Tertinggalnya Anak Laki-laki di Sekolah Adalah Masalah Serius

Ingatan saya soal bangku sekolah selalu dipenuhi oleh figur perempuan. Mayoritas guru dari jenjang SD sampai SMA didominasi oleh perempuan, lebih banyak siswi yang mendapatkan ranking 10 besar dibandingkan siswa, dan lebih banyak siswi yang menempati kelas unggulan. Dominasi perempuan terus terjadi hingga bangku kuliah–angkatan saya dinobatkan sebagai angkatan dengan mahasiswi paling banyak dibandingkan angkatan-angkatan sebelumnya. Untuk pertama kalinya, Antropologi Budaya UGM tak lagi menjadi boys club.

 

Awalnya saya pikir pengalaman tersebut kebetulan saja. Toh akses perempuan ke pendidikan masih terhitung baru dan masih ada kecenderungan para keluarga untuk mengutamakan pendidikan anak laki-laki dibanding anak perempuan. Tapi datanya justru mengatakan sebaliknya: lebih banyak perempuan yang lulus kuliah dibanding laki-laki. Lebih menariknya lagi, tren ini terjadi di seluruh dunia.

 

Kok bisa?

 

Tren Pendidikan Tinggi Selama Ini

 

Lebih tingginya partisipasi perempuan di pendidikan tinggi pertama kali dicatat di Amerika Serikat di tahun 1970an. Pada dekade tersebut, memang lebih banyak mahasiswa dibanding mahasiswi, tapi jumlahnya terus menurun di dekade 1980-1990 sebelum akhirnya naik lagi pada tahun 2000. Sementara itu, jumlah mahasiswi terus meningkat sampai jumlahnya 10% lebih tinggi daripada mahasiswa. 

 

Tren serupa juga tercatat di belahan dunia lain. UNESCO menunjukkan kenaikan tajam partisipasi perempuan di pendidikan tinggi di Oseania, Asia Timur, Asia Tenggara, Afrika Utara, Afrika Barat, Asia Tengah, dan Asia Barat selama 1995-2015. Namun tren serupa tak terlihat di pendidikan SD-SMA.

 

 

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Lebih banyak perempuan yang lulus universitas dibanding laki-laki. Menariknya, tren ini juga terjadi di pedesaan. Apakah ini artinya kebiasaan orang-orang untuk mengutamakan pendidikan anak laki-laki mulai luntur? Sayangnya tidak juga. Karena ada 16,09% perempuan berusia di atas 15 tahun yang belum pernah menamatkan pendidikan, jauh lebih tinggi dari laki-laki yang ‘hanya’ 11,65%.  

 

 

 

Tren ini menimbulkan dua pertanyaan: pertama, kenapa lebih banyak perempuan yang kuliah, dan kedua, kenapa jumlah laki-laki yang kuliah terus menurun setiap tahunnya?

Sistem Pendidikan Kurang Menguntungkan Laki-laki?

 

Seperti hal-hal yang terjadi di dunia ini, rendahnya minat laki-laki untuk tak melanjutkan sekolah bukanlah kejadian yang jatuh dari langit. Para ahli menyatakan ketidaktertarikan anak laki-laki terhadap sekolah sudah dimulai dari sekolah dasar. Sistem pendidikan dan disiplin yang diterapkan di sekolah dianggap tidak menguntungkan anak laki-laki. Para guru, yang mayoritas merupakan perempuan, menganggap sikap anak laki-laki yang lebih berisik dan agresif sebagai sikap disruptif dan menghukum mereka. Terlebih mereka tidak mendapatkan dukungan sebanyak anak-anak perempuan di bidang pendidikan. 

 

Namun hal tersebut tak sepenuhnya menjelaskan kenapa anak laki-laki tak sesukses anak perempuan di sekolah. Penelitian Duckworth, dkk (2006) mengetes IQ anak perempuan dan anak laki-laki yang duduk di bangku SMP. Hasilnya kedua kelompok memiliki skor IQ yang sama, tapi anak perempuan mendapatkan nilai yang jauh lebih tinggi dari teman laki-laki mereka. Kenapa? Ya karena anak perempuan lebih disiplin dan tak seimpulsif anak laki-laki.

 

Lalu ada juga hipotesis bahwa otak anak perempuan lebih cepat matang dibanding anak laki-laki. Berhubung proses ini terjadi di bangku SD, jadinya anak perempuan menjadi lebih siap sekolah dibanding anak laki-laki. Faktor-faktor tadi bisa menyebabkan motivasi anak laki-laki untuk kuliah menurun, seperti yang ditunjukkan oleh grafik dibawah ini. Fakta bahwa 1 dari 3 laki-laki tak mau melanjutkan kuliah hanya karena mereka tak mau adalah masalah serius.

 

Mencari Solusi

 

Disparitas yang tinggi ini apabila tak segera ditanggulangi bisa berakibat negatif. Pasalnya, pendidikan tinggi masih menjadi jalan ninja untuk mendapatkan gaji kelas menengah. Tak hanya itu, perempuan lulusan universitas juga biasanya memilih laki-laki dengan tingkat pendidikan yang sama. Hasilnya? Angka pernikahan dan kelahiran terancam turun. 

 

Untuk itu, perlu solusi yang dimulai dari sekolah dasar. Solusi yang paling sering diutarakan adalah membuat anak laki-laki mulai sekolah setahun lebih lambat. Hal ini dianggap efektif karena memberikan kesempatan bagi mereka untuk lebih matang secara emosional. Namun solusi ini kurang ideal bagi keluarga menengah-bawah karena menambah waktu orangtua untuk mengurus anak.

 

Anak laki-laki lebih berkembang di situasi yang membutuhkan kegiatan praktek. Dalam hal ini, SMK menjadi pilihan sekolah yang tepat bagi mereka. Hal ini juga ditunjukkan dengan persentase siswa yang lebih banyak bersekolah di SMK. Namun mengingat lulusan SMK lebih susah untuk kuliah, pemerintah dan pihak sekolah mungkin perlu mempertimbangkan untuk mengakomodasi mereka yang mau lanjut kuliah.