anggota band kami. Dalam pertunjukan di Indonesia, Yeawon dilempari gelas plastik oleh seorang pengecut tolol yang menyedihkan. Silakan pergi jika kamu tidak menghormati band ini,” cuit Rumkicks.

 

Cuitan Rumkicks menghebohkan media sosial. Potongan video insiden tersebut disebar banyak akun. Netizen geram bukan main. Di mata netizen, insiden ini mencoreng dan bikin malu wajah musik Indonesia. 

 

Beberapa hari berselang, muncul seorang lelaki bernama Akhih Darsito yang mengaku bahwa ia adalah pelaku insiden norak tersebut. Melalui video klarifikasi yang diunggah channel YouTube Choppergyeh Dolan, sambil memajang muka melas, pria ini menyampaikan permohonan maaf kepada penyelenggara Viocehell, penonton, pemilik café Nicetime sebagai pemilik tempat, pihak Polsek Timur, Polresta Banyumas dan terkhusus pada band Rumkicks serta seluruh komunitas punk seluruh Indonesia.

 

“Atas perbuatan saya pada acara Walking Tour dari Viocehell pada tanggal 8 Januari 2023, di mana saya telak melakukan kegiatan tidak terpuji,” ujarnya lewat video klarifikasi.

 

Darsito menambahkan, dalam acara itu ia juga memukul penonton lain. Gila, sok jagoan banget! Ia mengaku aksi norak tersebut dilakukan lantaran kesal karena terkena tendangan saat penonton sedang moshing. LAH! Kalau gak mau kena tendang atau senggol mah mending nonton YouTube aja, Bang.

 

“Saya minta maaf sebesar-besarnya,” ujar Darsito di ujung pernyataan.

 

Melalui permintaan maaf tersebut, Darsito–atau orang yang menyuruhnya minta maaf–tahu jika bangsa ini adalah bangsa yang pemaaf. Kamu bisa bikin apa saja yang kamu suka, kalau itu salah, kamu tinggal minta maaf, masalah kelar. “Jadikan ini pembelajaran” atau “ini akan menjadi yang terakhir kali” sering  kita dengar. Basi. Toh, kita bakal gelagapan saat ditanya benarkah insiden macam itu akan menjadi yang terakhir? Bisakah kita memastikan tak ada lagi orang yang dihina, di-bully, dilecehkan atau direndahkan dalam ekosistem musik di negara kita? 

 

Seharusnya kita sama sekali tak merasa puas dengan permintaan maaf yang dilontarkan Darsito. Sama sekali tidak!

 

Konser musik yang harusnya jadi ruang aman mencari kebahagiaan, ternyata pada praktiknya masih menjadi rimba yang menyeramkan. Saya membayangkan, insiden tersebut teramat menyedihkan Rumkicks yang harus meninggalkan negaranya–demi membawa semangat musiknya–pada perjalanannya harus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari abang-abangan, si paling punk dan si paling tahu musik seperti Darsito. Meski di lima kota lainnya, konser Rumkicks mendapat sambutan  menyenangkan, tapi aksi norak Darsito akan dikenang selamanya.

 

Dominasi Pria dalam Musik Punk

 

Seperti sejarah musik rock yang menyimpan cerita rasisme pada perjalannya, begitupula dengan musik punk yang punya boroknya sendiri. Alih-alih membawa semangat pembebasan dan anti penindasan seperti jargon-jargonnya, pada praktiknya ekosistem punk jadi tempat subur kekerasan—baik fisik maupun mental—serta ruang itu didominasi laki-laki. Tak ada kesetaraan yang digembar-gemborkan. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan laki-laki. Bukan untuk semua orang.

 

Meskipun beberapa pelopor punk rock adalah band-band yang digawangi perempuan seperti Blondie dan Patti Smith dan Runaways, namun hal tersebut tak bisa membuat kita lupa jika dalam subkultur ini, pria jauh lebih dihormati dan diperlakukan lebih baik.

 

Salah satu contoh paling dekat misalnya, band-band punk di tahun 70-an macam The Sex Pistols dan The Clash dipuji karena perilaku anti-konsumerisme mereka yang keras dan agresif. Laku dan gaya mereka dianggap semangat zaman. Tetapi, zaman bergerak dan pendapat berubah. Johnny Rotten misalnya, yang di masa tua malah jadi pendukung Trump.

 

Di balik kegagahan band punk laki-laki, cerita anggota The Slits yang sering mendapat kerepotan gegara kelakuan laki-laki mungkin tak terdengar keras.

 

Vokalis The Slits, Ari Up mengaku bandnya sering diledek lantaran dianggap tak bisa bermain musik dengan benar. Atau dituding pelacur saat berjalan di jalan hingga mesti berdebat keras dengan para pebisnis yang mengontrol sisi musikal mereka.

 

Seiring berjalannya waktu, kesadaran jika perempuan juga punya andil dalam punk mulai terbangun. Di penghujung 80-an, kesadaran gender mulai terbangun di ranah yang lebih populer. Puncak kesadaran ini ialah lahirnya Riot Grrrl pada tahun 1991. Riot Grll lahir di Evergreen State College di Olympia, Washington, Amerika Serikat. Mereka rutin memperbincangkan upaya menghilangkan seksisme dalam skena punk. Riot grrrl membawa masalah yang nyata dan dapat ditemui sehari-hari dan menjadi alat untuk perempuan menyuarakan aspirasinya.

 

Hasil diskusi tersebut disiarkan ke publik melalui sebuah zine dan tak hanya sampai di situ, Riot grrrl menggunakan musik untuk menyuarakan semangat anti rasis dan anti seksis. Deretan band yang lahir dari proyek tersebut antara lain Bikini Kill, Bratmobile, Heavens to Betsy, Excuse 17, Slant 6, Emily's Sassy Lime, Huggy Bear, and Skinned Teen. Senada dengan wacana yang kerap mereka diskusikan, deretan band tersebut menciptakan lagu dengan lirik yang mendobrak.

 

Kini, sudah lebih dari 30 tahun waktu berlalu sejak Riot Grrrl dan semangatnya berputar di lanskap musik punk. Tapi, kelakuan orang-orang brengsek dan norak seperti Akhih Darsito dan beragam kasus kekerasan seksual di konser-konser punk bikin apa yang dikampanyekan dan menjadi sumbu musik punk cuma berakhir sebagai jargon belaka.

 

Suka jualan jargon. Situ anak punk apa politikus?