Rendahnya Minat Baca Masyarakat Indonesia Cuma Mitos?

Saya mau membuat pengakuan dosa: saya lupa kapan terakhir kali saya membaca buku sampai selesai. 

 

Sebelum kalian menggeleng-gelengkan kepala, sumpah, saya masih baca kok! Hanya saja mediumnya berubah dari buku ke teks-teks yang lebih pendek, seperti artikel berita, opini, dan jurnal. Pun pengalaman ini tak berlaku untuk teman-teman saya; banyak yang masih membaca buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Bahkan dalam setahun mereka bisa menamatkan 10-20 buku. 

 

Namun cerita di atas sama sekali tidak menggambarkan realita banyak orang Indonesia. Pertama, kami adalah lulusan universitas alias 9,67% teratas penduduk Indonesia dalam hal pendidikan. Kedua, mayoritas dari kami juga datang dari kelas menengah, jadi sudah jelas kami punya uang lebih buat beli buku. Belum lagi populasi ini paling sering (dipaksa) les bimbel oleh orangtua. Walhasil, tekanan untuk baca buku terasa lebih besar . 

 

Terus entah kenapa media dan pemerintah beberapa tahun terakhir suka mengeluhkan minat baca orang Indonesia rendah. Acuannya dari asesmen PISA 2006 dan CCSU 2016 yang cukup jadul.  

 

Tapi… 

 

Itu…

 

Dulu…

 

Data yang lebih baru menunjukkan kenaikan minat baca. Lebih menggembirakan lagi melihat daerah luar Jawa seperti Kalimantan Timur, Aceh, dan Sulawesi Selatan termasuk 10 teratas daerah dengan minat baca tertinggi. 

 

Kegemaran Membaca Penduduk Indonesia Masuk Kategori Sedang (katadata.co.id)

 

Warga Yogyakarta Paling Gemar Membaca se-Indonesia (katadata.co.id)

 

Justru yang paling sedih-lucu di grafik ini adalah posisi Jakarta yang hanya berada di peringkat 10. Padahal menurut pengakuan mantan gubernur Anies Baswedan, Jakarta memiliki 5.428 penerbit, 5.600 perpustakaan dan kunjungan pengunjung sebanyak 4,5 juta dalam setahun. Belum lagi status Jakarta sempat dinobatkan sebagai “kota literasi” oleh UNESCO di tahun 2021. Dengan sederet prestasi ini, kenapa Jakarta berada di peringkat 10 di survei minat baca BPS? 

 

Anies Baswedan: Jakarta Kota Literasi, 5.248 Penerbit Ada di Kota Ini : Okezone Tren

 

Pun ketakutan tokoh pemerintah dan intelektual soal banyaknya masyarakat yang lebih suka mengkonsumsi video dibanding teks terbukti salah. Lebih banyak orang yang mengonsumsi berita via teks dibanding video. Tapi ini juga bisa disebabkan oleh mahalnya harga paket data dan masih kurangnya fasilitas WiFi gratis di publik. Atau ya, jangan-jangan yang dibaca masyarakat sekarang cuma headline berita, tanpa tahu konteks lengkapnya? Soalnya jumlah anak muda yang membaca berita teks lebih menurun.

 

Warga RI Lebih Banyak Konsumsi Berita Teks Dibanding Video (katadata.co.id)

 

Nah lalu bagaimana dengan jenis bacaannya?

 

Kitab Suci, Bacaan Paling Banyak Dikonsumsi Masyarakat Indonesia (katadata.co.id)

 

Puji syukur masyarakat Indonesia sangat religius. Tapi di saat yang bersamaan hasil survei ini cukup mengkhawatirkan karena jumlah yang membaca bacaan lainnya terhitung rendah, terutama di bidang bacaan buku pengetahuan dan koran. Namun perlu dicatat bahwa survei ini merupakan survei BPS tahun 2018. Survei terbaru baru akan dilaksanakan tahun ini sehingga mari berharap jenis bacaan masyarakat semakin meningkat di 5 tahun terakhir. 

 

Namun setelah melihat data-data ini serta melihat indikator penilaiannya membuat saya berpikir: sebetulnya seberapa valid indikator ini untuk mengukur “minat baca” seseorang atau bahkan suatu daerah? Indikator kunjungan perpustakaan jelas tidak bisa menjadi tolok ukur minat baca, mengingat persebaran perpustakaan di berbagai daerah tak seimbang. Kota-kota besar dan kota-kota di daerah Jawa jelas punya jumlah perpustakaan dibanding kota-kota kecil luar Jawa. 

 

Jumlah kunjungan ke perpustakaan juga bisa menunjukkan bias–contohnya, dalam survei minat baca BPS yang menempatkan Yogyakarta sebagai kota dengan minat membaca tinggi. Perlu diingat bahwa populasi Yogyakarta tak sebanyak provinsi-provinsi lain (3,68 juta per Juni 2021) dan ada banyak mahasiswa di kota tersebut. Sehingga kemungkinan besar sampel yang diambil condong ke mahasiswa. Pun jumlah menit yang dihabiskan dalam sehari untuk membaca adalah 1 jam 46 menit dan jumlah buku yang diselesaikan dalam 3 bulan adalah 5-6 buku. Melihat angkanya sudah sepantasnya kondisinya seperti ini. Kalau lebih rendah dari ini sih saya bakal mempertanyakan, mahasiswa-mahasiswa itu pada ngapain selama kuliah? 

 

Jumlah buku yang dibaca dalam beberapa bulan atau setahun terakhir juga bukan indikator bagus, mengingat 1) buku mahal; 2) bacaan tak hanya terbatas ke buku; 3) ada internet yang bisa memberikan berbagai macam bahan bacaan secara murah atau bahkan gratis; 4) banyak orang melebih-lebihkan jumlah buku yang mereka baca–ya, termasuk kalian para penghuni Goodreads, booktwt, dan booktok!; 5) tidak memperhitungkan kualitas bacaan (harus diakui beberapa buku sebetulnya tidak layak terbit, seperti novel-novelnya Colleen Hoover dan novel Wattpad yang mengisi deretan sebuah jejaring toko buku besar); dan paling penting 6) tidak mengukur komprehensi bacaan seseorang, yang justru paling penting dalam penilaian minat membaca.   

 

Indikator-indikator ini saja tak cukup untuk menilai minat baca masyarakat, apalagi hanya jumlah penerbit yang dimiliki oleh suatu provinsi?