Catatan Redaksi: Penutup Inktober

Bulan Oktober sebentar lagi berakhir dan artinya, submisi Inktober resmi ditutup. Selama bulan Oktober ini, kami menerima berbagai karya tinta dari pembaca Jurno. Namun, pada akhirnya hanya 9 karya yang masuk ke penilaian redaksi. Diantaranya adalah Keberanian Sang Penakut, Pertarungan Gatotkaca dan Antareja Dalam Pelarungan Dewi Sembadra, Menjulang dan Mengakar, Gugur Bunga, Mankind's God, Motor, Social Media Brainwash, dam Potret Diri. Karya yang terpilih tak hanya berdasarkan penilaian artistik, tapi juga narasinya. 

 

Berhubung kampanye tema bulanan sudah berlangsung selama dua bulan dan mendapat sambutan yang positif, kami memutuskan untuk melanjutkan tema bulanan. Dan tema untuk bulan ini adalah… soal makanan! Karena siapa sih di sini yang tidak suka makan?

 

Seluruh tim Jurno sih suka makan ya. Tiap pekerjanya punya makanan favorit sendiri. Rio Jo Werry misalnya, suka makanan Padang karena mengingatkan sama rumah—saking sayangnya sama nagari, ia menulis soal nasi Padang dan kaitannya dengan trauma kolektif masyarakat Minang. Berbekal pendidikan sejarahnya, Giovanni Diera menuliskan takjil yang kerap ditemui di bulan puasa pantas disebut sebagai budaya nasional. Nah, setelah bulan puasa, terbitlah Lebaran yang juga dihiasi dengan meja penuh makanan. Tapi tahu tidak kalau makanan-makanan idola seperti kastengels itu warisan Belanda

 

Kalau editor Ann Putri lebih fokus ke aspek gizi. Tulisan pertamanya membahas bagaimana Indonesia—yang katanya negara agraris—justru rajin impor beras dan punya harga beras paling mahal se-Asia Tenggara. Tulisan keduanya menyorot mahalnya bahan makanan adalah imbas dari inflasi yang kemudian berefek ke kondisi masyarakat. Tapi kebijakan makanan yang benar punya efek yang sangat positif, seperti yang terjadi di Korea Selatan. Kebijakan pemerintah Korsel untuk meningkatkan konsumsi protein hewani lewat subsidi peternakan dan kampanye makanan membuat rata-rata tinggi anak muda mereka menjulang ke atas: tinggi rata-rata laki-laki 175,5 cm, sedangkan perempuan 163,2 cm. 

 

Tulisan yang bernas soal makanan adalah tulisan kontributor kami, Aira K. Ia menulis bagaimana ibunya kerap mengajaknya ke petualangan ‘meramban’ alias mencari sayur-mayur di lingkungan sekitar. Kegiatan ini tak hanya membuat orang-orang familiar dengan ekosistem daerah mereka, tapi juga merupakan cara untuk terus menjaga pengetahuan lokal supaya terus hidup. 

 

Berhubung makanan adalah bagian integral dari hidup kita, kami mengajak para pembaca Jurno untuk menuliskan memori dan pengalaman soal makanan daerah kalian. Beberapa pertanyaan untuk memudahkan proses menulis: seperti apa masakan yang ibu, ayah, atau keluarga lainnya masak setiap hari di rumah? Makanan apa yang paling membekas di benak dan kenapa? Apa saja bahannya? Seperti apa sejarahnya?

 

Kirimkan tulisanmu (dalam format Google Docs) ke [email protected] dengan judul email “Kudapan Dimakan - Judul Artikel-Nama Penulis”. Redaksi akan menyeleksi tulisan yang masuk dan menerbitkannya setiap minggu. Periode penerimaan tulisan dari tanggal 1-28 November 2023. Jangan lupa cantumkan nama lengkap, nomor rekening, NPWP (wajib!), dan kalau berkenan, akun media sosial. 

 

Ditunggu ya tulisannya!